Ahoker Belum Move On dari Ma’ruf Amin

1
134
Ma'ruf Amin dan Ahok.

Nusantara.news, Jakarta – Keputusan Joko Widodo (Jokowi) memilih Ma’ruf Amin menjadi cawapresnya di Pilpres 2019 mengundang reaksi dari pendukung loyalitas mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atau biasa disebut Ahoker. Media sosial bergejolak. Ada pro kontra di pendukung Jokowi, terutama para Ahoker.

Ahoker ini sebenarnya sangat lekat dengan imej pendukung Jokowi. Setelah nama Ma’ruf diumumkan sebagai cawapres, manuver sang kiai di masa Pilgub DKI diungkit lagi.

Kekecewaan Ahoker ini dikarenakan Ma’ruf menjadi tokoh penting yang mengeluarkan rekomendasi Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saat itu MUI disebut-sebut mengeluarkan fatwa yang membuat suasana semakin panas. Bunyi fatwa: “Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama dikategorikan : (1) menghina Al-Quran dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum”. Rekomendasi ini menegaskan pernyataan Ahok yang mengaitkan Surat Almaidah 51 sebagai penistaan agama.

Pernyataan MUI ini yang kemudian melahirkan aksi demo berjilid-jilid Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF). Kelompok GNPF ini yang kemudian menggerakan unjuk rasa mendorong agar Ahok diadili, gelombang unjuk rasa tersebut dikenal dengan Aksi Bela Islam 411 dan 212.

Seperti diketahui, gerakan 212 saat itu menolak Ahok menjadi gubenur DKI Jakarta. Gerakan 212 sangat keras mengkritik Jokowi. Dalam Pilgub yang digelar dua putaran, pada 15 Februari dan 19 April 2017, pasangan Ahok-Djarot Saiful Hidayat dikalahkan oleh pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Tapi, itu belum berakhir. Babak ‘pertarungan’ sebenarnya terjadi di persidangan penistaan agama yang akhirnya mengantar Ahok ke penjara. Saat itu Ma’ruf menjadi salah satu saksi memberatkan Ahok.

Ma’ruf kala itu bersaksi di persidangan bahwa ucapan Ahok membuat marah warga Pulau Pramuka, lokasi di mana Ahok berbicara soal Al Maidah ayat 51. Temuan itu, kata Ma’ruf, merupakan hasil investigasi tim MUI. Kesaksian Ma’ruf ditanggapi keras oleh Ahok yang menganggap dirinya disudutkan.

Namun Ahok keberatan dengan saksi yang menuduhnya menghina ulama. di Pulau Seribu. Dalam persidangan, Ahok mempersoalkan pernyataan Ma’ruf bahwa MUI mendengarkan keterangan Habib Rizieq Syihab soal Al Maidah ayat 51. Posisi saksi ahli Rizieq yang dimaksud Ma’ruf adalah rapat empat komisi di MUI untuk menentukan pandangan soal sikap keagamaan MUI.

Soal ucapan saat bertemu dengan warga di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016, Ahok menegaskan tidak pernah menafsirkan Surat Al-Maidah ayat 51. Ahok mengatakan tidak ada niat menyinggung agama.

Ahok malah mengaitkan Ma’ruf Amin dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kasus tersebut. Ahok mempertanyakan hubungan Ma’ruf dengan SBY, yang saat itu mengusung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni pada Pilgub DKI 2017. Ma’ruf, yang merupakan eks Wantimpres Presiden SBY, membantah dirinya terkait dengan salah satu paslon.

Bahkan dalam persidangan ke-8 kasus penistaan agama tersebut, Ahok sempat mengancam akan memproses hukum Ma’ruf Amin. Ahok mendesak Ma’ruf bahwa kuasa hukumnya memiliki bukti adanya telepon dari SBY kepada Ma’ruf.

Telepon itu disebut Ahok berisi permintaan SBY agar Ma’ruf bertemu dengan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Agus Harimurti Yudhoyono dengan Sylviana Murni.

Dalam hal ini, SBY disebut meminta Ma’ruf untuk menerbitkan fatwa penistaan agama untuk pidato Ahok di Kepulauan Seribu tersebut.  Ahok pun mengancam akan melaporkan Ma’ruf Amin ke polisi terkait hal itu.

Pernyataan keras Ahok dalam sidang dianggap menyudutkan Ma’ruf Amin, yang juga Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu. Ahok menuai kritik dan protes dari kader-kader NU.

Namun di tengah gelombang protes itu, Jokowi rupanya merespons negatif pernyataan Ahok beserta kuasa hukumnya terhadap Ma’ruf. Hal itu disampaikan melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Luhut Binsar Pandjaitan, Presiden Jokowi selalu berupaya menghindari konflik serta mengedepankan persatuan bangsa.

