Abad 21 Simbol Kekalahan Ranggalawe

0
101
Ronggolawe dikenal sebagai bupati pertama Tuban. Bersama Raden Wijaya, Ronggolawe berhasil mengusir pasukan Mongol

Nusantara.news, Surabaya – Patung Jenderal Perang Cina Kongco Kwan Sing Tee Koen di Tuban, Jawa Timur, meski sudah ditutup kain, namun keberadaannya tetap menyisakan kontroversi.

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Tuban bahkan mendesak patung ditutup secara permanen karena keberadaan patung itu telah menyalahi kepatutan, etika kemasyarakatan, serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

PCNU Tuban kemudian mengeluarkan surat rekomendasi yang ditujukan kepada Bupati Tuban, H. Fathul Huda, untuk menutup patung itu secara permanen.

Surat rekomandasi itu dikeluarkan berdasarkan hasil keputusan rapat pleno pengurus pada Jum’at, 11 Agustus 2017. Dengan nomor surat rekomendasi : 159/PC. A.II/VIII/17

“Pengurus telah menyampaikan pernyataan sikap sebagai rekomendasi kepada Bapak Bupati Tuban,” kata KH. Musta’in Syukur, Senin, (14/8/2017).

Pertimbangan dikeluarkannya rekomendasi itu meliputi pertimbangan amar ma’ruf nahi munkar, demi kemaslahatan ummat, kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga menyampaikan pokok-pokok pikiran sebagai berikut: Kesatuan dan persatuan ummat, bangsa dan negara perlu dijaga dengan baik; Sikap toleransi, saling menghargai antar ummat beragama harus senantiasa  ditumbuh kembangkan; Ketentuan perundang-undangan, peraturan daerah, serta peraturan lainnya harus menjadi pedoman bersama; dan sikap arogansi harus dihindari sehingga kerukunan masyarakat dan ummat beragama dapat terjaga dengan baik.

Sebelumnya, massa dari gabungan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Surabaya malah menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Jawa Timur Surabaya, yang mendesak patung tersebut segera dirobohkan.

Massa menilai patung setinggi lebih dari 30,4 meter yang berdiri megah menghadap ke laut tersebut tidak pantas berada di negara Indonesia.

Patung tersebut tidak ada kaitan sejarah dengan bangsa Indonesia. Masih banyak pahlawan Indonesia atau tokoh pejuang daerah yang lebih pantas dijadikan patung di Tuban.

Sejarahwan JJ Rizal juga sempat menyebut berdirinya patung tidak sejalan dengan nilai-nilai luhur. Menurut dia, tokoh bangsa yang berasal dari Tuban, sesungguhnya banyak, misalnya  Sunan Kalijaga.

“Kalau patung itu tidak ada kaitannya dengan peribadatan, tetapi lebih ingin memajukan nilai luhur, mengapa tidak pulang ke rumah sejarah bangsa?” ujar JJ Rizal.

JJ Rizal mempertanyakan, jika ingin memajukan nilai luhur mengapa tidak berpatokan pada Jas Merah. Misalnya saja, Sunan Kalijaga yang juga disebut sebagai Pangeran Tuban. Lalu kenapa harus repot membuat patung dengan tokoh besar berkebangsaan Cina? Pertanyaan ini kemudian muncul dari benak masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut ia mengatakan, alangkah baik di tengah situasi ketekoran pengetahuan sejarah bangsa dan upaya menggemakan tokoh-tokoh pahlawan bangsa yang banyak dilupakan, sebut saja Soegondo Djojopoespito yang menjadi tokoh utama Kongres Pemuda 2 dan kemudian terkenal sebagai Sumpah Pemuda. Ini proklamasi pertama Indonesia sebagai bangsa. Lalu ada AK Pringgodigdo yang memainkan peran penting di BPUPKI dan dengan setia serta jujur menyelamatkan arsip risalah sidangnya. Kemudian jika berkaitan dengan sejarah luhur bangsa, ada pula tokoh kerajaan bernama Ranggalawe. Tokoh ini menjadi satu-satunya yang memiliki keterkaitan erat dengan Tuban. Di tengah situasi pergaulan kebangsaaan yang tegang karena isu pluralisme, maka sungguh pemilihan tokoh sejarah dari bangsa lain rentan disalahpahami.

