AIPAC Sulit Kendalikan Warga Yahudi di AS

0
123

Nusantara.news, Jakarta – Terdapat beberapa hal yang cukup menarik untuk diamati menyangkut relasi antara Trump dan Israel di satu sisi serta peran AIPAC melakukan advokasi untuk mempengaruhi proses-proses politik di AS di sisi lain. Kuatnya dukungan AIPAC terhadap Trump dalam pilpres di AS di tahun lalu jelas merupakan fakta yang tidak dibantah. Namun demikian, apakah sikap politik AIPAC dengan sendirinya menjadi referensi bagi kaum Yahudi di AS?

Sekalipun AIPAC telah menetapkan standar etik berupa sikap non-partisan dalam urusan dalam negeri AS, namun sebagai organisasi lobby yang merepresentasikan kepentingan Israel di negeri itu AIPAC pasti cukup dikenal oleh warga Yahudi di AS. Terlebih, tidak sedikit pula warga Yahudi di AS yang menjadi pimpinan dan anggota organisasi ini.

Namun, salah satu aspek penting yang perlu diketahui dari hubungan antara AIPAC dengan komunitas Yahudi di AS adalah bahwa kedua entitas tersebut tidak selalu seiring-sejalan dalam menyikapi berbagai isu. Dalam hubungannya dengan Pilpres di AS tahun lalu, misalnya, sikap AIPAC ternyata berbeda 180 derajat dengan preferensi pilihan politik warga Yahudi di AS.

Tendensi AIPAC yang mengarahkan dukungannya kepada Trump rupanya kurang mendapat respon positif di kalangan komunitas pemilih Yahudi di AS. Sekalipun standar etik organisasi ini melarang ikut campur dalam politik dalam negeri AS, namun dapat dipastikan bahwa pimpinan dan dan anggota AIPAC tentu sangat berharap agar warga Yahudi di AS memilih presiden sesuai dengan kepentingan AIPAC—sekalipun harapan ini tidak dinyatakan secara terbuka.

Tidak Hitam Putih

Hasil kajian yang dilakukan PEW Center—salah satu lembaga riset ternama di AS yang memfokuskan perhatian pada preferensi politik masyarakat AS—menunjukkan beberapa temuan menarik terhadap perilaku pemilih dalam Pilpres AS tahun 2016. Salah satu temuan yang yang terpenting adalah bahwa sebagian besar warga Yahudi (76%) ternyata memilih Hillary sebagai presiden. Hanya 24% atau sekitar ¼ warga Yahudi yang memilih Trump.

Fakta ini mengandaikan bahwa kecenderungan politik AIPAC tidak selalu berbanding lurus dengan sikap politik warga Yahudi di AS. Sementara AIPAC sangat mengharapkan kemenangan Trump dalam Pilpres, mayoritas warga Yahudi di AS justru menghendaki kebalikannya. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini terjadi.

Pertama, adalah fakta bahwa AIPAC memang hanya berurusan dengan kepentingan negara Israel, dan oleh karenanya, organisasi ini tidak berurusan dengan komunitas Yahudi di AS. Dengan begitu, orientasi komunitas Yahudi memang tidak selalu harus merujuk atau tunduk pada posisi politik AIPAC. Dasar asumsinya adalah bahwa apa yang terbaik bagi AIPAC (baca: Israel) acap kali belum tentu terbaik bagi warga Yahudi di AS.

 Warga Yahudi Cenderung Memilih Hillary Ketimbang Trump

Komunitas Yahudi yang menjadi warganegara AS pasti akan lebih banyak berurusan dan mengalami langsung kebijakan dalam negeri pemerintah ketimbang terkait langsung dengan hubungan AS-Israel. Dalam konteks ini, kepentingan pemerintah AS dalam konteks politik luar negeri boleh jadi memiliki banyak kesamaan dengan pemerintah Israel, namun belum tentu menimbulkan respon yang sama dari warga Yahudi di AS.

