Kelapa Sawit sebagai Komoditi Strategis (2)

Ada Pengusaha Punya Lahan Seluas Hampir 2 Kali Pulau Bali

0
1720
Ilustrasi: perkebunan kelapa sawit

Nusantara.news – Isu kebakaran lahan dan El Nino yang panjang berakibat menurunnya produksi kelapa sawit pada tahun 2016. Menurut data GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) produksi CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit mentah sebesar 31,5 juta ton dan PKO (Palm Kernel Oil) sebesar 3 juta ton, total sekitar 34,5 juta ton, turun 3% dari angka tahun 2015.

Dari segi harga menunjukkan tren kenaikan rata-rata USD 700 per metrik ton, naik 14% jika dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar USD 614 per metrik ton.

Sementara, untuk ekspor tahun 2016 turun 5% (25,1 juta ton) dibanding tahun 2015 yang mencapai 26,4 juta ton. Industri kelapa sawit di tahun 2016 menyumbang devisa sebesar USD 18,1 miliar atau Rp 240,7 triliun (USD 1 = Rp 13.300), mengalami penurunan 3% dibanding tahun 2015. Seluruh negara tujuan ekspor mengalami penurunan permintaan kecuali Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Kebutuhan Eropa meningkat pesat, Resolusi Parlemen Eropa yang dilakukan untuk Indonesia dan Malaysia mengenai Kelapa Sawit diyakini hanya perang dagang biasa.

Tantangan industri kelapa sawit 2017

GAPKI merumuskan ada beberapa tantangan industri kelapa sawit di Indonesia tahun 2017, sebagai berikut:

  1. Promosi minyak sawit Indonesia di pasar India, Pakistan, dan negara-negara Timur Tengah
  2. Penanganan isu-isu negatif seperti:
  • Isu super tax Perancis ada kemungkinan akan digulirkan kembali di waktu mendatang
  • Isu 3-MCPD (kandungan karsinogenik pada minyak nabati) sudah muncul di Italia dan diperkirakan akan semakin marak meskipun belum ada pembuktian secara scientific yang kuat
  • Sawit dituding sebagai penyebab utama deforestasi masih akan tetap ada, terutama di Uni Eropa
  • Persepsi negatif terhadap minyak sawit sebagai minyak nabati less healthier dan low quality di beberapa negara masih terus dibicarakan hampir di semua negara-negara pengimpor
  • Daya saing minyak sawit akan semakin lemah dibandingkan dengan minyak nabati lainnya, terutama minyak bunga matahari
  • Peningkatan standar REDD+ untuk ambang batas CPO sebagai biomassa energi terbarukan dan pengurangan mandatori biodiesel yang berasal dari first generation.

3. Penanganan isu-isu domestik, seperti:

  • Penanganan lahan gambut dan pencegahan kebakaran lahan
  • Sosialisasi kepada stakeholder tentang strategis dan pentingnya industri kelapa sawit.

Tantangan lainnya adalah masalah lahan bagi pengembangan kebun baru yang diakibatkan tidak tuntasnya tata ruang nasional dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), adanya ketidak-pastian hukum status legalitas lahan. Sementara, pengembangan izin yang mengarah ke Indonesia Timur belum didukung oleh infrastruktur seperti pelabuhan. Sementara kontribusi CPO Kalimantan dan Sulawesi sudah mencapai 30% produksi nasional, sehingga pelabuhan menjadi penting.

Lebih jauh, Resolusi Parlemen Eropa menjadi tantangan bagaimana industri kelapa sawit (GAPKI) bersama Pemerintah bahu-membahu “melobi” agar sanksi untuk Indonesia tidak dijatuhkan, karena hal itu lebih sebagai manuver persaingan bisnis. Perlu upaya bersama dengan Malaysia karena senasib dan sepenanggungan.

Untuk menciptakan iklim yang kondusif di industri kelapa sawit di Indonesia, perlu ditata berbagai hal:

  • Lembaga Keuangan harus memperkuat kebijakan risiko sosial dan lingkungan untuk ditingkatkan secara akuntabel. Dengan demikian, menghindari pembiayaan perusahaan yang merampas tanah, melanggar HAM (Hak Azasi Manusia), konflik sosial, eksploitasi pekerja, dan hal negatif lainnya
  • Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengawasi untuk akuntabilitas yang baik dan mengadopsi kebijakan berkelanjutan
  • Mengkaji ulang pemanfaatan lahan besar untuk ketahanan pangan, untuk mengurangi ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia dengan redistribusi aset untuk petani
  • Dalam memberi izin, diharapkan harus produktif, dan mempunyai hubungan yang baik dengan lingkungan
  • Industri kelapa sawit memerlukan investasi lebih terpadu dari hilir, bukan sekadar penyulingan minyak tapi sampai pengolahan bahan makanan, dan produk-produk oleo

Perusahaan Indonesia di posisi rangking dunia

Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar, beberapa perusahaan Indonesia menempati rangking dunia:

Sebagai perusahaan publik, Wilmar dengan kapitalisasi saham terbesar senilai USD 15 miliar atau sekitar Rp 2,1 triliun menyusul Astra Agro Lestari senilai Rp 300 miliar.