Sekilas menoleh ke masa lalu, pada bulan Maret 1293 balatentara Cina di bawah dinasti Yuan pernah mendarat di Tuban untuk memulai misi penaklukan Nusantara. Dengan kekuatan 20.000 tentara bersenjata meriam yang termasuk teknologi militer tercanggih waktu itu Kaisar Cina, Kubilai Khan yakin akan mampu mengalahkan Singasari yang berkuasa di sana.

Namun impian Sang Raja berhasil digagalkan Ranggalawe. Dialah panglima perang Majapahit, orang kepercayaan Raden Wijaya yang siasat dan keberaniannya berhasil membikin tentara Cina lari tunggang-langgang. Atas jasanya itu, Ranggalawe kemudian diangkat sebagai Bupati Tuban yang pertama.

Prahara Jawa Dwipa

Mengenangkan kedahsyatan invasi bangsa Mongolia yang dimulai pada tahun 1219 ketika Temujin atau yang lebih dikenal dengan nama Jengis Khan (dari bahasa Mongol yang berarti Kaisar Semesta) menyerang kerajaan Khwarezm Shah Muhammad (yang wilayahnya kini meliputi kawasan Asia Tengah dan Persia).

Gerak invasi pasukan Mongol atau yang lebih dikenal dengan sebutan pasukan Tartar dilakukan secara simultan. Di saat sebagian pasukan Tartar menyerang Khawarezm sebagian pasukan Tartar lainnya menerjang wilayah Rusia, sementara Jengis Khan sendiri menyerang wilayah Afghanistan dan India bagian Utara. Enam tahun kemudian, Jengis Khan kembali ke Mongol dengan daerah taklukkan yang luas sekaligus menjadikan Mongol sebagai sebuah kekaisaran yang besar dan kuat dengan kekuatan militer yang tampak tak terkalahkan. Pada tahun 1227 Jengis Khan meninggal dunia di Mongolia.

Sesaat sebelum Jengis Khan menghembuskan nafas terakhir, dia minta agar putera ketiganya, Ogadai, ditetapkan jadi penggantinya. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Mongol meneruskan penyerbuannya yang sepenuhnya menguasai Rusia, dan menyerbu maju menuju Eropa.

Tahun 1279 orang-orang Mongol sudah menguasai sebuah empirium yang wilayahnya berkali-kali lipat dari wilayah Mongolia. Penguasaan daerahnya meliputi Rusia, Asia Tengah, juga Persia dan Asia Tenggara. Tentaranya melakukan gerakan maju yang penuh keberhasilan menambah daerah yang membentang mulai dari Polandia hingga belahan utara India, dan kekuasaan Kublai Khan diakhiri di Korea, Tibet, dan beberapa bagian Asia Tenggara.

Puncak dari unjuk kekuatan militer bangsa Mongol terjadi pada tahun 1258 masehi. Pada saat itu pasukan Tartar di bawah pimpinan Hulako Khan (cucu dari Jengis Khan) berhasil menundukkan kesultanan yang paling masyur di dunia pada saat itu, yaitu kesultanan Abasiyah yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Al Muhtasim.

Sumber sejarah menerangkan, pasukan Tartar melakukan kekejaman yang luar biasa di Baghdad usai menaklukan pasukan dinasti Abasiyah. Mereka membantai habis penduduk Baghdad dan membiarkan mayat-mayat bergeletakan di jalanan hingga kota Baghdad menjadi kota mati yang menebarkan penyakit. Bahkan, ada sumber sejarah menyebut pasukan Tartar membuat piramida yang tersusun dari kepala-kepala manusia di Baghdad.

