8 Daerah di Jatim Rawan Terorisme

0
68

Nusantara.news, Jakarta – Dua aksi serangan bom di Surabaya dan bom rakitan di Sidoarjo, membuat publik terhenyak, mengapa di Surabaya? Mengapa tidak di Jakarta atau Palembang yang akan menjadi tempat diselenggarakanya ASIAN Games? Nyaris semua pengamat terorisme awalnya agak kebingungan mengkaji aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga di Surabaya. Semua teori tentang terorisme seolah dibalikkan. Bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga menghancurkan teori yang ada tentang terorisme itu sendiri. Telusur punya telusur, Jawa Timur memang bukan daerah asing bagi teroris sebab teroris bom Bali antara lain berasal dari Jatim. Ditelusuri lebih jauh, Jatim rentan menjadi sarang subur terorisme.

Sarang Subur

Pola teror di Surabaya dan Sidoarjo masuk kategori pola baru, termasuk membuka sel jaringan baru serta mengaktifkan sel tidur (sleeping cell). Tampaknya wilayah Jawa Timur yang selama ini telah lama ‘tidur’ sudah diaktifkan kembali. Jaringan terorisme sedang memperkuat diri. Misalnya jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Sebelumnya jaringan JAD aktif di wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Namun sebagian besar sudah diidentifikasi kepolisian dan sudah dilakukan upaya penangkapan yang cukup masif. Sehingga bisa saja ada rencana-rencana baru, termasuk memperkuat jaringan JAD di wilayah timur.

Geliat teroris yang tengah memperkuat diri di Jawa Timur sudah terlihat sebelum terjadinya teror di sejumlah gereja di Surabaya. Pihak kepolisian sudah pernah menangkap terduga teroris di sejumlah wilayah, seperti Tuban, Lamongan, Mojokerto, dan Madiun. Rangkaian penangkapan terduga teroris di Jawa Timur sudah mengarah pada kesimpulan di mana ada kelompok teror yang sedang mengorganisasi diri.

Dipilihnya Surabaya sebagai sasaran teror karena kota ini adalah barometer keamanan di Indonesia sekaligus kota kedua terbesar kedua setelah Jakarta. Sehingga efek bom di Surabaya sama dengan Jakarta. Dengan melakukan serangkaian aksi teror di Surabaya, maka hal ini akan memunculkan sebuah fenomena baru. Apalagi Surabaya belum pernah dijadikan sasaran teroris. Ditambah, pelaku melibatkan anggota keluarga.

Jaringan JAD yang sudah terbentuk di Jawa Timur, tampaknya membuat target sendiri di sekitar posisi mereka. Ibarat orang arisan, mereka dilotere/diundi. Sel-sel jaringannya tidak ada yang berubah. Dari dulu kelompoknya sama, hanya nama yang berubah.

Pergerakan kelompok JAD tidak beda dengan kelompok teroris sebelumnya seperti Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), NII (Negara Islam Indonesia), Majelis Islam Tauhid atau lebih dikenal dengan sebutan Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan Mujahidin Indonesia Barat (MIB).

Buktinya dalam kurun waktu lima hari pasca bom bunuh diri di Surabaya, Densus 88 Antiteror Mabes Polri bergerak melakukan penangkapan para terduga teroris di Jawa Timur. Mulai dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Probolinggo sampai Mojokerjo. Artinya, kelompok-kelompok ini memiliki hubungan satu dengan lain. Sehingga peran kelompok-kelompok ini gampang terdeteksi.

Sel terorisme di Jawa Timur

Selama ini wilayah Jawa Timur masih memang masih rentan terhadap pergerakan penganut paham radikal dan terorisme. Ada tiga wilayah di Jawa Timur yakni Malang, Lamongan, dan Surabaya, yang masih dihuni cukup banyak aktivis paham tersebut.

Bahkan Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Soubar Isman belum lama ini menerangkan, sejak dua tahun terakhir pihaknya sudah melakukan survei terkait potensi suburnya radikalisme di sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur. Survei ini dilakukan bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Proses survei itu dilakukan antara lain di Sidoarjo, Gresik, Sumenep, Pasuruan, Malang Kota dan Kabupaten Lamongan, Tuban, Blitar, Tulungagung, dan Banyuwangi. Dan berdasarkan hasil survei, delapan daerah di Jawa Timur sangat rawan dimasuki gerakan radikal dan teroris.

