Musim Merger Bersemi Kembali (1)

Ada Mitsubishi di Balik Merger Bank Danamon dan BNP

0
329
Mitsubishi UFG Financial Group sebagai pemegang saham mayoritas PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk akan melakukan merger terhadap kedua bank tersebut.

Nusantara.news, Jakarta – Peraturan single presence policy belum dicabut, dimana jika satu investor bertindak sebagai pemegang saham mayoritas di banyak bank, maka investor itu harus menyatukan bank miliknya. Meski aturan itu sudah lama, namun belakangan bersemi kembali.

Ihwal cerita single presence policy muncul kembali menyusul ketika rencana merger PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (BBNP). Aksi korporasi ini sempat membuat harga saham BDMN dan BBNP melonjak melampaui kenaikan yang diperkenankan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Akibatnya kedua saham itu mengalami auto rejection, dan itu lumrah. Apalagi pihak BDMN dan BBNP secara sadar meminta BEI untuk membekukan kedua saham tersebut sementara dari lantai bursa. Tujuannya untuk menjaga perdagangan saham yang wajar, teratur dan efisien.

Aktor utama merger kedua bank mikro tersebut adalah Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), yakni bank raksasa asal Jepang hasil merger Mitsubishi Bank dengan UFC Financial Group. MUFG diketahui sudah menjadi pemegang saham mayoritas di kedua bank tersebut.

MUFG secara resmi telah meningkatkan kepemilkan saham di BDMN dari 40% menjadi 73,8%. Sementara MUFG memiliki saham langsung di BBNP awalnya hanya 7,91%, namu lewat anak usahanya Acom Co. Ltd juga memiliki saham di bank sama sebesar 67,59%. Praktis MUFG terkena peraturan single presence policy, dan MUFG memang bertekad menggabungkan BDMN dengan BBNP yang sama-sama memiliki core business mikro finance.

Apalagi fair play sudah diumumkan direksi kedua bank yang ditembuskan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar kepada para kreditur kedua bank bila ada yang keberatan maka bisa menyampaikan keberatannya secara tertulis. Masing-masing kreditur diberi batas waktu hingga 25 Februari 2019, bila sampai tanggal tersebut tidak ada yang menyampaikan keberatan maka dianggap meyetujui merger.

CEO, Asia & Oceania MUFG Takayoshi Futae menjelaskan pihaknya sudah berkomunikasi dengan manajemen BDMN untuk strategi bisnis perseroan.  “Saya sudah bicara dengan Mr. Sng Seo Wah Presiden Direktur Danamon terkait rencana bisnis, saya yakin antara MUFG dan Danamon bisa berkolaborasi dalam berbisnis,” ujar Takayoshi akhir Desember 2018 lalu.

Dia menjelaskan Indonesia adalah negara yang memiliki industri otomotif dan manufaktur yang besar. Ini sangat cocok dengan model bisnis Bank Danamon yang memiliki anak usaha multifinance untuk penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor.

“Danamon kuat secara bisnis pembiayaan kendaraan bermotor, sangat baik jika digabungkan dengan bisnis MUFG untuk mendorong pertumbuhan di Indonesia,” ujarnya.

BDMN diketahui juga kuat dengan pembiayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Karena itu, untuk mendorong bisnis tersebut, setelah diakuisisi oleh MUFG maka Danamon bisa mendapatkan jaringan secara global untuk melayani nasabah di Indonesia.

Untuk memuluskan rencana ini, paling tidak ada tiga MUFG akan menempuh tiga tahap. Pertama, MUFG akan mengakuisisi 19,9% kepemilikan BDMN dan Asia Financial Internasional (AFI) akan terus menjadi pemegang saham mayoritas di BDMN.

Kedua, MUFG membidik persetujuan regulator dan persetujuan untuk mengakuisisi 20,1% lagi agar kepemilikan meningkat 40%.

Ketiga, setelah tahap kedua selesai dan MUFG mendapat persetujuan untuk meningkatkan kepemilikan atas Danamon sudah lebih dari 40%. Kemudian jika seluruh tahap sudah selesai maka kepemilikan saham Danamon sudah 73,8%. MUFG akan menyediakan sekitar Rp 15,9 triliun dengan harga perkiraan RP8.323 per saham untuk pembelian 19,9% saham.

Dimana CEO MUFG, BDMN adalah salah satu bank di Indonesia yang memiliki manajemen berpengalaman dan kompeten. Selain itu, Indonesia adalah salah satu negara yang mendorong perkembangan ekonomi di Wilayah Asia dan Oceania.

Menurut Takayoshi, bisnis perbankan yang sehat dan jaringan yang luas diharapkan mampu mendukung strategi pengembangan bisnis regional MUFG

“Kami yakin bahwa masuknya MUFG sebagai suatu pemegang saham Danamon akan memberikan keuntungan kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk para karyawan, klien, nasabah serta mitra bisnis,” demikian janji Takayoshi.

BDMN adalah bank peringkat kelima dari sisi pendapatan. Takayoshi menilai, dengan masuknya MUFG sebagai pemegang saham mayoritas, maka BDMN akan mendapatkan akses yang lebih luas dengan jaringan finansial MUFG.

Setelah menjadi pemegang saham mayoritas, MUFG akan memanfaatkan jaringan kantor BDMN yang tersebar di seluruh Indonesia. Komitmen ini untuk mendukung dan meningkatkan posisi BDMN sebagai bank terdepan dan terkemuka di Indonesia dalam memberikan layanan terbaik kepada nasabahnya.

Sebagai investor, Takayoshi menilai Indonesia adalah negara dengan ekonomi terbesar di ASEAN yang didukung oleh pertumbuhan demografis yang baik, sumber daya yang kaya dan iklim politik yang stabil.

Proses merger ini bila berlangsung mulus diperkirakan akan rampung pada Mei 2019 [bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here