Kedua, pengalaman menjalani hidup dalam sistem diskriminasi rasial di AS cukup berpengaruh terhadap preferensi politik masyarakat Yahudi di AS hingga saat ini, sekurang-kurangnya hingga ditandatanganinya penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial dan diberlakukannya persamaan hak sipil dan politik bagi seluruh warga AS oleh Presiden LyndonB. Johnson di tahun 1968.

Oleh karenanya, bukan kebetulan pula jika banyak dari tokoh-tokoh komunitas Yahudi di AS ikut serta dalam perjuangan menegakkan persamaan hak sipil dan politik yang dipimpin Martin Luther King di era dasawarsa 1960-an dalam melawan sistem diskriminasi rasial terhadap kaum minoritas. Sebelum tahun 1968 warga Yahudi di AS cenderung beroposisi terhadap kebijakan diskriminasi rasial—terlepas dari kenyataan bahwa AS mengakui kedaulatan Israel sejak tahun 1948 dengan menjalin hubungan politik yang sangat erat dengan negara Zionis itu.

Bahkan, pada era tersebut elemen-elemen tertentu dari apa yang dikenal sebagai WASP (White, Anglo Saxon and Protestant)—yang merupakan mayoritas warga AS “asli” keturunan Eropa dan menjunjung tinggi supremasi ras kulit putih—memposisikan semua warga minoritas di AS, tak terkecuali Yahudi, sebagai masyarakat kelas dua. Atas dasar itu, maka cukup masuk akal kiranya jika masyarakat Yahudi di AS cenderung resisten terhadap tokoh-tokoh politik, termasuk calon presiden AS yang mengusung tema supremasi kulit putih atau yang sejenisnya.

Hama yang Sulit Dibasmi

Sama seperti karakteristik masyarakat lain pada umumnya, warga Yahudi di AS juga memiliki berbagai lapisan sosial dan beragam profesi, mulai dari perkerja industri, kelas menengah profesional, seniman, atlet hingga taipan. Dari sisi pandangan politik, masyarakat Yahudi juga cukup menyebar di semua titik spektrum ideologi: mulai dari ujung kanan (konservatif), tengah (liberal dan demokratik) hingga ke ujung kiri (progresif).

Boleh jadi, beberapa kapitalis Yahudi yang sukses menjadi taipan di AS banyak memperoleh akses dan privilege terhadap lingkaran kekuasaan di Washington, dan oleh karenanya, mereka tidak mengalami “penderitaan” akibat politik diskriminasi rasial dan berbagai pembatasan hak-hak sipil lainnya sebagaimana yang dialami oleh sebagian besar warga Yahudi lainnya. Namun akses dan privilege yang dinikmati segelintir orang Yahudi itu tidak mengalami proses trickle down effect bagi kebanyakan warga Yahudi di AS.

Oleh karenanya, mayoritas warga Yahudi sering kali justru bersikap sinis terhadap lapis elite mereka sendiri. Dengan demikian, bukan kebetulan jika komunitas Yahudi di AS juga melahirkan tokoh-tokoh pemimpin agama (Rabi) dan intelektual yang berpandangan kritis tidak saja terhadap pemerintah AS, tetapi bahkan juga terhadap Israel sendiri.

Dukung Rakyat Palestina, Rabi Yahudi di AS Demo Menentang Israel dan AIPAC

Rabi Yisroel Dovid Weiss adalah salah contoh orang Yahudi di AS yang paling gigih menentang Zionisme dalam bentuk negara Israel. Dalam pandangannnya, tidak ada perintah “Dari Atas” untuk mendirikan negara Israel, dan oleh karenanya, negara Zionis itu tidak memiliki legitimasi keagamaan. Klaim bahwa pendirian negara Israel merupakan upaya pemenuhan firman Tuhan tentang “Tanah yang Dijanjikan”, menurut Rabi Yisroel hanyalah akal-akalan dari anasir-anasir kelompok kecil kaum Yahudi yang motifnya hanya mencari kekuasaan duniawi dan menggunakan agama sebagai kedok.

