Air Minum Kemasan Terpapar Mikroplastik, Pemerintah Terkesan Menutup-nutupi  

1
205
Ilmuwan State University of New York at Fredonia saat menguji 259 botol air minum dari 11 merek yang dijual di delapan negara. Sebanyak 93 persen air botolan yang menjadi contoh ternyata mengandung rata-rata 325 partikel plastik.

Nusantara.news, Jakarta – Organisasi kesehatan dunia (WHO) membuat pengumuman mengejutkan. Sebanyak 90% merek air minum kemasan terpopuler di dunia mengandung mikroplastik partikel per liter. Para periset menemukan tingkat serat plastik dalam merek air kemasan bisa dua kali lebih tinggi dari air keran.

Mikroplastik adalah pecahan terkecil sampah plastik buangan manusia. Karena sifatnya yang tak bisa terurai, limbah ini akan terus terpecah menjadi bagian-bagian kecil. Penelitian ini tidak mampu mengungkap sumber mikroplastik, apakah dari sumber mata air ataukah saat proses pengemasan air minum ke dalam botol.

Atas temuan periset ini, WHO meminta agar setiap negara melakukan peninjauan kembali potensi risiko plastik dalam air minum kemasan. Dikatakan juru bicara WHO, bahwa walaupun belum ada bukti mengenai dampak terhadap kesehatan manusia, diketahui bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan. Juru bicara tersebut mengatakan, “WHO berharap agar (negara) meninjau kembali bukti yang sangat langka dengan tujuan untuk mengidentifikasi kesenjangan bukti, dan membuat sebuah agenda penelitian untuk menginformasikan penilaian risiko yang lebih menyeluruh.”

Baca juga: Privatisasi Air untuk Kemakmuran Korporasi, Matinya Pasal 33 UUD 1945 (1)

Sebelumnya, sebuah penelitian yang dilakukan State University of New York at Fredonia yang didukung Orb Media, organisasi media nirlaba di Amerika Serikat, menguji 259 botol air minum dari 11 merek yang dijual di delapan negara. Dipimpin Sherri A. Mason, Victoria Welch, dan Joseph Nerako, hasilnya cukup mencengangkan, 93 persen air botolan yang menjadi contoh ternyata mengandung rata-rata 325 partikel plastik untuk setiap liter air yang dijual. Dari 259 botol yang diuji, hanya 17 yang bebas dari plastik, menurut penelitian tersebut.

Para ilmuwan menulis bahwa mereka menemukan kira-kira dua kali lebih banyak partikel plastik di dalam air kemasan dibandingkan dengan studi sebelumnya tentang air keran.

Menurut studi baru, jenis fragmen plastik yang paling umum ditemukan adalah polipropilena – jenis plastik yang sama yang digunakan untuk membuat tutup botol. Botol yang dianalisis dibeli di AS, China, Brazil, India, Indonesia, Meksiko, Lebanon, Kenya dan Thailand.

Para ilmuwan menggunakan pewarna merah Nil untuk partikel fluoresen di dalam air – pewarna cenderung menempel pada permukaan plastik tapi bukan material alami yang paling banyak. Penelitian ini belum dipublikasikan di jurnal dan belum melalui review ilmiah. Namun Dr Andrew Mayes, ilmuwan University of East Anglia yang mengembangkan teknik merah Nil, mengatakan kepada Orb Media bahwa dia yakin bahwa itu telah diterapkan dengan hati-hati dan tepat di laboratorium.  Sejumlah merek air kemasan yang dilakukan uji coba: Aqua (Danone), Aquafina (PepsiCo), Bisleri (Bisleri Internasional), Dasani (Coca-Cola), Epura (PepsiCo), Evian (Danone), Gerolsteiner (Gerolsteiner Brunnen), Minalba (Grupo Edson Queiroz), Nestle Pure Life (Nestle), San Pellegrino (Nestle) dan Wahaha (Hangzhou Wahaha Group).

Para ilmuwan menggunakan pewarna merah Nil untuk partikel fluoresen di dalam air. Pewarna cenderung menempel pada permukaan plastik tapi bukan material alami yang paling banyak.

Untuk sampel dari Indonesia, pengambilan dilakukan karena negara ini menjadi salah satu negara dengan pangsa besar air minum dalam kemasan. Sebanyak 30 botol Aqua yang dibeli di Jakarta, Bali, dan Medan diterbangkan ke New York pada November 2017 untuk diuji oleh tim dari University of New York at Fredonia.

Hasilnya, setiap botol Aqua yang menjadi sampel rata-rata mengandung 382 mikroplastik partikel per liter. Ukurannya beragam, mulai 6,5 mikrometer atau setara sel darah merah, hingga lebih dari 100 mikrometer atau setara dengan diameter rambut manusia.

