Adakah Ramadhan’s Effect?

0
202

Nusantara.news, Jakarta – Tokoh tua Roeslan Abdulgani, di dasawarsa 1990-an, pernah melontarkan pandangan bahwa Indonesia adalah negara sekuler. Alasannya sederhana, karena Indonesia bukan negara agama. Karena bukan negara agama, ya artinya, negara sekuler. Ketika itu semua orang ribut, termasuk Presiden Soeharto. Semuanya menyanggah pendapat Roeslan.

Begitulah setiap ada pembicaraan apakah agama akan dipisahkan dari negara, sebagian besar orang kita ribut, bahwa itu merupakan pandangan yang sekuler. Begitu juga tatkala agama hendak disatukan dengan negara. Singkatnya, Indonesia bukan negara ini atau negara itu. Indonesia adalah negara Pancasila. Selesai. Tak ada lagi ruang perdebatan. Seperti apa itu negara Pancasila, juga tak tuntas didiskusikan.

Perasaan keagamaan orang kita sangat kuat. Tetapi, kebanyakan perasaan itu tidak mewarnai tingkah laku. Itu sebabnya, jika ada isu mesjid atau gereja dibakar, amarah langsung naik seketika, walaupun kehidupan kesehariannya jauh dari warna agama.

Islam di Indonesia ditandai pasang naik dan turun. Dalam seperempat abad Orde Baru Islam itu dimusuhi, karena diangap masih terobsesi dengan ideologi negara Islam. Ketika itu Soeharto  mempunyai dukungan politik sangat kuat dari kelompok-kelompok agama yang bukan Islam. Waktu itu yang ditampilkan adalah Islam dalam pengertian seremonial. Hari-hari besar Islam diperingati secara megah dan meriah.

Tetapi, di luar itu, jangan tanya. Seorang pejabat yang shalat di kantor saja bisa dianggap fundamentalis. Bahkan naik haji saja mereka harus sembunyi-sembunyi. Jilbab dianggap haram untuk dikenakan pelajar putri. Di zaman itu ratusan murid wanita diberhentikan dari sekolah negeri karena kukuh mengenakan jilbab.

Ketika ada masanya, dukungan tadi melemah, Soeharto lalu mencoba mencari gantungan lain, itulah Islam. Itu mulai terasa sejak Sidang Umum MPR 1993. Dia merestui dibentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sejak itu, simbol-simbol yang selama ini tertutupi tiba-tiba muncul. Pejabat beramai-ramai naik haji. Mesjid-mesjid di berbagai kantor pemerintah yang tadinya kusam dipugar semegah mungkin. Jilbab diperbolehkan. Bahkan, kini jilbab bukan lagi dipahami sebagai kewajiban menutup aurat, melainkan cenderung dipandang sebagai variasi mode busana belaka.

Pribadi-pribadi menjadi lebih saleh. Tidak hanya di kalangan penganut Islam, tapi juga di pemeluk agama lain. Gereja atau wihara menjadi lebih semarak.

Itu dari sisi kehidupan pribadi. Nah, dalam perilaku sosial, apakah dua masa yang berbeda dalam perlakuan negara terhadap Islam itu, mendatangkan perubahan yang substansial? Jawabnya tidak.

Penyebabnya kita masih menempatkan agama hanya bagian dari kehidupan ritual belaka.  Lihat saja, di zaman kehidupan agama begitu semarak seperti sekarang, korupsi tetap saja merajalela. Kezaliman tetap saja jadi bagian kehidupan. Bahkan kita sendiri lebih memilih dan gembira menjadi pelaku kezaliman itu.

Hari ini kita memulai puasa Ramadhan. Hari ini kita mencoba memulai mengendalikan keangkaramurkaan dalam diri kita. Usaha itu sebenarnya terus meningkat. Dan warnanya cukup kental dalam kehidupan pribadi. Majelis-majelis zikir dipenuhi ribuan orang. Pengajian dan tabligh dipadati jamaah. Tetapi, persoalan klasiknya tetap, apakah ada perubahan yang substansial dalam perilaku sosial kita. Adakah orang Indonesia menjadi lebih saleh secara sosial?

Dan, biasanya, puasa tahun ini tampaknya hanya akan mengulangi rutinitas belaka seperti yang terus berulang setiap tahun.

Puasa seperti tak pernah meninggalkan bekas dalam diri orang Indonesia. Buktinya jelas, dan kian hari kian transparan. Seusai Ramadhan berbagai penyimpangan kembali terjadi. Bahkan, korupsi dan kezaliman lain di bulan Ramadhan saja tak pernah berhenti. Sepanjang Ramadhan ini saja, KPK berkali-kali melakukan Operasi Tangkap Tangan terhadap orang yang diduga melakukan korupsi.

Mungkin ajakan klise, tetapi tak ada salahnya diulangi. Ramadhan tahun ini semestinya menjadi momentum bagi membangun Indonesia tanpa penyimpangan. Dan para pemimpin mesti jadi orang pertama yang memulainya. Sehabis Ramadhan nanti, kita bisa mengukur siap sebenarnya mereka, dan siapa sebenarnya kita.

Mengukur efek Ramadhan juga dilihat dari apakah kesalehan sosial semakin terasah atau malah menjadi tumpul.

Dalam Islam, ada dua golongan ibadah. Pertama ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya. Puasa adalah salah satu bentuk ibadah qashirah. Jenis ibadah kedua adalah ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain.

Keduanya sama-sama penting dan bernilai, sejauh dilakukan dengan ikhlas. Tapi menurut sebagian ulama, ibadah sosial itu lebih utama. Sebab ada kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhal min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual). Tetapi itu tentu dalam pengertian tidak meninggalkan ibadah  qashirah.

Menarik membaca kembali buku Nuansa Fikih Sosial, yang ditulis mantan Rais Aam Nahdlatul Ulama, Sahal Mahfudh (Almarhum). Salah satu yang dibahas Kiai Sahal dalam bukunya itu adalah  hukuk al-Adami (hak-hak manusia), untuk membedakannya dengan huquq Allah (hak-hak Allah). Hak-hak manusia itu, tulis Kiai Sahal, jika digunakan maka menimbulkan kewajiban-kewajiban atas manusia yang lain.

Apabila hak dan kewajiban bisa dipenuhi secara seimbang, akan timbul solidaritas sosial (altakaful al-ijtima’i), toleransi (al-tasamuh), mutualitas/kerjasama (al-ta’awun), tengah-tengah (al i’tidal), dan stabilitas (al-tsabat).

Menjelang akhir Ramadhan ini, ada baiknya kembali merenung sejenak. Adakah Ramadhan effect bagi perilaku sosial kita bernegara? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here