56 Juta Golput 2014 Penentu Pemenang Pilpres 2019

0
109

Nusantara.news, Jakarta –  Calon presiden dan juga pengamat pada umumnya lebih melihat hasil survey atau jumlah basis suara untuk memprediksi siapa pemenang dalam sebuah pemilihan seperti pemilihan presiden atau pilpres. Keberadaan golput seringkali atau malah diabaikan. Padahal, calon yang berhasil menggerakkan dan berhasil meyakinkan golput, akan memenangkan pilpres dengan tingkat akurasi lebih tepat dibanding jumlah suara basis dan hasil survey. Hal ini terbukti pada pilpres 2004 yang dimenangi pasangan Susilo Bambang Yudhoyono – Muhammad Jusuf Kalla. Juga sudah terbukti pada pilpres 2014 yang dimenangi pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

Golput Penentu

Golput dalam hal ini diartikan sebagai kelompok masyarakat yang belum memiliki pilihan. Mereka mungkin adalah simpatisan partai tetapi beralih pilihan ketika ada yang lebih baik dan lebih menjanjikan. Mereka iadakalanya disebut sebagai massa mengambang.

Keberadaan golput sebagai penentu pemenang pilpres tahun 2004 terbukti dari kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)– Muhammad Jusuf Kalla (JK). Pada Pilpres 2004. SBY-JK ketika itu diusung Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia. Basis suara ketiga partai ini (dihitung berdasarkan jumlah suara masing-masing partai yang diperoleh pada pemilu legislatif 1999) adalah Partai Demokrat (belum ikut pemilu), Partai Bulan Bintang (PBB) 2.049.708 suara (1,94% total suara) atau 13 kursi  (2,81%), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 1.065.686 suara (1,01) atau 4 kursi (0,87%) adalah 3.115.394 suara.

Basis suara ini jauh lebih kecil dibanding basis suara pasangan Megawati Soekarnoputri – Hasyim Muzadi yang diusung oleh partai pemenang pemilu 1999, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan basis suara pada pemilu legislatif 1999 mencapai 35.689.073 suara (33,74%) atau 153 kursi (33,12%). Basis suara keduanya jomplang, ibarat si gendut bongsor dan si kerempeng.

Namun dalam putaran pertama pilpres 2004, pasangan SBY-JK memperoleh 39.838.184 (33,57%), sedangkan pasangan Mega-Hasyim hanya 31.569.104 (26,61%), atau terpaut 8.269.180 suara.

Diperbandingkan dengan basis suara di DPR, Mega-Hasyim kehilangan 4.110.969 suara, sedang SBY-JK memperoleh tambahan suara sangat besar sekitar 38,7 juta suara.

Dari mana sumber suara tambahan SBY-JK tersebut? Kemungkinan sangat besar berasal dari suara golput, suara PDIP yang hilang dan suara faksi JK di Golkar.

Jumlah golput pada pemilu 1999 mencapai 7,3 persen atau sekitar 7 juta pemilih. Sedang suara mega-Hasyim yang hilang mencapai 4.110.969 suara. Sisanya kemungkinan besar dari suara faksi JK di partai Golkar.

Jumlah suara faksi JK di Golkar dapat diketahui dari dari peroleh suara pasangan Wiranto-Salahuddin Wahid yang diusung Partai Golkar pada Pilpres 2004 yakni 26.286.788 suara, dikurangi penjumlahan suara Golkar (Wiranto) dan PKB (Salahudin wahid) pada pileg 1999

Perolehan suara Wiranto-Salahuddin Wahid pada Pilpres 2004 mencapai 26.286.788 suara.  Sementara penjumlahan suara golkar (23.741.749) dan PKB (13.336.982) pada pemilu legislatif 1999 mencapai  sekitar 37 juta dikurangi perolehan suara Wiranto-Salahuddin Wahid pada Pilpres 2004 mencapai 26.286.788 suara yakni sekitar 11 juta suara. Total suara golput ditambah suara faksi JK di Golkar dan mega-Hasyim yang hilang mencapai sekira 22 juta suara. Sementara suara tambahan yang diperoleh SBY-JK mencapai sekitar 36 juta suara. Sebanyak 14 juta suara lainnya diperkirakan dari suara yang jaringan Partai Demokrat yang sudah terbentuk, atau suara dari simpatisan partai lain.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan dua hal. Pertama bahwa suara rakyat dalam pemilu di Indonesia cenderung mengikuti afiliasi partai seorang calon. JK, betapapun tidak dicalonkan Golkar tetapi suara faksi JK di Golkar tetap memberikan suara ke JK. Demikian juga Salahuddin Wahid, walau tidak dicalonkan oleh partai PKB sebagai partai kaum nahdliyin, tetapi kaum nahdliyin cenderung memilih Salahuddin Wahid. Dalam hal ini terlihat ketokohan Salahuddin Wahid lebih kental dibanding Hasyim Muzadi di kalangan nahdliyin. Sebab perolehan suara pasangan Mega-Hasyim malah lebih rendah dari basis susra PDIP.

