Acara TV yang Membodohi

0
592

BEBERAPA hari lalu, TNI-AD menyampaikan protes terhadap variety show “Dahsyat” di RCTI karena ada salah satu tampilan di acara tersebut yang dianggap merendahkan martabat prajurit. Adegan itu, seorang anggota TNI dan seorang anggota Persit memakan donat yang diikatkan ke sepatu seorang gadis muda pembawa acara. Tentu saja, adegan demikian, dari segi apa pun tak pantas. Jadi, sangat masuk akal, jika publik ikut marah.

Tetapi, itulah sebagian dari wajah tayangan televisi negeri ini. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dalam Refleksi Akhir Tahun 2017-nya, mengungkapkan acara variety show merupakan jenis acara yang berkualitas rendah. Skor jenis acara ini hanya 2.61, padahal skor terendah untuk kualitas tayangan adalah 3.00.

Ada lagi yang lebih buruk, yaitu tayangan infotainment, dengan skor 2,51. Menurut KPI, acara yang memberitakan kehidupan artis ini, dinilai lebih banyak menyebarkan gosip daripada mengungkapkan hal positif. Belum lagi cara kerja karyawan infotainment yang sangat agresif mencari berita, sehingga seringkali memasuki wilayah pribadi artis yang jadi sumber beritanya.

Kreativitas di dunia pertelevisian memang sedang booming. Sebentar-sebentar ada saja acara baru yang ditampilkan, walaupun dari segi ide tidak sepenuhnya juga orisinil, karena kebanyakan hanya mencontek acara serupa dari siaran televisi mancanegara.

Karena mencontek, para kreator (kita sebut saja begitu, walau sebenarnya kurang pantas) itu tak bisa melepaskan diri dari kultur masyarakat di mana mata acara yang aslinya lahir. Sehingga yang hadir di layar kaca, dan merasuki ruang-ruang keluarga bangsa ini, adalah sebuah tontonan dengan kultur asing. Dan karenanya terlihat aneh. Warna lokal, kalaupun ada, cuma pada setting, lokasi, dan bahasa.

Tayangan-tayangan tanpa batas norma ini memang bagian dari terbukanya sekat-sekat lama yang menyandera kebebasan media massa di masa lalu. Ketika reformasi bergulir di negeri ini, salah satu keran pertama yang dibuka adalah keleluasaan bagi pers untuk berbuat apa saja.

Tetapi, repotnya, kebebasan itu tidak dipahami dengan dewasa. Bebas diartikan hilangnya aturan. Akibatnya lahirlah pers porno, pers yang menjual aurat, sadisme atau sentimen primordial. Semestinya kebebasan pers itu bermakna keleluasaan melakukan hal yang kritis konstruktif bagi peradaban manusia.

Reformasi –walaupun kata ini belakangan lebih sebagai komoditas politik belaka—ditujukan untuk membongkar belenggu terhadap kreativitas yang konstruktif. Kita sepakat melakukan berbagai deregulasi di bidang politik, ekonomi, hukum, dan sosial agar kreativitas konstruktif itu muncul. Dan dengan begitu peradaban bangsa ini bisa selangkah lebih maju.

Tetapi, kita tidak memperuntukkan reformasi bagi deregulasi moral. Kita bebas menyatakan pendapat, bebas berpolitik, bebas menuntut hak, tetapi rambu-rambu moral tetap harus dijaga, bahkan kalau perlu diperketat.

Dan, media massa semestinya berada di garis depan proses itu.

Apalagi televisi, media audio-visual yang  memadukan bahasa lisan, tulisan, gambar  bergerak, dan efek suara dalam satu kesatuan penyajian. Televisi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan perilaku dan cara berpikir publik. Publik terpengaruh mengidentifikasikan dirinya dengan tontonan yang ditayangkan. Jika lisan saja, tulisan atau gambar saja bisa membuat masyarakat bergerak, bisa dibayangkan kekuatan dari perpaduan itu.

Iklan yang durasinya hanya beberapa detik sukses membuat orang mengeluarkan uangnya untuk membeli produk yang dijajakan. Bisa digambarkan kerusakan apa yang akan timbul jika sebuah tayangan tidak mendidik ditonton orang berjam-jam?

Posisi media televisi yang sangat kuat pengaruhnya itu, oleh sebagian besar (kalaulah tidak semua) pengelola televisi hanya dipahami sebagai potensi pasar yang akan melahap apa pun produk yang diiklankan. Sehingga acara dibuat dengan konsep menarik orang sebanyak mungkin dan menahan mereka selama mungkin duduk terpaku menonton televisi, dan jika tercapai, berarti acara tersebut sukses. Dengan sedikit pengecualian, rating seolah satu-satunya indikator keberhasilan tayangan televisi. Tak peduli apa pun isi acaranya.

Di sini kerap muncul kekusutan baru. Acara yang rating-nya tinggi biasanya disiarkan secara langsung. Karena dipandu pembawa acara dengan bekal intelektualitas minimum, seringkali mereka terpeleset seperti kasus acara “Dahsyat” tadi.

Jalan keluarnya, KPI memang harus bekerja keras. Pemerintah pun mesti bersikap lebih tegas. Menata dengan tegas tayangan yang membodohkan, wajib dilakukan pemerintah –tanpa harus menjebakkan diri pada pro-kontra konyol tentang kebebasan berekspresi melalui media massa.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here