Adu Cerdik Mega, SBY, Prabowo, dan Gonjang-Ganjing Pilgub Jatim

0
162
"Isu tak, dugaan terjadi aib pornografi berhembus di Jatim, menimpa bakal calon Wakil Gubernur Jatim, Abdullah Azwar Anas"

Nusantara.news, Surabaya – Gonjang-ganjing isu tak sedap atau dugaan terjadi aib pornografi berhembus di Jatim, menimpa bakal calon Wakil Gubernur Jatim, Abdullah Azwar Anas, pasangan Saifullah Yusuf yang diusung PKB dan PDIP maju di Pilgub Jatim 2018.

Itu dipicu munculnya gambar seorang lelaki mirip Azwar Anas bersama seorang perempuan yang tampak paha mulusnya, berada di dalam sebuah mobil. Gambar lainnya, sosok lelaki itu dengan mengenakan kaos oblong putih di duga berada di dalam kamar, yang juga tampak sebotol minuman wine. Sontak, pemandangan itu viral dari ponsel ke ponsel menyebar melalui Whats App.

Foto lelaki mirip Azwar Anas bersama seorang perempuan di dalam sebuah mobil

Sejumlah spekulasi pun muncul, dikaitkan dengan akan majunya Azwar Anas sebagai bakal calon wakil gubernur Jatim. Tekait hal itu, Nusantara.news menghubungi sejumlah sumber, benarkah ini ada kaitannya dengan jelang Pilgub Jatim?.

Baca Juga: Pilgub Jatim Ajang Saling Sandra Raih Sukses Pilpres 2019

Direktur Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) Arifin Nur Cahyono mengulas panjang, termasuk merunut perjalanan Soekarwo yang kemudian mendukung Khofifah Indar Parawansa, itu disebutnya sebagai hal yang sangat mengejutkan. Sejak itu Soekarwo, sapaan Gubernur Jatim Soekarwo kerap terlihat akrab dengan Ketua Muslimat Nahdaltul Ulama (NU) yang juga menjabat Menteri Sosial tersebut.

“Padahal, mungkin kita masih ingat beliau (Soekarwo) punya janji untuk mendukung Gus Ipul di Pilgub Jatim 2018, mendatang. Belum lagi ditambah keputusan Partai Demokrat yang tegas mengusung pasangan Khofifah dan Emil Elistianto Dardak, untuk duet di Pilgub Jatim,” terang Arifin Nur, Jumat (5/1/2018).

Kita semua tahu, di Pilgub Jatim sebelumnya, Soekarwo bertarung sengit dengan Khofifah sampai harus “menyeret” Gus Ipul untuk meraup suara masyarakat NU guna meraih kemenangan menuju kursi gubernur dan wakil gubernur. Sekarang, justru berbalik arah Partai Demokrat dan Soekarwo memberikan dukungan kepada Khofifah.

Arifin Nur “Mengulas panjang dan merunut perjalanan Soekarwo yang kemudian mendukung Khofifah, itu disebutnya sebagai hal yang sangat mengejutkan”

“Apakah ini sentuhan tangan lembut SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)? Atau, karena memang Soekarwo sadar dan dengan sengaja melakukan itu (mengarahkan dukungan ke Khofifah) karena besarnya kekuatan Khofifah di Pilgub sebelumnya?,” urai Arifin Nur dengan nada melontarkan pertanyaan.

Lanjut lelaki itu, PDIP yang menghindari terpecahnya suara muslim di Jatim terlihat sangat berbesar hati memajukan Azwar Anas dengan mengorbankan sederet nama kader potensial PDIP, misalnya ada nama Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) serta Djarot Syaiful Hidayat, dan nama-nama lainnya.

PDIP se-Jawa, bahkan se-Indonesia Timur boleh dikatakan terguncang saat SBY dan Soekarwo mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Khofifah dan Emil. Apalagi, itu bersamaan saat PDIP tengah berjaga dari berbagai hantaman kekuatan dari Jakarta.

“Faktanya, sang Game Maker dengan berani memasang Kader Merah di Tanah NU, Jawa Timur,” tegasnya.

Analisanya, setelah suara NU (di Jatim) di pastikan terpecah, SBY dengan cermat mencoba mengambil suara ‘Sang Banteng Moncong Putih’.

Rentetannya, bisa jadi PDIP kebakaran jenggot, merasa terkhianati. Entah kecewa dengan kadernya sendiri atau karena ketidakberaniannya memajukan kader internal yang akhirnya ‘dibajak’ oleh sang Game Maker (SBY).

Partai Gerindra dan PKS Justru Paling Tenang, Mengapa?

Sementara, Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) justru bersikap tenang. Gembar-gembor dan gaung yang akan menyediakan Poros Alternatif atau Poros Baru digunakan sebagai rangsangan kepada masyarakat Jatim, sekaligus untuk melihat bagaimana penerimaan masyarakat terhadap calon baru yang lepas dari hiruk-pikuk gerakan politik dari partai-partai dominan di Jatim.

Mengacu itu, kemampuan Sang Jendral sekali lagi diuji dan dilihat oleh rakyat seluruh Indonesia. Ada yang menduga, melalui tangan dinginnya di Jakarta pihaknya berhasil memberi harapan dan mengeluarkan masyarakat dari panasnya politik ibukota.

“Kita nantikan saja semua strategi dari Prabowo Subianto. Ikut masuk ke dalam poros dominan atau menyiapkan langkah gemilang dan untuk sekali lagi menjadi juara,” urai Arifin Nur.

