44 Tahun Malari: Mengembalikan Reformasi yang Kita Mau

0
196

Nusantara.news, Jakarta – Peristiwa gerakan mahasiswa menentang modal asing di Era Orde Baru pertama kali meletus pada 15 Januari 1974. Gerakan perlawanan yang dipimpin Hariman Siregar itu kemudian dikenal dengan istilah Malari (Malapetaka 15 Januari 1974).

Spirit perlawanannya telah menemukan titik didih kembali di acara peringatan 44 tahun Malari sekaligus 18 tahun berdirinya Indonesia Democracy Monitoring (Indemo) yang digelar di kampus UGM Yogyakarta. Acara yang mengusung tema “Reformasi yang Kita Mau” tersebut dihadiri para tokoh dan ratusan aktivis lintas zaman.

Dalam fokus bahasannya, mereka mengupas persoalan bangsa pasca reformasi 1998. Mereka berkesimpulan, optimisme reformis untuk menciptakn kehidupan yang lebih baik perlahan-lahan meredup. Padahal selama dua dasawarsa reformasi sudah berjalan. Reformasi yang diinginkan pun dianggap semakin jauh dari angan-angan. Bahkan yang paling mengerikan, reformasi ternyata sudah dibajak oleh pemangku kuasa yang membawa pada pembusukan ekonomi dan politik.

Baca: Oligarki: Sindikat Pengusaha dan Penguasa Musuh Utama Demokrasi

Berikut ini adalah perspektif beberapa tokoh dan aktivis senior menyoal jalannya roda reformasi hingga mengamati dampak dan penyebab rapuhnya institusi-institusi demokrasi di Indonesia. []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here