Pada pilpres 2004 putaran kedua, SBY-JK memperoleh 69.266.350 (60,62%) sedangkan Mega-Hasyim memperoleh 44.990.704 (39,38%).

Dari mana sumber suara yang diperoleh SBY-JK yang bertambah sekitar 30 juta suara dari perolehan suara putaran pertama? Dan dari mana pula sumber suara yang dipeloleh Mega-Hasyim yang juga bertambah sekitar 13 juta suara dari putaran pertama?

Pada putaran kedua ini, dari dua pasang calon, hanya tiga partai yang bertarung, yani PBB dan PKPI yang mengusung SBY-JK, dan PDIP yang mengusung Mega-Hasyim. Partai partai yang pada putaran pertama mengusung 3 pasang calon gugur.

Dalam hal ini harus diasumsikan bahwa pemilih tiga pasang capres yang gugur di putaran pertama berada dalam status “golput” dalam pengertian tidak memiliki afiliasi ke partai PKB, PKPI yang mengusung SBY-JK dan PDIP yang mengusung Mega-Hasyim.

Inilah sumber suara tambahan SBY-JK dan mega-Hasyim. Sebagian besar suara “golput” memilih SBY-JK, sementara sebagian kecilnya memilih pasangan Mega-Hasyim.

Mengapa “golput” memilih pasangan  SBY-JK? Karena golput pada dasarnya terbagi ke dalam tiga kelompok masyarakat. Pertama, kelompok yang disebut parokial yakni kelomok yang tidak memiliki pemahaman politik karena buta huruf dan sejenisnya dan oleh sebab itu merasa lebih baik tidak memilih.

Kedua kelompok subjek, yakni kelompok masyarakat yang memiliki pemahaman politik tetapi memilih tidak memilih karena tidak yakin suaranya akan bermakna untuk perubahan. Ketiga kelompok partisipatif, yakni kelompok masyarakat yang memiliki kesadaran politik tinggi tetapi memilih tidak memilih karena tidak yakin pemimpin terpilih bisa melakukan perubahan.

Tiga kelompok golput akan berubah sikap dan terdorong untuk memilih apabila ada calon yang dinilai meyakinkan atau diyakini akan membawa perubahan.

Karena itu, pada putaran kedua kelompok “golput” diduga memilih pasangan SBY-JK, selain karena figur baru dalam politik, juga karena latar belakang keduanya yakni TNI (SBY) terutama JK yang berlatar belakang pengusaha.

Golput pada putara kedua pilpres 2004 sesungguhnya sangat tinggi. Mencapai sekitar 24 persen atau 31.026.700 pemilih dari  155.048.803 total pemilih terdaftar. Bandingkan dengan golput pada pileg 1999 yang hanya sekitar 7,43 persen. Jumlah golput ini mencerminkan pasangan SBY-JK sesungguhnya tidak terlalu disukai atau tidak terlalu kuat memberikan sinyal perubahan.

Hal ini semakin terbukti pada pemilu 2009 di mana jumlah golput bertambah menjadi 27,77% atau 49.212.158 orang. Pada pemilu 2009 itu hanya dua pasang capres yakni pasangan SBY-Boediono dan pasangan Mega-Prabowo yang kembali dimenangkan pasngan SBY-Boediono.

Masuk pada pilpres 2014, jumlah golput meningkat menjadi 29,8% atau 56.732.857 suara.

Namun demikain ada dinamika atau ada suatu yang baru pada Pilpres 2014. Yakni kehadiran Jokowi dengan nawacita dan terutama terkait janji membawa perubahan yang dikristalisasi dengan sebutan revoluasi mental.

Dinamika ini berdampak luar biasa pada perolehan suara Jokowi-JK. Basis suara Jokowi-JK yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (14.600.091 suara) bersama Partai Nasional Demokrat (belum ikut pemilu 2009), Partai Kebangkitan Bangsa (5.146.122 suara), serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (934.892), adalah 20.681.105  suara.

