7 Langit dan 7 Lapisan Bumi Hukumnya Milik Masjid Assakinah

0
222
Shalat Jumat di masjid Assakinah.

Nusantara.news, Surabaya – Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dengan tegas menolak pembongkaran masjid Assakinah di komplek Balai Pemuda 22 Oktober lalu. Bahkan sekalipun masjid dibangun penggantinya yang lebih besar dan megah di dalam gedung DPRD Kota Surabaya, hal itu justru akan menimbulkan perpecahan di antara umat Islam.

“Dalam surat Al-Baqarah ayat 181, jelas sekali bahwa hal itu tidak diperbolehkan, merubah bentuk masjid yang memang masjid asli menjadi masjid beratapkan gedung. Apalagi ini belum dibangun tapi sudah digusur, apakah tidak ada lahan lain di komplek seluas ini,” ujar Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdushomad Bukhori dalam pertemuan yang digelar di kantor DPRD Surabaya, Kamis (23/11/2017) antara Komisi C dan Pemkot Surabaya yang diwakili Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang, Ery Cahyadi, dengan perwakilan MUI, NU dan Muhammadiyah.

Alasan Kiai Abdushomad menolak adanya masjid di atas gedung, karena hal itu dapat menurunkan status Masjid Assakinah. Dengan merubah bentuk masjid, maka merubah fungsi masjid menjadi hanya tempat sholat.

“Mestinya harus ada upaya, kalau itu digusur maka syiar hilang. Problem masjid ini menjadi sangat pelik karena ini pusat kegiatan keagamaan Islam, ini persoalan umat. Bukan persoalan fasilitas bagi anggota dewan,” ujarnya.

Kiai Abdushomad menyayangkan langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang terkesan mengesampingkan tempat-tempat ibadah seperti masjid. “Surabaya ini belum punya masjid kota. Masjid Al-Akbar itu masjid nasional, bukan masjid kota. Lha sekarang kok malah masjid  Assakinah dibongkar. Jangan membangun masjid untuk memecah belah umat Islam. Negara kita bukan sekuler tapi Pancasila,” ujar Kiai Abdushomad yang juga menjadi Imam Besar di Masjid Al-Akbar, Surabaya.

Pertemuan DPRD Surabaya Komisi C dengan para ulama dan kiai di Surabaya, Kamis, (23/11/2017). MUI, NU dan Muhammadiyah dengan tegas menolak pembongkaran masjid.

Muhammad Yunus, Sekretaris MUI Jatim, mengatakan perancangan masjid di bawah gedung DPRD berlantai 8, dikhawatirkan sebagai upaya memecah belah umat Islam. “Jangan membangun masjid untuk memecah belah umat Islam,” tegasnya.

Yunus bahkan meminta anggota dewan mundur dari posisinya jika sudah tidak mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat. “Kalau anda tidak bisa mewakili kami silahkan pergi. Kami akan mencari wakil yang lain,” tegasnya.

Yunus menilai ada kejanggalan dalam pola pembangunan yang dijalankan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma). Sebab Risma saat ini hanya peduli dengan kondisi taman yang ada di Kota Pahlawan. Orang nomor satu di kota pahlawan tersebut terkesan lalai dengan masalah tempat ibadah. Contohnya masjid yang berada di Middle East Ring Road (MERR). Masjid itu hilang tanpa bekas dan tidak kunjung dibangun. “Sama halnya masjid As-Sakinah belum ada pengganti tapi sudah dibongkar,” kecam Yunus.

Baca juga: Rubuhkan Masjid, Risma Digugat Rp10 Ribu

Sementara itu Rois Syuriah PCNU Surabaya, KH Mas Sulaiman menyebut, masjid Assakinah harus dibangun terpisah dengan gedung dewan. Pasalnya masjid tersebut sudah diwasiatkan menjadi masjid yang berdiri sendiri. Kalau masjid sudah diwasiatkan, maka tidak boleh ada bangunan atau bahkan menjadi satu atap dengan gedung lain. Sebaliknya, kalau hal itu dipaksakan, itu bukan masjid namanya tapi mushola.

Adapun tanah yang secara resmi ditakyin (dinyatakan) sebagai masjid, maka tidak boleh dibangun selain untuk kepentingan masjid. Dalam kaitan pembangunan gedung dewan yang berada di atas tanah masjid, maka secara hukum fiqih itu dilarang.

“Ini jelas merubah fungsi masjid Assakinah, yang sebelumnya sudah berdiri sendiri dan diwasiatkan. Surat menyurat hukum administrasi tidak bisa dikaitkan dengan hukum masjid. Jika suatu tanah sudah di peruntukkan untuk masjid, maka tujuh langit ke atas dan tujuh lapisan bumi ke bawah hukumnya adalah hukum masjid,” ujar Kiai Sulaiman.

