Abdul Somad, Sang Fenomenal

0
130

Nusantara.news, Jakarta – Ini masanya Ustaz Abdul Somad. Barangkali ungkapan itu tepat untuk menggambarkan dai muda yang namanya tengah naik daun. Begitulah Abdul Somad. Di awal ketenarannya, ia sempat ditolak dan dipersekusi di Bali, namun disambut meriah di Serambi Mekah. Sejak itu, Abdul Somad, Lc, MA, penceramah berdarah Melayu Deli dan Melayu Pelalawan ini mulai dikenal luas.

Setiap zaman, memang selalu ada tokoh yang mendapatkan giliran: tampil bersinar dan membius jutaan pengagum. Pernah ada Buya Hamka dengan keahlian agama dan ketegasannya dalam menegakkan hukum Allah. Lalu ada KH Zainuddin MZ yang dikenal sebagai da’i sejuta umat. Kemudian muncul KH Abdullah Gymnastiar atau yang lebih popular dengan nama Aa Gym yang memiliki magnet karena bahasanya yang selalu santun-menyejukkan. Demikian juga dengan Arifin Ilham lewat senjata zikirnya yang digandrungi masyarakat.

Kini, sejak setahun lebih, tiba-tiba Ustaz Abdul Somad menjadi idola umat, hampir pada semua segmennya. Bersamaan dengan “boomingnya” media sosial, namanya melambung dengan daya magnetnya “beyond rational judgement” (di luar batas pemikiran rasional). Artinya ketertarikan masyarakat kepada ceramah-ceramah beliau itu terkadang membuat sebagian ternganga.

Dua kanal utama ceramahnya di Youtube, yakni Tafaqquh Online dan Fodamara, setiap video Abdul Somad ditonton ratusan ribu bahkan ada yang puluhan juta kali. Di fanspage facebook maupun instagram, dua akun personal media sosial yang aktif digunakannya, hingga Rabu kemarin (8/8/2018) masing-masing punya pengikut 1.067.247 dan 3,8 juta orang.

Menurut ulama yang bergelar adat Datuk Seri Ulama Setia Negara ini, manfaat berdakwah melalui internet dapat menembus keterbatasan ruang dan waktu. Di satu sisi, penceramah dapat menghindari kendala-kendala yang kerap dijumpai di dunia nyata, semisal dana atau ketersediaan jadwal dan lokasi untuk menjangkau jamaah.

Di sisi lain, para jamaah dapat dengan mudah menyimak ceramah dai pilihannya, terlebih bagi mereka yang sibuk, tetapi masih bersemangat mengikuti kajian ilmu-ilmu agama.

“Media sosial dapat menjadi medium yang tepat untuk berdakwah di era saat ini karena irit biaya, mudah aksesnya, tanpa terbatas ruang dan waktu. Semuanya jadi simpel, mudah,” ujar Abdul Somad.

Popularitas Abdul Somad juga terbangun melalui media massa cetak, elektronik, dan daring. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila jamaah kerap membeludak di setiap acara yang menghadirkan sosok bermarga Batubara ini.

Di mana-mana, di kota maupun di kampung-kampung terpencil, ia ibarat gula bagi semut-semut yang kelaparan. Umat yang berafiliasi ke berbagai warna, dengan sedikit pengecualian, menerima ustaz jebolan Universitas Al-Azhar, Mesir,  dan Al-Hadits Al-Hassania Institute, Maroko ini penuh antusias. Tak ketinggalan, para petinggi negeri seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Kapolri Tito Karnavian, Menpora Imam Nahrawi, hingga sejumlah politisi secara khusus pernah memberikan penghormatan kepada Abdul Somad di saat memberikan ceramahnya.

Kepiawaian Somad mengemas materi ceramah dengan berbagai rujukan yang disampaikannya dengan fasih dan diselingi humor tersebut, membuat para jamaahnya tahan hingga lebih dari satu jam menyimak tausyiahnya. Ustad kelahiran Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara, 18 Mei 1977 ini memang biasa menyebutkan nama kitab, pengarang, teks kalimat dan konteks kitab yang dikutipnya.

Dan dalam penyebutan itu, Somad hampir tidak pernah ada jeda berpikir dulu. Daya ingatnya luar biasa, informasi sumber kitab langsung mengalir dari ingatannya. Bahasa penyampaiannya sederhana sehingga mudah dipahami segala khalayak.

Salah satu safari dakwah ustad Abdul Somad di Masjid Al-Abrar Kota Padang Sidimpuan, 14 Maret 2018

“Ceramah-ceramah ustadz Somad kalau saya menyimak di youtube cukup padat ilmu dan humor-humornya segar. Ia tegas tapi fleksibel, militan tapi juga kultural. Tak berlebihan kalau saya menyebutnya sang Phenomenon,” kata DR Moeflich Hasbullah, dosen Sejarah Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung.

