Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Guru Para Ulama Besar Indonesia

0
1323

Nusantara.news, Jakarta – Untuk menjadi seorang imam, terlebih imam besar di Masjidil Haram, Mekah, tentu tidaklah mudah dan bukan sembarang orang. Dia, pasti memiliki keistimewaan dan keutamaan khusus dalam segala hal. Namun siapa sangka, salah satu orang yang bergelar imam besar masjid di tanah suci Mekah itu, adalah orang Nusantara. Dialah Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, orang pertama dari Indonesia yang menjadi Imam Besar Masjidil Haram.

Bukan hanya menjadi imam, Ahmad Khatib juga seorang khatib dan guru besar di Masjidil Haram Mekah, sekaligus Mufti (ulama Mekah yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat) Mazhab Syafi’i pada akhir Abad ke-19 dan awal Abad ke-20. Dia juga mahaguru jempolan dalam sejarah modernisasi Islam di Indonesia, yang melahirkan para ulama besar tanah air yang pergi belajar ke Mekah.

Pada 1881, tokoh kelahiran Kota Gadang, Agam, Sumatera Barat pada 26 Mei 1860 ini, meninggalkan kampung halamannya. Ia dibawa ayahnya ke Mekah untuk menunaikan haji. Setelah menyelesaikan ibadah haji pada 1882, Ahmad Khatib tak pernah kembali pulang ke Indonesia. Ia memperdalam pengetahuan Islamnya dan menuntaskan hafalan Al-Qur’an dari beberapa ulama seperti Sayyid Bakri Syatha, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, dan Syekh Yahya al-Qalbi.

Di Mekah, kesadaran Ahmad Khatib tentang pentingnya persatuan Islam terbangun. Ia merasa persatuan Muslim di Indonesia harus diperkuat untuk membebaskan negara dari kolonialisme. Pemikiran tersebut diwariskan pada murid-muridnya, seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama). Kedua tokoh ini, atas arahan Ahmad Khatib, juga menjadi penyokong perjuangan politik Sarekat Islam (SI). Bahkan KH Ahmad Dahlan duduk sebagai penasihat, ketika SI dipimpin Tjokroaminoto.

Muridnya yang lain, di antaranya Syekh Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul (ayah Buya Hamka), Syekh Ibrahim Musa (pendiri Sumatera Thawalib), Syekh Muhammad Jamil Jaho dan Syekh Sulaiman ar-Rasuli (pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah), Syekh Muhammad Djamil Djambek (guru Bung Hatta), Syekh Abdullah Ahmad (pendiri Perguruan Adabiyah), KH Abdul Wahab Chasbullah (pendiri NU), KH Abdul Halim (pendiri Perserikatan Ulama, anggota BPUPKI), Haji Agus Salim (tokoh Sarekat Islam), KH Abdul Halim Majalengka (pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al-Irsyad), Syekh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari (mufti Kerajaan Indragiri), dan masih banyak lagi.

Salah satu rintisan Ahmad Khatib yang ditiru orang Nusantara, muridnya selama di Mekah, adalah metode ijazah. Dia akan memberikan ijazah kepada setiap muridnya sebagai tanda tamat belajar. Namun, berlakunya ijazah itu hanya setelah si murid berhasil melaksanakan amanah Ahmad Khatib: mendirikan pusat pendidikan di daerah asal masing-masing.

Dampak metode ini luar biasa. Hampir semua murid sekembalinya ke Tanah Air, segera mendirikan pusat pendidikan Islam. Murid-muridnya itu, kemudian juga dikenal sebagai para pemimpin perjuangan kemerdekaan terhadap kolonialisme di daerah mereka masing-masing.

Kepada murid-muridnya, inspirator pembaharuan Islam Indonesia ini mewanti-wanti agar meninggalkan kejumudan dan bersikap lugas, serta mampu menyatakan pikiran dalam lisan ataupun tulisan. Semua itu dapat terbangun tanpa mengekor dari peradaban Barat. Sebab, Islam sudah jauh hari mengimbau manusia agar menggunakan akalnya semaksimal mungkin untuk memahami keteraturan alam semesta.