Bandingkan dengan basis suara Prabowo-Hatta yang diusung PKS (8.206.955 suara) PAN (6.254.580 suara), Golkar (15.037.757 suara) PPP (5.533.214  suara), Gerindra (4.646.406 suara) , mencapai 39.678.912 suara. Basis suara Prabowo-Hatta ini lebih tinggi sekitar 19 juta suara dibandingkan basis suara partai yang mengusung Jokowi-JK.

Namun perolehan suara Jokowi-JK pada pilpres 2014 itu mencapai 70.997.833 atau 53,15%.  Sedangkan perolehan suara Prabowo – Hatta 62.576.444 suara atau 46,85%, atau terpaut 8.421.389 suara dengan perolehan suara Jokowi-JK.

Dari angka perolehan suara tersebut terlihat perbedaan suara PDIP pada Pilpres 2004 dan Pilpres 2014. Pada pilpres 2004 perolehan suara Mega-Hasyim (putaran pertama) lebih rendah dari basis suara PDIP di yang diperoleh pada Pemilu Legislatif 2004.

Sementara  pada pilpres 2014 perolehan suara Jokowi-JK yang juga diusung PDIP jauh melampauai basis suara yang diperoleh PDIP pada pemilu legislatif 2009.

Perolehan suara Prabowo-Hatta juga melampaui atau bertambah ketimbang basis suara seluruh partai pengusung di legislatif 2009. Namun pertambahan suara ke alamat Jokawi-JK jauh lebih besar. Dari mana sumber suara tambahan Jokowi-JK dan Prabowo Hatta- tersebut.

Dapat dipastikan tambahan suara itu berasal dari suara golput 2009 yang mencapai 49.212.158 orang, dan “gulpot” atau pemilih yang partainya tidak ikut mengusung kedua pasang capres.

Sudah barang tentu, walau angkanya bertambah tetapi kelompok golput pada pilpres 2014 diduga merupakan kelompok masyarakat yang berbeda dengan  kelompok masyarakat yang golput pada pilpres 2014.

Kelompok masyarakat yang golput pada pilpres 2014 diduga didominasi oleh kelompok masyarakat yang merupakan kader atau simpatisan yang partainya tidak ikut mengusung salah satu dari dua pasang capres yang ada. Sementara kelompok golput yang tidak mmeilih pada 2009 atau golput yang sebenarnya, memberikan suara ke pasangan Jokowi-JK.

Mengapa kelompok golput yang sebenanrya ini memberikan suara ke Jokowi-JK, adalah karena tawaran perubahan yang dikristalisasi dengan revolusi mental.

Pertanyaannya, bagaimana dengan pilprs 2019 mendatang. Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan bahwa pemilih di Indonesia terbagi ke dalam dua kelompok besar.

Pertama, kelompok pemilih yang merupakan kader atau simpatisan partai. Kedua, kelompok pemilih yang memilih golput, yang pada Pilpres 2014 berjumlah 56,7 juta orang  ditambah pemilih baru.

Kelompok pemilih pertama diduga kuat sudah memiliki pilihan sendiri yang nantinya akan mengikuti pilihan partai atau figur atau kombinasi keduanya. Sedang kelompok pemilih kedua yakni kelompok masyarakat yang memilih golput pada 2014 belum memiliki pilihan.

Dalam perspektif ini tampak bahwa golput yang berjumlah 56,7orang  pada pilpres 2014 ditambah pemilih baru menjadi kelompok pemilih yang menentukan kemenangan seorang calon.  Kualitas calon dengan program perubahan yang ditawarkan dengan sendirinya menjadi pertaruhan

Jika Prabowo dan Jokowi yang kembali bertarung, maka di atas kertas Prabowo relatif lebih  leluasa mengemas isu, misalnya mengkristalisasi program ekonomi kerakyatan dengan suatu bahasa atau istilah yang baru sebagaimana Jokowi hadir dengan istilah revolusi mental.

Sementara Jokowi lebih sempit ruang geraknya karena sudah diketahui kinerjanya, kecuali dia hadir dengan hal-hal yang baru yang kembali menawarkan perubahan lebih lanjut, dan membahasakan kinerja yang diperoleh selama menjadi presiden menjadi catatan keberhasilan yang harus disinambungkan agar tidak terbengkalai di tengah jalan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here