Gubernur Jatim Minta Perbaikan Infrastruktur Irigasi Jadi Prioritas

0
182

Nusantara.news, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta perbaikan infrastruktur irigasi menjadi fokus utama pembangunan pertanian. “Saat ini, terdapat berbagai permasalahan di infrastruktur irigasi di Jatim. Jika diperbaiki, maka diharapkan indeks pertanaman dan luas pertanaman di Jawa Timur bisa semakin meningkat,” pintanya.

Permintaan tersebut disampaikan Pakde Karwo–sapaan Gubernur Jawa Timur Soekarwo–saat digelar Rapat Koordinasi Pencapaian Target Tanam Padi Periode Januari hingga Maret 2017 Guna Mewujudkan Kedaulatan dan Kesejahteraan Petani di Wilayah Jawa Timur bersama Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman, Pangdam V/Brawijaya, Bupati/Walikota dan Kodim se-Jawa Timur di Gedung Balai Prajurit, Kodam V/Brawijaya, Kamis (26/1/2017).

Pakde Karwo, mengatakan berbagai persoalan terkait infrastruktur irigasi, diantaranya kerusakan 470 bendungan irigasi, pengelolaaan irigasi yang belum terpadu, sawah irigasi yang gagal panen akibat bencana banjir rutin yang luasnya sekitar 30 ribu hektar tersebar di daerah Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan Madiun. Serta menurunnya kinerja jaringan irigasi tingkat primer, sekunder, dan tersier akibat umur bangunan dan fungsi layanan yang menurun.

Di sisi lain, juga terdapat jaringan irigasi yang belum dikembangkan pasca selesainya pembangunan infrastruktur sumber daya air. Contohnya, di Waduk atau Bendungan Bajulmati di Kabupaten Banyuwangi seluas 1.000 hektar, Waduk Nipah di Sampang seluas 500 hektar, Waduk Bengawan Jero Lamongan (Intake Babat Barrage) 8.000 hektar, Waduk Mrican Kanan di Papar-Peterongan seluas 7.000 hektar, Waduk Barrage serta pompa di Bojonegoro seluas 10.000 hektar.

Diharapkan, fokus utama pembangunan pertanian di Jawa Timur adalah mengoptimalkan inrastuktur yang sudah ada, seperti perbaikan infrastruktur irigasi, bukan menambah jumlah bendungan baru.

Masih menurut Pakde Karwo, perkiraan biaya kegiatan tata kelola irigasi secara keseluruhan dibutuhkan senilai Rp2,4 triliun. Rinciannya, untuk rehabilitasi jaringan irigasi sebesar Rp2,3 triliun, untuk perbaikan bendungan sebanyak 470 buah, saluran primer dan sekunder 90.000 hektar dan saluran tersier 250 ribu hektar. Kegiatan operasi dan pemeliharaan irigasi sebesar Rp100miliar untuk irigasi primer dan sekunder 280 ribu hektar dan tingkat tersier 95 ribu hektar.

Sementara, biaya yang diperlukan guna menambah luas areal tanam sebesar Rp3,45 triliun dengan rincian pembangunan infrastruktur pengendali banjir sebesar Rp1,75 triliun, normalisasi waduk sebesar Rp500 miliar dan pengembangan jaringan irigasi sebesar Rp795 miliar.

“Dengan penambahan luas tanam sebesar 76.500 hektar, dengan asumsi produksi padi 6 ton per hektar, maka akan ada peningkatan produksi padi sebesar 459.000 ton atau sebanyak 279.990 ton gabah kering untuk sekali panen. Kemudian Indeks pertanaman kita akan meningkat dari 2,2 jadi 2,4 persen,” urai Pakde Karwo.

Ditambahkan, meski saat ini infrastruktur irigasi di Jawa Timur belum optimal, namun kinerja produksi padi tetap meningkat. Pada tahun 2016 mencapai 13.540.950 ton, meningkat dari tahun 2015 yang mencapai 13.154.967 ton. Selain itu, Jawa Timur juga masih surplus 5,2 juta ton beras pada 2016.

Menanggapi permintaan Pakde Karwo, Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya sepakat. Amran mengatakan, perbaikan saluran irigasi menjadi prioritas utama pembangunan pertanian di Jawa Timur, karena provinsi ini telah membuktikan kinerja pertanian yang luar biasa. Kementan, lanjut Amran mendukung sepenuhnya upaya Pakde Karwo. Untuk itu pihaknya akan berkordinasi dengan Menteri PU untuk perbaikan infrastruktur irigasi di Jawa Timur.

“Pakde Karwo ini Gubernur yang luar biasa. Contohnya, dari total nasional capaian untuk sapi sebesar 1,5 juta ekor. Itu, satu jutanya adalah Jatim. Kemudian surplus beras juga mencapai 5,2 juta ton, produksi jagung juga mencapai 6,2 juta ton. Terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Ini karena Pakde Karwo sangat kreatif,” puji Amran.

Amran menyebut, secara nasional pihaknya telah melakukan berbagai terobosan untuk meningkatkan luas tambah tanam, yakni mendistribusikan bantuan mesin pertanian berupa traktor dan rice transplanter kepada setiap kelompok tani, perbaikan jalur irigasi, penyediaan teknologi citra lansat dan penerapan teknologi jarwo super.

Di kesempatan itu juga dilakukan salah satu program Kementan yakni Penandatanganan Pernyataan Kesanggupan Luas Tambah Tanam (LTT) antara Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dengan Kodim. Ditargetkan, pada Januari 2017, LTT di Jawa Timur mencapai sebesar 424,178 hektar, Pebruari sebesar 235,227 hektar dan Maret sebesar 322,917 hektar.

Pada acara itu Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI, I Made Sukadana mengatakan, gerakan percepatan pencapaian target tanam padi yang tengah digalakan merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI. Termasuk membantu pemanfaatan lahan yang ada sebagai lahan tanam.

“Komoditas padi merupakan unggulan untuk menopang pertanian nasional dalam jangka panjang. Kami harap rakor ini dapat memecahkan berbagai permasalahan terkait pertanian dan memberikan manfaat guna mempertahanakan dan meningkatkan pencapaian swasembada pangan” kata I Made Sukadana. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here