1 Juni dan Kemelut Sejarah Kita

0
427
Presiden Joko Widodo mengunjungi situs Lapas Banceuy pada acara Hari Lahir Pancasila dan Pidato Bung Karno di Gedung Merdeka Bandung, 1 Juni 2016.

Ada pepatah Melayu yang berbunyi, pemenang menulis sejarah, dan si kalah menulis madah. Barangkali pepatah itu menemukan konteksnya hari ini.

Hari ini, 1 Juni 2017, untuk pertama kalinya dinyatakan sebagai Hari Libur Nasional untuk memperingati Hari Lahir Pancasila. Adalah Presiden Joko Widodo yang menetapkannya dalam Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016. Keppres itu ditandatangi Presiden Jokowi dalam peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Gedung Merdeka, Bandung,  1 Juni 2016, setahun lalu.

“Dengan mengucap syukur kepada Allah dan bismillah, dengan Keputusan Presiden, tanggal 1 Juni ditetapkan, diliburkan dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila,” ucap Jokowi.

Itu bisa disebut sebagai klimaks dari perdebatan selama ini yang mempersoalkan kapan sebetulnya Pancasila lahir. Tidak pernah tuntas perdebatan itu, padahal persoalannya amatlah sederhana.

Kelihatannya ada muatan politik di balik polemik itu. Dulu Presiden Sukarno memang tidak (sempat) membuat Keppres soal ini. Di era Presiden Soeharto, perdebatan itu dibiarkan mengambang tak berkesudahan. Mungkin semacam penolakan untuk mengakui peran Sukarno dalam merumuskan Pancasila. Sebab, 1 Juni itu adalah tanggal ketika Sukarno mengusulkan rumusan Pancasila. Soeharto malah rajin memperingati Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober. Hari Kesaktian Pancasila itu diputuskan Soeharto melalui Keppres No. 153/1967.

Mudah dipahami mengapa Soeharto memperingati tanggal itu. Sebab, itu adalah momen yang mencatat kepahlawanan Soeharto, yang bersama TNI dan rakyat berhasil mengatasi G30S/PKI pada 30 September 1965. Bukankah, pemenang yang selalu menulis sejarah, dan yang kalah menulis madah?

Ketika Megawati menjadi kepala negara, dia juga tidak menetapkan kapan hari lahir Pancasila. Bisa jadi, lebih karena pertimbangan ewuh pakewuh menisbatkan jasa ayahnya. Baru di era Jokowi, itu dipertegas.

Mengapa baru sekarang ditetapkan secara resmi oleh pemerintah? Bisa jadi, karena Jokowi adalah PDIP, partai yang dipimpin anak Sukarno. Apakah semata-mata karena dirinya kader PDIP lalu Jokowi menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila? Setidaknya memang itulah yang terlihat. Sebab tidak dijelaskan kepada publik mengapa Jokowi menetapkan tanggal 1 Juni sebagai hari kelahiran ideologi negara itu. Seandainya, keputusan itu atas dasar masukan dari tim atau panitia yang sengaja dibentuk untuk melakukan verifikasi sejarah, tentu kesahihannya lebih kuat.

Apakah penetapan berdasarkan Keppres itu menyelesaikan perdebatan? Ternyata tidak juga. Siapa pun memang tak bisa membantah bahwa Pancasila tercetus dari pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI).

Tetapi, menurut Yusril Ihza Mahendra, dalam rilisnya kemarin, Pancasila lahir tanggal 18 Agustus 1945. “Hari lahirnya Pancasila bukanlah tanggal 1 Juni, tetapi tanggal 18 Agustus ketika rumusan final disepakati dan disahkan (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, PPKI),” kata Yusril.

Menurut Yusril, Pidato Sukarno tanggal 1 Juni baru berupa masukan, seperti masukan dari tokoh-tokoh lain baik dari golongan kebangsaan maupun dari golongan Islam. “Jika membandingkan usulan Sukarno tanggal 1 Juni 1945 dengan yang ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945, cukup mengandung perbedaan fundamental,” kata Yusril.

Perbedaan itu antara lain pada sila Ketuhanan. Kata Yusril, sila itu diletakkan Sukarno sebagai sila terakhir. “Tetapi rumusan final justru menempatkannya pada sila pertama. Sukarno mengatakan bahwa Pancasila dapat diperas menjadi Trisila, dan Trisila dapat diperas lagi menjadi Ekasila yakni gotong-royong. Sementara rumusan final Pancasila, menolak pemerasan Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila,” kata Yusril.

Sebenarnya tak penting benar, tanggal mana yang hendak ditetapkan sebagai hari resmi kelahiran Pancasila. Soal yang menyentak di balik perdebatan ini adalah betapa sejarah negeri ini sungguh tak terurus.

Sejarah itu bukan sekadar mencatat peristiwa masa lalu dan mengisahkannya di masa depan. Sejarah mencatat kisah lama untuk menjadi pelajaran bagi zaman mendatang. Sejarah adalah cermin tempat anak manusia berkaca melihat perjalanan peradabannya.

Meski begitu, sejarah ternyata tak kuasa mencatat dengan jujur. Penulisan sejarah lebih merupakan upaya memilih-milih mana yang harus dicatat, dan mana yang harus dihilangkan. Sejarah tak lebih rekaman kekuasaan, melulu catatan jejak langkah sang penguasa. Sejarah, pada akhirnya, adalah sejarah kaum elite, bukan cerita tentang rakyat jelata.

Penulisan sejarah senantiasa melihat dengan kacamata penguasa. Penguasa tak pernah mengizinkan mencatat hal yang tidak mengagungkan kekuasaannya. Dengan begitu, sejarah berpijak pada kepentingan kekuasaan. Sejarah adalah catatan keberhasilan, bukan saksi kegagalan. Sejarah melulu mengisahkan kemuliaan, dan mustahil membeberkan kenistaan.

Lalu, jika sejarah adalah cermin, jika sejarah adalah pelajaran, maka pelajaran macam apa yang diperoleh dari sejarah yang buram? Tak ada. Sejarah tidak memberikan penerangan apa pun bagi masa depan, karena dirinya sendiri dipenuhi kegelapan.

Kepentingan kekuasaan senantiasa berubah seiring dengan silih bergantinya penguasa. Tetapi, kepentingan peradaban selalu tetap. Kepentingan peradaban adalah sebuah cermin yang jujur, yang mengatakan yang salah itu salah, dan yang benar itu benar. Jika tak demikian, sebuah bangsa tak tahu tentang masa lalunya sendiri.

Sejarah negeri ini pun demikian. Amat banyak catatan yang diabaikan dalam pencatatan sejarah, entah catatan gelap, atau justru rekaman yang terang benderang. Kita belum berani bersikap jujur, bahkan pada diri kita sendiri.

Sekali lagi, sejarah adalah cermin tempat anak manusia berkaca melihat perjalanan peradabannya. Makin bening cermin itu, makin tajam kita melihat diri kita. Sebaliknya, jika cermin itu terselimuti jelaga, sulit bagi kita berkaca. Sejarah yang terselimuti jelaga itu adalah saksi betapa kita tidak berani jujur, bahkan kepada diri sendiri sekalipun. Dan, kalau sudah begitu, semakin kita belajar sejarah, semakin kita tahu bahwa orang tak pernah belajar dari sejarah.

Padahal, kita semua yakin, untuk masa depan yang terang, kita memerlukan sejarah yang tidak gelap. Sayang tak ada yang berani menyalakan pelitanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here