Ahok, Aset China Perantauan dan Istighosah Mengetuk Langit Demi NKRI

0
382

NUSANTARA.NEWS, Jakarta – “Mengetuk Langit, Menggapai Nurullah” demi NKRI.” Ini tema Istighosah Kubro yang berlangsung di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Minggu (9/4/2017).  Mengetuk Langit, Menggapai Nurullah (cahaya). Kata-kata ini luar biasa. Sudah sedemikian dahsyatkah, sudah sedemikian besarkah atau sudah sedemikian meraksasakah ancaman yang berada di depan, sehingga ratusan ribu kaum nahdliyin merasa perlu menggelar doa bersama mengetuk langit (baca: mengetuk pintu rumah Tuhan, Red) demi menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?

Buka China Bukan Kristen

Isu NKRI belakangan ini, utamanya sejak kehadiran Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok muncul di panggung Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, merebak tidak hanya di atas langit Jakarta, tetapi merebak meluas menyelimuti seluruh langit nusantara.

Walau tidak ikut nyoblos, masyarakat daerah luar jakarta ikut ambil bagian atau terseret dalam Pilgub DKI Jakarta dalam berbagai bentuknya, mulai dari ikut serta dalam beberapa kali aksi super damai  yang digerakkan Front Pembela Islam (FPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MHI) di Jakarta beberapa waktu lalu, maupun aksi sporadis di daerah masing-masing. Tidak terhitung banyaknya gerakan yang dilancarkan melalui media sosial

Pertanyaan dasarnya adalah, apa kaitan antara Pilgub DKI Jakarta yang di dalamnya ada Ahok dengan ancaman terhadap NKRI? Apakah Ahok, yang merupakan etnis China dan beragama Kristen adalah biang keroknya?

Kalau ini masalahnya, bukankah sejak zaman sebelum merdeka atau malah sejak zaman Kerajaan Singosari etnis China sudah ada yang menetap di Nusantara? Dari 67 Anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bahkan ada yang bernama Oey Tjang Tjoei kelahiran Jakarta, yang menjabat sebagai Anggota Tyuuoo Sangi In, Juga ada nama Oey Tjong Hauw kelahiran Semarang, yang bertindak selaku anggota Tyuuoo Sangi In.

Apa bedanya dengan Ahok yang lahir di Belitung Timur dengan nama Tionghoa Zhōng Wànxué yang bahkan pernah menjabat sebagai Bupati Belitung Timur dan anggota DPR RI?

Atau apakah yang menjadi sorotan adalah agamanya yang kristen? Ini juga tidak. Karena dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang beranggotakan 27 orang, selain masih muncul nama Yap Tjwan Bing, juga ada nama Yohanes Latuharhary yang beragama Kristen. Sedemikian rupa, masalah etnis China dan agama (Kristen), tidak menjadi masalah menakutkan.

RRT dan China Perantauan

Lalu apa yang dikhawatirkan dari Ahok, sehingga dianggap sebagai ancaman terhadap NKRI? Tidak satu bukti konkret pun yang secara gamblang dapat membuktikan tentang hal itu. Yang ada adalah isu atau analisis. Sejauh mana kebenaran analisis itu? Juga pasti bersifat pro dan kontra.

Namun, penelusuran penulis, kekhawatiran itu masuk akal. Sebab sejak tahun 1967 terjadi perubahan mendasar di Tiongkok, yang ditandai dengan pemunculan nama Republik Rakyat Tiongkok, juga disebut Republik Rakyat Tjina/RRT atau Republik Rakyat Cina/RRC.

RRT ini berbeda dengan Republik Tiongkok yang menguasai daerah kepulauan Taiwan dan lainnya. Perkataan “Tiongkok” itu sendiri sekarang merujuk kepada Tiongkok Daratan yakni sebuah negara yang terletak di Asia Timur yang beribukota di Beijing.

Secara resmi RRT menjadi negara kesatuan  yang terdiri dari 56 kelompok etnis yang mencakup semua bangsa di dalam batas wilayah negara RRT.

Perubahan mendasar lain adalah bahwa, walau negara ini dipimpin oleh partai tunggal, yaitu Partai Komunis Tiongkok (PKT). Namun kebanyakan ekonomi republik ini telah diswastakan sejak tahun 1980-an.

Dalam hal ini, diduga RRT sebagai sebuah negara, bersinergi dengan swasta yang dalam hal ini China Prantauan (Chinese Oversease) yang kekuatan ekonominya sangat kuat, karena hampir semua ekonomi dan bisnis negara di kawasan Asia, terutama Asia Tenggara, sudah berada di tangan konglomerat’ Cina. Di beberapa negara Asia, Cina Perantauan sudah masuk ke ranah politik, seperti di Thailand, Malaysia, Singapura, Philipine, dan Indonesia.