Kandungan terbanyak dalam satu sampel Aqua mencapai 4.713 partikel mikroplastik per liter. Adapun secara global, kandungan partikel ini paling banyak ada di air kemasan Nestle Pure Life dengan total 10.390 partikel mikroplastik per liter.

Laboratorium kimia Universitas Indonesia juga melakukan uji mandiri atas air minum Aqua untuk mengkonfirmasi temuan State University of New York at Fredonia. Agar berimbang, dua air minum merek lain juga diteliti, yakni Le Minerale dan Club.

Sebanyak sembilan sampel botol air minum ukuran 600 mililiter dari tiga merek itu dibeli dari minimarket, warung, dan pedagang asongan agar bervariasi. Penelitian dipimpin Agustinos Zulys, kepala laboratorium. Hasilnya, plastik berukuran mikro juga ditemukan dengan ukuran beragam, antara 11 dan 247 mikrometer.

Baca juga: Privatisasi Air untuk Kemakmuran Korporasi, Matinya Pasal 33 UUD 1945 (2)

Para ahli memperingatkan bahwa seseorang yang terlalu sering konsumsi air minuman kemasan botol plastik sebaiknya dikurangi. Sebab, ada risiko kesehatan yang mengganggu. Risikonya antara lain, ada hubungan dengan peningkatan jenis kanker tertentu, menurunkan jumlah sperma hingga meningkat dalam kondisi seperti ADHD dan autisme.

Partikel yang terpapar di air minum kemasan hasil penelitian State University of New York at Fredonia.

Disampaikan ahli toksikologi dari Universitas Indonesia, Budiawan, partikel yang berukuran sama atau lebih kecil dari sel manusia dapat diserap dan masuk aliran darah. Sel darah merah sendiri berdiameter sekitar 8 mikrometer. Selain itu, akumulasi mikroplastik dalam tubuh dapat mengganggu kerja organ vital, seperti ginjal dan hati. “Akumulasi terjadi kalau tubuh tidak mengeluarkan partikel asing secara alami lewat ekskresi,” kata Budiawan, belum lama ini.

Ahli nutrisi, Tan Shot Yen, pemilik klinik kesehatan di Tangerang, menyebut potensi mikroplastik. Menurut dia, semakin kecil partikel mikroplastik, semakin mudah dan semakin banyak diserap sel. Sayangnya, kata dia, penelitian menyeluruh tentang dampak mikroplastik bagi manusia memang masih minim. Tan merujuk salah satu penelitian dari Pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat tentang dampak partikel itu terhadap plankton di perairan bebas yang telah tercemar. Dampak terberatnya, tentu gangguan pertumbuhan dan reproduksi. Jika mencetuskan radikal bebas, risiko kanker tidak bisa ditepis.

Dalih Pemerintah

Meski sudah dijelaskan beberapa ahli dampak konsumsi air minum kemasan yang mengandung mikroplastik, namun publik belum banyak yang tahu. Padahal menurut Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, setiap AMDK yang mengandung mikroplastik dalam komposisi air minum, harus dicantumkan produsen. Sebab bila tidak, hal itu bisa dikategorikan melanggar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Karena semua konten harus disebutkan, terlepas aman atau tidak. Karena dalam hal ini berpotensi terjadi pelanggaran hak atas informasi kepada konsumen,” ujarnya Senin, (19/3/2018).

Namun dalam hal ini, pemerintah justru terkesan menutup-nutupi dan meremehkan. Setelah hasil riset organisasi jurnalis Orb Media tersebar, banyak konsumen mengaku khawatir partikel plastik dalam kemasan dapat mempengaruhi kesehatan mereka dan meminta otoritas terkait melakukan penelitian lebih lanjut.

Pemerintah terutama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), seharusnya menjelaskan sejak awal terkait hal ini. Sehingga masyarakat luas tidak gagal paham. Sayangnya, pemerintah menanggapi hasil riset ilmuwan State University of New York at Fredonia terkesan lambat, dan tanggapannya pun berbeda.

Kepala BPOM, Penny Kusumastuti Lukito, mengatakan agar masyarakat dan konsumen tidak perlu khawatir dan panik terhadap keamanan, mutu dan gizi dari produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar di Indonesia. Pasalnya, sesuai aturan SNI AMDK (wajib SNI) dan peraturan Kepala BPOM, pihaknya terus melakukan pengawasan ketat pada tahap pre-market dan post market terhadap kemasan air mineral tersebut, sehingga dirinya menjamin seluruh air mineral yang dijual pasaran sudah sesuai standar yang berlaku.