Proses regenerasi teroris di sejumlah wilayah Jawa Timur boleh dibilang berjalan mulus. Penyebaran sudah dilakukan di 16 kabupaten/kota di Jatim. Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan jika lingkungan sekitar terpengaruh faham radikalisme tersebut. Dan sejauh ini yang sudah terdata baru 16, yaitu Trenggalek, Lumajang, Surabaya, Lamongan, Blitar, Jember, Probolinggo, Jombang, Madura, Malang, Tulungagung, Banyuwangi, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, dan Mojokerto.

Secara historis, Jawa Timur, sejak awal sudah menjadi tempat gerakan radikal kendati dikenal sebagai kawasan santri. Sangat jarang kelompok-kelompok teroris memasuki wilayah pondok pesantren di Jawa Timur. Sebab lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia ini selalu menyebarkan ajaran Islam yang moderat. Justru forum-forum di luar pesantren-lah yang mudah dimasuki paham radikal.

Dari zaman Abdullah Sungkar hingga periode pengiriman (orang) ke Suriah belakangan ini, kawasan Jawa Timur telah menjadi ruang hidup bagi tokoh ekstremis. Di sini tokoh-tokoh radikal dapat berinteraksi selama periode eksodus ‘jihadis’ ke Ambon dan Poso pada awal 2000. Sel-sel teroris baru yang lahir dari perpecahan lanjutan JI yang di kemudian hari menjadi lebih sulit dilacak.

Adanya proses regenerasi itu bertujuan agar pergerakan mereka tidak mati. Misalnya Dita Oeprianto, kelompok JAD ini telah melalui proses regenerasi cukup lama. Dita memiliki guru spiritiual, salah satunya adalah Cholid Abu Bakar, yang diyakini sebagai tokoh senior eks JI yang dulu sempat hijrah di Malaysia.

Memang wajah JAD berbeda dengan JI. Salah satunya, kelompok JAD tidak perlu berbaiat langsung kepada sang amir sebagaimana terjadi di era JI. Semuanya berjalan secara praktis. Seperti dikatakan mantan Kepala Densus 88 Antiteror Brigjen (pur) Surya Dharma, saat ini jaman multimedia. Mereka bisa saja berbaiat lewat media sosial, lewat video call, atau bahkan hanya dengan melihat video lalu merasa sudah cukup. Intinya mereka menginduk kepada Abu Bakar al Bahdadi di ISIS. Hal lain yang berubah adalah soal waktu dan tempat mereka melakukan amaliah. Menurut Surya, mereka tidak perlu lagi menunggu fatwa dan perintah dari amir.

Ada tiga kelompok sel teror besar yang masih aktif di Indonesia meski beberapa di antaranya adalah sel tidur. Pertama, JI atau neo JI yang berkiblat ke Jabal Nusrah di Suriah ataupun Al Aqaedah. Kedua, JAD yang merupakan pecahan besar dari JAT di mana pecahan JAT lainnya adalah Jamaah Ansharu Sunnah (JAS). Mereka bersumpah setia pada ISIS dan di Indonesia dikomandani oleh Amman Abdurrahman yang kini mendekam di Rutan polisi.

Ketiga, simpatisan NII khususnya ring Banten. Kelompok ini dikomandoi oleh Rois yang kini mendekam di Lapas Nusakambangan setelah divonis mati dalam kasus Bom Kedubes Australia. MIT dengan tokohnya Santoso sudah tidak terlalu signifikan. Bisa dikatakan MIT adalah cabang JAD.

“Memang kini hanya sekelompok saja yang melakukan kekerasan. Tapi sel tidurnya banyak dan ini bisa aktif sewaktu-waktu seperti sel Surabaya. Soal mengapa momen menyerangnya sekarang, banyak faktor, termasuk fatwa ISIS pusat sebelumnya dan juga faktor rusuh Mako Brimob,” kata Surya.