Sterling Seagrave dalam bukunya “Lord of The Rim“, menyebutkan bahwa jaringan China Perantauan merupakan kelompok masyarakat yang cukup dinamis, ulet, dan tangguh. Tahun 1990, populasi China Perantauan berjumlah 35 juta orang, dengan total PDB 1,35 kali dari Republik Rakyat China (RRC). Mereka merupakan salah satu sumber modal terbesar di dunia, dengan penguasaan aset lancar mencapai USD 2 triliun. Sebagai perbandingan, Jepang dengan penduduk tiga kali lipat dari jumlah China Perantauan, hanya mempunyai aset lancar sebesar USD 3 triliun. Dan aset inilah — yang bisa dipindah-pindahkan sesuka hati mereka — menjadi bahan bakar kemajuan China daratan dewasa ini.

Masih menurut Seagrave, China Perantauan merupakan kelas menengah yang makmur, dengan kelihaian bisnis yang luar biasa. Cara mereka bekerja dan membangun bisnis, biasanya sering mendasarkan pada kesamaan marga dan kepercayaan. Mereka biasa berlindung di bawah kekuatan politik yang korup, serta sering mendapatkan konsesi dan monopoli dari pemerintahan semacam itu. Di perantauan mereka tidak memiliki afiliasi politik yang jelas, dan hanya bertuah kepada yang menang. Oleh karenanya mereka sering kali direcoki oleh kekuatan besar dari luar, terutama para politikus lokal dan kapitalis Barat.

Konglomerasi China Perantauan ini, merupakan sebuah kerajaan tersendiri yang tidak memiliki bendera dan batas teritorial. Meski pada awalnya dijalankan dengan cara profesional, namun regenerasi dalam perusahaan-perusahaan mereka sering terkendala. Korporasi-korporasi bernilai miliaran dolar, yang seharusnya diserahkan ke pihak yang andal, malah sering diberikan kepada anak atau saudara-saudara terdekat. Celakanya, justru pihak terafiliasi inilah yang mengakhiri bisnis mereka. Hal inilah kemudian yang menyebabkan, sulitnya korporasi mereka terus berkembang dan mencapai usia 100 tahun. Kalaupun ada, mungkin jumlahnya sangat sedikit dan tidak memiliki volume cukup besar.

Meski mayoritas mereka menjadi warga negara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, namun sebagian besar memiliki akar dari China Selatan. Kebanyakan mereka datang dari Propinsi Fujian dan Guangdong, yang mempunyai dialek bahasa sendiri-sendiri. Dialek Hokkian, Teochiu, Hakka, dan Kanton, merupakan empat dialek terbesar orang-orang China Perantauan. Untuk menjaga diri, biasanya mereka membentuk organisasi-organisasi rahasia berdasarkan daerah asal dan kekerabatan.

Organisasi ini bisa berupa kelompok amal, kongsi bisnis, ataupun sindikat kejahatan. Anggota organisasi inipun bersifat tertutup dan saling melindungi. Seorang anggota yang menjadi gembong narkotika misalnya, bisa saja membiayai bisnis jasa ataupun properti. Dan mereka ini saling berjalin berkelindan, tolong menolong untuk mendapatkan keuntungan yang sama.

Menguasai Pemerintahan

Berdasarkan analisis Sterling Seagrave itu pula, masuk akal mengapa sejak kemunculan Ahok di panggung Pilgub DKI Jakarta, mulai muncul kekhawatiran terhadap NKRI. Mengapa? karena, bisnis China Perantauan yang sudah menggurita di Indonesia perlu mendapat perlindungan. Faktor Ahok diduga masuk di sini, yakni Ahok dijadikan “boneka” yang  didukung untuk menguasai pemerintahan.

Istighosah mengetuk langit demi NKRI, menjadi semakin masuk akal pula, karena beberapa hari sebelum pelaksanaan istighosah, muncul kabar dari Pansus RUU Pemilu di DPR-RI. Khabar itu terkait Pilpres 2019 yang dilaksanakan serentak atau bersamaan dengan pemilihan anggota legislatif (pileg), dan membuang apa yang selama ini dikenal dengan presidential threshold sebesar 20 persen  dari total kursi di Dewan Perwakilan Rakyat atau 25 persen dari suara nasional.

Penghilangan presidential threshold  ini memang masih jadi perdebatan. Ketua Umum Partai Nasden Surya Paloh misalnya masih menilai perlu presidential threshold.  Namun, jika paripurna DPR RI akhirya menyetujui keputusan Pansus RUU Pemilu, maka China Perantauan yang mendukung Ahok, bisa mengambil jalur singkat (short cut) dengan meninggalkkan politik tumpang sari dengan Jokowi. Sebab, tanpa presidential threshold Ahok bisa langsung maju tanpa harus menunggu tahap menjadi wakil presiden bersama Jokowi tahun 2019.

Dalam perspektif ini, maka Istighosah yang digelar NU di Jatim Minggu (9/4/2017), bertema mengetuk langit menggapai nurrullah (cahaya), dapat dimengerti, karena yang dihadapi adalah kekuatan ekonomi yang dikendalikan oleh China Perantauan sangat besar dengan tendensi menguasai pemerintahan melalui Ahok.

Sedemikian rupa, tema istighosah, yakni  Mengetuk Langit Menggapai Nurullah, yang apda awalnya dinilai sekadar rangkai kata yang indah, ternyata memiliki pembenaran yang berdasarkan analisis masuk akal. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here