Ada Pidana Lingkungan di Terminal Pertamina Lawe-Lawe

0
69
Akibat pipa Terminal Lawe-Lawe patah, laut, hutan, lingkungan hidup dan laut tercemar seluar 7.000 hektare. Akan kah pelakunya dikenai pasal pidana lingkungan?

Nusantara.news, Jakarta – Teka-teki asal minyak tumpah di perairan Teluk Balikpapan mulai terkuak. Setelah berlangsung 7 hari, akhirnya mulai ada titik terang. Penyebab pipa bergeser 100 meter karena terseret jangkar kapal berbendera China.

Patahnya pipa penyalur minyak mentah dari Terminal Lawe-Lawe selama hampir sepekan ini menjadi misteri. Sebab akibat patahnya pipa tersebut, minyak mentah yang sedang dieksplorasi oleh PT Pertamina mencemari laut, hutan dan biota yang ada di laut serta ekosistem hutan setempat.

Akibat pencemaran lingkungan tersebut, terdapat 7.000 hektare area yang tercemar di sisi kota Balikpapan dan Penajam Paser Utara mencapai 60 kilometer. Hasil analisis satelit pada 1 April mengestimasi total luas tumpahan minyak di Teluk Balikpapan itu mencapai 12.987 hektare.

Bencana lingkungan ini bermula terjadi pada 31 Maret 2017 lalu, saat minyak mentah milik Pertamina tumpah di Teluk Balikpapan. Peristiwa itu terjadi akibat patahnya pipa penyalur minyak di terminal Lawe-Lawe di Penajam Paser Utara ke kilang Balikpapan.

Pipa penyalur berdiameter 20 inci dengan ketebalan 12 milimeter tersebut berada di dasar laut dengan kedalaman 20—25 meter.

Dirut PT Pertamina Elia Massa Manik mengaku belum mengetahui penyebab tumpahan minyak di Teluk Balikpapan. Pertamina masih melakukan investigasi.

“Lagi diinvestigasi. Enggak boleh dong mendahului pihak yang berwajib. Sedang diinvestigasi,” ungkap dia.

Kendati demikian, Elia mendapat informasi bahwa ada salah satu instalasi pipa milik Pertamina yang bergeser selebar 100 meter dari tempat semula. Namun, ia belum bisa memastikan apakah pergeseran pipa itu yang menyebabkan tumpahan minyak atau tidak.

“Mending kita tunggu hasil investigasi saja,” ujar dia.

Elia memastikan bahwa tumpahan minyak tidak mengganggu operasi kilang minyak milik Pertamina. Aktivitas pelabuhan di dekat lokasi terdampak juga dipastikan berjalan normal.

Dua kilang beroperasi normal, pelabuhan juga beroperasi normal karena di sepanjang pantai itu sudah bersih kembali walaupun usaha pemulihannya masih harus terus.

Ia mengapresiasi kerja tim gabungan di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang sigap mengatasi dampak negatif tumpahan minyak tersebut.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menegaskan, fokus utama pemerintah saat ini adalah menginvestigasi penyebab tumpahnya minyak serta mengatasi agar tumpahan minyak itu tidak mengganggu aktivitas masyarakat, terutama nelayan.

Saat ditanya soal apakah ada sanksi bagi Pertamina atas peristiwa tersebut, Arcandra menjawab, menunggu hasil investigasi.

“Kita tunggu investigasi. Yang jelas kita mengatakan kepada Pertamina untuk sesegera mungkin dilakukan pemulihan laut sekitar agar bersih seperti sedia kala, kemudian kita lakukan perbaikan (fasilitas Pertamina) sehingga kilang tetap berjalan baik,” ujar dia.

Akibat bocoran minyak

Seperti diketahui Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mendeteksi dampak cemaran bocoran minyak Pertamina itu cukup luas. Selain mencemari areal seluas 7.000 hektare, bocoran minyak Pertamina itu juga menyebabkan 5 nelayan tewas, sebanyak 162 nelayan terancam tidak bisa melaut.

Masyarakat sekitar tumpahan minyak mengeluh mual-mual selama beberapa hari. Bahkan 900 ribu jiwa warga Balikpapan dan Penajam Paser Utara terancam kanker, disamping juga terancam krisis air bersih.

“Saya dengar ada ikan pesut yang ikut mati karena air laut tercemar,” kata Menteri KLH Siti Nurbaya kepada media.

Adapun dampak ekosistem yang rusak, menurut Kementerian KLH, tanaman mangrove seluas 34 hektare di Kelurahan Karingau RT 1 dan 2 rusak. Tanaman mangrove seluas 6.000 hektare di Kampung Atas Air Margasari ikut tercemar.

Sementara ikan yang sehari-hari dikonsumsi masyarakat terpapar minyak, budidaya kepiting gagal panen, empat kawasan terumbu karang rusak, lima kawasan padang lamun terancam mati, habitat mamalia terganggu dan satwa terancam bermigrasi besar-besaran, bahkan plankton musnah.

Dari sisi nelayan, ada dua kapal nelayan terbakar, satu kapal kargo terbakar, serta alat tangkap nelayan tidak berfungsi akibat terpapar tumpahan minyak Pertamina.

Sumber di Pertamina menyebut jika tingkat pencemaran melebih 20 barel maka masuk kategori pencemaran berat. Dari 260.000 barel produksi per hari, kabarnya tersisa 20% saja. Artinya tingkat pencemaran yang terjadi benar-benar kategori pencemaran berat.

