Jokowi, dari Harapan Menjadi Beban (2)

0
199
The JPMorgan Chase & Co. logo is displayed at their headquarters in New York, Monday, Oct. 21, 2013. JPMorgan Chase & Co. has tentatively agreed to pay $13 billion to settle allegations surrounding the quality of mortgage-backed securities it sold in the run-up to the 2008 financial crisis, a person familiar with the negotiations between the bank and the federal government said Saturday. (AP Photo/Seth Wenig)

Nusantara.news, Jakarta – Dua tahun sudah Jokowi duduk sebagai orang nomor satu di Indonesia. Masihkah idiom “membeli masalah” dan “negara harus hadir” yang meringkankan rakyat menjadi karakter kekuasan Jokowi?

Ketika Jokowi cepat mengalokasikan dana APBN untuk pembangunan infrastruktur di hampir seluruh Indonesia seperti Trans Papua, Trans Sumatera, dan lainnya, publik berbinar. Demikian juga ketika Jokowi mengambil keputusan berani menghilangkan disparitas harga bahan bakar minyak di Papua, publik pun tersenyum.

Bagaimana sekarang? Harga-harga mulai naik. Antara lain kenaikan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak (PNPB) yang berlaku di Kepolisian RI. Kemudian kenaikan tarif dasar listrik golongan 900 va, juga kenaikan harga-harga kebutuhan pokok seperti cabai.

Beijing: Kiblat Baru Ekonomi Indonesia

Namun, di tengah harapan rakyat, juga muncul sejumlah perkembangan yang diperkirakan akan semakin menambah beban rakyat. Antara lain adalah masuknya tenaga kerja asal Cina yang menurut Dirjen Imigrasi sudah mencapai 1,3 juta orang pada tahun 2016. Ancaman tersingkirnya pekerja Indonesia amat nyata dalam kasus ini.

Selama ini kebijakan pemerintah Cina terkait investasi di luar negeri umumnya menggunakan skema turn key project di mana pihak berperan penuh melaksanakan seluruh proyek mulai dari dana, teknologi dan tenaga kerja. Skema ini jelas mengkhawatirkan, karena peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di berbagai proyek yang dibiayai Cina akan tertutup. Tidak mengherankan jika isu TKA asal Cina ini sempat menghangat di masyarakat akhir-akhir ini, sekalipun data jumlah TKA Cina yang beredar di publik boleh jadi agak didramatisir.

Yang juga menakutkan dan potensial menjadi bom waktu bagi kadaulatan nasional adalah kebijakan mengizikan orang asing memiliki rumah dan tanah di Indonesia. Hal semacam ini tentu mencemaskan banyak pihak di Tanah Air, mengingat peluang dominasi asing atas properti semakin terbuka lebar. Tentu bukan sebuah kebetulan jika kebijakan ini ditempuh bersamaan dengan menguatnya kedekatan Jokowi dengan Cina.

Lebih dari itu, pernyataan Jokowi yang akan mematok nilai mata uang Indonesia ke mata uang Cina, Yuan/RMB, juga semakin menguatkan indikasi bahwa Cina menjadi satu-satunya kiblat utama perekonomian Indonesia saat ini. Sikap semacam ini oleh banyak kalangan dinilai kurang bijaksana.

Di tengah-tengah dua kekuatan raksasa yang menjadi pemain utama dalam pentas geo politik di kawasan Asia Pasifik, Jokowi tidak mengambil langkah keseimbangan, melainkan justru memihak pada salah satu kekuatan dan menganggap remeh pihak lain. Kebijakan semacam ini jelas mencederai prinsip-prinsip bebas-aktif sebagai landasan politik luar negeri yang selama ini dianut Indonesia.

Penting untuk digarisbawahi bahwa Presiden AS terpilih Trump, mengambil sikap berbeda dengan presiden AS sebelumnya. Walau baru akan dilantik tanggal 20 Januari 2017, Donald Trump sudah mengeluarkan pernyataan kritis terhadap Cina, terutama menyangkut hubungan ekonomi kedua negara yang oleh Trump dinilai lebih banyak menguntungkan Cina.

Trump pun berjanji pada publik AS bahwa ia akan bertindak tegas terhadap Cina. Naiknya suku bunga the Fed beberapa waktu yang lalu yang sempat menggerus cadangan devisa Cina akibat  melemahnya kurs Yuan/RMB terhadap AS$ oleh banyak kalangan dinilai sebagai “pelajaran pertama” dari AS untuk Cina.

JP Morgan: Tikaman Mematikan

Hampir senasib dengan Cina, performa ekonomi Indonesia juga ikut terkena pukulan. Pasca terpilihhya Trump, JP Morgan memangkas peringkat surat utang atau obligasi Indonesia dari overweight menjadi underweight atau turun dua peringkat. Indonesia bahkan dianggap lebih buruk dari Brazil yang hanya turun 1 peringkat dari Overweight menjadi Neutral, padahal Brazil sendiri sedang dalam masa resesi. Atas dasar itu, JP Morgan menyarankan agar investor mempertimbangkan membeli surat utang dari negara lain yang lebih baik.

Sejauh ini belum dapat dipastikan apakah penilaian JP Morgan merupakan akibat langsung dari kedekatan hubungan Indonesia dan Cina, sekalipun dugaan semacam itu cukup masuk akal.

Dengan demikian, kecenderungan langkah politik Jokowi yang mendekat ke Cina bukannya risiko. Sikap Trump yang cukup keras terhadap Cina berpotensi melemahkan ekonomi Cina. Soal ini potensial merugikan kepentingan Indonesia yang cenderung pro Beijing. Penilaian JP Morgan terhadap performa obligasi pemerintan memiliki efek yang  cukup memberatkan bagi Indonesia.

Di tengah-tengah kebutuhan untuk menutup defisit anggaran, jatuhnya harga obligasi pemerintah sebagai akibat penilaian JP Morgan membuat opsi kebijakan ekonomi Indonesia menjadi sangat terbatas dan sulit jika tidak ingin dikatakan tetutup sama sekali. Efek jangka panjangnya adalah bahwa Jokowi akan semakin mengalami kesulitan dalam mengalokasikan belanja pembangunan di tahun anggaran 2017. Akibatnya, kesejahteraan rakyat potensial dikorbankan.

Semua kebijakan tersebut benar-benar menggambarkan sosok Jokowi yang berbeda dengan sebelumnya. Jokowi yang awalnya diyakini “membeli” masalah rakyat untuk tujuan meringankan beban rakyat, dan menghadirkan negara di tengah tengah kesulitan mereka seperti dalam kasus Lapindo, kini nyaris terjadi sebaliknya.

Melalui serangkaian kebijakannya Jokowi justru menambah beban rakyat. Oleh karenanya, Jokowi kini prakatis jauh dari rakyat. Ketidakhadirannya di tengah-tengah aksi damai yang dikenal dengan aksi 411 yang muncul menyusul dugaan penistaan agama yang dilakukan mantan bawahan Jokowi di DKI Jakarta, yakni Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok merupakan salah satu indikator yang menunjukkan betapa antara Jokowi dan rakyat terdapat jurang yang menganga. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here