Lebih lajut, Moeflich menyoroti Somad dalam hubungannya dengan NU. Menurutnya, Somad adalah orang NU yang pikirannya tidak mewakili NU tapi mewakili independensi keilmuan dirinya dan umat Islam. Bila dikelompokkan dengan ulama NU lainnya, mungkin Somad sejalur dengan KH. Hasyim Muzadi yang ketegasannya sama.

“Suara keduanya mewakili umat Islam bukan hanya mewakili NU, tapi di NU tetap diterima. Hasyim di jajaran ulama senior, Abdul Somad yunior,” paparnya.

Mendorong ke Panggung Politik

Popularitas yang tinggi membuat Abdul Somad menjadi salah satu komoditas yang seksi untuk urusan politik. Wajar jika banyak aktor politik melirik dirinya untuk menjadi salah satu tokoh yang dijual di panggung pilkada ataupub pilpres. Sebab, Somad bisa menjadi penarik massa yang besar baik hanya sebagai juru kampanye atau sebagai kandidat. Somad misalnya pernah diajak oleh Edy Rahmayadi dalam rangkaian kampanyenya di Pilgub Sumut 2018.

Ustaz Abdul Somad dan mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo bersama sejumlah ulama sldalam rangkaian kampanye cagub Edy Rahmayadi di Pilgub Sumut 2018.

Tapi barangkali yang paling fenomenal adalah munculnya nama Abdul Somad sebagai salah satu nama yang direkomendasikan oleh ijtimak ulama beberapa waktu lalu untuk maju menjadi cawapres Prabowo Subianto di Pilpres 2019 mendatang.

Terpilihnya nama Abdul Somad dalam  ijtima ulama memang tak terduga. Ini bisa jadi efek kejut yang tak terbaca oleh lawan politik. Mengambil Abdul Somad sebagai cawapres bisa jadi akan menguntungkan Prabowo lantaran lelaki berperawakan kurus ini sangat disenangi oleh umat, tidak hanya umat Islam, non muslim pun banyak yang menyukainya.

Selain itu, Abdul Somad tidak berasal dari partai politik sehingga koalisi partai pendukung tidak merasa kecewa karena tidak diambil sebagai cawapres. Pasangan  Prabowo-Abdul Somad juga mencerminkan pola kombinasi: nasionalis-religius, Jawa-luar Jawa, tentara-sipil, dan parpol-nonparpol.

Menurut Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sultan Syarif Kasim (Suska) ini, ustad yang populer disapa UAS tersebut merupakan seorang public figure saat ini. “UAS itu publik figur, Beliau sudah dikenal dunia tidak hanya Indonesia, tentu ini modal dan perlu diperhitungkan oleh calon manapun,” ungkapnya.

Disamping merupakan sosok publik figur dengan massa yang sangat banyak dibelakangnya, secara intelektualitas dan kredibilitas UAS juga sangat diperhitungkan saat ini. “Apa yang dia sampaikan itu sangat didengar dan juga mudah dicerna, sehingga banyak akan mendengarkan beliau,” imbuhnya.

Namun begitu, rupanya Abdul Somad menolak dijadikan cawapres dan ingin tetap menjadi pendakwah. Ia menegaskan dirinya lebih senang menjadi guru ngaji ketimbang jadi pemimpin. Untuk itu, Abdul Somad juga berulang kali mengatakan Salim Segaf Al-Jufri, satu nama lainnya yang drekomendasikan ijtima ulama, lebih layak dibandingkan dirinya.

Meski menolak jadi cawapres, nyatanya pesona politik sang ustaz masih belum sepenuhnya sirna. Berbagai tokoh tetap memintanya mempertimbangkan saran para ulama untuk menjadi cawapres dambaan umat. Simak saja bagaimana PAN mengharapkan Somad menjadi cawapres bagi Prabowo. Partai matahari ini menganggap bahwa pasangan Prabowo-Somad adalah pasangan yang paling menarik.

Secara khusus, pendiri sekaligus Ketua Dewan Kehormatan PAN, Amien Rais memilki pendapat tersendiri tentang Abdul Somad. Amien menganggap bahwa Abdul Somad ini sosok yang lebih “nendang” jika dibandingkan dengan Salim Segaf. Menurutnya, Somad tidak hanya memenuhi unsur ulama, tetapi juga termasuk golongan muda jika dibandingkan dengan Salim.

Sang putri, Hanum Salsabila Rais, punya pandangan senada, ia menyerukan #SomadEffect di media sosial. Hanum yang juga seorang penulis ini lantas mengajak semua pihak meyakinkan Abdul Somad agar mau berbakti untuk bangsa: mendaulatnya sebagai cawapres.

Sejumlah deklarasi dukungan pun muncul. Tim Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), misalnya, secara tegas menyatakan dukungan kepada Abdul Somad sebagai cawapres mendampingi Prabowo pada kontestasi Pilpres 2019 mendatang. Sebelumnya, sekelompok masyarakat yang menamakan diri relawan PUAS (Prabowo-Ustaz Abdul Somad), juga mendaulat dosen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau ini agar maju ke panggung politik. Dukungan yang sama juga disuarakan netizen.

Ustaz Abdul Somad, atau yang biasa dipanggail UAS, memang fenomenal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here