Perusahaan-perusahaan di atas menjadi anggota perusahaan kelapa sawit dunia rata-rata semenjak tahun 2001. Tercatat di luar kelompok 10 besar di atas, Darmex Agro Group (-49), Golden Plantation (-39), dan Tunas Baru Lampung (-35) adalah perusahaan kelapa sawit yang menempati rangking dunia.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa lahan kelapa sawit meningkat di tahun 2016 mencapai 10 juta hektare, sementara di tahun 2009 seluas 7,32 juta hektare, dan di tahun 1980 baru 190 ribu hektare saja. Pesatnya peningkatan lahan menempatkan kita sebagai produsen terbesar dengan share 45%, di rangking dunia. Malaysia berada pada posisi kedua, dengan share 41%.

Tercatat ada sekitar 1.320 perusahaan bergerak dalam perkebunan kelapa sawit, 74 industri minyak goreng, 46 industri margarin, 44 industri deterjen dan sabun mandi, 37 industri oleokimia, dan 20 perusahaan biodiesel.

Apakah semuanya milik orang Indonesia? Dengan modal kita memaklumi banyak perusahaan Malaysia, Singapura bekerja sama dengan pengusaha Indonesia dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Robert Kuok, konglomerat Malaysia adalah partner dari Wilmar (Martua Sitorus) sebagai perusahaan terbesar kelapa sawit di Indonesia.

Dari tersedianya lahan 13 juta hektare, baru 10 juta hektare yang sudah berizin. Luas lahan yang sangat besar ini sulit ditandingi negara lain, seperti Malaysia. Maka pengusaha sawit Indonesia berpotensi bekerja sama dengan pengusaha Malaysia.

Negara Malaysia dianggap lebih bijaksana dalam mengelola kelapa sawit, walaupun pemerintahnya sudah moratorium izin lahan karena sudah tidak tersedia. Industri hilir di Malaysia lebih berkembang, secara nominal jauh lebih besar penerimaan pajak maupun kapitalisasi industrinya, karena mereka unggul dalam produk turunannya (hilirisasi).

Pemilik lahan terbesar

Sinarmas Group, konglomerat yang dipimpin oleh Eka Tjipta Widjaja (93 tahun) memiliki lahan terbesar kelapa sawit di Indonesia, mencapai 713.000 hektare. Dalam rangking konglomerat versi Forbes, Eka Tjipta Widjaja menempati No. 4 terkaya setelah Budi Santoso (Djarum), Susilo Wonowidjojo (Gudang Garam), dan Anthony Salim (Salim Group), dengan aset mencapai USD 5,6 miliar atau Rp 74,5 triiun.

Di posisi kedua ada Jardine Mattheson, seluas 413.138 hektare dimiliki oleh Henry Keswick (Scotlandia), menyusul Salim Group yang merupakan orang No. 3 terkaya di Indonesia, dengan aset mencapai Rp 76 triliun. Di posisi ketiga, Triputra Group dengan luas 342.000 hektare dimiliki oleh Benny Subianto yang juga merupakan orang terkaya ke-33 dengan aset Rp 12,6 triliun. Menyusul Surya Dharma Group (Martias), Wilmar (Martua Sitorus) yang dikenal sebagai raja kelapa sawit, orang terkaya No. 18, dengan aset mencapai Rp 19 triliun.

Lalu ada Musim Mas Group, yang dimiliki oleh Bachtiar Karim, konglomerat No, 27 terkaya di Indonesia, dengan aset sebesar Rp 16 triliun. Ada Harita Group 206.000 hektare, konglomerat No. 43 terkaya dengan aset Rp 9,3 triliun.

Ada beberapa nama terkenal, seperti Theodhore P. Rachmat, konglomerat No. 11 yang juga keponakan dari William Soerjadjaja (pendiri/CEO Astra), ia memiliki aset sebesar Rp 24 triliun.

Konglomerat rata-rata memiliki lahan sawit, tercatat hanya keluarga Djarum, Gudang Garam, Ciputra, Chairul Tanjung, Benjamin Setiawan, Murdaya Poo, Mochtar Riyadi, Tahir, Eddy Katuari, Rusdi Kirana dan Hary Tanoesoedibjo.

Berikutnya ada nama Sampoerna Agro Group yang dimiliki oleh Putera Sampoerna yang merupakan orang terkaya No. 12 dengan aset Rp 23,5 triliun.

Nama-nama asing yang memiliki lahan terluas ada Henry Kenswick (Skotlandia), Genting Group (Lim Kok Thong, Malaysia) dan Batu Kawan Group (Malaysia). []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here