Respon negatif presiden terhadap pernyataan Ahok tersebut, lanjut Luhut, sekaligus meluruskan pandangan sebagian orang bahwa Presiden Jokowi mendukung dan melindungi Ahok dalam kasus penistaan agama.

“Jangan lagi ada pikiran-pikiran buruk atau bilang Presiden dukung si ini, si itu, enggak. Presiden firm sekali bahwa beliau tidak mau mendukung sana sini. Beliau netral dalam kasus ini,” ujar Luhut kala itu Cerita KH Ma’ruf Amin Diancam Ahok Hingga Presiden Jokowi Harus Turun Tangan

Bukan hanya Presiden Jokowi yang bergerak membela Ma’ruf terhadap ancaman Ahok, Mahfud MD pun ikut membela. Mahfud mengaku sangat keberatan dengan cara Ahok dan kuasa hukumnya terhadap Ma’ruf kala itu, dan dirinya merasa tersinggung.

Ahok akhirnya minta maaf. Ma’ruf kemudian memaafkan.

Bahkan Ma’ruf mengatakan sudah memaafkan Ahok sebelum mendengar mengenai permintaan maaf Ahok yang disampaikan melalui media massa. Namun, Ma’ruf memilih tak bertemu dengan Ahok walau sudah menerima permintaan maaf tersebut.

Ada 2 alasan Ma’ruf tak mau menemui Ahok. Alasan pertama, Ma’ruf takut umat salah paham dan ujungnya dia jadi dimarahi umat. Sedangkan alasan kedua, yakni Ma’ruf berpikir apabila ia menerima Ahok, maka ia mesti menerima pula kunjungan dari Anies Baswedan. Padahal ketika itu Ahok dan Anies sedang bertarung memperebutkan kursi “DKI 1”.

Ahoker diminta move on

Usai Aksi 212, hubungan Jokowi makin dekat dengan Ma’ruf. Pada Juni 2017, Jokowi menunjuk Ma’ruf sebagai anggota Dewan Pengarah UKP Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP). UKP PIP kini menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, yang setingkat kementerian.

Namun ketika Ma’ruf sebagai cawapres Jokowi mengagetkan banyak pihak. Awalnya nama mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD yang menguat. Ma’ruf sendiri mengaku terkejut dipilih Jokowi jadi cawapres.

Hal ini yang membuat Ahoker meluapkan kekecewaannya di media sosial. Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Tolak Radikalisme (TOR) Eka Prasetya. Menurutnya, sempat terjadi emosi kekecewaan bagi para relawan Ahok yang juga menjadi pendukung Jokowi. Bahkan mereka menyatakan akan golput dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

Ketua Harapan Warga (Hawa) Rudi Sinaga (pendukung Ahok) mengaku, hampir 70 persen anggota Hawa kecewa. Mereka kurang begitu respect terhadap Ma’ruf sebagai cawapres. “Apa yang diputuskan oleh Pak Jokowi benar-benar sama sekali tidak terpikirkan oleh kami. Tidak bisa dimengerti,” kata dia.

Biasanya, para relawan mendapat sedikit bocoran terkait keputusan-keputusan penting yang akan diambil Ahok maupun Jokowi. Namun, kali ini benar-benar tertutup. Kebingungan relawan sempat terjadi sesaat deklarasi Jokowi.

Rudi mengatakan, pascadeklarasi pihaknya telah meminta konfirmasi kepada kerabat Ahok. Para relawan dan kerabat Ahok akan mengadakan pertemuan untuk menyamakan persepsi. “Kita akan ada pengarahan kepada para Ahoker bahwa Pak Ahok mendukung Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf,” ujarnya.

Ahoker memang boleh dibilang termasuk pendukung paling loyal dibanding relawan Jokowi. Sejauh ini Ahoker belum move on dari rasa sakitnya setelah Ahok dibui. Buktinya, pada 12 Oktober 2017 mereka terus berkirim bunga dan dengan bangga menyatakan “menolak move on“. Namun pada saat itu angin badai robohkan bunga-bunga mereka.

Unlike persistent vegetative state atau “gagal move on permanen” pernah disebut aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)  Zeng Wei Jian, adalah sebentuk kegilaan mental. Mirip penyakit Locked-in syndrome (LIS); condition in which a patient is aware but cannot move or communicate verbally due to complete paralysis of nearly all voluntary muscles in the body except for vertical eye movements and blinking.

Akibatnya, Ahoker cuma bisa meracau, caci-maki, memfitnah, dan berkeluh kesah. Mereka menolak fakta Pilkada sudah kelar. Tulisan mereka serupa oret-oretan benang kusut pre school children. Itu semua disebabkan disfungsi motorik otak mereka.