Kekejaman ini bukanlah sebuah akhir, pasukan Tartar juga melakukan pengerusakan yang sangat merugikan peradaban manusia di masa itu bahkan sampai masa kini. Pasukan Tartar membakar seluruh koleksi naskah ilmu pengetahuan yang tersimpan di gedung perpustakaan Baghdad yang merupakan perpustakaan terbesar pada masa itu di sungai Eufrat dan Tigris sehingga menyebabkan warna air sungai itu menjadi hitam karna abu kertas yang laur biasa banyaknya.

Kekejaman dan kedahsyatan pasukan Tartar kemudian melegenda. Penaklukan pasukan Tartar ini hanya mungkin disaingi oleh penaklukan dinasti Umayyah (yang termasyur karena memiliki 4 panglima perang tak terkalahkan pada satu kurun waktu) dan Iskandar Agung (yang mampu menaklukkan imperium Persia, Afrika Utara, Asia Tengah dan sebagian Asia Minor).

Catatan dahsyat yang ditorehkan pasukan Tartar ini hanya ternoda dengan 3 kali kegagalan penyerbuan mereka. Kegagalan pertama terjadi pada tahun 1260. Di sebuah kawasan terbuka yang kini terletak di Palestina terjadilah sebuah perang terbuka yang dahsyat antara bangsa Mongol menghadapi bangsa-bangsa Muslim di bawah komando Mesir. Kegigihan pasukan Muslim yang mempertaruhkan masa depan agama dan peradabannya ini mampu mengatasi kedahsyatan kekuatan pasukan Tartar yang legendaris. Untuk pertama kalinya semenjak ekspansi yang dimulai Jengis Khan, pasukan Tartar harus menderita kekalahan dan terpaksa bergerak mundur. Kegagalan kedua ekspansi pasukan Tartar terjadi ketika mereka hendak menaklukkan kepulauan Jepang. Kegagalan ini terjadi karena armada pasukan Tartar yang hendak menyerbu Jepang luluh lantak oleh terjangan badai. Kegagalan ketiga terjadi saat mereka ekspansi ke pulau Jawa pada tahun 1293.

Ya, Pulau Jawa pada masa dunia tengah diguncang pasukan Tartar sebagian besar dikuasai oleh Kerajaan Singoshari. Dalam beberapa dasawarsa, Singoshari memang berhasil membangun sebuah kestabilan politik dan militer yang menempatkan posisi Singoshari sebagai kerajaan yang cukup disegani di Nusantara. Puncak kejayaan Singoshari terjadi pada masa pemerintahan Raja Kertanegara. Wujud kekuatan Singoshari pada kala itu adalah pengiriman sebuah ekspedisi mileter yang dinamakan Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 ke pulau Andalas dengan tujuan menaklukkan Sriwijaya yang memasuki senja kekuasaannya.

Sementara, di daratan Cina, Kubilai Khan berhasil membangun sebuah kekuasaan yang ditopang dengan kekuatan militer yang besar dan tangguh. Kubilai Khan berkeinginan untuk memperluas pengaruh bangsa Mongol dengan menundukkan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur. Caranya dengan meminta para penguasa lokal untuk mengakui kaisar Mongol sebagai penguasa tunggal dan mengharuskan raja-raja lokal tersebut untuk mengirim upeti (tribute) kepada kaisar Cina. Salah satunya adalah ke Jawa yang kala itu diperintah oleh Raja Kartanagara dari Kerajaan Singhasari.

Pada tahun 1289 Kubilai Khan lantas mengirimkan utusannya ke Singoshari. Pengiriman utusan ini telah dilakukan sebanyak tiga kali oleh Kubilai Khan, namun utusan yang terakhir inilah yang mengalami insiden yang pada akhirnya memicu sebuah konfrontasi terbuka. Utusan itu bernama Meng Chi, datang membawa pesan dari Kubilai Khan supaya Singoshari tunduk di bawah kekuasaannya.

