China Perantauan Dalam Sorotan: Masih China atau Sudah Indonesia? (Bagian 3 -habis)

Ahok Seperti Mereaktualisasi Libido Politik Etnis China

0
377

Nusantara.news, Jakarta – Pengalaman Pilkada DKI Jakarta yang menegangkan karena meyentuh masalah SARA, NKRI, dan isu sensitif lainnya seyogyanya tidak terulang lagi. Terlalu besar energi yang terkuras untuk membicarakan hal-hal yang sebenarnya sudah tuntas. Isu isu panas itu juga bikin pilkada sebagai ajang adu progam tidak jalan. Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang akhirnya kalah, malah menempatkan China perantauan kini dalam sorotan. (Pengantar Redaksi, Red)

Setelah kalah di Pilkada DKI Jakarta, cepat muncul isu bahwa Ahok akan duduk sebagai salah satu menteri di kabinet Jokowi. Tetapi, saat melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Nusantara, Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiah, Cipulus, Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (25/4/2017), Presiden Jokowi menegaskan, tidak ada kursi menteri untuk Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Mengapa Jokowi “tega” memperlakukan Ahok seperti itu? Bukankah Ahok tandem kental sewaktu maju di Pilkada DKI Jakarta 2012?

Kita tidak berpretensi menyebut Ahok sebagai public enemy atau musuh masyarakat. Namun, kata katanya yang kasar selama Pilkada DKI Jakarta, membuat banyak orang mempersepsikannya sebagai musuh masyarakat. Dalam bahasa Guru Besar Neurobiologi di Universitas California, Amerika Serikat, Prof Taruna Ikrar, Ahok memiliki energi  negatif yang merusak masyarakat.

Suka atau tidak, Ahok juga dinilai sebagai sumber api yang menyulut Pilkada DKI Jakarta yang seharusnya adu program, menjadi “teror” panas dan menegangkan, di mana jika dia menang seolah NKRI akan pecah, akan terjadi pembantaian terhadap etinis China, dan akan mengganti Pancasila menjadi komunis dan lain sebagainya.

Pendulum politik Indonesia yang kini condong ke kanan (Islam) juga dipicu, terutama oleh ujaran Ahok tentang surat Al-Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu.

Dengan citra seperti ini maka dapat dipahami jika Jokowi “tega” menegaskan tidak ada tempat bagi Ahok di Kabinet. Sebab siapa yang mau dekat dengan orang yang dianggap sumber masalah?

Keberadaan Ahok sebagai sumber masalah ini pula yang berpotensi berbahaya etnis China lainnya.  Berbahaya karena tidak tertutup kemungkinan keberadaan Ahok sebagai sumber masalah, digeneralisir terhadap etnis China lainnya.

Tidak ada yang menginginkan hal itu terjadi. Tetapi harus pula dikatakan, bahwa etnis China masih sensitif di Indonesia. Banyak kejadian masa lalu, di mana gara-gara satu orang atau sekelompok etnis China yang bersalah, maka etnis China yang tak bersalah ikut jadi korban sebagaimana terjadi pada masa reformasi, dan kasus kasus lain sebelumnya di zaman Belanda maupun setelah merdeka.

Sejarah politik etnis China di Indonesia, juga kurang baik. Etnis Cihna nyaris tak pernah kapok berpolitik walaupun selalu berakhir dengan kekalahan.

Kublai Khan pernah mengirim tentaranya untuk meminta upeti sebagai tanda takluk ke Raja Singosari, Kertanegara di Jawa Timur. Pada peristiwa ini, tentara Mongol yang ketika itu menguasai lebih setengah dunia, dipermalukan oleh Kertanegara dengan memotong kuping utusan Kublai Khan. Ketika Kublai Khan mengirim tentaranya untuk balas dendam, penerus Kerta Negara yakni Raden Widjaya, kembali mempermalukan tentara Mongol yang tersohor itu dengan menghabisinya setelah sebelumnya diperhadapkan dengan tentara Jayakatwang.

Pada zaman kolonial Belanda, sedikitnya dua kali etnis China melakukan gerakan pollitik mendasar. Yakni, tahun 1740, di mana masyarakat China memberontak melawan Belanda di Batavia (Jakarta). Etnis China sempat berhasil merebut posisi kompeni Belanda di Meester Cornelis dan di Tanah Abang berhasil membunuh 50 serdadu kompeni. Namun kekuatan etnis China itu kemudian berhasil dibersihkan oleh Van Imhoff yang berkekuatan lebih dari 1.800 orang serdadu.

Yang kedua, tahun 1777. Ketika itu masyarakat China sempat membangun kerajaan kecil yang disebut Lanfang Gonghegou (Republik Lanfang) di Mandor Kalimantan Barat. Kerajaan ini dibangun atas libido politik yang besar. Betapa tidak, kerajaan ini berawal ketika para Sultan di Kalimantan Barat mendatangkan buruh China untuk bekerja di pertambangan emas atau timah sebagai buruh upahan.

Tetapi seiring semakin berkembangnya kegiatan pertambangan emas, semakin banyak didatangkan etnis China. Mereka hidup berkelompok-kelompok berdasarkan wilayah pertambangan masing-masing. Sebagian dari mereka diberi hak kongsi tetapi tetap tunduk dan sebagian hasil tambang harus diberikan kepada Sultan.

Tetapi pada tahun 1770 mulai terjadi pembangkangan dari kongsi-kongsi itu, dalam bentuk penolakan memberikan sebagian hasil tambang emas kepada Sultan. Mereka kemudian membangun kerajaan kecil yang disebut Lanfang Gonghegou (Republik Lanfang) yang akhirnya dibubarkan oleh Belanda tahun 1884.

Tahun 1900 muncul sebuah organisasi Tiong Hoa Hwe Koan yang bertujuan untuk mengingatkan masyarakat Tionghoa akan pentingnya konfusianisme. Juga ada kelompok Sin Po yang menghendaki orang Tionghoa Hindia-Belanda mempertahankan kebagsaan China dan berusaha menarik golongan peranakan lebih dekat ke China dengan membuat mereka lebih menyerupai China totok.

Sejarah politik etnis China yang kurang baik ini, seperti direaktualisasi oleh Ahok

Kondisi ini bisa mempengaruhi etnis China yang  sejak reformasi terjun menjadi politisi dalam jumlah cukup banyakl. Dalam catatan Muhammad Reza Zaini,etnis China yang  seorang antropolog FISIP UI, pada Pemilu 1999 saja tidak kurang 50 caleg Etnis Tionghoa. Pada Pemilu 2004, setidaknya ada 150 yang menjadi caleg. Pada tahun 2014 jumlah tersebut membengkak menjadi 700 caleg untuk DPR Pusat, DPRD, dan DPD.

Dalam jajak pendapat yang dilakukan Polmark Indonesia, juga muncul tiga nama etnis China yang memiliki elektabilitas sebagai kandidat presiden 2019 mendatang. Ketiga nama itu adalah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok (2,9%), Hary Tanoesoedibyo (0,5%) dan Grace Natali (0,1%).

Apakah mereka mereka ini akan terganggu pada even politik baik Pilkada 2018 atau Pileg dan Pilpres 2019? Mudah-mudahan publik cepat melupakan Ahok. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here