Ada Bisnis Migas di Balik Pembantaian Rohingya

0
529
Pengungsi Rohingya mengikuti salat Idul Adha dekat kamp pengungsi sementara Kutupalang, di Cox's Bazar, Bangladesh, Sabtu (2/9). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news – Tragedi ribuan Rohingya terusir dari negaranya di Rakhine State jelas melanggar prinsip kemanusiaan universal. Amat disayangkan, dunia internasional belum bisa berbuat banyak untuk mengatasinya kecuali baru sekadar mengecam. Padahal dalam lima tahun terakhir, kekejaman demi kekejaman dialami kaum minoritas Muslim Rohingya di Rakhine State, Myanmar tanpa ada solusi yang permanen. Diduga, penyebab konflik tanpa ujung di Rakhine State, negara bagian Myanmar, selain soal kemiskinan, ketidakadilan, dan sejarah masa lalu terkait pendirian negara juga terkait penguasaan sumber daya strategis di negara itu: minyak dan gas (migas).

Bukan hal baru, di negara-negara dengan sumber daya energi fosil yang besar, konflik seperti terus-menerus dipelihara. Lihat saja misalnya sejumlah wilayah kaya migas di Timur Tengah dan Afrika. Sampai sekarang perang dengan berbagai dalih terus berkecamuk. Sementara, perusahaan-perusahaan migas multinasional terus mengeruk kekayaan sumber daya alam di kawasan tersebut.

Konflik kekarasan di Rakhine, dengan memanfaatkan latar isu etnis dan agama, bukan tidak mungkin  sejatinya digunakan untuk kepentingan penguasaan sumber daya migas oleh pihak tertentu. Sama polanya seperti tempat-tempat lain, di mana isu etnis dan agama kerap digunakan menyulut kekacauan untuk tujuan “penguasaan”. Yang lebih dekat, lihat contoh Papua dalam konteks penguasaan sumber daya mineral. Hingga saat ini kawasan Papua tak pernah usai dari konflik.

Dilansir priceofoil.org pada tahun 2013, para pegiat hak asasi manusia saat itu pernah memperingatkan bahwa tragedi pembersihan etnis seperti terjadi tahun 2012, atau tahun-tahun sebelumnya mungkin akan terus berlanjut di Myanmar. Pasalnya, pengembangan lahan strategis di sekitar jaringan pipa minyak Shwe diduga sebagai penyebab.

Sumber: shwe.org

Pipa Shwe, dibuka akhir tahun 2013 lalu, mengalirkan minyak dari negara-negara Teluk dan Afrika ke Cina, memangkas rute pelayaran yang lebih lambat melalui Selat Malaka. Jaringan tersebut juga mengirim gas dari lepas pantai di Rakhine State, Myanmar ke barat daya Cina.

Sementara itu, etnis Rohingya tinggal di negara bagian Rakhine atau juga dikenal dengan Arakan, di mana terdapat pelabuhan strategis Sittwe yang merupakan titik awal dari jaringan pipa di pantai Myanmar. Sejumlah laporan yang dapat dipercaya menyatakan militer Myanmar terlibat dalam upaya pembersihan etnis Rohingya.

Saat itu, BankTrack, sebuah organisasi global non-pemerintah di bidang perbankan swasta yang bekerja mencegah keterlibatan bank-bank swasta dalam proyek-proyek berisiko terhadap lingkungan, masyarakat atau hak asasi manusia, pernah berulang kali meminta bank internasional seperti Barclays dan Royal Bank of Scotland untuk menghentikan pembiayaan pipanisasi atau perusahaan yang terlibat di dalamnya, namun permintaan tidak digubris.

Jamila Hanan, aktivis HAM pendiri Save the Rohingya berbicara kepada Oil Change International pada tahun 2013, dia mengatakan, “Kami mengantisipasi pembantaian Rohingya dalam skala yang sama dengan yang terjadi di Rwanda…,”

Menurut Hanan, pasti ada kaitan antara pengembangan minyak dan penghapusan etnis Rohingya. “Rohingya ‘dibersihkan’ dari Sittwe yang tengah dikembangkan menjadi pelabuhan laut dalam bagi  kapal tanker yang mengambil minyak dari Timur Tengah. Ada perkembangan ekonomi yang sangat besar di sekitar pelabuhan Sittwe sebagai hasil pipanisasi baru,” kata Hanan.

Pelabuhan strategis Sittwe, di mana banyak orang Rohingya tinggal di sana, serta jaringan pipa migas dimulai, hanyalah satu faktor. Lainnya, adalah keberadaan blok minyak yang menguntungkan yang sebelumnya terlarang karena sanksi. Myanmar juga melakukan penawaran 30 blok minyak dan gas lepas pantai ke perusahaan minyak seperti Chevron, Total dan ConocoPhillips.

