Ahok Tumbang: Pentingnya Kesopanan Memerintah

0
468
Menista agama, akhirnya membawa Ahok ke pengadilan.

Nusantara.news, Jakarta – Pemilihan Gubernur Jakarta berakhir sudah. Hari ini 19 April 2017, warga Jakarta memberikan suaranya dalam Pilkada Putaran Kedua. Meski belum diumumkan secara resmi oleh KPU Jakarta, namun hasil hitung cepat dari berbagai lembaga survei menunjukkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno keluar sebagai pemenang. Pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat, yang semula diunggulkan, terpaksa harus menerima kekalahan.

Selisih suara antara mereka dari berbagai hasil hitung sangat jauh, belasan persen. Misalnya, versi SMRC, Ahok-Djarot dapat suara 41,94 dan Anies-Sandi 58,06%. Menurut LSI, perbandingan suara kedua pasangan ini 44,49% : 55,41% dan Polmark 42,47% :  57,53%.

Lazimnya basa-basi politik setelah pemilihan umum, Basuki Tjahaja Purnama memberikan ucapan selamat kepada Anies Baswedan. “Selamat Pak Anies dan Pak Sandi. Kami harap lupakan semua kampanye dan pilkada. Jakarta ini rumah kita bersama,” kata Ahok saat memberikan keterangan pers di Media Center Basuki- Djarot di Ballroom Pullman, Rabu (19/4).

Anies Baswedan juga demikian. “Pak Basuki dan Pak Djarot adalah putra terbaik bangsa Indonesia yang sudah mengabdi,” kata Anies, dalam konferensi pers di rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/4).

Anies berjanji akan terus menjaga persahabatan dengan Ahok dan  Djarot yang dia nilai sebagai putra terbaik bangsa. “Kami akan terus bersahabat. Kami akan terus berteman,” kata Anies.

Selisih suara belasan persen hasil hitung cepat itu dipastikan bertahan hingga akhir penghitungan riil oleh KPU Jakarta. Kalaupun angkanya bergeser, perubahannya tidak banyak. Artinya dengan selisih sebesar itu, tidak ada lagi peluang untuk mengajukan gugatan sengketa pemilu ke Mahkamah Konstitusi. Sebab, dengan jumlah penduduk Jakarta di atas 12 juta jiwa, sesuai UU No. 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah, batas perbedaannya adalah 0,5% dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh KPU Provinsi.

Meski Pilkada Jakarta telah usai, banyak catatan yang belum selesai. Catatan terpenting adalah soal etika politik. Kekalahan Ahok sebenarnya bukan karena lawannya lebih hebat, tapi karena berbagai blunder-nya yang dilakukannya berulang kali. Sikap kasar, memaki-maki siapa pun yang tak disukainya, sampai menista Al Maidah, dan serentetan kekasaran lain, semua dilakulannya tanpa merasa bersalah.

Ketika publik bereaksi marah terhadap Ahok, para pendukungnya mengalihkannya menjadi isu antikeberagaman. Seolah-olah  reaksi publik yang marah itu karena Ahok dari etnis China dan beragama Protestan. Padahal sudah sejak lama, masyarakat mayoritas Indonesia hampir melupakan sentimen SARA itu. Buktinya, publik tidak pernah ada resistensi terhadap politisi seperti Kwik Kian Gie, Alvin Lie, Marie Pangestu dan banyak lagi.

Tetapi, karena kekurangajaran mulut Ahok digeser pendukungnya menjadi penentangan terhadap etnis, persoalan pun melebar. Resistensi makin meluas. Diperparah lagi, Ahok tidak pernah merasa bersalah atas semua kelakuannya.

Perkara ini harus menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pejabat publik memelihara etika dan kesopanan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here