35 Mahasiswa Untag Surabaya Sulap Dolly Jadi Kampung Warna

0
813
Ketua kelompok KKN mahasiswa Untag Christina Wibisono saat berada di eks-lokalisasi Dolly

Nusantara.news, Surabaya – Siapa yang tak tahu Dolly? Ya, sebelum resmi dinyatakan ditutup pada 18 Juli 2014 silam, Dolly dikenal sebagai komplek prostitusi di Kota Surabaya dan terbesar di Indonesia. Bahkan karena ketenarannya, Dolly disebut-sebut surga pelacuran terbesar se-Asia Tenggara.

Seperti apa wajah Dolly sekarang? Tentu saja, bukan hal mudah mengubah bekas kawasan prostitusi yang lokasinya terletak di wilayah Kelurahan Putat Jaya, Kelurahan Sawahan itu agar lepas dari image negatif, seperti yang pernah menempel sebelumnya.

Namun tidak ada kata bosan. Berbagai upaya terus dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya demi menghidupkan denyut nadi positif kehidupan di Dolly yang sempat terhenti.

Gagasan dan terobosan terus diupayakan untuk memulihkan kondisi ekonomi maupun sosialnya, terutama bagi warga terdampak. Salah satu yang sudah dilakukan Walikota Surabaya Tri Rismaharini adalah mengubah image kawasan eks-lokalisasi itu  menjadi “Kampung Wisata Penuh Cerita”.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini saat meresmikan kawasan eks-lokalisasi Dolly sebagai “Kampung Wisata Penuh Cerita”.

Kalangan akademisi tak mau ketinggalan. Pengembangan “Kampung Wisata Penuh Cerita” menggugah perhatian kelompok-kelompok kreatif muda di Surabaya. Mereka menjajaki Dolly dijadikan obyek berekspresi.

Bahkan, mahasiswa yang tengah menapaki masa akhir masa studi, Dolly diputuskan sebagai destinasi untuk mengabdikan diri. Setidaknya ada 35 mahasiswa dari Kampus Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Surabaya. Apa saja yang dilakukan mahasiswa di Dolly?

“Kami tergabung Kelompok 1 Surabaya di Dolly dalam rangka KKN (Kuliah Kerja Nyata). Sudah satu bulan lebih kami di Dolly. Kami bikin Kampung Warna, Kampung Lampion, Kampung Hidroponik, dan buka kelas bahasa Inggris. Tak hanya itu, dari beberapa teman kami juga ada yang sukarela mengajar tari, musik, mengajar kelas PAUD, ngasih pelatihan kewirausahaan hingga penyuluhan-penyuluhan,” kata Yenny, perwakilan mahasiswi jurusan Psikologi Untag Surabaya semester enam, saat bertamu dan berdiskusi memetakan wilayah Dolly, di Kantor Redaksi Nusantara.news Surabaya.

Dipaparkan Yenny, kegiatan yang dilakukan bersama sahabat-sahabatnya di Dolly tak hanya semata-mata untuk memenuhi tugas kampus sebagai mahasiswa. Melainkan sudah menjadi tekad dan kewajiban manusia sebagai makhluk sosial, tetapi juga untuk menempa diri, mengasah idealisme. Apalagi, mahasiswa sekarang banyak yang tergerus arus modernisasi sehingga cenderung individualistis, pragmatis dan lupa bermasyarakat.

“Yah, semoga apa yang sudah dilakukan teman-teman di Dolly bukan sekedar menjadi salah satu cerminan Tri Dhrama Perguruan Tinggi, tapi mengasah diri pribadi sebagai makhluk sosial,” terang mahasiswi warga Kenjeran Surabaya, yang selain kuliah juga mengaku sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta itu.

Warga “Kecanduan”

Hari Sabtu dan Minggu benar-benar menjadi hari yang melelahkan bagi 35 mahasiswa dari berbagai fakultas Untag Surabaya. Sebab, di waktu weekend itu, justru tersusun jadwal padat berkegiatan. Mereka tampak total dan fokus mengabdikan disiplin ilmunya masing-masing di wilayah Dolly, terutama di sekitar RW 6 dan RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

Itu seperti yang disaksikan Nusantara.news, ketika ikut memantau rangkaian kegiatannya di lokasi.

Meski lelah terlihat jelas di raut wajah-wajah mereka, sepertinya peluh yang tampak sesekali menetes tak menyurutkan niat dan semangat. Mereka di bawah Lembaga Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa (LPPM), tak kenal lelah, dan terus bahu-membahu mengasah kreativitas menjadi bagian fase perubahan Dolly.

Ketua Kelompok KKN Christina Wibisono mengatakan, semua bersemangat karena berangkat dari jiwa kebersamaan dan kepedulian antar sesama.

