Sengketa Laut Cina Selatan: ASEAN Sulit Bersatu

0
178

Nusantara.news, Jakarta – Organisasi negara-negara kawasan, ASEAN seharusnya memiliki peran penting dalam penyelesaian sengketa Laut Cina Selatan yang melibatkan Cina dengan sejumlah negara anggota ASEAN. Tapi sayangnya, sulit mencari solusi di antara negara-negara ASEAN sendiri dalam penyelesaian sengketa tersebut. Padahal sengketa Laut Cina Selatan menyangkut keamanan sekitar 500 juta warga negara yang berada di sekitar kawasan Laut Cina Selatan.

Sebagaimana pernah ditegaskan mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda bahwa kesatuan politik ASEAN sangat penting dalam sengketa Laut Cina Selatan, tapi kata dia, sayangnya ASEAN tengah menghadapi tantangan yang serius.

Organisasi yang didirikan 1967 itu saat ini beranggotakan 10 negara, sejumlah negara anggota  seperti Filipina dan Vietnam terlibat sengketa dengan Cina di Laut Cina Selatan. Filipina bahkan telah mengantongi keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag pada bulan Juli 2016 yang menyatakan bahwa Cina tidak punya hak atas klaim wilayah laut Filipina di Laut Cina Selatan. Cina sendiri sejak awal hingga putusan arbitrase internasional itu dijatuhkan tetap tidak mau menerima keputusan tersebut.

Di organisasi ASEAN Cina memengaruhi dua negara sekutunya, Laos dan Kamboja yang juga menolak keputusan tersebut, untuk mendorong agar ASEAN tidak mengeluarkan resolusi dukungan terhadap hasil putusan mahkamah internasional itu. Karena itu, KTT Asean di Laos pada September 2016 yang lalu tidak mengeluarkan resolusi apapun terkait sengketa Laut Cina Selatan, meskipun masalah ini turut dibahas dalam forum yang dihadiri oleh para kepala negara ASEAN itu.

Pengamat pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie menyayangkan negara-negara ASEAN gagal menghasilkan komunike bersama atas sengketa laut Cina Selatan. Dalam komentarnya di sejumlah media, Connie mengatakan bahwa kegagalan itu membuktikan kegagalan ASEAN dalam menyelesaikan sengketa Laut Cina Selatan.

Menurut Connie, ASEAN sudah tidak lagi digunakan untuk kepentingan ASEAN sebagaimana tujuan awalnya didirikan. ASEAN telah berubah dengan masuknya banyak kepentingan negara-negara di luar ASEAN, misalnya melalui ASEAN+3, ASEAN+6, dan lain-lain. Ini yang menurut Connie membuat di antara sesama negara ASEAN terbelah karena didorong oleh kepentingan masing-masing, ada yang pro-Amerika Serikat dan pro-Cina.

Pendapat tersebut menegaskan bahwa dua negara adidaya AS dan Cina memang telah terang-terangan memainkan perang proxy di kawasan Asia, khususnya terkait dengan konflik Laut Cina Selatan. Bukan tidak mungkin akibat sengketa Laut Cina Selatan ASEAN bubar dan masing-masing anggotanya berafiliasi dengan organisasi-organisasi baru bentukan dua negara adidaya, menjadi kubu Cina atau Amerika.

Sejak 1970-an Cina sudah berambisi menguasai kawasan Laut Cina Selatan, hal yang wajar sebagai negara yang ingin digdaya secara ekonomi lewat perdagangan. Jalur Laut Cina Selatan ingin dikuasai karena merupakan jalur strategis perdagangan internasional.

Sejumlah Cina ingin menguasai kawasan Laut Cina Selatan, di antaranya karena kekayaan alam yang tersimpan di Laut Cina Selatan berupa minyak dan gas. Selain itu, karena trafik kapal yang tinggi di perairan tersebut. Tentu saja secara ekonomi maupun militer menguasai kawasan ini akan mendapat keuntungan yang luar biasa bagi negara.

Sementara itu dalam konteks ASEAN, Cina dan negara-negara ASEAN sebenarnya selama ini tengah menggodok sebuah kesepakatan tata perilaku (code of conduct/COC) di Laut Cina Selatan. Namun sejak Deklarasi Tata Perilaku (DOC) diadopsi pada 2002, hingga saat ini kesepakatan tak kunjung berhasil dicapai. Dalam beberapa pertemuan ASEAN, isu Laut Cina Selatan selalu menimbulkan ketegangan.

Contohnya pertemuan setingkat menteri negara-negara ASEAN (AMM) di Kamboja tahun 2012, para menlu ASEAN tidak berhasil mencapai komunike bersama karena terganjal isu Laut Cina Selatan. Lalu dalam pertemuan di Kunming, draft komunike bersama yang telah siap disepakati dengan menyatakan sikap tegas ASEAN atas isu Laut Cina Selatan, diganti pada menit-menit terakhir. ASEAN tampaknya masih akan menghadapi masa-masa sulit di masa mendatang ketika membahas isu Laut Cina Selatan. Akankah ASEAN bisa bersatu? Atau hanya bisa menunggu saat-saat sengketa Laut Cina Selatan menjadi konflik terbuka antar negara-negara anggota. (berbagai sumber)

Peta wilayah sengketa Laut Cina Selatan yang melibatkan negara-negara Asean

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here