Adu Kuat AS-Cina di ASEAN

0
185
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson (tengah) bergandengan tangan dengan menteri luar negeri negara anggota ASEAN saat mengikuti rapat kementrian ASEAN-AS pada Forum Regional Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) (ARF) ke 50 di Manila, Filipina, Minggu (6/8). ANTARA FOTO/REUTERS/Erik De Castro/djo/17

Nusantara.news – Negara-negara ASEAN akhirnya mengumumkan Komunike Bersama melawan ekspansi Cina di Laut Cina Selatan. Komunike yang dikeluarkan pada Minggu (6/8) di Manila Filipina itu mendesak agar Cina menghentikan upaya militerisasi dan pembangunan pulau-pulau buatan di kepulauan Laut Cina Selatan yang masih menjadi objek sengketa dengan sejumlah negara. Namun pernyataan itu terkesan setengah hati karena dalam perdebatan, sejumlah negara tampak enggan menyinggung Cina.

Para menteri luar negeri ASEAN mengadakan pertemuan pada Forum Regional ASEAN ke-50 di Manila yang diselenggarakan pada 2-8 Agustus 2017.

Pembahasan komunike bersama untuk menekan ekspansi Cina di Laut Cina Selatan berjalan alot, sehingga pengumuman komunike tersebut molor sehari, yang sebelumnya direncanakan Sabtu (5/8). Sejumlah diplomat menyebutkan, sebagaimana dilansir Reuters, molornya pembahasan disebabkan adanya ketidaksepakatan sikap terhadap meningkatnya kemampuan pertahanan Cina di pulau-pulau yang disengketakan.

Rupanya, sejumlah negara ASEAN yang “pro Cina”, masih mempertimbangkan sensitivitas pemerintah Cina jika masalah sengketa di Laut Cina Selatan diungkit-ungkit. Beberapa negara-tanpa menyebut negara mana saja-khawatir dampaknya jika menentang Beijing dengan menunjukkan sikap keras terkait Laut Cina Selatan. Vietnam merupakan salah satu negara yang bersuara keras menentang ekspansi Cina di Laut Cina Selatan.

Cina secara faktual telah mereklamasi sekitar tujuh terumbu karang di perairan Laut Cina Selatan, tiga diantaranya telah dibangun landasan pacu, sistem pertahanan rudal, radar, serta landasan pesawat yang, menurut sejumlah ahli, mampu mengakomodasi jet tempur.

Setelah melalui serangkaian diskusi panjang dan alot ASEAN akhirnya mengeluarkan sikap “menentang” Cina dengan menyebut bahwa “reklamasi sejumlah kepulauan di Laut Cina Selatan yang disengkatakan telah mengikis kepercayaan ASEAN terhadap Cina, meningkatkan ketegangan serta dapat merusak perdamaian, keamanan dan stabilitas.”

Vietnam-lah yang paling getol melobi ASEAN agar mengeluarkan pernyataan “keprihatinan serius” atas apa yang dilakukan Cina di sejumlah pulau buatan Laut Cina Selatan. Vietnam sendiri memiliki sengketa dengan Cina atas klaim di kepulauan Paracel dan Spratly di Laut Cina Selatan serta memiliki sejumlah sengketa terkait konsesi energi dengan Cina.

“Perdebatannya sangat alot, Vietnam memiliki sikap yang lebih keras di Laut Cina Selatan. Sementara Kamboja dan Filipina tidak tertarik mengeluarkan pernyataan keras (ke Cina),” kata seorang diplomat asal Vietnam seperti dikutip surat kabar Filipina, Inquirer.

Sebelumnya, Filipina dan Vietnam pernah memprotes keras Cina secara terbuka terkait reklamasi di pulau-pulau sengketa di Laut Cina Selatan. Filipina bahkan pernah mengganti nama Laut Cina Selatan di wilayahnya sebagai Laut Filipina Barat. Namun, di era presiden Rodrigo Duterte, Filipina melakukan pendekatan diplomatik yang lebih lunak terhadap Cina untuk memperkuat hubungan kerja sama dengan Beijing.

Pengaruh Amerika Serikat Melemah

Sejumlah diplomat melihat adanya keragu-raguan soal pernyataan sikap terhadap Cina, hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh Beijing di ASEAN seiring ketidakpastian prioritas Amerika Serikat terhadap keamanan di wilayah tersebut. Bahkan, perdebatan pada draf awal, menunjukkan sikap ASEAN sesungguhnya yang lunak terhadap Cina.

Di sisi lain, para menteri luar negeri ASEAN tersebut bersama Cina telah mengadopsi kerangka negosiasi untuk menetapkan kode etik di Laut Cina Selatan pada Minggu (6/8). Sebuah langkah yang dikesankan sebagai kemajuan untuk mengendalikan ekspansi Cina di Laut Cina Selatan. Tapi menurut pengamat, justru ini merupakan strategi Cina untuk menunda-nunda (buying time) dalam rangka mengkonsolidasikan kekuatan maritimnya.

Baca: Cina Ingin Ambil Untung dari Kode Etik Laut Cina Selatan

Hal ini rupanya juga sudah dicermati Amerika Serikat. Beberapa hari sebelumnya menteri luar negeri AS Rex Tillerson telah mewanti-wanti negara-negara ASEAN agar mendesak Cina terkait upaya ekspansinya di Laut Cina Selatan. Tillerson menggunakan isu nuklir Korea Utara yang dianggapnya juga mengancam ASEAN sebagai alasan menekan Cina.

Susan Thornton, asisten menteri luar negeri untuk Asia Timur mengatakan, Tillerson terus menekan Cina dalam masalah Laut Cina Selatan. AS mendesak ASEAN agar segera menerapkan kode etik di sejumlah kawasan di Laut Cina Selatan yang selama ini disengketakan.

Bahkan Tillerson harus menggunakan isu hak asasi manusia, agar Filipina yang cenderung tidak bersemangat, ikut mendesak Cina. Menurut Thornton, Menlu AS itu juga mengatakan, Amerika Serikat pasti akan meningkatkan hubungan dengan pemerintah presiden Filipina, Duterte, yang pernah terganggu karena isu hak asasi manusia di era Obama.

Kecaman AS atas perang berdarah Duterte terhadap obat-obatan terlarang di era  Barack Obama dianggap telah merusak hubungan antara dua sekutu lama di kawasan ASEAN itu. Duterte tetap bersikap menantang, menuduh para kritikusnya “menyepelekan” kampanye narkoba karena masalah hak asasi manusia. Dalam upaya mendorong agar ASEAN menghalangi ekspansi Cina tersebut, Tillerson juga akan mengunjungi Thailand dan Malaysia pada pekan depan.

Tapi masalahnya, apakah Amerika Serikat masih diandalkan sebagai “polisi dunia”, termasuk di kawasan ASEAN, di tengah sikap Presiden Donald Trump yang “proteksionis” dan banyak menarik diri dari keterlibatannya di panggung global.

Di sisi lain, Cina malah mulai mantap dengan pilihan ekspansionis dan “memberi harapan” kepada sejumlah negara dengan cara investasi besar-besaran serta ambisi membangun jalur sutra baru lewat One Belt One Road (OBOR). Secara militer, Cina juga mulai unjuk gigi dengan perlahan tapi pasti membangun sejumlah pangkalan militer di luar negaranya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here