20 Tahun Reformasi, Soeharto Tetap Dipuji

0
128
Mahasiswa membawa 'keranda jenazah' Soeharto saat menduduki Gedung MPR/DPR menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI. (Foto: DR/Rully Kusuma)

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Soeharto yang telah memegang tampuk kekuasaan selama 32 tahun lamanya akhirnya berhasil dilengserkan pada 21 Mei 1998.  Gegap gempita langsung mewarnai aksi mahasiswa yang menuntut reformasi dan Soeharto mundur.

Hanya sekitar tiga menit, Soeharto yang didampingi Wakil Presiden BJ Habibie, Panglima ABRI Wiranto dan beberapa pembantu dekatnya menyampaikan pernyataan terakhirnya sebagai kepala negara.

“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998,” ujar Soeharto saat membacakan surat pengunduran dirinya.

Ribuan mahasiswa yang sudah menduduki gedung DPR/MPR sejak 18 Mei 1998 sontak bergembira. Sebagian dari mereka yang lain menyaksikan pidato Soeharto dari televisi. Sorak sorai, saling peluk, dan tangis haru mewarnai momentum pergerakan mahasiswa kala itu.

Soeharto lalu menyerahkan tampuk kekuasaan pada wakilnya, BJ Habibie. Lengsernya Soeharto inilah kemudian menjadi tonggak sejarah lahirnya era baru: era reformasi.

Kini, reformasi sudah berjalan selama dua dasawarsa. Kendati memasuki usia matang, kerja reformasi ternyata masih jauh dari cita-cita sejatinya. Terlebih tercapainya tujuan bernegara sesuai amanat pembukaan UUD 1945: melindungi segena tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan, dan ikut serta dalam ketertiban dunia.

Baca: Wajah Politik di Era Reformasi Makin Buruk

Reformasi seakan telah dibajak oleh orang-orang “lama” yang menyaru reformis. Reformasi sudah dikhianati oleh para aktornya sendiri yang sebagian besar kini menjadi penguasa baru di pemerintahan, parlemen, partai politik ataupun sekadar aktivis petualang.

Betapa tidak? Mereka malah tampak lebih asyik berebut kursi kekuasaan dan sibuk pada perburuan rente di bawah kongsi para oligark ketimbang bermanunggal dengan rakyat. Yang lebih mengerikan, korupsi semakin menjadi-jadi dan lebih massif karena merebak ke berbagai kalangan.

Turun ke grass root, masih banyak dijumpai rakyat yang mengeluh menghadapi hidup lantaran terhimpit ekonomi yang serba sulit. Baik itu akibat harga-harga yang naik, inflasi, dan berbagai masalah lain yang bikin jengah karena hanya jadi perdebatan di sana-sini.

Era reformasi pun dianggap tak jauh lebih baik dari era sebelumnya. Bahkan, sejumlah masyarakat merasa ingin hidup makmur seperti saat pemerintahan Soeharto. Terlepas dari otoriter dan betapa koruptifnya lingkaran pemerintah Orde Baru, Soeharto dianggap mampu menciptakan stabilitas yang memungkinkan Negara ini membangun dengan pesat.

Baca: Soal Kesejahteraan: Isih Penak Zamanku Tho…?

Hasil survei Indo Barometer menunjukkan Soeharto masih dianggap oleh publik sebagai presiden paling berhasil dalam sejarah Indonesia. Soeharto mendapat angka penilaian positif dari publik sebagai presiden yang berhasil memimpin Indonesia sebesar 32,9 persen. Di urutan kedua terdapat Soekarno dengan 21,3 persen. Lalu, urutan ketiga Joko Widodo dengan 17,8 persen.

Survei ini dilakukan pada 15-22 April 2018 dengan melibatkan 1200 responden yang menyebar di 34 provinsi. Survei bertepatan dengan momentum 20 tahun reformasi untuk mengetahui persepsi publik terhadap masa pemerintahan sejak orde lama hingga sekarang.

Sungguh ironis, reformasi yang diperjuangkan dengan darah berceceran dan banyak korban berjatuhan justru berjalan tanpa paradigma. Reformasi dilahirkan seolah tanpa melalui persiapan yang matang, digerakkan secara emosional dan tergesa-gesa: yang penting Soeharto tumbang. Para pendukung pemerintahan lama banyak bersalin rupa, sementara kaum reformis tak punya daya tahan yang tangguh. Para penumpang gelap menyergap. Roda reformasi pun sampai kini jadi oleng jalannya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here