Adakah Manfaat Road-Show KPK?

0
245

DALAM sepekan terakhir, KPK sibuk melakukan road-show ke berbagai partai politik. Ada yang menilai, waktu kegiatan itu tidak pas. Sebab bersamaan dengan diserangnya KPK oleh Pansus Angket di DPR. Sehingga kesannya, seolah-olah KPK ingin memintas dari hulu agar tak hanyut di hilir.

Soal waktu ini, Deputi Pencegahan KPK, Pahala Nainggolan mengatakan, memang tidak terlalu pas, karena KPK sedang berurusan dengan DPR, karenanya dianggap safari politik.

Tetapi, KPK sendiri beralasan bahwa itu adalah kegiatan dalam rangka mensosialisasikan program politik cerdas berintegritas ke seluruh parpol. Sebab, 32 persen tersangka di KPK adalah aktor partai politik.

Dalam ruangan ini kita pernah mengusulkan agar penggalangan dana politik dilembagakan, agar ada akuntabilitas finansial, hukum dan moral di balik uang itu. Ini makin perlu karena orang Indonesia barangkali satu dari sedikit bangsa yang memiliki “syahwat” politik paling tinggi di dunia. Semua hal tentang politik sangat diminati, tetapi lebih pada politik kekuasaan, dan bukan politik kenegaraan. Politik kekuasaan tertuju pada hal yang sangat sempit: Menjadi penguasa, dan dengannya berhak atas segala manfaat kekuasaan.

Itu sebabnya di negeri ini orang sangat gemar membuat partai politik. Para pendiri partai itu tak pernah berpikir panjang. Bagi mereka, yang penting dirikan dulu, apa setelah itu dipikirkan sambil berjalan. Mendekrelarasikan partai politik baru memang sama mudahnya dengan membentuk kelompok arisan atau pengajian. Kumpulkan beberapa orang, lalu bentuk sebuah organisasi.

Banyaknya partai politik yang tidak lolos verifikasi Kementerian Hukum dan HAM dan (nantinya mungkin juga) Komisi Pemilihan Umum adalah bukti yang sangat telanjang dari pembentukan partai yang asal berdiri itu. Partai yang tidak lolos itu umumnya tidak diketahui alamat kantor sekretariatnya, pengurusnya  tidak jelas, dan sebab-sebab lain yang sangat elementer. Bagaimana mungkin, jika para pengurus itu berpikiran sehat, mereka mendaftarkan partainya mengikuti pemilu dengan alamat atau pengurus yang tidak jelas.

Hal yang juga sangat menggelisahkan adalah kemampuan dana yang sangat terbatas. Sejujur apa pun kegiatan politik, pastilah membutuhkan uang. Banyak partai yang dibentuk dengan kas kosong. Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa sebagian pendirian partai politik itu dilakukan dengan cara berpikir calo tanah. Sediakan tanah kosong, lalu olah hingga jadi siap bangun, kemudian cari pembeli.

Kalau kebetulan mendapat pembeli dari kelompok yang mempunyai kepentingan politik sangat tinggi, atau kelompok yang terdesak secara politik namun mempunyai dana berlimpah, maka partai itu pun akan dilepas untuk jadi kuda tunggangan. Pengurusnya, yang bermental calo tanah tadi, tidak lagi berpikir perjuangan partai, tapi sudah sibuk menghitung laba.

Itu kelakuan partai-partai kecil. Tabiat yang kurang lebih sama juga dilakukan partai-partai besar. Banyak partai yang menetapkan cover charge senilai puluhan juta untuk masuk dalam daftar calon anggota legislatif (caleg).

Padahal caleg adalah orang harus memikul amanat partai dalam lembaga-lembaga perwakilan rakyat. Seharusnya partai memilih orang-orang terbaik dan mengantarkan mereka ke lembaga legislatif. Dan setelah duduk di lembaga terhormat itu, partai akan mengontrol sepenuhnya sepak terjang mereka. Tetapi, kalau untuk duduk di lembaga legislatif harus membayar karcis masuk, maka dipastikan kontrol partai itu terhadap anggota fraksinya akan melemah. Menjual kursi legislatif akan membuat anggotanya kehilangan daya juang untuk memperjuangkan aspirasi rakyat

Selain itu, kalaupun dia berpikir tentang penyampaian aspirasi rakyat, si pembeli kursi itu akan terganggu konsentrasinya pada usaha mencapai break even point. Modal harus kembali, untung harus didapat, baru bicara aspirasi rakyat.

Kalau KPK bisa meyakinkan partai untuk mengubah cara berpikir seperti ini, baru bisa dikatakan road show ini membawa hasil. Kalau tidak, orang bisa menilai, KPK hanya seperti mencari perlindungan parpol dalam menghadapi serangan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here