Ahok Bikin Cemar Politisi China

0
303

Nusantara.news, Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bukanlah etnis Tionghoa pertama dan satu-satunya yang ikut dalam pertarungan politik praktis. Sejak, kran politik bagi Warga Negara Indonesia (WNI) keturnan Tionghoa atau China dibuka pada rezim Abdurrahman Wahid, maka keturunan China tak lagi hanya bergelut di bidang ekonomi.

Di awal reformasi atau menjelang pemilihan umum (pemilu) tahun 1999, sejumlah warga keturunan China beramai-ramai mendirikan partai politik (parpol), seperti Partai Reformasi Tionghoa Indonesia, Partai Pembauran Indonesia, dan Partai Bhinneka Tunggal Ika. Bahkan, Partai Bhinneka Tunggal Ika bisa menempatkan wakilnya di DPR RI, yakni L Sutanto dari Kalimantan Barat (Kalbar).

Sejak itu, muncul sejumlah nama dipentas politik Tanah Air, sebut saja Alvin Lie yang menjadi anggota FPR dari Fraksi PAN, anggota DPR dari Fraksi PDI- Perjuangan Hendrawan Supratikno, Kwik Kian Gie yang sempat menduduki posisi sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Menteri Koordinator bidang Ekonomi, Amir Syamsuddin (Freddy Tan Toan Sin) Menteri Hukum dan HAM di era Susilo Bambang Yudhoyono, dan hingga kini ada Ignatius Jonan di posisi Menteri Perhubungan dan taipan Sofyan Wanandi yang menjadi Ketua Tim Ahli Wakil Presiden. Bahkan ada Hary Tanoe Soedibyo yang merupakan pendiri sekaligus Ketua Umum DPP Partai Perindo.

Kehadiran politisi etnis China itu tak pernah menjadi masalah atau dipermasalahkan mayoritas rakyat Indonesia. Karena, mereka mampu tampil sebagai sosok nasionalis sejati yang selalu berdiri di depan saat memperjuangkan nasib rakyat. Seperti Kwik yang dikenal vokal mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro rakyat. Begitupun dengan sosok lain yang dikenal cukup dekat dengan dunia pergerakan seperti Arief Budiman (pelopor golput), dan Jaya Suprana (pengusaha jamu).

Namun, lain halnya dengan Ahok yang memiliki resistensi tinggi. Penyebabnya lantaran Ahok dikenal emosional dan memiliki kemampuan komunikasi yang buruk. Sejak, Ahok menjabat Gubernur DKI Jakarta meggantikan Jokowi yang naik menjadi Presiden RI, Balaikota kerap menjadi sasaran aksi demonstrasi.

Nyaris setiap hari, pemberitaan media tak pernah sepi dari kisruh Ahok dengan warganya hingga lembaga lain, seperti Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI, Badan Pemerika Keuangan BPK bahkan dengan Kementerian Dalam Negeri.

Akhirnya, desakan agar Ahok mundur dari jabatannya semakin kuat saat Ahok menjadi terdakwa kasus penodaan agama. Sekali lagi, kasus penodaan agama terjadi karena kesalahan Ahok yang menyitir Al Quran surat Al Maidah ayat 51.

Pegiat hak asasi manusia Andreas Harsono dari lembaga swadaya Human Rights Watch menilai kasus penistaan agama itu menjadi preseden buruk bagi perlindungan minoritas serta kebebasan berekspresi di negara mayoritas muslim ini.

“Kasus ini merupakan kemunduran.  Indonesia yang kita saksikan sejak kejatuhan rezim Suharto seakan kembali ke nol,” kata Andreas.

Berkaca dari itu, bisa disimpulkan bahwa penolakan warga DKI bahkan sebagian besar Umat Islam terhadap Ahok yang berujung pada kekalahan Ahok – Djarot pada Pilkada DKI 2017 ini, bukan karena faktor etnis atau agama, tapi lebih kepada karakter Ahok yang kurang simpatik. Karakter Ahok bikin politisi China ikut tercemar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here