Pilpres 2019 dan Politik Kaum Milenial (1)

Adu Siasat Jokowi-Prabowo Gaet Pemilih Milenial

0
122

Nusantara.news, Jakarta – Jelang Pilpres 2019, generasi milenial menjadi sasaran pencitraan dan rebutan kedua kontestan. Pasalnya, generasi milenial yang saat ini berusia 17 – 30an tahun merupakan jumlah mayoritas sebagai pemilih. Riset Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menyebut bahwa berdasarkan pendataan data pemilih, pemilih berusia 17 – 38 tahun mencapai 55 persen dari jumlah total pemilih pada Pemilu 2019.

Senada dengan SMRC, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memprediksi populasi pemilih dari kalangan milenial pada 2019 mencapai lebih dari 50 persen. Karena itu peneliti Senior LIPI, Syamsuddin Haris mengingatkan, partai politik harus memperhitungkan betul-betul keberadaan generasi millenial di pemilu mendatang. Ia memprediksi salah satu kunci kemenangan partai politik dalam meningkatkan elektabilitas adalah bagaimana menarik simpati pemilih pemula (milenial).

Sadar dengan hal itu, kedua pasang kandidat seolah mengklaim paling milenial. “Ma’ruf Amin itu milenial juga, dan milenial itu bukan masalah umur [tapi] masalah perbuatan, sikap. Jadi itu bagian dari kombinasi antara nasionalis-religius,” kata Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Oesman Sapta Odang beberapa waktu lalu.

Dengan klaim soal milenial pula, Presiden PKS Sohibul Iman berkomentar soal Sandiaga Uno. Menurutnya, Sandiaga sebagai cawapres, yang “walaupun berpenampilan stylish, milenial” tapi dapat disebut “berpegang teguh ajaran Islam.” Ia pun menambahkan, “insyaallah, Sandiaga adalah santri di abad milenial.”

Kedua kelompok kontestan itu seperti bersepakat, yang penting ada citra milenialnya, meski sejauh ini upaya tersebut baru sebatas cangkang ataupun gimmick.

Saking pentingnya milenial dalam PIlpres 2019 mendatang, Lingkar Survei Indonesia (LSI) merilis tingkat keterpilihan milenial terhadap capres-cawapres. Prabowo-Sandiaga di responden berkategori milenial (berusia antara 17-39 tahun) hanya sebesar 29,5 persen. Sementara itu, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin mendapatkan dukungan sebesar 52,7 persen. Survei dilakukan LSI pada 12-19 Agustus dengan melibatkan 1.200 responden.

Sebaliknya, dalam survei nasional Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis September 2017 menunjukkan temuan menarik. Jokowi unggul pada semua segmen usia, tapi ternyata lemah pada segmen pemilih generasi milenial, yakni pemilih rentang usia 20–29 tahun. Dukungan generasi milenial kepada Jokowi hanya 31,7 persen, sedangkan terhadap Prabowo Subianto 35,3 persen.

Lemahnya dukungan generasi milenial kepada Jokowi cukup mengejutkan. Sebab, selama ini Jokowi terlihat begitu agresif menggaet kelompok milenial lewat berbagai gimmick politik. Meski dalam kadar tertentu, aksi meniru-niru gaya berpakaian, berpenampilan, ataupun bermedia sosial ala anak milenial tersebut seringkali telampau dipaksakan dan menggelikan.

Menyadari hal itu, aksi-aksi gimmick politik Jokowi yang menyasar anak milenial belakangan ini pun kian digenjot, bahkan hampir tiap pekan ada saja kehebohan Jokowi yang diperbincangkan netizen dan media mainstream. Mulai dari barang-barang yang dikenakan Jokowi seperti kaus, jaket bomber, sneaker, celana jeans, hingga berbagai aktivitas “millenialable” sang presiden.

Menempatkan Millenial Influencer

Jika ditarik mundur ke belakang, salah satu faktor keberhasilan Jokowi memenangkan Pilpres 2014, tak lain adalah figurnya yang dicitrakan sebagai pemimpin muda yang dekat dengan rakyat. Bahkan ia dinobatkan sebagai presiden metalhead (penggemar musik metal) pertama di dunia oleh vokalis Lamb of God, Randy Blyithe. Jokowi juga gemar menonton konser musik dan hadir di “tongkrongan” anak muda.

Namun, setelah terpilihnya tokoh sepuh Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi awal Agustus lalu, membuat generasi muda pendukungnya kecewa dan tak beselera. Bagi mereka, Ma’ruf Amin yang sudah berumur senja dipandang bukan representatif. Meski begitu, kondisi ini sepertinya sangat disadari oleh Jokowi sendiri, sehingga ia pun berusaha kembali membentuk citra pemimpin mudanya dalam rangka menggaet suara kaum milenial.

Salah satu upaya yang berhasil adalah saat Presiden Jokowi menaiki motor gede (moge) dengan akrobat “khas anak muda” di opening ceremony Asian Games lalu. Kemudian dekat dengan bos Alibaba Jack Ma, dan tentu saja pertemuannya dengan kelompok boyband kebanggaan anak muda dari Korea Selatan, Super Junior.