Sebagaimana dilaporkan Forbes, Myanmar juga diperkirakan memiliki cadangan minyak sebesar 11 triliun dan gas 23 triliun kaki kubik, inilah yang membuat tak sedikit dari perusahaan multinasional asing berebut kawasan ini untuk mendapat kontrak kerja sama mengeksplorasinya.

Di samping itu, Myanmar juga mempunyai posisi geopolitik yang sangat menguntungkan, khususnya bagi Cina dalam konteks One Belt One Road (OBOR), karena kawasan laut Myanmar merupakan salah satu akses strategis menuju laut India dan Laut Andaman.

Sejak 2011, saat Myanmar mulai terbuka, ekspansi Cina ke Myanmar tentu tak bisa dibendung lagi. Myanmar berada dalam posisi geopolitik yang penting dan strategis bagi kepentingan Cina, seiring pembangunan jaringan pipa Shwe di Rakhine State itu.

Pipa gas yang telah beroperasi dari 1 Juli 2013, memiliki kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari. Sementara pipa minyak yang mulai beroperasi 1 Desember 2013, memiliki kapasitas 400 ribu barrels per hari dari Kyauk Phyu ke perbatasan Cina sepanjang 803 kilometer.

Cina tentu saja amat berkepentingan dengan jaringan pipa Shwe untuk membawa migas ke negaranya. Total investasi Cina di jaringan pipa ini mencapai USD 29 miliar selama tiga dekade. Hal ini pula yang  membuat rezim Junta Militer Myanmar yang perusahaannya menjadi mitra dalam proyek tersebut, harus memastikan jalur pipa tetap aman.

Sayangnya, proyek gas dan jaringan pipa Shwe yang mengeksplorasi gas alam bawah laut di lepas pantai barat Myanmar dan dual pipa gas yang dibangun melewati Rakhine, Shan dan Myanmar Tengah rupanya telah menghancurkan kehidupan nelayan, merampas ribuan hektare lahan dan membuat puluhan ribu warga menganggur.

Surat kabar The Guardian, dalam laporannya, meski belum dibuktikan kebenarannya, pernah menyiratkan dugaan bahwa penyerangan terhadap Rohingya yang digalang sejumlah biksu ultranasional seperti Wirathu pada tahun 2011 silam sebagai operasi terselubung junta militer yang saat itu berkuasa.

Digunakannya para biksu yang sangat dihormati warga lokal dimaksudkan untuk mengalihkan kemarahan warga Rakhine terhadap pemerintah Myanmar akibat proyek migas, dan kemudian mereka menjadikan warga minoritas Rohingya sebagai musuh bersama karena secara kebetulan berbeda agama dan budaya.

Puluhan ribu Rohingya terusir

Faktanya, saat ini, atau tepatnya sejak 25 Agustus lalu, lebih dari 18.500 Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh. Bahkan sumber PBB mengatakan angka sebenarnya lebih besar lagi, mendekati 28.000.

Relawan kemanusiaan di Bangladesh Sabtu (2/9) lalu mengatakan bahwa jumlahnya 70.000, hampir 10 persen dari populasi Rohingya, telah menyeberang ke Bangladesh dalam waktu kurang dari 24 jam. Luar biasa.

Sumber PBB juga mengatakan, mungkin masih ada sekitar 20.000 pengungsi lainnya yang terdampar di daerah-daerah yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh. Mereka terdampar karena dicegah masuk ke Bangladesh oleh penjaga perbatasan. Rohingya ini memiliki akses terbatas untuk mendapatkan bantuan dan terpaksa bergantung pada bantuan penduduk desa setempat untuk bertahan hidup.

Rakhine State dan etnis Rohingya telah akrab dengan kekerasan berlatar etnis dan agama. Konflik Oktober tahun lalu, memaksa 87.000 Rohingya mengungsi ke Bangladesh. Gelombang pengungsian Rohingya telah terjadi sejak 2012, 2015, dan 2016, tapi gelombang pengungsian kali ini diduga yang terbesar.

Fortify Rights, LSM yang mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia di Rakhine, sebagaimana ditulis The Guardian, melaporkan bahwa orang-orang yang selamat dari desa Chut Pyin, di distrik Sittwe berbicara tentang tentara Myanmar dan penduduk sipil setempat yang memancung Rohingya. Korban selamat memperkirakan jumlah Rohingya yang tewas di desa tersebut, yang pernah memiliki populasi 1.400, lebih dari 200 orang.

Etnis Rohingya berasal dari Rakhine State, bagian barat Myanmar. Dengan jumlah sekitar 1,1 juta populasi, sekarang diperkirakan lebih dari 400.000 pengungsi Rohingya di Bangladesh. Mereka menghadapi diskriminasi sistematis di Myanmar dan sering disebut sebagai minoritas teraniaya di dunia. Myanmar tidak mengakui kewarganegaraannya, menuduh mereka adalah imigran ilegal asal Bangladesh. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here