6 Strategi Penanggulangan Bencana Alam di Jatim

0
423
Wagub Jatim Saifullah Yusuf ketika meninjau lokasi bencana di Trenggalek

Nusantara.news, Surabaya – Jawa Timur adalah salah satu termasuk daerah rawan bencana alam, yang ancaman terbesarnya adalah bencana hydrometerologi, meliputi aspek cuaca, iklim dan perubahan iklim.

Wilayah Jawa Timur dikelilingi oleh gunung berapi aktif dan lautan serta intesitas curah hujan yang cukup tinggi. Bencana hydrometerologi mencapai 53,84%, seiring dengan letak georafisnya Jatim memiliki tujuh sungai dengan dua sungai besar yakni Sungai Brantas dan Bengawan Solo.

Sungai menjadi pemicu terjadinya banjir yang di picu oleh curah yang tinggi. Selain itu, dataran tinggi sebagai sumber dari banjir bandang dan faktor geografis dikelilingi Laut Jawa membuat Jawa Timur rawan bencana banjir. Dari data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, selama Januari 2017 setidaknya 87 kejadian bencana alam terjadi di Jawa Timur. Bencana alam yang termasuk dalam kejadian bencana alam ini merupakan kejadian besar meski tak menelan korban jiwa.

Pemerintah Jawa Timur sendiri saat ini fokus mengimplementasikan komponen sistem nasional penanggulangan bencana sebagai langkah kongkret mengantisipasi bencana yang akan terjadi di wilayah setempat. Apalagi baru-baru ini Gubernur Jawa Timur Soekarwo mendapat penghargaan dalam upaya menanggulangi kejadian bencana dan upaya membina Taruna Siaga Bencana (Tagana) di wilayah yang dipimpinnya dari pemerintah pusat.

Wakil Gubernur Saifullah Yusuf mengungkapkan, setidaknya ada enam strategi dalam penanggulangan bencana di Jawa Timur, yaitu legislasi, perencanaan, kelembagaan, pendanaan, pengembangan kapasitas dan penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Dijelaskannya, legislasi meliputi peraturan daerah, peraturan gubernur, peraturan bupati/wali kota yang terkait penanggulangan bencana.Kemudian perencanaan meliputi rencana penanggulangan bencana , rencana kontingensi, rencana aksi daerah dan sebagainya. Di sisi kelembagaan, kata dia, adalah pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), unsur pengarah, forum tematik penanggulangan bencana dan lainnya. “Dari sisi pendanaan dari APBD, APBN, partisipasi masyarakat dan dunia usaha, serta pengembangan kapasitas meliputi aparatur pemerintah, masyarakat dan dunia usaha,” ucapnya, Senin (27/3/2017).

Satu lagi, lanjut dia, adalah penyelenggaraan penanggulangan bencana yaitu pada saat pra bencana bertindak preventif, pada saat bencana dengan responsif dan usai bencana melakukan pemulihan. Dengan demikian, peran dari berbagai pihak sehingga tak mengandalkan pemerintah untuk menanggulangi bencana karena merupakan tanggung jawab semua elemen. “Penguatan tata kelola penanggulangan bencana dalam persperktif pemerintah, masyarakat dan dunia usaha menjadi penting untuk diwujudkan bersama,” kata Gus Ipul.

Berdasarkan data dari BPBD Jatim, secara keseluruhan selama tahun 2016 di Jatim terdapat 386 bencana, dari 2.384 bencana yang terjadi di Indonesia. Sebanyak 29 kabupaten/kota di Jatim merupakan daerah yang berisiko tinggi bencana. Risiko tinggi bencana yang dihadapi 29 daerah itu tidak sama. Ada yang rawan bencana tanah longsor, banjir, puting beliung, gempa dan gunung berapi. Bencana terbanyak adalah banjir. Ada juga bencana kekeringan dan kebakaran hutan.

BPBD Jatim juga menyebutkan, ada 13 daerah yang sering terjadi banjir jika musim hujan tiba, yakni Ngawi, Madiun, Lamongan, Tuban, Gresik, Mojokerto, Pasuruan, Bondowoso, Sampang, Ponorogo, Pamekasan, Bojonegoro dan Surabaya. Sementara bencana dan gunung meletus, terjadi di enam daerah. Masing-masing, Blitar, Lumajang, Kediri, Malang, Probolinggo dan Pasuruan. Sedangkan, bencana puting beliung hanya terjadi di empat daerah, Ponorogo, Situbondo, Sidoarjo dan Bangkalan.

“Saat ini upaya pemantauan kondisi wilayah rawan bencana terus ditingkatkan. Selain itu upaya sosialisasi terus dilakukan kepada masyarakat terutama masyarakat yang tinggal didaerah rawan bencana seperti masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS) di sepanjang Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang rawan banjir. Guna mencegah risiko dan kerugian akibat bencana alam, BPBD Jawa Timur melakukan serangkaian aksi. Mulai dari kesiapsiagaan sebelum bencana meliputi mitigasi bencana, pencegahan,rencana siaga, dan peringatan dini pada masyarakat,” ungkapnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here