Ahokers Masih Ingin Jadikan Ahok RI-1

0
128
Basuki Tjahaja Purnama Alias Ahok

Nusantara.news, JAKARTA – Kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam memperebutkan kursi nomor satu di Pemilihan Kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta, rupanya tak membuat pendukungnya yang biasa disebut Ahokers untuk terus mewujudkan mimpinya.

Ahok yang sejak putaran pertama Pilkada DKI sudah terseok-seok, terus dipaksakan oleh Ahokers untuk maju ke medan pertarungan.

Isu-isu pun dilempar Ahokers, mulai dari Ahok dicalonkan sebagai Gubernur Bali, Sumatera Utara dan belakangan Ahok disebut sebagai calon Menteri Dalam Negeri atau Kepala Badan Urusan Logistik (Kabulog).

Keinginan Ahokers agar Ahok tetap mendapatkan jabatan meskipun telah kalah di Pilkada DKI, bukannya tanpa alasan. Sebab, pada Oktober 2017 nanti, Ahok akan melepaskan jabatannya sebagai Gubernur DKI dan digantikan Anies Baswedan. Itu artinya, Ahok tak punya panggung lagi hingga Pemilihan Presiden 2019 nanti, padahal Ahok sudah digadang-gadang kelak menjadi presiden. Bahkan, Ahok sendiri pernah berucap akan berjuang menduduki kursi Presiden RI.

Saat merespons penyataan warga jika dirinya tak lagi menjabat Gubernur DKI, Ahok menjawab, “Kalau enggak jadi gubernur, saya mau jadi presiden. Lu takut banget sih.”

Peristiwa itu terekam dalam video yang diunggah di YouTube. Video tersebut diunggah akun Pemprov DKI-Basuki TP (Ahok)-Tyo JB pada Selasa (20/10/2015). Saat itu, Ahok bertandang ke Kedubes RI di Singapura.

Pernyataan Ahok itu tampaknya tidak muncul begitu saja. Keinginan untuk menduduki posisi RI 1, kabarnya berawal dari keberhasilan duet Jokowi-Ahok pada Pilkada 2012. Soliditas keduanya diuji bukan saja saat memenangkan Pilkada DKI 2012, namun juga saat Pilres 2014 lalu.

Jokowi – Ahok sukses berbagi peran. Saat itu, Jokowi selaku Gubernur DKI sengaja mengambil porsi lebih pada gaya blusukan sekaligus pencitraan dan Ahok menjabat Wagub DKI mengurusi internal Pemprov DKI. Alhasil, strategi itu sukses mengantarkan Jokowi menjadi presiden mengalahkan Prabowo.

Dan, berdasarkan hasil sejumlah lembaga survei sampai saat ini Jokowi masih berpeluang besar untuk menang di Pilpres 2019 nanti. Karena, masyarakat puas dengan kinerja Jokowi. Seperti dirilis Lembaga survei Indo Barometer pada 22 Maret 2017 lalu, mayoritas publik yaitu sebesar 66,4 persen menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Joko Widodo. Sementara yang tidak puas hanya 32 persen.

Sehingga, belum ada tokoh yang mampu menyainginya. Karena itu, Ahokers makin bernafsu untuk – kembali menduetkan Jokowi – Ahok dalam Pilpres.

Apalagi Jusuf Kalla (JK) tak mungkin lagi berduet dengan Jokowi karena faktor usia. JK mungkin terpaksa mundur dari gelanggang.

Selanjutnya, jika Ahok bisa menduduki kursi nomor dua di Republik ini, maka peluangnya untuk menjadi Presiden RI terbuka lebar pada Pilpres 2024 kelak.

Memang segala kemungkinan bisa terjadi, namun Ahokers juga seharusnya sadar dengan realitas politik dan sosial saat ini. Resistensi terhadap Ahok sangat besar. Bukan hanya karena stigma Ahok kasar dan arogan, tapi juga Ahok sebagai sosok yang intoleran juga sangat kuat. Sebagian besar umat Islam kemungkinan akan tetap melakukan penolakan terhadap kehadiran Ahok di pentas politik pasca kasus penistaan agama. Apalagi, nama Ahok banyak disebut dalam kasus dugaan korupsi. Dengan realitas itu, maka kehadiran Ahok justru akan menjadi beban bagi Jokowi di Pilpres 2019 nanti.

Dalam politik, semua cara sah sepanjang tidak melanggar aturan hukum termasuk pencitraan. Namun, jika seseorang yang sudah terbukti gagal memimpin mau dipaksakan untuk tetap berkuasa, maka bisa jadi itu hanya sebuah pekerjaan sia-sia. Jika niatnya untuk mengabdi pada negara dan bangsa, maka masih banyak ladang pengabdian lain selain menjadi pemimpin tertinggi di eksektuif. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here