Pasar Merjosari akan Dibongkar untuk RTH, Pedagang Tak Ingin Dibohongi

0
82
Jpeg

Nusantara.news, Kota Malang – Rapat koordinasi sebagai tindak lanjut mediasi konflik Pemkot Malang dengan pedagang pasar Merjosari terkait relokasi mereka, dilakukan di Aula Rupatama, Mapolres Malang Kota, Kamis (13/4/2017). Kali ini pihak pedagang tidak ingin dibohongi secara halus melalui berbagai dalih Pemkot.

Dalam agenda tersebut nampak hadir sejumlah perwakilan pedagang yang dipimpin Sabil El Achsan, Komisi C DPRD Kota Malang, Dandim 0833 dan juga Kapolresta Malang. Selama proses koordinasi, kedua belah pihak, khususnya antara Forpimda (Forum Pimpinan Daerah) dan juga para pedagang, berlangsung alot dan diwarnai banyak sanggahan.

Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang Wasto menyatakan lokasi pasar itu akan dialihfungsikan menjadi ruang terbuka hijau (RTH). “Mengingat juga RTH Kota Malang masih kurang dari 20 persen, jadi jika ada lahan milik Pemkot, bisa kita dijadikan RTH,” ujar Wasmeto.

Ia menambahkan bahwa kawasan tersebut memang diperuntukkan bagi pemukiman dan ruang hijau. “Jika mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), lokasi tersebut termasuk area permukiman. RTH juga masuk dalam item permukiman sebuah kawasan,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Dinas Perdagangan, Wahyu Setianto yang mengungkapkan bahwa pemerintah akan mengembalikan kembali fungsi pasar sesuai dengan peruntukkannya “Sesuai dengan RTRW, area ini akan dikembalikan pada fungsi Ruang Terbuka Hijau. Kami juga taat aturan dan taat hukum. Ini yang menjadi dasar kami,” ungkap dia kepada wartawan.

Sementara itu, koordinator pedagang pasar Merjosari, Sabil El Achsan tetap menolak pemindahan para pedagang ke pasar terpadu Dinoyo. Ia berpendapat, pasar terpadu Dinoyo (lokasi asal para pedagang-red.) dinilai tidak sesuai dengan perjanjian dan jauh untuk dikatakan layak. “Bangunan tak sesuai perjanjian. Ada pengurangan lebar ukuran bedak (kios-red.) dari yang sudah disepakati bersama,” jelas Sabil.

Di sisi lain, Sabil juga meragukan rencana pemerintah untuk membongkar pasar yang akan dikembalikan ke fungsi RTH. “Kami tidak percaya agenda pembongkaran akan digunakan untuk RTH. Soalnya, pada saat mediasi dengan pimpinan daerah beberapa waktu lalu, pembongkaran pasar akan dilakukan untuk membangun apartemen yang katanya untuk para fakir miskin. Namun setelah diusut dan dipertanyakan kembali, ada informasi bahwa di lokasi tersebut akan dibangun asrama mahasiswa,” tepis Sabil.

Sikap serupa juga ditunjukkan oleh aktivis Rumah Keadilan, Rizal Dwi Kuncoro. Ia mengungkapkan, ketidakmungkinan pembongkaran pasar tersebut jika diperuntukkan bagi RTH kembali. “Secara tekstur tanah ini kan sudah semen dan pavingan semua. Apabila dibongkar dan diperuntukkan bagi RTH tidak mungkin atau sulit dilakukan, karena pasti membutuhkan biaya banyak untuk merombak tanahnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, “Apabila akan dirubah menjadi RTH di kawasan Merjosari, bukankah di depan pasar Merjosari juga sudah ada Taman Merjosari yang juga merupakansalah satu ruang terbuka hijau di daerah tersebut.”

Sementara itu di tempat lain, Wali Kota Malang Mochamad Anton tetap mengimbau agar pedagang segera pindah. Walikota menyatakan, jika para pedagang tidak pindah, pembongkaran dan pembangunan di Merjosari akan terhambat.

Ia meminta waktu satu bulan kepada pedagang pasar Merjosari untuk pindah kembali ke lokasi asal mereka (pasar terpadu Dinoyo-ed.). “Pasti harus pindah. Ya kami beri waktu, tetapi tidak lama. Maksimal satu bulanlah,” ujar Anton kepada wartawan saat ditemui di Dinas Sosial Kota Malang.

Ia meminta pedagang untuk pindah terlebih dulu dan menempati tempat atau bedak yang dimilikinya. Apabila terdapat kekurangan dan ketidaksesuaian fasilitas, maka akan dilakukan pembenahan sembari berjalan. “Kalau kurang luas, kurang pendingin atau apa saja, akan kita benahi sembari berjalan, yang penting harus pindah dulu,” ungkap Anton.

Namun, imbauan walikota yang mengharuskan para pedagang pindah terlebih dulu—disertai janji akan dibenahi sembari berjalan jika terdapat kekurangan fasilitas—ditolak oleh Sabil El Achsan. “Kami selaku pedagang, tidak mau dibohongi lagi dan terus dikuyo-kuyo (disesak-desak-red.). Tolong perbaiki dan rombak terlebih dulu site plan yang salah dan tidak sesuai dengan perjanjian tersebut!,” tandas Sabil. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here