Seperti diketahui tanah masjid Assakinah sudah diamanatkan oleh Wali Kota Surabaya sebelumnya, Soenarto Soemoprawiro, saat peresmiannya pada tahun 1997. “Ini berarti sudah diwasiatkan  oleh Pak Narto. Saya masih ingat betul, karena saya dulu juga berkantor di kompleks ini,” ujar Kiai Muhibin, salah seorang wakil dari PCNU Surabaya.

Foto Masjid Upaya Pembodohan Publik

Pembangunan gedung dewan dan pembongkaran masjid Assakinah sebenarnya sejak awal sudah ada yang janggal. Pasalnya sebanyak 50 anggota dewan tidak tahu rencana tersebut. Wajar jika sekarang ini Pemkot Surabaya panik. Sebab Walikota Risma dan Ketua DPRD Armuji dilaporkan Polda Jatim oleh Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) atas tuduhan penodaan agama. Karena panik, kini Pemkot Surabaya menyajikan foto-foto masjid yang sudah jadi.

Baca juga: Risma jadi Ahok ke-2

Hal itu terkuak dalam pertemuan yang dipimpin Ketua Komisi C Syaifuddin Zuhri dan dipantau Ketua DPRD Armuji dan wakilnya, Masduki Toha. Dijelaskan rencana pembangunan masjid Assakinah di lantai dasar, sementara di atasnya terdapat gedung tinggi 8 lantai yang diperuntukkan untuk anggota dewan. Berdasarkan design perancangan pembangunan yang ditunjukan oleh DPRD Surabaya dan Dinas Permukiman Rakyat Cipta Karya, masjid itu bakal menjadi satu dengan gedung baru DPRD Surabaya.

Wakil Ketua Masduki Thoha mengaku tidak tidak tahu menahu soal ihwal dibongkarnya masjid Assakinah. “Saya baru tahu saat dihubungi seorang kawan, dan mendadak bingung. Langsung saya mencarikan solusi agar masyarakat sekitar komplek Balai Pemuda bisa melakukan ibadah sholatnya,” kata Masduki.

Dengan kejadian ini, dirinya sampai berjanji akan mundur dari kursi DPRD jika dalam penerapan pembangunannya, masjid Assakinah tak sesuai dengan perancangan dan fatwa dari para ulama, di mana Masjid seharusnya terbuka, dan memiliki fungsi syiar bagi masyarakat.

“Kami-kami ini sebagai pimpinan di DPRD tidak melakukan, bila menyalahi apa kata kiai. Namun bila itu terjadi, saya orang pertama yang akan mundur dari DPRD Surabaya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang, Ery Cahyadi, mengatakan pihaknya akan fokus membangun masjid Assakinah terlebih dahulu. Ery kemudian menunjukkan foto-foto rencana pembangunan masjid.

“Kami akan segera membangun kembali Masjid Assakinah terlebih dahulu, jika kemudian perancangan gedung dewan akan berdiri di atasnya atau di lokasi lain, itu nanti tergantung apa fatwa ulama,” ujar Ery.

Masjid itu ditargetkan akan selesai pada pertengahan tahun 2018, Ery, mengatakan masjid ini akan dibangun lebih luas dengan interior yang mewah.

Memang, melihat gambar-gambar masjid yang di bawahnya tertulis ‘Interior Masjid Assakinah’, nampak sekali rencana masjid itu sangat indah, jauh lebih indah dibanding masjid Assakinah yang telah dibongkar. Tetapi ada yang janggal, bahwa gambar masjid itu bukan berupa rencana tetapi foto dari interior masjid yang sudah jadi, dan jelas bukan masjid di Indonesia. Diperkirakan gambar itu adalah foto dari sebuah masjid yang ada di negara Timur Tengah.

Rancangan interior masjid Assakinah yang mengambil foto masjid Timur Tengah. Pemkot Surabaya dituding panik.

“Upaya pembodohan yang ceroboh, ini membenarkan tudingan bahwa Pemkot asal bongkar saja masjid Assakinah. Setelah mendapat reaksi masyarakat, Pemkot panik lantas melakukan hal-hal yang ngawur dan ceroboh,” kata seorang anggota DPRD Surabaya dari komisi yang berhubungan dengan Kesra.

Hasanudin dari Sakera (Satu Kedaulatan Rakyat) mengkritisi pertemuan tersebut dengan mengatakan, setelah ramai baru berinisitif mengadakan pertemuan. Ini pertanda Pemkot dan DPRD tidak memiliki konsep yang matang tentang kawasan Balai Pemuda sebagai cagar budaya. Mereka hanya mementingkan proyek gedung senilai Rp 60 miliar ini harus terlaksana. Tapi di situ ada pembodohan yang disajikan.