Kertanegara merasa tersinggung, lalu mencederai wajah Meng Chi dan mengirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan raja Mongol. Perlakuan Kartanegara terhadap Meng Chi dianggap sebagai penghinaan kepada Kubilai Khan. Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat menghancurkan Jawa. Pada saat itu Singoshari sebenarnya tengah dalam keadaan kurang menguntungkan karena pasukannya dalam jumlah besar belum kembali dari Ekspedisi Pamalayu. Kesempatan ini dimanfatkan Jayakatwang, seorang raja bawahan dari Gelang-Gelang. Dengan bantuan Adipati Lumajang (Madura) bernama Aria Wiraraja, ia bermaksud menggulingkan Kertanegara. Maka, diserbulah istana Singasari.

Dalam peristiwa tersebut, Kertanegara terbunuh. Setelah tragedi itu, Jayakatwang mengangkat dirinva menjadi raja, dan mengalihkan pusat kerajaan ke Daha (Kediri). Jayakatwang sendiri disinylair masih keturunan dari dinasti Kediri yang ditundukkan oleh pendiri Singoshari yakni Ken Arok.

Kehancuran Singoshari ini menempatkan pulau Jawa pada posisi yang sangat rawan dengan pertumpahan darah. Tiga kemungkinan perang lanjutan: Kemungkinan perang pertama adalah serangan dari Kubilai Khan yang menuntut balas atas penghinaan Kertanegara atas dirinya. Kemungkinan perang kedua serangan kepada Jayakatwang dari pasukan Kertanegara yang kembali dari Ekspedisi Pamalayu. Dan, kemungkinan terakhir adalah serangan dari Raden Wijaya yang menuntut balas kepada Jayakatwang atas pembunuhan mertuanya, yakni Kertanegara.

Raden Wijaya saat terjadi pemberontakan, berusaha mati-matian mempertahankan Singasari. Tetapi usahanya tidak berhasil. Akhirnya, bersama ketiga rekannya; Ranggalawe, Sora, dan Nambi, melarikan diri ke Madura. Mereka bermaksud memohon perlindungan dari Adipati Lumajang, yakni Aria Wiraraja. Adipati ini, yang tadinya menyokong Jayakatwang menggulingkan Kertanegara, ternyata adalah ayah dan Nambi. Sang adipati lantas berubah haluan. Aria Wiraraja lantas menasehati Raden Wijaya agar berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang, sambil meminta sedikit daerah untuk tempat berdiam. Nasehat tersebut diiyakan.

Jayakatwang yang tidak berprasangka apa-apa mengabulkan permintaan Raden Wijaya. Raden Wijaya diijinkan membuka Hutan Tarik. Dengan bantuan sisa-sisa tentaranya dan pasukan Madura, dibersihkannyalah hutan itu sehingga layak ditempati. Sewaktu sedang bekerja, salah seorang tentara merasa haus. Lalu dimakanlah buah maja. Ternyata rasanya pahit. Sejak saat itu tempat tersebut dinamai Majapahit.

Di Majapahit inilah Raden Wijaya mulai mengkonsolidasikan kekuatan untuk balik menyerang Jayakatwang. Menyadari bahwa jumlah pasukannya tidak memungkinkan untuk mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya memfokuskan diri untuk memperkuat pasukannya sambil menunggu kemungkinan datangnya serangan dari pasukan Tartar atau pasukan Kertanegara yang kembali dari Ekspedisi Pamalayu untuk mengambil keuntungan darinya.

Pasukan Legendaris Gagal Invasi ke Jawa

Sebagai keturunan Jengis Khan yang menyandang reputasi penakluk yang menakutkan, tindakan kerajaan kecil seperti Singoshari adalah sebuah penghinaan besar. Hanya satu jawaban bagi Kertanegara, tumpas habis. Maka Kubilai Khan menyiapkan sebuah armada besar yang akan melaksanakan invasi ke pulau Jawa. Invasi ini bertujuan dua hal sekaligus, yakni menghukum Kertanegara dan menguasai pulau Jawa.

