Adu Domba TNI-Polri

0
169

PANGLIMA TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengingatkan agar TNI dan Polri mewaspadai bentuk-bentuk upaya memecah belah soliditas TNI dan Polri. Itu dikatakannya ketika memimpin upacara wisuda 717 Taruna-Taruni Akademi TNI dan Akademi Kepolisian di Akademi Militer Magelang, 2 November 2017 kemarin.

Kita sangat sependapat. Soliditas kedua lembaga ini penting. Sebab, sesuai fungsinya masing-masing, mereka bertanggungjawab terhadap pertahanan dan keamanan negara. Kalau keduanya solid, maka seperti dikatakan Panglima TNI, mereka akan mampu melaksanakan tugas demi menjaga keutuhan dan kedaulatan Indonesia. Dengan kekompakan serta sinergitas TNI dan Pori, berbagai persoalan yang bisa mengganggu NKRI akan dapat teratasi dengan baik.

Sebab, pertahanan dan keamanan adalah sendi sekaligus perisai bagi tegaknya negara. Jika TNI dan Polri tak mampu melaksanakan tugas, keroposlah sendi negara ini. Dan lebih berbahaya lagi, jika di antara keduanya terjadi persaingan, friksi atau bahkan konflik. Bisa dibayangkan, bagaimana keadaan negara jika dua organisasi yang sama-sama bersenjata, sama-sama terlatih, terlibat pertengkaran.

Di masa depan, usaha memecah soliditas kedua tiang negara ini, pasti akan semakin kuat. Negara sekaya Indonesia tidak pernah lepas dari incaran infiltasi asing, baik dalam arti fisik, maupun dalam bentuk asimetris. Untuk membuka pintu masuk bagi infiltrasi itu adalah rusak dulu perisai yang melindungi negara ini. Cara termudah membuat perisai itu terbuka adalah dengan merusak soliditas mereka, dan kalau perlu membuat keduanya berseteru.

Sangat tepat Gatot menyampaikan hal itu di depan taruna dan taruni Akademi TNI dan Akademi Kepolisian. Sebab merekalah yang akan memimpin organisasi tentara dan polisi di dua-tiga dekade mendatang.

Sebab, calon-calon pemimpin TNI dan Polri itu mempunyai pengalaman pendidikan yang berbeda dengan orang-orang yang sekarang menjadi pemimpin di kedua lembaga itu. Generasi Gatot Nurmantyo atau Kapolri Tito Karnavian maupun pejabat teras di kedua institusi itu saat ini adalah produk model pendidikan militer dan kepolisian Orde Baru.

Di masa mereka, kedua akademi ini disatukan di bawah Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Di tahun pertama pendidikan, mereka disatukan di bawah Akabri Umum di Magelang. Baru di tahun berikutnya dipisahkan berdasarkan penjurusan Darat, Laut, Udara dan Kepolisian.

Artinya mereka secara pribadi saling mengenal satu sama lain. Hal ini membuat komunikasi sudah terbangun dari awal. Apalagi di masa Orde Baru, TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri berada di bawah Panglima Angkatan Bersenjata (Pangab). Di masa reformasi pun, setelah terjadi pemisahan TNI dan Polri, komunikasi masih mudah dilakukan. Jika misalnya ada bentrok fisik antara kesatuan TNI dengan kesatuan Polri, lebih mudah melerainya karena komandan kesatuan mereka saling mengenal ketika sama-sama di Akabri

Generasi muda TNI dan Polri yang kemarin diceramahi Panglima TNI kemarin itu tidak merasakan sejarah pendidikan seperti itu. Sebab, sebagai konsekuensi pemisahan TNI dan Polri, sejak 10 April 1999, Akpol dipisahkan dari Akmil, AAL dan AAU. Mulai tahun 2000-2001, Akpol merekrut sendiri calon tarunanya. Sejak itu, taruna Akademi TNI dan Akpol tidak pernah menjalani pendidikan bersama-sama seperti para seniornya dulu. Akibatnya, mereka tidak saling mengenal. Hal ini tentu saja bisa menurunkan kedekatan komunikasi di kemudian hari.

Kedekatan komunikasi ini yang harus dibangun sejak awal, karena itu akan menentukan harmonisasi kedua lembaga ini kelak. Setidaknya untuk mencegah sering terjadinya kesalahpahaman yang berujung bentrok fisik antara tentara dan polisi di tingkat bintara.

Hal-hal kecil seperti ini, jika tidak dirangkai kembali dengan komunikasi yang baik, bisa menjadi pemicu retaknya soliditas TNI dan kepolisian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here