Pengamat: Jika Anas tetap maju, ini resiko besar bagi pasangan GI-Anas

Masih soal gonjang-ganjing jelang digelarnya pesta demokrasi Pilgub Jatim 27 Juni 2018, Pengamat Politik yang juga Direktur Eksekutif Surabaya Survei Center (SSC), Mochtar W Oetomo, menyebut jika Azwar Anas tetap maju (sebagai wagub di Pilgub Jatim) jelas akan memunculkan risiko besar bagi pasangan Gus Ipul-Anas. Apalagi Azwar Anas, selain sebagai kader NU, juga dikenal sebagai Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim, jika aib itu benar pernah dilakukan, itu sangat memalukan. Tidak hanya menimpa NU, tetapi juga nama baik kiai NU ikut tercoreng.

Mochtar “Isu perempuan, isu moral menjadi isu sensitif bagi masyarakat yang mayoritas masih menganggap sebagai hal tabu. Masyarakat NU kultural tentu sulit menerima dan memaafkan isu yang berkaitan dengan moral seperti ini. Apalagi foto-foto itu sudah beredar luas”

“Menurut saya, (soal isu mesum) tak mungkin ada asap kalau sebelumnya tak ada api. Persoalan kemudian asap itu mau diarahkan ke mana atau digunakan untuk memasak atau meracuni, itu menjadi bagian dari kontestasi yang memang harus selalu dicermati dan diwaspadai oleh setiap politisi dan kandidat. Karena sebagai figur publik sudah pasti ada banyak risiko dan harus siap menerima hantaman,” urai Mochtar, Jumat (5/1/2018).

Baca Juga: Khofifah Tetap Terbaik, Yenny Wahid Merusak Suasana

Masih urai Mochtar, terlepas juga siapa yang mengarahkan asap tersebut, apakah di internal atau dari eksternal atau pihak Jakarta? Itu merupakan bagian dari proses berkompetisi di dalam politik yang memang kompetitif.

“Maka, janganlah memantik api sekecil apa pun. Karena ini akan membawa risiko besar, dan suaranya tentu akan tergerus hebat. Karena isu perempuan, isu moral selalu menjadi isu sensitif bagi masyarakat kita yang mayoritas masih menganggap itu sebagai hal tabu. Dan, masyarakat NU kultural tentu sulit menerima dan memaafkan isu yang berkaitan dengan moral seperti ini. Apalagi foto-foto itu sudah beredar luas, ditambah dengan ketidaksenangan para kiai. Itu akan menjadi risiko besar terhadap pasangan ini,” urainya.

Sebaliknya, masih terang dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) itu, jika Azwar Anas mundur maka bisa saja terjadi perubahan peta politik yang radikal termasuk di Jatim.

“Karena bisa saja mundurnya Azwar Anas akan menjadi alasan bagi beberapa partai politik untuk meninjau ulang rekomendasi pasangan itu. Jika ini terjadi, peta koalisi bisa berubah radikal dan pasangan calon bisa saja berkembang menjadi 3 atau 4 pasangan,” terangnya.

Namun, jika tidak berpengaruh pada peta koalisi partai politik, maka seperti kebanyakan hasil survei, nama Tri Risma, Kusnadi dan Kanang yang paling potensial menggantikan posisi Azwar Anas.

“Tetapi, menurut saya Ibu Risma tidak akan begitu saja bersedia menjadi bacawagub. Maka, akan mengerucut ke Kanang dan Kusnadi. Tetapi bisa juga nama-nama yang semula tenggelam bisa muncul kembali, seperti Ipong, Ridwan atau juga Hasan Aminudin semua itu bergantung pada peta koalisi yang mungkin terjadi,” tegasnya.

Warga Gelar Aksi, Tolak Risma Dimajukan di Pilgub Jatim

“Kami atas nama Relawan Saya Surabaya dengan tegas menolak Ibu Risma di calonkan menjadi Wakil Gubenur di Pilgub Jatim 2018,” teriak koordinator aksi, Imam Budi Utomo”

Sementara, disebut-sebut nama Tri Rismaharini digadang untuk maju menjadi bakal calon Wakil Gubernur Jatim menggantikan Azwar Anas, sejumlah orang mengatasnamakan ‘Relawan Saya Surabaya’ bersama beberapa elemen menggelar aksi unjuk rasa, menolak Risma maju di bursa Pilgub Jatim mendampingi Gus Ipul, aksi dilakukan di halaman Balai Kota Surabaya, Jumat (5/1/2018).

Dengan membentangkan spanduk, mereka menolak Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ikut dicalonkan menjadi wakil gubenur, di Pilgub Jatim 2018.
Sambil berorasi, sejumlah spanduk yang digelar di antaranya bertuliskan ‘Risma Tetap Wali Kota Surabaya’ dan ‘Tolak Risma jadi Cawagub Jawa Timur’ serta tulisan lainnya bernada penolakan.

“Kami atas nama Relawan Saya Surabaya dengan tegas menolak Ibu Risma di calonkan menjadi Wakil Gubenur di Pilgub Jatim 2018,” teriak koordinator aksi, Imam Budi Utomo.

Imam mengatakan, setelah mencermati perkembangan arus politik baru-baru ini, dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang banyak disebut-sebut akan dicalonkan menjadi bakal calon Wakil Gubernur mendampingi Gus Ipul mereka mengaku sangat kaget, dan mengaku tidak setuju.

“Dengan adanya wacana atau kabar perkembangan arus politik seperti itu, kami tidak setuju dan ditolak tegas, Ibu Risma dicalonkan menjadi cawagub apalagi menjadi cagub Jatim 2018,” terangnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here