2017, Tahun Musibah atau Azab?

0
162

TAHUN 2017 akan tenggelam di balik ufuk sejarah. Dan umat manusia mencatat banyak kejadian, baik dan buruk, bahagia atau nestapa. Bangsa ini pun harus punya catatan itu. Memori kolektif anak negeri ini harus merekam segenap kejadian sepanjang tahun ini, agar bisa berkaca dan menerangi jalan ke depan.

Perjalanan Indonesia sepanjang tahun ini memang penuh warna. Ada warna gelap, dan ada warna ceria. Warna gelap terlihat dengan musibah yang seolah tak pernah putus. Bencana alam terjadi di hampir semua daerah. Puluhan warga tewas tersapu banjir, puluhan rumah musnah rata dengan tanah.

Di sejumlah tempat bahkan aktivitas masyarakat nyaris lumpuh sama sekali, sementara persediaan air bersih dan makanan sudah tahap kritis. Mereka terisolasi oleh genangan air setinggi hampir dua meter. Belum lagi bencana yang murni karena sebab-sebab alamiah, seperti letusan Gunung Sinabung atau Gunung Agung.

Itu keamanan manusia dari ancaman alam yang murka. Belum lagi keamanan yang terancam akibat keangkaramurkaan manusia lain. Terorisme, misalnya. Sepanjang tahun ini terjadi beberapa kali teror bom. Sejumlah aksi teror skala “kecil” terjadi, dan yang terbesar di Kampung Melayu, 24 Mei silam. Hampir semua aksi itu menyasar aparat kepolisian yang gencar memburu teroris.

Terhadap semua itu pemerintah memang tidak tinggal diam.

Untuk menanggulangi kasus bencana alam, pemerintah mengalokasikan Rp1,2 triliun untuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Belum lagi dana cadangan di Kementerian Keuangan sebesar Rp4 triliun dan ditambah pula dengan APBD.

Begitu pula  menghadapi kasus-kasus terorisme. Polisi tak henti-hentinya menangkapi para terduga teroris di tempat paling tersembunyi sekalipun.

Itu betul. Tetapi, toh, korban sudah terlanjur berjatuhan. Nyawa yang meregang ditelan bencana alam,  dalam genangan banjir, di bawah longsoran tanah, terlalu berharga untuk dihitung dengan dana santunan. Nyawa mereka terlalu berharga untuk ditebus dengan keberhasilan pengungkapan.

Mencegah, itulah yang harus dipikirkan. Tetapi, nyatanya, meski kita sering memikirkan ini, perbuatan kita justru sebaliknya. Pemerintah tidak pernah konsisten memberantas penebangan liar, karena ada oknum-oknum penguasa yang terlibat di dalamnya, dan kemudian membagi uang hasil penjarahan hutan itu kepada para penegak hukum. Akibatnya, penebangan liar terus terjadi tak kenal henti, dan banjir dan longsor terus pula terjadi tak kenal henti. Padahal, penebangan liar itu menyebarkan bencana yang luar biasa dahsyatnya.

Begitu juga dalam menghadapi terorisme. Polisi kita dipuji dunia karena berhasil mengungkap berbagai kasus teror. Sepanjang tahun 2016 saja, Densus Antiteror Polri sudah menangkap 170 orang terduga teroris. Jumlah itu naik dari tahun sebelumnya yang “hanya” 82 orang. Tahun ini, belum ada pengumuman dari Polri, tapi bisa saja jumlahnya bertambah.

Tetapi, itulah, tidak pernah ada usaha terpadu untuk mencegahnya. Terlepas dari kenyataan bahwa terorisme adalah gejala internasional, koordinasi nasional kita sangat lemah menghadapinya.

Jika para pelaku teror dan kelompoknya  bahkan bisa tinggal berbulan-bulan di tengah masyarakat, tanpa ada yang mencoba mempertanyakan, tentu ada yang salah di sistem hubungan sosial kita. Apakah masyarakat kita sudah sebegitu  egoistis, sehingga tidak peduli lingkungan sosialnya? Sudah hilangkah keharusan “tamu wajib lapor” di tingkat RT/RW atau dusun? Kalau iya, berarti ini problem serius. Apakah sudah ada upaya sistematis menyelesaikan problem ini?

KTP, paspor, dokumen-dokumen lain sangat mudah diperoleh di negara ini karena diperdagangkan oleh aparat-aparat yang korup. Ini juga problem tidak ringan. Bagaimana kita mau mencegah terorisme, kalau pelakunya bebas berkeliaran di tengah kita dengan identitas asli tapi palsu yang mereka beli dari aparat.

Jadi, kalau tahun 2017 diwarnai bencana dan terorisme, jangan menyebutnya dengan musibah. Sebab, dia datang karena kesalahan kita sendiri. Jadi, sebetulnya, segenap bencana itu sesungguhnya adalah azab. Kita kerap lupa membedakannya.

Selamat tahun baru.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here