Adu Kekuatan di Semenanjung Korea

0
482

Nusantara.news Pergeseran kapal perang Amerika Serikat menuju Semenanjung Korea merupakan sebuah pertunjukan keunggulan militer AS dibanding negara-negara lain. Betapa tidak, kelompok penyerang itu menyertakan salah satunya USS Carl Vinson, kapal induk bertenaga nuklir dengan bobot 97 ribu ton, yang merupakan satu dari 10 kapal induk AS yang masih aktif saat ini.

USS Carl Vinson dapat membawa lebih dari 60 pesawat di atasnya dan sekitar 5.000-an personel tentara. Mengiringi Vinson, dua kapal perusak dengan peluru kendali, USS Wayne E. Meyer dan USS Michael Murphy, serta kapal penjelajah dengan peluru kendali, USS Lake Champlain. Grup ini telah berpartisipasi sebelumnya dalam berbagai latihan militer, diantaranya dengan militer Jepang dan angkatan laut Korea Selatan belum lama ini.

Amerika Serikat memang tidak diragukan lagi keunggulan dan kekuatan militernya, nomor satu di dunia. Tapi bagaimana jika militer negara adidaya itu dihadapkan dalam perang di Semenanjung Korea?

Cukup mampukah militer AS berhadapan dengan Korea Utara, sebuah negara kecil dan miskin, namun kemungkinan dibantu Cina dan Rusia?

Presiden AS Donald Trump sendiri, baru menyadari bahwa Korea Utara ternyata menyimpan kekuatan luar biasa, setelah mendengarkan informasi dari Presiden Cina Xi Jinping dalam telepon selama 10 menit pada Rabu (12/4) kemarin. Trump, juga akhirnya sadar bahwa menangani masalah di Korea Utara bukan hal yang sederhana. Dan itulah yang dihadapi Cina sekarang, kata Xi Jinping kepada Trump.

Konflik di Semenanjung Korea, jika terjadi kemungkinan bakal melibatkan sejumlah negara. Dari pihak AS ada Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Sementara, di pihak Korea Utara, kemungkinan melibatkan Cina dan Rusia.

Lalu, seperti apa perbandingan kekuatan militer negara-negara tersebut? Berikut gambarannya, menurut data dari Global Firepower:

“Mayoritas pakar berpendapat bahwa apa pun yang terjadi di Semenanjung Korea, jika salah satunya menyentuh tombol (untuk perang), pertempuran akan sangat intens, tapi mungkin berlangsung singkat dan akan menyebabkan kehancuran besar-besaran,” kata Profesor John Blaxland, Kepala Strategic and Defence Studies Centre di Australian National University meramalkan, sebagaimana dikutip news.com.au (11/4).

Menurutnya, AS memang memiliki persenjataan yang unggul, namun negara-negara lain seperti Korea Utara, Cina dan Rusia memiliki persediaan senjata yang cukup besar dan militer yang terlatih untuk mengatasi Amerika.

Menurut Global Firepower, saat ini AS masih berada di peringkat nomor satu dalam hal kemampuan perang baik di darat, laut maupun udara.

“AS memiliki militer yang paling kuat di dunia, tanpa diragukan lagi,” kata Prof. Blaxland.

Anggaran pertahanan tahunan AS mencapai USD 581 miliar, jauh di atas anggaran militer Cina yang tidak separuhnya, hanya berjumlah sekitar USD 155 miliar, Rusia USD 45 miliar dan Korea Utara yang hanya USD 7,5 miliar.

Meski demikian, jika dilihat dari jumlah personel tentaranya, AS memang bukanlah yang terbanyak. AS memiliki personel militer aktif 1,4 juta dan tentara cadangan 1,1 juta.

Di perbatasan Korea Utara, AS hanya memiliki sekitar 20 ribu tentara secara permanen yang ditempatkan di Korea Selatan, serta sekitar 8 ribu personel Angkatan Udara dan pasukan khusus lainnya. Ada juga sekitar 50 ribu personil militer yang berbasis di Jepang.

Bandingkan dengan Korea Utara yang memiliki 700 ribu tentara aktif dan memiliki 4,5 juta tentara cadangan.

Korea Utara juga memiliki sekitar 20 ribu roket dan rudal di perbatasan dengan Korea Selatan, yang secara jumlah itu cukup besar.

Korea Utara juga telah menempatkan pasukan artileri dengan senjata roket dekat dengan zona demiliterisasi (DMZ) di dekat wilayah Seoul Korea Selatan. Menurut Blaxland, hal ini cukup menakutkan, sebab pasukan AS yang ditempatkan di Korea Selatan bisa saja menembak jatuh rudal-rudal yang dikirim Korea Utara, tapi masih ada kemungkinan mereka terlewat menghalau beberapa rudal.

“Tidak peduli seberapa baik teknologi Anda, jika rudal-rudal itu sudah menyentuh tanah, pasti akan ada korban massal,” kata Baxland.

Belum lagi jika Cina dan Rusia bergabung dengan Korea Utara melawan AS. Ini mungkin akan menjadi masalah bagi AS. Cina dan Rusia diketahui juga memiliki senjata nuklir, bahkan senjata nuklir Rusia lebih banyak ketimbang AS, tapi sejauh ini mereka tidak termotivasi untuk menggunakannya, karena senjata nuklir memiliki daya rusak luar biasa, bahkan mungkin dampaknya bisa mengenai negara pemilik.

Rusia memiliki kemampuan menyerang yang unggul meliputi kapal perang, kapal selam dan angkatan bersenjatanya. Baru-baru ini, Rusia telah menunjukkan di Ukraina bahwa mereka memiliki kemampuan membombardir 1 km persegi wilayah daratan dan memusnahkannya.

“Itu adalah ancaman yang menakutkan,” kata Blaxland.

Cina juga telah menguasai banyak teknologi cyber, serta berhasil menduplikasi teknologi Barat. Bagi Cina kemampuan tersebut adalah amunisi penting yang bisa menenggelamkan sebuah kapal induk atau mengunci sistem satelit milik AS melalui serangan cyber.

Masalah lain bagi AS, adalah bahwa pasukan AS tersebar di seluruh dunia, dengan pasukan di Irak, Afghanistan, Suriah, serta Eropa, Latvia, Australia, Korea, Jepang, Guam dan Hawaii.

“AS sangat kuat secara militer, tetapi jika masuk dalam satu pertarungan besar dalam satu waktu, mungkin dia kewalahan,” kata Blaxland. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here