Complete Locked-in syndrome (CLIS) Ahoker adalah impact dari “otak quadriplegia” atau brain-paralysis (kelumpuhan otak). Makanya mereka tolak move on. Dalam dunia medis, “quadriplegia” adalah kondisi tidak mampu bicara pada seseorang yang tampak sehat.

“Ahoker ya kaya gitu. Ngga sanggup bicara lain di luar fitnah-fitnah dan caci maki. Mereka cuma bisa produksi suara-suara bising. Ngebuzz seperti tawon. Bukan tata bahasa teratur berdasarkan fakta dan rasio. Not to speak, melakukan silogisme-menarik kesimpulan secara deduktif. Rangkaian kata-kata mereka, bila dibaca, hanya berbunyi grrrr…kkrrr…grrr…zzz…zzzzz. Mirip ekspresi Mad Dogs. Sekalipun, ngga ada luka di vocal cords atau jari-jari mereka,” sebut Zeng Wei Jian.

Bahkan Ahoker juga dicurigai terkena “neurotoxins”, alias keracunan syaraf. Akibat kebanyakan baca media abal-abal dan bikin seribu akun robotik. Plus kalah di Pilkada yang rasanya perih. Semua itu bikin otak dan hati Ahoker trauma.

Karena itulah wajar jika Ketua DPP Golkar yang juga Sekretaris Timses Ahok di Pilgub DKI 2017, Ace Hasan Syadzily, meminta Ahoker untuk move on. Menurutnya Pilgub DKI sudah berlalu. Jokowi, kata Ace, butuh dukungan penuh pendukungnya demi mempertahankan kursi RI-1 dan melanjutkan pembangunan.

“Memang kita sudah selesai Pilkada DKI, persoalan hukum terkait Pak Ahok sudah dijalani secara baik di tahanan. Seharusnya sudah move on, kita kembali merajut kebersamaan untuk memenangkan Jokowi dan Ma’ruf Amin dalam PIlpres 2019,” ucapnya.

Ace Hasan menerima keputusan Jokowi memilih Ketum MUI itu. Apalagi Ma’ruf Amin mempunyai pengalaman sebagai penyelenggara negara. “Kita menerima keputusan Jokowi menetapkan Kiai Ma’ruf sebagai cawapres beliau. Beliau (Ma’ruf Amin) sosok ulama yang memiliki pengalaman baik legislatif dan eksekutif, pernah menjadi, DPRD DKI, DPR RI, dan Wantimpres di era Pak SBY. Selain itu memiliki kemampuan ekonomi syariah yang dapat mendorong pemberdayaan masyarakat dan umat,” ujar Ace.

Tiga pilihan Ahoker

Selepas ditunjuk Jokowi sebagai cawapres, Ma’ruf berbicara soal aksi 212 dan rencananya merangkul kelompok termasuk ulama yang kerap mengkritik capresnya itu. Ma’ruf mengakui dirinya sebagai penggerak Alumni 212. Namun soal urusan dengan Ahok, dia sudah tidak lagi mempermasalahkan.

“Insyaallah mulai saya rangkul, kan mereka alumni, saya juga. 212 dulu kan saya yang gerakkan. Cuma, sesudah Ahok selesai, ya selesai. Mereka keterusan,” ujar Ma’ruf di kediamannya, Jl Lorong 27, Koja, Jakarta Utara, Kamis (9/8/2018).

Menurutnya, setelah kasus penodaan agama oleh Ahok telah selesai, sudah waktunya ulama membangun bangsa. Ma’ruf menambahkan, terpilihnya dia sebagai cawapres Jokowi merupakan bentuk penghargaan Jokowi terhadap kalangan ulama. “Saya menganggap ini mungkin penghargaan pada ulama, karena saya dianggapnya merepresentasikan ulama. Jadi saya anggap Pak Jokowi sangat memberikan penghargaan kepada ulama,” katanya.

Jika Ma’ruf sudah memaafkan Ahok, rupanya Ahok juga memaafkan Ma’ruf. Bahkan keduanya justru akan bersinergi di Pilpres 2019. Soal dukungan Ahok ke Ma’ruf, hal ini diungkapkan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan saat menghadiri aksi para purnawirawan TNI deklarasi dukung Jokowi-Ma’ruf di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (12/8/2018). Luhut mengatakan bahwa Ahok mengirim surat kepadanya dan siap berkampanye untuk Jokowi-Ma’ruf Amin setelah bebas dari penjara.