Peristiwa penyerbuan ke Jawa ini dituliskan dalam beberapa sumber di Cina dari masa pemerintahan Dinasti Yuan yang terjemahannya dapat dibaca dalam buku W.P. Groeneveldt berjudul Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Ini sejarah yang sangat menarik tentang kehancuran kerajaan Singhasari dan munculnya kerajaan Majapahit.

Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 pasukan dan seribu kapal. Kublai Khan membekali pasukan ini untuk pelayaran selama satu tahun serta biaya sebesar 40.000 batangan perak. Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293. Di sini mereka mempersiapkan penyerangan ke Jawa selama lebih kurang satu bulan.

Perjalanan menuju Pulau Belitung yang memakan waktu beberapa minggu melemahkan bala tentara Mongol karena harus melewati laut dengan ombak yang cukup besar. Banyak prajurit yang sakit karena tidak terbiasa melakukan pelayaran. Di Belitung mereka menebang pohon dan membuat perahu (boats) berukuran lebih kecil untuk masuk ke sungai-sungai di Jawa yang sempit sambil memperbaiki kapal-kapal mereka yang telah berlayar mengarungi laut cukup jauh.

Pada bulan kedua tahun itu Ike Mese bersama pejabat yang menangani wilayah Jawa dan 500 orang menggunakan 10 kapal berangkat menuju ke Jawa untuk membuka jalan bagi bala tentara Mongol yang dipimpin oleh Shih Pi. Ketika berada di Tuban mereka mendengar bahwa Raja Kartanagara telah tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang kemudian mengangkat dirinya sebagai Raja Singhasari.

Oleh karena perintah Kublai Khan adalah menundukkan Jawa dan memaksa Raja Singhasari, siapa pun orangnya, untuk mengakui kekuasaan bangsa Mongol, maka rencana menjatuhkan Jawa tetap dilaksanakan.

Sebelum menyusul ke Tuban orang-orang Mongol kembali berhenti di Pulau Karimunjawa untuk bersiap-siap memasuki wilayah Singhasari. Setelah berkumpul kembali di Tuban dengan bala tentara Mongol. Diputuskan bahwa Ike Mese akan membawa setengah dari pasukan kira-kira sebanyak 10.000 orang berjalan kaki menuju Singhasari, selebihnya tetap di kapal dan melakukan perjalanan menggunakan sungai sebagai jalan masuk ke tempat yang sama.

Menurut cerita Pararaton, kedatangan bala tentara Tartar adalah merupakan upaya Bupati Madura, Aria Wiraraja, yang mengundangnya ke Jawa untuk menjatuhkan Daha.

Armada kapal kerajaan Mongol selebihnya dipimpin langsung oleh Shih Pi memasuki Jawa dari arah sungai Sedayu dan Kali Mas. Setelah mendarat di Jawa, ia menugaskan Ike Mese dan Kau Hsing untuk memimpin pasukan darat. Beberapa panglima “pasukan 10.000-an” turut mendampingi mereka. Sebelumnya, tiga orang pejabat tinggi diberangkatkan menggunakan ‘kapal cepat’ menuju ke Majapahit setelah mendengar bahwa pasukan Raden Wijaya ingin bergabung tetapi tidak bisa meninggalkan pasukannya. Melihat keuntungan memperoleh bantuan dari dalam, pasukan Majapahit ini kemudian dijadikan bagian dari bala tentara kerajaan bangsa Mongol.

Untuk mempermudah gerakan bala tentara asing ini, Raden Wijaya memberi kebebasan untuk menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaannya dan bahkan memberikan panduan untuk mencapai Daha, ibukota Singhasari. Ia juga memberikan peta wilayah Singhsari kepada Shih Pi yang sangat bermanfaat dalam menyusun strategi perang menghancurkan Jayakatwang.

