Ada Pembatasan Impor, Siap-siap Industri Tembakau Kolaps

0
54

Nusantara.news, Surabaya – Defisit sekitar 100 ribu ton pertahun untuk kebutuhan nasional dapat jadi peluang petani tembakau meningkatkan produktivitas. Namun, keinginan itu seperti membentur tembok dengan minimnya dukungan dari pemerintah. Kebijakan yang diambil justru memperketat impor tembakau, seperti yang termuat dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84 (Permendag 84) Tahun 2017.

Dalam aturan tentang Ketentuan Impor Tembakau yang sudah mulai dijalankan per 8 Januari 2018 itu, beberapa jenis tembakau hanya diberi kuota sedikit kendati produksi di dalam negeri belum mencukupi. “Regulasi ini yang berpotensi akan mengacaukan industri tembakau dalam negeri,” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno dalam pernyataan kepada media, Kamis (18/1/2017).

Beberapa jenis tembakau yang masuk daftar pengetatan di antaranya virginia, burley dan oriental. “Jenis-jenis sangat dibutuhkan untuk kebutuhan industri tembakau di Indonesia. Seperti untuk komposisi rokok. Jenis oriental malah tidak bisa diproduksi di Indonesia. Selama ini kita impor dari negara-negara Timur Tengah karena komposisi lahannya memang tidak ada,” terangnya.

Karenanya, Soeseno mengaku tidak paham tujuan kebijakan pemerintah itu. Di Jawa Timur, dari beberapa sentra wilayah tembakau, memang sudah pernah dicoba untuk menanam jenis oriental namun tidak berhasil. “Seperti di Madura, hasilnya hanya semi oriental. Jenis ini memang hanya bisa tumbuh di lahan perbukitan kapur,” tambahnya.

Dalam industri rokok, tembakau yang dipakai memang tidak satu jenis. Bisa terdiri dari campuran beberapa jenis untuk menghasilkan rokok yang sesuai dengan selera konsumen. Komposisinya pun lazim jadi rahasia perusahaan secara turun temurun. Sehingga antara produksi pabrik satu dengan yang lain punya cita rasa berbeda. Tak heran, rokok produksi Indonesia di dunia internasional sempat disebut sebagai rokok yang punya cita rasa terbaik. Beberapa jenis tembakau itu lah yang produksinya belum mencukupi sehingga perlu didatangkan dari luar negeri.

Sebenarnya Permendag 84 2017 bisa menjadi pintu bagi peningkatan kesejahteraan petani tembakau, khususnya di Jawa Timur. Sayangnya, selain sebagai tanaman yang karakternya sesuai dengan kondisi geografis, peluang itu tidak bisa dioptimalkan karena minimnya perhatian pemerintah.

Semisal tembakau jenis burley yang banyak ditanam di Lumajang. Dari setiap musim panen, tembakau yang dihasilkan hanya sebanyak 1.417 ton dengan luas tanam 997 hektar. “Di beberapa negara, pemerintah setempat punya kebijakan untuk membantu peningkatan produksi tembakau petaninya. Di Korea misalnya, di sana petani tembakau mendapatkan insentif. Langkah serupa juga dilakukan Amerika Serikat, Vietnam dan beberapa negara lain,” sebutnya.

Antara Insentif atau Pemangkasan Tata Niaga

Untuk Indonesia, Soeseno sarankan pemerintah memberi subsidi listrik untuk petani. Sehingga kesulitan yang selama ini terjadi jika memasuki musim penhujan bisa diminimalisir yang tujuannya agar tidak mengganggu industri. “Kalau memang mau melakukan pembatasan impor, petani lokal juga harus didukung untuk meningkatkan produksinya. Bisa lewat subsidi listrik atau gas untuk penjemuran hasil panen. Selama ini petani hanya mengandalkan sinar matahari. Berbeda dengan di Korea. Di sana, penjemuran sudah menggunakan oven besar sehingga mutunya terjaga,” tutupnya.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian 2015, jenis tembakau virginia yang menjadi bahan utama produksi rokok nasional hanya menempati areal seluas 28.949 hektar atau setara dengan 13,38 persen dari total luas areal pertanian tembakau di Indonesia. Sementara produksinya hanya 38.371 ton atau hanya 19,8 persen dari total produksi tembakau nasional. Sedangkan kebutuhan rata-rata pertahun mencapai 300.000 ton dari produksi sebesar 200.000 ton pertahun.

Ketua APTI Bondowoso Asosiasi Petani Tembakau Yasit menjelaskan, jika pemerintah memang berniat membantu atau melindungi, seharusnya bisa memangkas aturan tentang tata niaga tembakau. Apalagi sebagai penyumbang devisa kedua terbesar nasional melalui cukai rokok, tembakau tidak bisa dilepaskan dari perjalanan republik ini. “Bisa dilakukan dengan cara mengeluarkan aturan tentang kemitraan antara petani dengan pabrik atau lebih menyederhanakan alur niaga,” harapnya.

Pendapat ini didukung Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo. Kendati menilai Permendag 84 2017 merupakan salah satu niat baik pmerintah membantu petani tetapi yang dibutuhkan saat ini memang pemangkasan tata niaga. “Sekarang ini masih panjang sekali mata rantainya dan banyak lapisannya. Kondisi ini yang tetap membuat para petani tembakau susah,” ujarnya.

Pemerintah, menurut Budidoyo, tidak fokus dengan permasalahan ini. Dia juga mengusulkan cara untuk memutus mata rantai tata niaga yang panjang adalah dengan membangun kemitraan antara petani tembakau dan pabrikan rokok. “Cara kemitraan ini malah sudah dilakukan beberapa pabrikan rokok besar dengan menyerap tembakau lokal langsung dari petani,” ujarnya.

Kualitasnya Diakui Dunia

Di saat pemerintah mulai mengabaikan potensi tembakau nasional, ternyata kualitas emas hijau ini tetap menarik perhatian dunia internasional. Beberapa jenis tembakau lokal bahkan jadi buruan industri rokok kelas dunia. Seperti jenis Besuki Na Oogst (BNO), daun tembakau yang dihasilkan di Besuki ini cocok dipakai sebagai pembalut, pengikat atau pembungkus, bahkan pengisi cerutu.

Industri cerutu di Jember masih bertahan hingga kini. Bahkan kualitasnya sudah diakui dunia sebagai nomor 2 terbaik di dunia

Tembakau Besuki, yang mengharumkan nama Jawa Timur, unggul dalam karakter elastisitas, rasa, serta warna daun yang cokelat kehitaman. Bahkan industri cerutu peninggalan Belanda yang masih bertahan hingga kini di Jember, kualitasnya tetap terjaga. Tembakau Jember dimanfaatkan terutama untuk bahan pembalut cerutu (dekblad) selain sebagai bahan pengikat (binder) serta pengisi (filler) aroma cerutu yang berkualitas  yang tidak kalah dengan cerutu Kuba maupun Amerika.

Saking fenomenalnya, cerutu made ini Jember ditasbihkan sebagai terbaik nomor 2 di dunia di bawah cerutu Kuba. Praktis, industri ini bisa menopang perekonomian warga Jember. Dengan kondisi ini, sepatutnya pengambil kebijakan mempertimbangkan dengan cermat segala dampak susulan terkait tembakau. Gubernur Jawa Timur Soekarwo beberapa waktu lalu sampai menegaskan jika kultur wilayahnya tidak bisa dilepaskan dari tembakau.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here