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi bersama murid-muridnya

Syekh Ahmad Khatib juga menganjurkan untuk membuka cakrawala berpikir, khususnya terhadap gagasan dan gerakan reformasi. Misalnya, pembaharuan Muhammad Abduh. Seringkali kepada muridnya, dia menyarankan agar membaca majalah Al-‘Urwah al-Wutsqo serta mendalami Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Terakhir, ia juga mendorong perlunya pembaharuan di bidang pendidikan Islam sebagai jantung dakwah.

Menikahi Putri Saudagar di Mekah

Buku Cahaya dan Persatuan karya Dandang A Dahlan, mengungkap silsilah keluarga Ahmad Khatib. Tokoh yang bermazhab syafi’i itu berasal dari kalangan terhormat di Minang. Ayahnya bernama Abdul Latif, sedangkan ibunya Limbak Urai yang juga puteri alim Paderi terkemuka, Tuanku Nan Renceh. Kakek buyutnya dari pihak ayah bernama Tuanku Abdul Aziz, seorang ulama di Koto Gadang yang pernah berjuang dalam Perang Paderi.

Di samping pakar di bidang agama Islam, mulai dari garis buyut sampai orang tuanya juga termasuk kaum berada. Penduduk Koto Gadang menyebut mereka sebagai rangkayo, yang berarti ‘orang kaya’. Karena itu, keluarganya mampu membiayai pendidikan Ahmad Khatib sampai ke Tanah Suci. Kisah perantauan itu bermula ketika usianya masih 11 tahun.

Pada masa kanak-kanak Ahmad Khatib memperoleh pendidikan agama dari lingkungan keluarga. Kemudian, ia memperoleh pendidikan dasarnya berupa pendidikan agama di kota Bukittinggi lewat jalur pendidikan informal yang dikelola oleh ulama-ulama setempat. Setelah itu ia belajar di Sekolah Rendah (setingkat SD-SR), dilanjutkan ke Kweekschool (Sekolah Guru), yang terkenal dengan nama Sekolah Raja, di Bukittinggi. Setelah itu, Ahmad Khatib menghabiskan waktu di negeri rantau, Mekah.

Di antara kebiasaan Ahmad Khatib di Mekah adalah mengunjungi toko buku milik Muhammad Shalih al-Kurdi yang terletak di dekat Masjidil Haram untuk membeli kitab-kitab yang dibutuhkan atau sekadar membaca buku jika belum memiliki uang untuk membeli. Karena seringnya Ahmad Khatib mengunjungi toko buku itu membuat pemilik toko yang juga seorang saudagar di sana, Shalih al-Kurdi, menaruh simpati kepadanya, terutama setelah mengetahui kerajinan, ketekunan, kepandaian, dan penguasaannya terhadap ilmu agama serta keshalihannya.

Ketertarikan Shalih al-Kurdi terhadap Ahmad Khatib dibuktikan dengan dijadikannya Syaikhul Ahmad Khatib sebagai menantu yakni menikahkannya dengan putri pertamanya yang bernama Khadijah. Sebenarnya Ahmad Khatib sempat ragu menerima tawaran dari al-Kurdi karena tidak adanya biaya yang mencukupi dan telah mengatakan terus terang, akan tetapi justru tidak sedikit pun mengurangi niat besar dari al-Kurdi untuk menjadikannya menantu. Bahkan al-Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Ahmad Khatib. Dari pernikahannya dengan Khadijah itu, Ahmad Khatib dikaruniai seorang putra, yaitu ‘Abdul Karim.

Ternyata pernikahan Ahmad Khatib dengan Khadijah tidak berlangsung lama karena Khadijah meninggal dunia. Muhammad Shalih al-Kurdi, sang mertua, untuk menikah kembali dengan purinya yang lain, yaitu adik kandung Khadijah yang bernama Fathimah. Fathimah adalah seorang seorang wanita teladan dalam keshalihan dan memiliki hafalan Al Quran yang baik. Oleh karena itu tidak heran jika anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Timur Tengah, yaitu: ‘Abdul Malik, ketua redaksi koran al-Qiblah dan memiliki kedudukan tinggi di al-Hasyimiyyah (Yordan), ‘Abdul Hamid al-Khathib, seorang ulama ahli adab dan penyair kenamaan yang pernah menjadi staf pengajar di Masjidil Haram dan duta besar Saudi untuk Pakistan.

Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi

Takdir Allah meneguhkan Ahmad Khatib untuk terus mengabdikan ilmunya di al-Haram. Buya Hamka dalam risalahnya, Ayahku, mengisahkan bagaimana Ahmad Khatib pada akhirnya didaulat menjadi imam besar masjid al-Haram pertama yang berkebangsaan non-Arab. Pada suatu Ramadhan, Syarif ‘Awn ar-Rafiq menggelar acara buka puasa bersama yang mengundang para pembesar Mekah, termasuk mertua Ahmad Khatib, Syekh Saleh al-Kurdi.

Seusai membatalkan puasa, dilanjutkan solat magrib berjamaah. Tuan rumah yang juga guru besar al-Haram itu bertindak sebagai imam. Tanpa  sengaja, di tengah shalat, Syarif ‘Anwn ar-Rafiq membacakan suatu ayat Al-Qur’an secara keliru. Ahmad Khatib yang ikut berjamaah spontan membetulkan bacaan itu.

Usai shalat Maghrib, para hadirin merasa was-was lantaran tokoh sekaliber Syarif ‘Awn ar-Rafiq dikoreksi oleh seorang Jawi yang baru beberapa waktu mengajar di al-Haram. Ternyata, sang imam mengakui kekeliruannya dan mengapresiasi koreksi dari Ahmad Khatib. Dia pun memuji kefasihan lidah Ahmad Khatib dalam melafalkan ayat Al-Qur’an.

Penghargaan Syarif ‘Awn ar-Rafiq tidak sampai di situ. Beberapa hari setelahnya, atas usulan tokoh tersebut Ahmad Khatib didaulat menjadi imam dan kemudian khatib dari mazhab fikih Syafii di Masjidil Haram.  Sejak saat itu, kala usianya 38 tahun, Ahmad Khatib berhak atas julukan ‘syekh’. Ia juga dikenal sebagai ahli tafsir, hadis, fikih, ilmu hisab, dan sebagainya. Tak heran, penguasa Kesultanan Turki memberikan gelar kehormatan bey tunis kepadanya. Ini adalah gelar yang setingkat doktor honoris causa dalam lingkungan akademik.

Karya-karya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi lebih banyak menjelaskan tentang ilmu-ilmu fikih, baik yang berhubungan dengan ibadah maupun muamalah. Karya-karyanya banyak diterbitkan dengan bantuan dana yang berasal dari mertuanya, Syekh Saleh Kurdi selaku distributor kitab-kitab keagamaan. Pada akhir abad ke-19 tulisan-tulisan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi pada masa itu mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi masyarakat Minangkabau.

Di antara karya-karyanya ialah sebagai berikut: Al-Jawahir fi A’mal alJaibiyyah, (Mutiara-Mutiara dalam Amal-Amal yang Memerlukan Biaya) yang terbit tahun 1309 H/1891 M; Raudhah al-Husab fi ‘Ilm al-Hisab, (Lapangan Para Ahli Ilmu Matematika dalam Ilmu Hisab). Buku yang terbit pada tahun 1310 H/1892 ini membahas mengenai masalah matematika yang dihubungkan dengan pembagian waris. Kemudian Ar-Riyad al-Wardiyyah fi Ushul atTauhid wa al-Furu’ al-Fiqh, terbit tahun 1893 di Kairo, membahas tentang ilmu tauhid yang digabungkan dengan fikih dan ushul fikih. Kitab ini dapat juga dijadikan sebagai pedoman praktis untuk ilmu Aqidah dan Syari’ah.

Syekh Ahmad Khatib meninggal pada tanggal 8/9 Jumadil Awal 1334 H bertepatan 14 Maret 1916, dan jenazahnya dimakamkan di Mekah. Peninggalan Ahmad Khatib kepada umat Islam ialah kitab-kitab hasil karangannya dengan jumlah sangat banyak, kemudian anaknya yang memiliki peran penting di Mekah, serta murid-muridnya yang tersebar ke sejumlah wilayah di Asia Tenggara.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here