Jelas, dari dampak pencemaran yang begitu luas, pelakunya bisa dikenakan pasal tindak pidana pencemaran lingkungan. Siapakah mereka?

Kapal berbendera China

Lantas, siapa yang bersalah dalam kasus ini? Kelalaian kru Pertamina kah? Atau ada sabotase penduduk setempat? Atau bahkan ada pihak ketiga menjadi penyebabnya.

General Manager PT Pertamina Refinery Unit V Balikpapan Togar MP mengakui tumpahan minyak tersebut berasal dari pipa Pertamina yang bocor. Pengakuan ini sedikit menjawab dan mulai mengarah pada siapa sebenarnya sang pelaku. 

Saat kejadian, Togar mengaku tidak tahu persis awal kejadian. Pihaknya hanya mengambil sampel tumpahan minyak itu di perairan Pertamina saja, bukan di suplai bawah laut, tempat minyak mentah mengalir.

“Dengan penelitian-penelitian lebih lanjut ini minyak mentah, setelah pipa itu terputus dengan jumlah luasan besar,”ujar Togar di hari dan kesempatan sama. “Minyak mentah milik Pertamina,” akunya.

Direktur Kriminal Khusus Polda Kaltim Kombes Pol Yustan Alpiani mengungkapkan, asal muasal tumpahan minyak tersebut berasal dari pipa bawah laut milik Pertamina dari Terminal Lawe-lawe, Penajam  Paser Utara menuju Kilang RU V di Balikapapan yang putus.

“Pipa milik Pertamina dari arah Lawe Lawe menuju kilang di Balikapapan ternyata bekas terseret, dan putus. Cairan itu minyak tersebut berasal dari sana (pipa bocor),” ujar Kombes Pol Yustan kepada wartawan kemarin. 

Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, berdasarkan investigasi sementara, ada tim penyelam dari perusahaan pihak ketiga tampak beroperasi di sekitar lokasi kebocoran yang diprediksi 2 km dari kilang unit 5 Pertamina Balikpapan. Tim itu pada selasa sore (3/4) menggunakan alat side scan sonar system.

Ditambahkan Kombes Pol Yustan Alpiani, polisi masih menyelidiki penyebab pasti pipa tersebut bisa putus. Polisi akan melakukan pendalaman kembali, diharapkan pipa itu dipotong dan diangkat, dan pipa itu dibawa ke laboratorium forensik. Polisi ingin tahu kenapa  pipa itu putus.

Direktur Jenderal  Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Djoko Siswanto mengatkaan, kapal-kapal tersebut seharusnya tidak melepas jangkar di Teluk Balikpapan. Pasalnya, wilayah tersebut terdapat pipa milik Pertamina. Pelepasan jangkar itulah biang keladi penyebab patahnya pipa Pertamina.

“Kapal batu bara, (kapal) asing kalau nggak salah. Pas kebakar benderanya gak keliatan,” ujarnya di Kementerian ESDM.

Menurutnya, pihak dari kapal yang melempar jangkar tersebut bisa dituntut. Kabarnya, kapal yang melakukan pelanggaran tersebut berasal dari Tiongkok. “Bisa (dituntut). Aku kan nggak tau (perusahaannya), katanya sih batu bara. Kabar-kabar dari Tiongkok, cek aja. Sekarang proses penyidikan terus belangsung kapalnya juga akan diinterograsi,”jelas dia.

Dia menambahkan, sanksi yang diberikan seharusnya setimpal. Pasalnya, kerugian tidak hanya sekedar materi, tetapi juga menelan korban jiwa. “Kan ada yang meninggal tuh kan. Berarti kan harus dituntut pidana kalau orang meninggal tergantung siapa yang salah,” pungkasnya.

Djoko Siswanto mengaku tumpahan minyak sudah tidak ada lagi karena pipa sudah diperbaiki dengan cara disambung. Namun, pihak Pertamina dinilai sedikit terlambat melaporkan.

Produksi menurun

Kementerian mencatat ada kemungkinan produksi kilang minyak Balikpapan milik Pertamina berkurang karena kejadian terputusnya pipa bawah laut di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur.

Sumber di Pertamina menyebutkan akibat pecahnya pipe line CD4 sehingga stop operasi sehingga kilang Balikpapan hanya beroperasi 60.000 barel. Padahal biasanya kilang Balikpapan memproduksi hingga 260.000 barel, atau tinggal 20% saja.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan dari sisi produksi, kilang memang mengalami gangguan karena kejadian tersebut.

“Namun, Pertamina juga sudah melakukan mitigasi. Jadi, mereka (Pertamina) sudah menyiapkan solusinya dengan menggunakan pipa penghubung atau jumper line untuk mengatasi terjadinya keputusan pipa tersbut,” demikian Arcandra.

Tumpahan minyak mentah Pertamina di Lawe-Lawe meski tidak seluas tumpahan minyak British Petroleum (BP) di Teluk Meksiko, namun sama-sama mencemari lingkungan. BP (sekarang Beyond Petroleum) yang kuasa eksplorasi didenda sekitar Rp20 triliun akibat kejadian tersebut.

Akan kah Pertamina dikenai denda akibat pencemaran lingkungan yang luas tersebut? Atau kapal berbendera China yang harus dikenaik sanksi pidana akibat menimbulkan korban jiwa dan kerusakan lingkungan.

Mesti ada pelaku tindak pidana lingkungan yang dipidanakan, sebab ini kejahatan serius.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here