Selain Majapahit, beberapa kerajaan kecil (mungkin setingkat provinsi di masa sekarang) turut bergabung dengan orang-orang Mongol sehingga menambah besar kekuatan militer sudah sangat kuat ketika berangkat dari Cina. Persengkongkolan ini terwujud sebagai ungkapan rasa tidak suka mereka terhadap raja Jayakatwang yang telah membunuh Kartanegara melalui sebuah kudeta yang keji.

Pada bulan ketiga tahun 1293, setelah seluruh pasukan berkumpul di mulut sungai Kali Mas, penyerbuan ke kerajaan Singhasari mulai dilancarkan. Kekuatan kerajaan Singhasari di sungai tersebut dapat dilumpuhkan, lebih dari 100 kapal berdekorasi kepala raksasa dapat disita karena seluruh prajurit dan pejabat yang mempertahankannya melarikan diri untuk bergabung Peperangan besar baru terjadi pada hari ke-15, bila dihitung semenjak pasukan Mongol mendarat dan membangun kekuatan di muara Kali Mas, di mana bala tentara gabungan Mongol dengan Raden wijaya berhasil mengalahkan pasukan Singhasari. Kekalahan ini menyebabkan sisa pasukan kembali melarikan diri untuk berkumpul di Daha, ibukota Singhasari. Pasukan Ike Mese, Kau Hsing, dan Raden wijaya melakukan pengejaran dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian. Pada hari ke-19 terjadi peperangan yang sangat menentukan bagi kerajaan Singhasari.

Di sini Jayakatwang menyadari kekalahannya, ia mundur dan bertahan di dalam kota yang dikelilingi benteng. Pada sore harinya ia memutuskan keluar dan menyerah karena tidak melihat kemungkinan untuk mampu bertahan.Kemenangan pasukan gabungan ini menyenangkan bangsa Mongol. Seluruh anggota keluarga raja dan pejabat tinggi Singhasari berikut anak-anak mereka ditahan oleh bangsa Mongol.

Sejarah mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya memberontak dan membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit untuk menyiapkan persembahan kepada Raja Kublai Khan. Adalah Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang sempat membantu orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, melakukan penumpasan itu.

Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya menyerang balik orang-orang Mongol dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa. Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya itu harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara.

Dari sini ia berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou. Kekekalahan bala tentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Mongol. Sebelumnya mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia.

Kegagalan invasi Mongol ke Jawa ini dipengaruhi perbedaan iklim dan medan laga di tanah Jawa juga menjadi faktor yang mempengaruhi kekalahan tentara Kubilai Khan atas pasukan Raden Wijaya.

Iklim tropis tanah Jawa ditambah medan pertempuran di sungai dan hutan tropis membuat tentara Kubilai Khan tidak berada dalam posisi yang menguntungkan. Apalagi serangan balik yang tidak terduga dilakukan oleh pasukan Raden Wijaya yang sebelumnya justru menjadi sekutu yang sangat mereka andalkan dalam penguasaan medan. Serangan Raden Wijaya ini membuat pasukan Mongol berperang secara sporadis dan kebingungan karena tiadanya kemampuan mereka untuk menguasai medan, sehingga jumlah pasukan yang besar tidak mampu mereka jadikan faktor determinan yang membawa mereka pada kemenangan perang.