“Kami sangat menikmati, karena kami menyadari peran mahasiswa dalam KKN ini. Bukan hanya mewujudkan nilai-nilai pengabdian masyarakat, tetapi sudah menjadi tekad kami ikut mengubah Dolly. Bagi kami, yang terpenting bagaimana agar ilmu yang kami bagi bisa bermanfaat bagi mereka. Warga Dolly sama seperti kami, se-bangsa negara dan se-Tanah Air Indonesia,” ujar Christina kepada Nusantara.news, usai menggelar penyuluhan soal bahaya narkoba dan tindak pidana korupsi di hadapan puluhan warga serta pegawai kelurahan/kecamatan di Balai RW, Jalan Kupang Gunung Timur, Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya, Minggu (7/5/2017).

Mahasiswi Fakultas Hukum kelahiran 30 November 1987 itu mejelaskan, kendati kelompoknya datang hanya 12 kali pertemuan dalam 2 bulan, kegiatan Campus Goes to Kampung (CGK) itu diharapkan bermanfaat bagi masyarakat Dolly.

“Tampaknya ada tanda-tanda berhasil. Sebab, pertemuan kita tinggal beberapa kali, tapi, banyak warga meminta kami tetap di sini, terutamanya yang mengajar kelas bahasa Inggris dan seni tari untuk anak-anak. Yah, itu tentu akan dibahas lagi demi kelanjutaan program kami. Yang jelas, kami berharap semoga program-program kami tetap berjalan meskipun kami sudah pulang,” imbuh Christina, dengan sedikit mengangkat topi sembari tersenyum tipis, lalu mengusap keringat di dahinya akibat kegerahan.

Latih Kewirausahaan, Bikin Kampung Lampion hingga Kampung Warna

Christina mengungkapkan, langkah kongkrit membantu Pemkot Surabaya mengubah wajah dan fungsi Dolly juga dilakukan dengan membentuk tim divisi kewirausahaan. Tugasnya ialah aktif memberdayakan warga, salah satunya dengan cara memberi pelatihan membuat aneka bentuk lampion unik. Sementara, agar menarik perhatian dan mendongkrak penjualan hasil kerajinan, mereka melekatkan ciri gang Dolly binaannya sebagai Kampung Lampion.

“Kami melihat, beberapa warga juga tampak antusias mengikuti pelatihan membuat pernak-pernik lampion dari benang wol dan sendok plastik. Harapan kami, lampion-lampion hasil kerajinan itu bisa dijual ke masyarakat sehingga ada pemasukan,” kata Christina.

Tak hanya itu, mahasiswi yang dikenal murah senyum itu juga menyatakan, bahwa kelompoknya juga membentuk tim kreatif untuk memoles perkampungan yang dulunya tampak kusam menjadi Kampung Warna dengan seni mural.

Kegiatan Mahasiswa Untag Surabaya menyulap Dolly menjadi Kampung Warna dengan seni mural.

“Kami yakin, sejauh mata memandang masyarakat yang melintas di salah satu gang ini, langsung bisa merasakan perubahan dari yang dulu negatif menjadi positif,” tegasnya, sambil berjalan menunjuk salah satu lokasi karya mural kepada Nusantara.news, yang juga didampingi Darma Indra Cipta, selaku mahasiswa koordinator Kampung Warna.

Antusiasme Anak-anak Belajar Tari Remo

Setiap daerah di Jawa Timur mempunyai aneka bentuk kesenian yang kemudian menjadi ciri khas. Demikian halnya di Kabupaten Jombang dengan kesenian ludruknya. Dalam sajian sandiwara ludruk, selama ini sering dijumpai ciri khas pementasan yang berbeda dengan kesenian lain. Yaitu, tari Remo gaya putri dan tari Remo gaya pria, yang biasanya disajikan sebagai pembuka, lawak hingga cerita.

Berangkat dari dasar pemikiran itulah, Ketua Kelompok KKN Chistina Wibisono menunjuk Riztyi Zahrotul agar mengajarkan seni tari Remo ke anak-anak di wilayah Dolly, sebagai bekal kreativitas sekaligus bentuk pelestarian seni dan budaya warisan leluhur.

“Karena kami merasakan antusiasnya anak-anak, maka di sini kami lebih mengajari tari Remo gaya pria Jombangan atau yang biasa disebut tari Remo Boletan. Karya tari monumental itu diciptakan oleh seniman ludruk bernama Sastro Bolet Amenan. Karakter gerakannya santai tapi tegas dan kuat. Tariannya bertema perjuangan, sebagai pembangkit dan pengobar semangat untuk melawan penindasan terhadap rakyat,” jelas Riztyi, mahasiswi Fakultas Ekonomi kelahiran Surabaya, 7 Agustus 1996 itu.

Riztyi Zahrotul saat mengajarkan kelas tari pada anak-anak di Balai RW.

Rizty menambahkan, tarian itu diciptakan dengan tujuan memberikan suri-tauladan serta dedikasi terhadap khalayak, khususnya bagi generasi muda tentang bagaimana bersikap lembut tapi tegas.