“Masa masjid lain jadi gambar rencana pembangunan. Kalau design masjid bukan seperti itu. Foto-foto visual masjid yang ditayangkan merupakan bentuk kepanikan Pemkot dan DPRD Surabaya,” terang Udin, sapaan Hasanudin.

Ditambahkan Udin, banyak kecerobohan yang dilakukan penguasa Surabaya. Mereka melakukan trik-trik untuk membuat masyarakat percaya. Seperti sebelumnya, mereka beralasan membongkar masjid karena sudah berkonsultasi dengan para ulama. Tapi nyatanya, baru sekarang ini mereka bertemu ulama dan tokoh masyarakat.

“Kemarin dulu mereka membuat pernyataan katanya untuk membongkar masjid Assakinah sudah melakukan konsultasi dengan organisasi agama dan alim ulama. Setelah ramai, baru mereka mengundang organisasi agama untuk berdialog. Itu berarti Pemkot dan DPRD bohong,” tudingnya.

Arogansi Risma Cs

Komunitas Bambu Runcing Surabaya (KBRS) kembali menggelar shalat Jumat. Shalat ini merupakan kali keempat digelar di reruntuhan masjid Assakinah pada Jumat, (24/11/2017).

Hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya dan menyebabkan banjir, tetap membuat khusyuk jamaah masjid Assakinah untuk menunaikan shalat Jumat, meski di kanan kiri mereka terdapat air menggenang akibat derasnya hujan yang mengguyur bagian atas Assakinah yang kini sudah tak beratap karena pembongkaran. Dengan diikuti lebih dari 40 jamaah, para jamaah mengambil shaf  di bawah reruntuhan yang tidak langsung kena guyuran hujan.

Shalat Jumat di reruntuhan masjid Assakinah di tengah guyuran hujan, Jumat, (24/11/2017).

Nah, di antara jamaah, ada Dr Tjuk Kasturi Sukiadi, seorang budayawan dan ekonom sekaligus guru besar di Universitas Airlangga. Rupanya Tjuk penasaran dengan pembongkaran masjid Assakinah yang dilakukan Risma Cs secara arogan tersebut.

Baca juga: Cuma Raja Tega yang Berani Bongkar Masjid

“Baru tadi malam saya baca dari media kawan bahwa ada sholat Jumat di sini, saya ingin melihat kondisinya. Ternyata kondisinya seperti ini. Jadi wajar bila teman-teman menentang Walikota dan  DPRD. Menurut saya  itu adalah sikap yang sangat benar. Kita harus menentang arogansi kekuasaan,” kata Tjuk seusai shalat Jumat.

Apapun alasannya, kata Tjuk, pembongkaran masjid Assakinah tanpa dibangun kembali merupakan bentuk kesewanang-wenangan pemerintah Surabaya. Kalau pun dibangun, tentu tidak meninggalkan fungsi masjid. Sebaliknya, masjid yang dibangun tapi fungsinya sudah berubah, itu namanya pelanggaran.

Apalagi, ditambahkan pria yang menjadi penggerak reformasi di era 1998, pembongkaran masjid Assakinah dilakukan tanpa pemberitahuan. Main bongkar untuk kepentingan gedung DPRD yang baru, hal yang menurutnya tak terlalu dibutuhkan masyarakat.

“Penggusuran masjid karena jalan tol saja, itu ada perundingan, waktu dan perhitungan. Ini kok tanpa ada pemberitahuan. Apa mereka merasa karena sebagai pemangku jabatan langsung saja membongkar. Ini kan nggak bener” tegas Tjuk.

Di dunia manapun, imbuh Tjuk, tak ada pemerintah yang melakukan tindakan semena-mena seperti ini. “Ini rumah suci kita, rumah ibadah kita, tidak ada penguasa manapun yang melakukan hal seperti ini. Di sini pemerintah sudah tak punya sense,” lanjutnya.

Tidak semestinya pemerintah membongkar masjid dengan dalih pembangunan, mengingat kompleks Balai Pemuda juga bagian dari sejarah. Seharusnya bangunan di kompleks bersejarah diperlakukan dengan baik.

Sebagai gedung dan kawasan bersejarah, Balai Pemuda tidak bisa dilepaskan dari pemerintahan Indonesia. Dari mulai pergantian orde lama ke orde baru hingga reformasi, Balai Pemuda tetap menyimpan sejarah. Bahkan pemerintah sebelumnya juga tidak asal membongkar. “Hanya karena keinginan mendirikan gedung DPRD 8 lantai, yang gunanya kita tidak mengerti, sampai-sampai menggusur masjid. Sekali lagi ini arogansi kekuasaan,” pungkas Tjuk.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here