Adu Kuat Juru Taktik Jokowi-Prabowo di Pilpres 2019

0
82

Nusantara.news, Jakarta – Pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Setelah pendaftaran, kedua kubu langsung fokus meracik tim sukses.

Di kubu petahana, meski sudah menyerahkan susunan tim pemenangan atau tim sukses ke KPU, tetapi masih mengosongkan posisi ketua tim karena belum menemukan sosok yang dinilai paling tepat. Sementara di kubu oposisi, formasi tim sukses masih dalam pembahasan.

Alotnya penentuan ketua tim sukses (timses) memang tengah dialami dua kubu yang bersaing di Pilpres 2019. Partai-partai yang tergabung dalam koalisi Jokowi, misalnya, disebut-sebut sudah mengajukan nama kandidat untuk menjadi ketua timses. Sejumlah nama kandidat yang digadang-gadang diantaranya Kepala Staf Presiden yang juga mantan Panglima TNI Moeldoko, Ketum PKB Muahimin Iskandar, jurnalis Najwa Sihab, dan pengusaha Erick Thohir. Adapun Wapres Jusuf Kalla, Mahfud MD, dan Mantan Ketum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin sebelumnya menolak jadi ketua timses Jokowi-Ma’ruf.

Di kubu Prabowo, Jenderal (Purn) Djoko Santoso sudah disepakati sebagai pemimpin juru taktiknya. Mantan Panglima TNI itu saat ini merupakan anggota Dewan Pembina Partai Gerindra. Ini berarti Gerindra kembali memperlihatkan dominasinya setelah capres dan cawapres diambil kadernya sendiri. Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengungkapkan, partai koalisi Prabowo-Sandiaga telah menyepakati Djoko Santoso sebagai ketua tim sukses. “Sudah disetujui,” kata Muzani di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Kamis (30/8/2018) malam.

Sementara kubu Jokowi belum menetapkan komandan ‘tempurnya’ itu.

Lantas seperti apa kriteria ketua tim pemenangan yang ideal bagi kubu kedua kandidat?

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa penentuan ketua timses pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin diharapkan betul-betul bisa mengonsolidasi seluruh kekuatan. “Tentu saja diperlukan leadership, kemampuan mengimplementasikan seluruh gagasan-gagasan besar dari pasangan calon dalam rangka pemenangan. Ketua tim juga kemungkinan diisi tokoh nasional yang punya pengaruh,” kata Hasto.

Sementara Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon menjelaskan sosok ketua tim pemenangan Prabowo-Sandiaga diharapkan bisa bekerja secara full time. “Sosok yang 100 persen fokus memenangkan duet Prabowo-Sandiaga. Kemudian mampu bergerak dengan mobilitas tinggi, mudah interaksi, dan mudah diterima siapa saja,” beber Fadli.

Dua Mantan Panglima TNI kandidat Ketua Tim Sukses Prabowo dan Jokowi. Djoko Santoso (kiri) dan Moeldoko (kanan)

Pengalaman Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2017 barangkali menjadi guru terbaik untuk timses di Pilpres 2019. Persaingan ketat untuk merebut tahta yang diincar membuat timses masing-masing belajar memperkuat pertahanan dan menyerang kelemahan lawan. Sebab itu, memasang orang nomor satu di “pasukan tempur” mereka bukan pekerjaan mudah: selain butuh sosok yang bisa menjadi vote getter sekaligus mendegradasi lawan, juga orang lapangan yang jago strategi.

Namun sayangnya, kecenderungan dua kubu dalam menentukan ketua timses lebih banyak dipengaruhi apakah sosok tersebut punya pengaruh elektoral atau tidak, melengkapi capres-cawapres atau tidak, serta kalkulasi simbolistik lainnya. Akhirnya, memilih calon ketua timses serupa alotnya dengan memilih cawapres kemarin: menjadi rebutan partai koalisi dan ujungnya membuka ruang transaksional baru.

Padahal, untuk pekerjaan timses yang kebanyakan bekerja di balik layar, diperlukan sosok yang memiliki kejeniusan meracik strategi, punya kemampuan melobi, dan ahli memoles kandidat. Sebuah misi pemenangan juga akan berjalan dengan baik jika didukung oleh seorang ahli yang lebih dikenal dalam dunia kampanye politik sebagai konsultan politik. Konsultan ini bertugas membangun  citra politik bagi kliennya (biasanya seorang politisi tertentu). Sedangkan tugas yang lainnya adalah memberikan kesan negatif pada saingan politik kliennya.

Melongok Juru Taktik di Amerika Serikat

Jika kita menilik Pilpres di Amerika Serikat (AS), orang yang ditunjuk sebagai ‘komandan’ timses umumnya adalah sosok yang ahli di bidang marketing politik atau konsultan public relations politik. Kemenangan Donald Trump dalam Pilpres 2016 lalu, misalnya, tidak lepas dari sosok Paul Manafort, yang menjadi ketua tim sukses kampanyenya.