Munculnya bom bunuh diri di Surabaya, menurut Ali Fauzi, mantan instruktur JI, yang kini menjadi direktur eksekutif Lingkar Perdamaian, sempat memberi ‘kejutan’. Sebab Surabaya di masa lalu hanya dijadikan tempat breeding alias lumbung mencari bibit baru ikhwan-ikhwan jihadis. “Kami selalu menghindari Surabaya jadi target seperti bom malam natal, tahun 2000 kita pilih Mojokerto dan pilih Jakarta atau Bali,” kata Ali.

Lanjut Ali, tindakan Dita sekeluarga bisa diartikan sebagai jihad individu dibanding jihad tandzim (organisasi). Kalau JAD lebih banyak ke permasalahan ideologi, dengan berperang melawan rakyat dan masyarakat juga budaya di negaranya sendiri, sedangkan JI berperang melawan orang asing. JAD sendiri muncul ketika para pemimpin JI sudah tidak ada yang bisa dijadikan panutan. Hal itu dimanfaatkan dari kelompok lain yang berseberangan dengan JI.

Akhirnya muncul kelompok teroris seperti NII, MIT, JAT dan JAD yang berbaiat ke ISIS. Kelompok teroris ini lebih banyak melakukan cuci otak ke masyarakat supaya bisa bergabung untuk berperang. Salah satu yang menjadi sasaran adalah aparat keamanan. Sebaliknya JI tidak kenal ISIS, tidak tahu ISIS. Tapi tahu siapa orang di balik terbentuknya ISIS. Berbeda dengan ISIS. Kalau ISIS di Indonesia ini adalah NII, MIT, JAT dan JAD. ISIS Indonesia tidak tahu seperti apa JI yang sebenarnya. Kalau dipertemukan akan terjadi perdebatan, bahkan bisa akan berperang. Karena JI sendiri sudah tidak ada. Apalagi dalam afiliasinya, JI ini organisasi tertinggi kalau di Indonesia hingga di Asia daripada mereka (kelompok ISIS Indonesia). Walaupun tidak bisa dipungkiri para pemimpin JI dan ISIS Indonesia dulunya sama-sama pernah melakukan kamp berlatih di Poso, Mindanao Filiphina dan Afghanistan.

Begitu pula penggunaan perempuan dan anak-anak sebagai aktor ‘pengantin’, kata Ali, hal ini memang tidak dikenal di era JI. Sebab penggunaan perempuan dan anak-anak adalah ciri sempurna jika mereka terpapar ISIS.

Namun demikian, bukan berarti tumbuhnya proses regenerasi teroris di Jawa Timur (kini dikenal JAD) tidak kaitannya dengan jaringan teroris yang selama ini sudah ada di Jawa Timur. Evolusi kelompok teror, mulai JI, JAT, hingga JAD yang memayungi para keluarga bomber Surabaya 2018, sesungguhnya berasal dari satu jaringan yang sama. JAD di bawah Aman Abdurrahman bukannya tak terkait sama sekali dengan JAT. Sebab para pengikut Ba’asyir di JAT lambat laun bergabung ke JAD yang juga mendukung ISIS. Ba’asyir dan Aman bukannya tak saling kenal. Mereka berdua disebut terlibat pelatihan terorisme di Aceh pada 2009.

Bergabungnya orang-orang JAT ke JAD membuat keanggotaan JAD di Jawa Timur menggelembung. Surabaya paling besar. Mereka (kelompok ekstremis) pecah jadi dua, tapi jumlahnya besar. Di sinilah radikalisme diam-diam tumbuh subuh.

Terinspirasi pola lama

Masih ingat dengan tiga pelaku Bom Bali I pada 2002 yakni Ali Ghufron, Amrozi, dan Ali Imron dari Lamongan, Jawa Timur. Mereka semua adalah kakak beradik. Dari sini dapat dijelaskan bagaimana jaringan keluarga teroris terbentuk. Meski tiga pelaku Bom Bali I tidak melakukan aksi bom bunuh diri, namun pergerakan mereka menjadi tolak ukur bagi teroris sesudah mereka. Dari mereka lahir pola-pola baru, termasuk aksi ‘gila’ Dita bersama anggota keluarganya.