“Ungkapan orang Jawa: ya kendho kenceng, mulur mungkret. Artinya, melihat situasi kondisi yang berlaku namun tetap dalam kepastian kata dan tindakan,” papar mahasiswi yang mengaku sebelum kuliah sudah menggemari seni tari itu, sambil melempar sorot pandangannya ke anak-anak yang sejak ditemui Nusantara.news masih berada di kelas tari di Balai RW, tak jauh dari lokasi mural Kampung Warna. 

Ajari Berbahasa Inggris dengan Metode Bersahabat

Dari rangkaian kegiatan edukatif yang digagas mahasiswa Untag Surabaya yang tak kalah menarik adalah membuka kelas Bahasa Inggris pada anak-anak. Menariknya, metode belajar-mengajar yang digagas seperti berhadapan dengan sahabat sendiri. Hal itu dinyatakan oleh Sulaiman Abdullah, seorang mahasiswa Fakultas Sastra Inggris Untag Surabaya.

“Kami merasakan berbahasa Inggris itu sebagai instrumen penting. Maka, kami berharap anak-anak bisa menjadi bibit unggul dan menjadi contoh pemuda di sini yang enggan belajar sehingga bisa dibanggakan para orang tua, khususnya warga di Dolly. Metode yang kami terapkan adalah cara belajarnya seolah dengan sahabatnya sendiri dengan terlebih dahulu merangsang minat jika berbahasa Inggris itu mudah dan keren,” cetus Sulaiman.

Mahasiswa kelahiran Surabaya, 26 Juni 1993 itu menuturkan, meski dengan keterbatasan durasi waktu, dirinya akan tetap berupaya maksimal mengasah kemampuan peserta di kelasnya yang kebanyakan anak-anak SD hingga SMP. Meski itu sangat menguras stamina dan pikiran.

“Kendati durasinya singkat, yang mendorong kami tetap bersemangat adalah minat belajar anak-anak di Dolly sangat besar. Oleh sebab itu, saya berusaha maksimal mengajarkan 12 tenses agar mereka mampu berbahasa Inggris dengan baik dan benar,” terangnya.

Sulaiman Abdullah tampak bersahabat saat mengajarkan kelas Bahasa Inggris.

Dikatakannya, tidak ada kendala selain harus lebih bersabar. Sebab, pada tahap awal perkenalan, sempat tertanam pengalaman baru sekaligus miris di benak Sulaiman. Yakni, kelasnya dipenuhi kepulan asap rokok oleh pelajar anak-anak pria saat proses belajar-mengajar berlangsung.

“Butuh kesabaran ekstra berhadapan peserta didik di sini. Jika tidak memberlakukan cara seperti sahabat sendiri, bakal susah memberi pengertian serta menanamkan atittude yang semestinya, agar bisa saling menghargai antar teman, terutamanya pada pengajar,” tambah Sulaiman, seraya merapikan topi merah berlogo kampus yang dikenakannya. 

Menanam Benih Kebaikan akan Memetik Buah Kebaikan Pula

Sumbangsih pikiran dan tenaga 35 mahasiswa Untag Surabaya dalam rangka KKN tak sampai di situ. Sebagai wujud kepedulian lainnya, mereka dengan sukarela akan mendonorkan darahnya pada Sabtu, 13 Mei 2017 nanti. Selain mahasiswa, pesertanya donor darah juga dibuka untuk umum.

Tak hanya itu, untuk mengakomodir seluruh hasil karya pengabdiannya, mereka juga akan menggelar acara Bazar (pasar murah), Pameran, dan Pentas Seni di Dolly. Lebih lanjut, kegiatan tersebut dikatakan sebagai wadah berekspresi yang juga bertujuan untuk membangkitkan kepercayaan diri warga di Dolly.

“Jujur saja, sebuah kebanggaan luar biasa bagi kami bisa menjadi bagian dari warga di sini. Setelah ini, kelompok kami bersepakat untuk tetap menjalin komunikasi dan kebersamaan dengan warga di Dolly. Kami berharap dari semua program yang kami susun benar-benar bermanfaat ,” tutup Ketua Kelompok KKN Crhistina Wibisonno, sembari kembali tersenyum tipis.

Apa yang ditanam itulah yang diketam. Kalau yang ditanam benih kebaikan maka pasti akan memetik buah kebaikan. Demikian pula sebaliknya, kalau yang ditanam keburukan maka yang dipetik buah hasil dari keburukan. Setidaknya, ungkapan itu cukup mengilustrasikan tagline pengabdian masyarakat “Abdikan Diri Untuk Negeri” yang juga melekat di seragam serba merah yang dipakai Kelompok 1 KKN mahasiswa Untag Surabaya di kawasan eks-lokalisasi Dolly.

Semoga apa yang sudah dan akan dilakukan selanjutnya benar-benar membawa manfaat dan kemaslahatan, terutamanya bagi warga terdampak imbas dari penutupan eks-lokalisasi Dolly. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here