Luhut juga menepis anggapan isu kekecewaan Ahok dan simpatisannya karena Jokowi meminang Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Menurut Luhut, hal itu tidak benar, malahan menurut Ahok sendiri, dirinya sangat mendukung pasangan tersebut di Pilpres 2019. “Ada yang bilang Pak Ahok marah katanya? Kemarin Ahok tulis surat ke saya, bilang saya senang pak. Kalau saya keluar dari penjara saya pengen juga ikut kampanye nanti di tim pemenangan,” kata Luhut.

Ahok, kata Luhut, tidak dendam. Malahan Ahok menyebut Ma’ruf Amin memberi energi baru agar saat kampanye tidak memecah belah bangsa Indonesia. “Saya pastikan 1.000 persen dia (Ahok) tidak marah lagi. Jadi kita fokus pada kampanye-kampanye program. Masalah ekonomi, kemiskinan, stunting, pendidikan, seperti itu lah area yang didiskusikan, tidak bicara kamu komunis, itu tidak ada benarnya,” sebutnya.

Luhut berharap, dengan klarifikasi ini tidak ada lagi pemecah belah kelompok bangsa. Menurut dia, justru dengan adanya perbedaan dapat menyatukan sebagai keutuhan NKRI. Apalagi, lanjut Luhut, pendiri relawan ‘Teman Ahok’, Singgih Widiyastono dan Amalia Ayuningtyas juga sudah bertemu dengan Ahok. Mereka berdua siap memenangkan Jokowi-Ma’ruf.

“Jadi nggak ada, untuk ahoker-ahokernya saya pikir kemarin malah si Amelia dan Singgih itu juga sudah bertemu dengan Pak Ahok mereka mengatakan saya mendukung Kiai Ma’ruf Amin. Jadi kita lihat dari positifnya. Semua kita bisa berbeda waktu lalu, tapi semua kalau melihat untuk NKRI, jadi NKRI itu harga mati,” jelas Luhut.

Soal Ahoker kecewa terhadap Ma’ruf memang tidak bisa dihindari. Karena politik menjadi jalan tengah, solusi hasil negosiasi. Misalnya di pihak Jokowi ada catatan pendukung Ahoker.

Hal itu terjadi karena pilihannya terbatas. Tapi persoalannya kekecewaan Ahoker tetap tidak memungkinkan mereka akan memilih Prabowo.

Pengamat politik dari Poltracking, Hanta Yudha, Ahoker setidaknya memiliki tiga pilihan. Pertama, Ahoker akan abstain atau golput tidak memilih. Kedua, Ahoker akan memilih calon lain (Prabowo), tapi hal ini tidak mungkin terjadi. Ketiga, Ahoker akan tetap memilih Jokowi, meskipun dengan kekecewaan pada Ma’ruf Amin.

“Jadi jawaban saya ada dua kemungkinan, satu mereka memutuskan abstain. Kedua bisa jadi mereka tetap memilih Jokowi tapi tidak aktif di relawan atau bahkan tetap aktif, tergantung strategi pendekatannya,” ungkap Hanta.

Apakah Ma’ruf bisa meraup elektoral di Pilpres 2019 mendatang? Jokowi diprediksi sejumlah pihak akan meraih konsistensi suara cukup signifikan. Tetapi dengan mengusung Kiai Maruf Amin, sebagian pihak menilai sosok Ketua MUI ini belum dapat mendongkrak raihan suara petahana. Sebab ada kepentingan bendera parpol lebih diutamakan. Koalisi seharusnya berfokus pada kepentingan dan aspirasi rakyat. Jangan semata mata untuk berbagi kekuasaan dan jabatan.

Ada semacam stagnan dalam proses demokrasi nanti karena fokusnya pada siapa yang nanti bakal jadi (kekuasaan). Ma’ruf muncul dan dibutuhkan Jokowi untuk menangkis serangan soal dia ‘anti Islam’.

Munculnya Ma’ruf berpotensi Jokowi kehilangan pendukung Ahok. Selama ini pendukung Jokowi ada dua, yaitu loyalis Jokowi dan pendukung Ahok. Keputusan Jokowi menggandeng Ma’ruf memang membuat sebagian Ahokers kecewa. Tapi di sisi lain, posisi Ma’ruf juga bisa mengalihkan dukungan untuk kelompok-kelompok religius.

Pilihan kekecewaan di kubu Jokowi, sama halnya dengan yang dirasakan kelompok yang masih berharap hasil ijtima ulama atau Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Prabowo. Di kubu Prabowo pun ada kekecewaan soal tidak diakomodirnya hasil ijtima ulama dan AHY oleh Demokrat.

Yah, kedua kubu saat ini memang memiliki masalah di masing-masing pendukungnya. Pilihannya mereka adalah abstain atau akan menerima. Apapun itu, yang harus dilakukan kedua kubu adalah secepatnya melakukan normalisasi agar suasana menjadi cair.[]

 

 

 

 

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here