Mengutip tulisan Dr. phil, Suratno, M.A, peneliti terorisme dan Chairman The Lead Institut Universitas Paramadina, Jakarta. Dia menyebut riset Della Porta tentang organisasi teroris sayap kiri yang berbasis di Italia, Brigade Merah (BM) di tahun 1995. Riset itu menjelaskan, 298 dari 1.214 anggota BM memiliki hubungan darah atau satu keluarga. Baik sebagai orangtua, ayah, ibu, anak, atau saudara. Tak hanya itu, riset komisi PBB untuk peristiwa pembajakan pesawat 9/11 pada (11/9/2001) juga mengkonfirmasi fenomena keluarga teroris, di mana 6 dari 19 pembajakan pesawat itu adalah saudara.

Kemudian peristiwa Charlie Hebdo di Perancis ada Kouachi bersaudara, dan pelaku serangan Paris adalah Abdessalam bersaudara. Abu Musab al-Zarqawi juga memanfaatkan ayah mertuanya Yassin Jarrad untuk membawa bom yang membunuh Muhammad Bakr Hakim. Di Indonesia, Bom Bali I juga masih memiliki hubungan kekerabatan.

Pelibatan anggota keluarga dalam jaringan teroris sangat mungkin dilakukan, pasalnya kedekatan persaudaraan lebih efektif digunakan oleh pelaku teroris untuk membentuk jaringan karena adanya pengaruh psikolog yang mengikat dan saling menguatkan satu sama lain. Saling menguatkan di sini berarti afektif dan kognitif. Afektif karena kedekatan sebagai keluarga. Kognitif karena kedekatan itu dimanfaatkan untuk menjamin loyalitas dan sebagainya. “Untuk membentuk jaringan, faktor kekeluargaan dan pernikahan adalah metode yang paling mudah dilakukan,” kata Suratno.

Sederhananya, anggota kelompok teroris pertama-tama akan berusaha mengajak saudara mereka untuk bergabung. Cara lain, menikahkan saudara atau anak perempuan dengan teman sesama teroris. Hal ini dapat dilihat ketika Abdullah Azzam menikahkan anak perempuannya dengan anak didiknya, Abdullah Anas dari Aljazair. Juga ada Abu Muzab al-Zarqawi yang menikah dengan saudari sahabat dekatnya, Khaled al-Aruri.

Di Indonesia Ali Ghufron menikah dengan Paridah Abas, saudara perempuan Nasir Abas sesama alumni Afghan. Baridin atau Baharuddin Latif juga menikahkan anak perempuannya Arina Rahma dengan Noordin M Top, dan banyak lagi contoh lainnya.

Dengan metode itu, mereka bukan saja menjadi (sesama) anggota sebuah kelompok teroris, tapi mereka juga menjadi saudara sekeluarga (a family relative). Selain itu, saat seseorang telah menjadi keluarga maka akan lebih mudah membangun kepercayaan dibanding dengan orang lain. Dengan kondisi para teroris yang dalam pengawasan aparat, gerak-gerik mereka dibatasi. Sebab itu, mereka harus berhati-hati saat ingin menambah anggota. Maka dari itu, pilihan yang tidak terlalu berisiko adalah memanfaatkan kekeluargaan dengan melalui pernikahan.

Mengapa istri dan anak-anak dilibatkan dalam aksi teroris? Kejadian serupa juga tak hanya terjadi di Surabaya. Pelaku bom di Paris, Abdel Abaoud mengajak adiknya Younes Abaaoud yang masih berusia 12 tahun untuk berangkat ke Suriah bergabung dengan kelompok ISIS.

Sejak 2013 hingga 2016, jamak diketahui para ekstremis dari seluruh dunia termasuk Indonesia berangkat ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS. Mereka membawa keluarga, saudara, termasuk anak-anak di bawah umur dan remaja. Jelas Suratno, tentu saja yang namanya anak-anak dan remaja hanya dikatakan menjadi ekstemis ikut-ikutan karena faktor orangtua mereka. Namun dalam konteks teroris sebagai sebuah kelompok, mereka adalah bagian dari keluarga teroris.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here