Faktor lain yang menyebabkan kegagalan pasukan Tartar adalah keangkuhan mereka sendiri. Reputasi mereka yang cemerlang di medan pertempuran membuat mereka memandang remeh lawan dengan selalu merasa bahwa merekalah yang akan selalu berada dalam posisi ofensif. Keangkuhan ini membuat mereka tidak mampu membaca situasi yang memungkinkan perang tidak berjalan seperti skenario mereka. Terbukti ketika Raden Wijaya melakukan serangan balik, pasukan Tartar tidak siap untuk situasi ini sehingga mereka berperang dengan kocar kacir. Sebagai prajurit yang tangguh, justru pasukan Tartar melupakan satu ungkapan yang sangat penting dalam perang, yakni perang bukan hanya perkara membunuh lawan tetapi yang lebih penting adalah menaklukkan lawan dalam situasi yang kita ciptakan.

Dari sini kita dapat lihat, betapa hebatnya bangsa Jawa kala itu menghadapi pasukan Raja Kublai Khan yang terkenal legendaris. Dengan bekal strategi yang mumpuni, leluhur bangsa ini berhasil mengalahkan mereka. Namun kini, dengan didirikannya patung Jenderal Perang Cina Kongco Kwan Sing Tee Koen di Tuban, hal ini seperti membuka pengukuhan kekuatan bangsa Cina yang pernah invasi ke Jawa.

Tidak hanya patung Jenderal Perang Cina Kongco Kwan Sing Tee Koen, sebelumnya pemerintah meresmikan monumen Po An Tui di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Mendagri Tjahjo Kumolo mengatakan bahwa tujuan didirikannya monumen Po An Tui adalah untuk mengingatkan siapa leluhur kita dan perjuangan laskar China dalam melawan penjajah VOC Belanda pada tahun 1740 – 1743.

Pernyataan Tjahjo Kumolo tersebut sepertinya merupakan upaya sistematis rezim yang didominir Cina Komunis ini dalam mengaburkan dan membelokan fakta sejarah sebenarnya. Po An Tui adalah Milisi Cina Indonesia yang dibentuk dan dipersenjatai oleh penjajah Belanda, mereka membentuk satuan untuk setia kepada Belanda. Tugas mereka menjadi mata-mata, melakukan aksi teror, penculikan, pemerkosaan, penjarahan dan mengambil upeti dari petani-petani pribumi, memeras rakyat pribumi untuk diambil kekayaan dan disetorkan ke Belanda, bahkan mereka akan membunuh kalau ada pribumi yang menentang.

Sementara pihak istana melalui Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki menyoroti fenomena tersebut sebagai terjadinya perubahan nilai di masyarakat Indonesia. Soal toleransi dan menghormati perbedaan, misalnya.

Teten beralasan, negara tidak boleh tinggal diam merespons fenomena ini. Negara harus menempatkan seluruh warganya pada kedudukan yang sama. Jika ada persoalan, hukumlah yang ditegakkan. Bukan dengan cara main hakim sendiri.

“Jadi setiap ada tindakan intoleransi atau tindakan semena-mena, misalnya menghancurkan patung, benda seni dan sebagainya, harus dilakukan tindakan hukum,” ujar Teten.

penyadaran akan nilai-nilai toleransi bukan hanya tanggung jawab negara. Masyarakat sipil juga mesti ikut berkontribusi di dalamnya.

Penyadaran nilai-nilai toleransi dan menghormati keberagaman harus dipupuk di setiap lini, mulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, organisasi masyarakat, partai politik hingga negara. Sebab, apa yang terjadi saat ini, akan dilihat oleh generasi muda, calon pemimpin bangsa.

Sayangnya Tetan tidak menyebutkan bagaimana role model yang tepat pada zaman sekarang.

Bangunan patung Jenderal Perang Kongco Kwan Sing Tee Koen, sebenarnya juga telah melunturkan sejarah bangsa, di mana generasi muda juga kehilangan pijakan nilai untuk diteruskan di masa mendatang.

Sejatinya yang terjadi di abad 21, pengukuhan-pengukuhan atas patung maupun monumen tersebut seakan menjadi pembenaran bagi orang-orang yang mendukung langkah Cina menguasai kembali Bumi Nusantara. Yang disayangkan, dalam hal ini pemerintah justru terkesan tutup mata.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here