‎Presiden Menyinggung Etika Politik

0
162

PRESIDEN Joko Widodo mengajak seluruh masyarakat untuk berpolitik dengan mengembangkan nilai-nalai kesantunan dalam kehidupan sehari-hari di Tanah Air. Politik beretika itu dilakukan dengan tidak mencela, mencaci maki, hingga menjelek-jelekkan orang lain. Hal itu dikatakan Presiden dalam sebuah simposium kebudayaan yang diselenggarakan FKPPI di Jakarta, kemarin (20/11/2017).

Presiden lebih banyak memberi contoh pelanggaran etika politik pada tudingan-tudingan yang ditujukan kepada dirinya sendiri. Misalnya, “Waktu awal dilantik banyak yang sampaikan, saya ini presiden ndeso, klemar-klemer. Begitu kita keluarkan Perppu Ormas, (dituding) ini presiden diktator. Waduh…,” kata Presiden.

Okelah, walaupun bunyinya terkesan seperti “curhat” pribadi, kita menyetujui esensi peringatan Kepala Negara tersebut.

Kita pernah mengulas soal ini, bahwa di lapisan elit bangsa ini, udara pergaulan sudah penuh dengan aroma kebencian. Kecerdasan, kedewasaan atau kematangan akal budi  rupanya tidak lagi menjadi syarat mutlak untuk bergaul di lapisan terhormat. Satu-satunya syarat adalah kelihaian merebut peluang. Lain dari itu tidak.

Politik semestinya jauh dari bau-bau kebencian, kekerasan, atau kriminal, apalagi bau amis darah. Kalau politik dipahami dengan cara demikian, apa yang bisa diberikan kepada bangsa ini.

Berpolitik itu antara lain kiat memilih kawan dan menentukan lawan. Diperlukan kecerdasan dan kecerdikan untuk menentukan dengan siapa berkawan dan dengan siapa bersaing. Modal politik yang sudah di tangan mesti dihitung apakah bisa bertambah jika berkawan atau berkoalisi dengan pihak lain, atau malah sebaliknya.

Kiat itu berlaku jika berpolitik dengan tujuan merebut kekuasaan. Namun apabila berpolitik diartikan lebih dari sekadar merebut kekuasaan, tapi juga mewujudkan kemaslahatan, perlu mempertimbangkan aspek yang lebih beragam.

Politik kekuasaan, atau politik kemaslahatan. Itu memang diferensiasi pilihan saja, tetapi sebetulnya mencerminkan kualitas dan moral politik seorang politisi. Politik kekuasaan menjadikan singasana sebagai satu-satunya target dan ukuran. Politik kemaslahatan menempatkan kepentingan negara di atas segalanya. Politik kekuasaan menjadikan solidaritas partai sebagai pengikat perjuangan, dan politik kemaslahatan meletakkan negara sebagai puncak kesetiaan.

Menurut kita, kesetiaan kepada partai adalah bagian dari kesetiaan kepada negara. Seorang politisi setia pada partainya sejauh partainya setia pada perjuangan kepentingan negara.

Partai politik hanyalah alat untuk mencapai tujuan. Tujuan partai politik yang benar adalah terwujudnya kepentingan bangsa dan negara. Sangat keliru jika partai politik hanya bertujuan untuk mencari kepentingan partainya semata atau kepentingan para pengurusnya.

Partai politik harus menjadi kepanjangan tangan bangsa untuk membangun negeri ini.

Partai politik yang banyak sekarang ini jika masing-masing berpedoman pada perjuangan pribadinya, maka akan terjadi bentrokan kepentingan dan berikutnya akan menjadi bentrokan antarpendukung. Tetapi jika berpedoman pada kepentingan bangsa, maka itu akan menjadi buhul pengikat partai-partai dari kemungkinan perseteruan yang destruktif.

Tetapi kesadaran seperti ini masih berupa cita-cita belaka. Para politisi masih jauh dari kesadaran untuk berpikir tentang kepentingan bansga. Bahkan kepentingan partainya sendiri pun kerap terabaikan. Mereka lebih memusatkan perhatian pada kepentingan pribadi.

Kegiatan berpartai politik lebih ditafsirkan sebagai membangun karir politik pribadi. Dan bukannya melakukan sesuatu yang konstruktif bagi bangsa ini. Itu sebabnya, persaingan untuk mendapatkan suatu jabatan politik terjadi amat seru, kasar dan bahkan cenderung kotor.

Nah, koalisi politik kalau sudah terlanjur dikemas dalam visi politik kekuasaan, semestinya segera digeser di dalam bingkai kemaslahatan. Sebab, jika koalisi dibangun dalam perspektif kawan dan lawan, sesama partai saling melukai. Dan ini akan bermuara para permusuhan sesama anak bangsa. Jika perkelahian sesama anak bangsa yang terjadi, tidakkah partai justru menjadi perusak bangsa?

Ini penting kita ingatkan, karena menjelang tahun politik ini persaingan antarpartai dan antarkandidat akan semakin memanas.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here