Rabi Yisroel tidak sendiri. Berbagai organisasi keagamaan Yahudi yang menentang pendirian negara Israel juga eksis tidak saja di AS, tetapi juga di sejumlah negara lain. Di antaranya adalah Jewish Voice for Peace, Independent Jewish Voices (Kanada), Independent Jewish Voices (Inggris) dan the International Jewish Anti-Zionist Network. Akibatnya, AS yang selama ini selalu bergandengan tangan dan membela mati-matian eksistensi Israel, juga tak luput dari sasaran kritik dan kecaman dari kelompok-kelompok ini.

Tidak sedikit pula di kalangan ini yang terlibat di dalam sejumlah organisasi dan berkampanye yang mendukung perjuangan rakyat Palestina. Elemen-elemen inilah yang giat mengorganisir kaum Yahudi untuk menggelar berbagai aksi protes terhadap Trump sejak ia tampil sebagai capres di AS.

Bahkan kelompok Jewis Voice for Peace bersama dengan Jews for Racial and Economic Justice kini mulai mengorganisir diri untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Trump. Untuk isu dan informasi di media sosial kelompok ini telah membuat #JewishResistance. Tentu saja logis jika kelompok-kelompok ini selalu menjadi batu sandungan bagi misi AIPAC di AS.

Hal yang sama juga terjadi di kalangan intelektual Yahudi di AS. Noam Chomsky, seorang Yahudi tulen, yang merupakan salah satu pelopor studi filsafat lingusitik terkemuka di dunia adalah pengkritik politik luar negeri AS dan Israel. Melalui berbagai buku, makalah dan puluhan artikelnya Chomsky dikenal luas sebagai tokoh inteketual yang selalu mengambil sikap beseberangan dengan pemerintah AS dan Israel.

Chomsky bersama intelektual Yahudi lainnya, seperti Howard Zinn (alm), juga dikenal luas atas sikap kritis mereka yang sangat tajam terhadap sistem kapitalisme. Ia juga selalu mengingatkan agar waspada terhadap jaringan korporasi media mainstream di AS yang kerap melakukan manipulasi kesadaran publik.

Padahal, melalui jaringan media mainstream inilah AIPAC kerap menitipkan pesan-pesannya dengan framing tertentu kepada publik AS. Terganggu karena sikap dan pandangan Chomsky yang cukup berpengaruh di kalangan akademisi kritis di AS, sejak tahun 2010 Israel—yang sebelumnya telah diberi masukan oleh AIPAC— mem-black list Chomsky untuk “pulang” ke negeri itu.

Hanya kaum kiri Israel yang terus menjalin persahabatan dengan Chomsky.  Di sisi lain, sekalipun kelompok-kelompok kiri Israel, termasuk Partai Komunis Israel, tergolong minoritas, namun mereka merupakan elemen yang paling tidak disukai oleh AIPAC. AIPAC dan penguasa Israel kerap memberi label kelompok-kelompok kiri di negeri ini dengan frasa: “bukan Yahudi asli”, “asing”, “anti-Yahudi”, “tidak pro pribumi” dst.

Kritik Chomsky terhadap Sistem Kapitalisme

Bagi AIPAC kalangan Yahudi yang kerap bersikap kritis ini, terutama mereka yang bermukim di AS sering menjadi faktor penghambat dalam memuluskan agenda-agenda kepentingan organisasi tersebut di AS. Lobby yang kerap dilakukan AIPAC adalah mendesak otoritas di AS untuk selalu mengawasi dan membatasi ruang gerak figur-figur semacam ini.

Namun, upaya ini sering kali juga sulit dilakukan oleh pemerintah AS karena konstitusi AS sendiri menjamin kebebasan sipil dan politik bagi seluruh warganegara. Di mata AIPAC kelompok-kelompok ini dipersepsi layaknya seperti “kutu kupret” yang kerap mengganggu dan menjengkelkan, namun sulit dibasmi.

AIPAC akan jauh lebih “nyaman” untuk berhadapan dengan musuh-musuh non-Yahudi. Dalam menghadapi lawan-lawan yang semacam itu AIPAC dapat melakukannya dengan berbagai siasat untuk memenangkan pertarungan dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri AS. Namun, dalam menghadapi kelompok Yahudi yang mengambil posisi kritis, baik terhadap desain global AS maupun terhadap Israel, AIPAC sering merasa kerepotan. [] (Disarikan dari berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here