Bahkan pertemuan kedua Jokowi dengan Super Junior dalam lawatannya ke Korea Selatan Minggu (9/9) lalu, ramai diperbincangkan netizen lantaran mereka kompak bergoyang ‘dayung’ ala Jokowi. Sementara kunjungannya ke Vietnam (12/9), Jokowi menyempatkan diri menghadiri peresmian ekspansi transportasi daring Go-Viet, milik CEO Go-Jek, Nadiem Makarim.

Tak hanya itu, sebelumnya Jokowi juga ikut merangkul pengusaha muda dan mengundang 26 generasi kedua kelompok konglomerat ke istana. Dalam suatu kesempatan, Jokowi juga tampil ditemani pengusaha muda berpengaruh seperti John Riady (Lippo Group), Muhamad Chatib Basri (Ketua Mandiri Institute), Nadiem Makarim, dan Grace Natalie. Dari semua itu, ada pesan tersirat: Jokowi sedang menempatkan diri sebagai pemimpin yang memfasilitasi kesempatan bisnis bagi generasi muda.

Pun begitu, tampaknya akan sulit bagi Jokowi untuk selalu brusaha menjadi pemimpin ala milenial setiap waktu. Selain lama-kelamaan bisa membosankan, juga ada banyak pekerjaan lain yang butuh perhatian serius dari Jokowi selaku kepala negara dan pemimpin pemerintahan. Atas alasan itu, akhirnya Jokowi pun mengajak para tokoh muda yang tak hanya dikenal ole para milenial, tetapi juga punya pengaruh besar.

Mereka yang kemudian berhasil ditarik di antaranya pengusaha media Erick Thohir sebagai ketua tim pemenangan, Grace Natalie yang memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai partai anak muda melek politik, juga Jusuf Hamka yang dikenal sebagai pemilik Warung Nasi Kuning khusus untuk kaum duafa dan fakir miskin.

Strategi tersebut berdasarkan teori pengaruh (influence) sosial Hans Sebald, merupakan hal tepat. Sebab menurutnya, pengaruh dari teman sebaya (peer group) akan lebih terlihat dalam jangka panjang dibanding gimmick yang dilakukan secara terus-menerus. Dengan menggunakan strategi tersebut, Jokowi memiliki keuntungan elektoral karena mampu memperlihatkan citranya sebagai pemimpin yang memahami keinginan milenial, sekaligus mendegradasi citra ‘milenial’ pada lawan politiknya, Sandiaga Uno.

Merebut millenial influencer. (Foto atas) Prabowo menggaet Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sandiaga Uno sebagai sosok millenial influencer. Sementara Jokowi menggaet Erick Thohir sebagai millenial influncer. (Foto bawah)

Di kubu Prabowo, yang dianggap merepresentasikan kaum milenial adalah Sandiaga Uno. Pertimbangan Prabowo memilih Sandiaga, tampaknya selain karena mewakili elite politik baru yang berasal dari kalangan pengusaha-profesional, yang diharapkan mampu mengelola isu-isu ekonomi, juga untuk mencuri ceruk pemilih milenial.

Dengan style-nya yang serba kekinian, Sandi dianggap sebagai sosok yang mampu menggaet pemilih milenial. Tak hanya milenial, daya Tarik Sandi juga berhasil menggeat pemilih perempuan dan ibu rumah tangga (emak-emak). Pun jangan lupa, tampilan luar seperti wajah tampan Sandi dan estetika lainnya, masih jadi penentu preferensi pemilih tradisional.

Dengan mempertimbangkan usia Sandiaga Uno yang muda, secara teoretis Prabowo-Sandi punya kapasitas lebih untuk mengamankan suara kalangan milenial. Sandi dianggap punya personifikasi pengusaha muda yang sukses dan senang olahraga; akrab dengan isu-isu anak muda di era digital, role model bagi anak muda yang tidak mau terjebak dalam pekerjaan yang dibenci dan membosankan. Ke-“anakmuda”-an Sandi juga bisa kita lacak dari duelnya dengan Menteri Susi Pudjiastuti di Danau Sunter. Katakanlah, 11-12 dengan aksi motornya Jokowi; hanya ekspos dan responsnya terbatas.

Di luar itu, pengamat Politik Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai, dengan memilih cawapres Sandiaga Uno, Prabowo akan menarik massa tengah lebih besar ketimbang pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin. Massa tengah yang dimaksud Ray adalah massa yang belum menentukan pilihan politik. “Potensi dari Prabowo-Sandi lebih banyak peluang menarik massa. Kalau dilihat yang sektor tengah, ingin pemilih milenial, kelompok kelas menengah, terdidik yang di mana figurnya Sandiaga bisa masuk ke sini. Sementara Ma’aruf tak memiliki daya tarik di kalangan massa tengah,” kata Ray.[]

Tulisan berikutnya: Ke Mana Arah Politik Pemilih Milenial?

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here