Lewat slogan “Make America Great Again“ yang memberi pesan nasionalistik serta narasi-narasi kampanye yang populis,  Donald Trump yang berperangai buruk dan kualifikasi individunya di bawah pesaingnya, Hillary Clinton, namun di luar dugaan mampu memenangkan kontestasi. Tentu saja, ada peran Paul di sana.

Debut Paul Manafort dimulai ketika menjadi penasihat kampanye presiden Republik Gerald Ford pada 1976. Sejak 1970-an, Paul telah membangun koneksi yang dalam di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, bekerja sebagai pelobi politik, penasihat, dan konsultan politik internasional bagi para pemimpin di seluruh dunia, termasuk diktator Mobutu Sese Seko dari Republik Demokratik Kongo dan Ferdinand Marcos dari Filipina. Pada 2004, ia juga menjadi penasihat utama untuk Presiden Ukraina Viktor Yanukovych, seorang kuat pro-Rusia dan Manafort membantunya memenangkan kursi kepresidenan pada tahun 2010.

Kini, Donald Trump pun telah berencana untuk maju kembali di Pilpres 2020 dan mengamankan periode keduanya sebagai Presiden AS dengan menunjuk Brad Parscale, ahli strategi digital di kampanye 2016, sebagai manajer kampanye pemilihan umum 2020 mendatang.

Juru Taktik pada Pilpres Amerika Serikat. Ki-ka: Paul Manafort, David Axelrod, dan Stanley Bernard Greenberg

Tak hanya Donald Trump, kesuksesan kampanye Barack Obama yang impresif dan kreatif melalui slogan “Yes, We Can” di awal kemunculannya sebagai capres pada Pilpres AS 2008, tak dipungkiri ada tangan dingin Kepala Pengatur Strategi yaitu David Axelrod atau biasa disapa Ax. Dia yang bertanggung jawab untuk membentuk dan membantu Obama mengemas pesannya.

Reputasi mantan wartawan politik ini dalam bisnis konsultasi memang dikenal sangat lihai dan disiplin. Sejak 2002 firma miliknya AKPD&D Message and Media telah bekerja dalam 42 pemilihan pendahuluan, dan pemilu di seantero AS, 33 diantaranya memenangkan pemilihan. Ax sendiri sebelumnya sudah membantu Obama tahun 2004 sebagai direktur periklanan kampanye untuk menuju kursi Senat.

Ada lagi Stanley Bernard Greenberg, kini berusia 68 tahun (lahir 10 Mei 1945), adalah ahli polling dan strategi politik. Dia pernah menjadi konsultan Presiden Amerika Bill Clinton, Al Gore, John Kerry, dan ratusan tokoh di Amerika dan dunia. Di luar AS, tokoh besar klien Stan Greenberg, antara lain mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder, mantan Perdana Menteri Ingggris Tony Blair, dan Michael Häupl (Austria).

Contoh lainnya, Marvey LeRoy “Lee” Atwater. Dia adalah tokoh kontroversial dalam sejarah politik Amerika Serikat. Atwater dikenal sebagai konsultan politik ulung, tukang pelintir yang sangat jago, dan lihai bikin intrik. Bagi Lee Atwater, tak ada yang tak halal dalam politik.

Lee juga ahli dalam memanipulasi media. Dia akan memberikan informasi off the record tentang lawan politiknya kepada media dan karena dia memiliki kualitas kepribadian yang demikian meyakinkan maka si wartawan merasa tidak perlu melakukan cross-checking. Dia juga membikin survey-survey palsu yang menunjukkan keunggulan calonnya.

Dua Presiden Amerika dari kubu Republikan, Ronald Reagan dan George H.W. Bush, “berutang” banyak kepada Lee Atwater. Walaupun pernah menjabat Wakil Presiden Amerika selama dua periode, dalam pemilihan presiden pada 1988, Bush berada dalam posisi underdog. Opini publik bahkan menunjukkan dukungan lebih besar kepada lawannya, Gubernur Negara Bagian Massachusetts Michael Dukakis.

Atwater, yang ditunjuk sebagai manajer kampanye Bush, merancang taktik kampanye yang bisa dibilang kotor. Pria kelahiran 1951 itu memproduksi iklan televisi menggambarkan posisi Bush dan Dukakis menyikapi kejahatan. Ini pesan iklan itu sangat gamblang: itulah dosa Dukakis, dan iniah jasa Bush sebagai orang baik.

Kembali ke konteks Indonesia, menarik untuk menunggu sosok juru taktik Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019. Tentu saja ada kuat strategi yang impresif dan bertabur gagasan-gagasan positif yang kita tunggu. Bukan perang fitnah, adu kelicikan lewat hoax dan pelintiran, ataupun mengabaikan nilai-nilai politik ketimuran.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here