“Kami bisa memastikan AMDK yang beredar di Indonesia telah memenuhi standar yang berlaku secara internasional dan Standar Nasional Indonesia (SNI). BPOM selalu melakukan pengawasan sesuai standar-standar yang telah ditetapkan dengan melakukan pengajian dan pengawasan sebelum diedarkan dan saat di edarkan. Produk yang tidak memenuhi SNI akan kami lakukan tindakan,” ujarnya melalui keterangan pers, Minggu (18/3/2018).Kepadatan partikel mikroplastik dalam botol dan ukuran untuk setiap merek. Tanda strip (-) menunjukkan jumlah 10 botol yang diproses. NR = Merah Nil.

Diakui Penny, selama ini belum ada studi ilmiah bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. Bahkan The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) selaku lembaga pengkaji risiko untuk keamanan pangan di bawah FAO-WHO belum mengevaluasi toksisitas plastik dan komponennya.

Karenanya, belum ditetapkan batas aman untuk mikroplastik. Selain itu, Codex sebagai badan standar pangan dunia di bawah FAO-WHO belum mengatur ketentuan tentang mikroplastik pada pangan.

“Kami masih menunggu kajian dari lembaga Internasional seperti EFSA, US-EPA yang saat ini sedang mengembangkan pengkajian termasuk metode analisis untuk melakukan penelitian toksikologi terhadap kesehatan manusia. Belum ada studi ilmiah yang membuktikan bahaya mikroplastik bagi tubuh manusia. Ini adalah penelitian awal. Kami menunggu dari WHO terhadap revisi terhadap standar kita tentang AMDK di Indonesia,” jelasnya.

Baca juga: Privatisasi Air untuk Kemakmuran Korporasi, Matinya Pasal 33 UUD 1945 (3)

Sementara itu terkait dengan aturan produk AMDK harus berstandar SNI, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menerbitkan aturan baru tersebut. Beleid baru itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 78 Tahun 2016 tentang Pemberlakuan SNI Air Mineral, Air Demineral, Air Mineral Alami, dan Air Minum Embun.

“Jadi, produk air minum dalam kemasan yang beredar di pasar telah sesuai dengan standar mutu yang berlaku wajib dan mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan,” terang Direktur Jenderal Industri Agro Panggah Susanto, melalui keterangan resmi, Sabtu (17/3/2018).

Perbandingan jumlah mikroplastik dengan perangkat lunak ‘Galaxy Count’ untuk partikel <100um di dalam 259 botol yang diuji oleh dua peneliti bekerja secara independen satu sama lain.

Menurutnya, penyusunan SNI untuk produk air minum dalam kemasan dilakukan oleh Komite Teknis yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan, meliputi pihak pemerintah, akademisi atau ahli, termasuk di bidang keamanan pangan, masyarakat, dan produsen.

Dikatakan Panggah, selama ini pengawasan terhadap produk air minum kemasan di dalam negeri dilakukan secara berkala, baik selama di lokasi produksi maupun di pasar oleh instansi terkait, yang meliputi pengawasan air baku, proses produksi, produk akhir, hingga dengan kemasan.

“Secara total, terdapat 44 parameter persyaratan air bersih yang digunakan sebagai bahan baku air minum kemasan, yaitu fisika (6 parameter), kimia (17 parameter), kimia organik (18 parameter), mikrobiologik (1 parameter), dan radio aktivitas (2 parameter),” imbuhnya.

Di samping itu diterapkan pula syarat mutu produk air minum kemasan. Di antaranya, SNI 3553:2015 Air Mineral telah menetapkan 27 Kriteria Uji sebagai syarat mutu air mineral, SNI 6241:2015 Air Demineral telah menetapkan 13 Kriteria Uji sebagai syarat mutu air demineral.

Kemudian, SNI 6242:2015 Air Mineral Alami telah menetapkan 11 Kriteria Uji sebagai syarat mutu air mineral alami, dan SNI 7812:2013 Air Minum Embun menetapkan 29 Kriteria Uji sebagai syarat mutu air minum embun.

Lanjut Panggah, dalam penyusunan standar tersebut, beberapa referensi internasional antara lain, Codex Alimentarius Committee, WHO, dan lainnya yang umum digunakan dalam penyusunan standar keamanan pangan di berbagai negara. Pengujian kesesuaian mutu air minum kemasan dilakukan oleh laboratorium penguji yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). “Selain itu, penilaian kesesuaian SNI untuk produk air minum kemasan dilakukan audit terhadap penerapan Good Manufacturing Practices atau Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik,” urainya.

Terkait pencemaran mikroplastik pada produk air minum kemasan, Kemenperin mengusulkan agar dilakukan kajian lebih lanjut melalui metode uji yang berstandar untuk mengetahui tingkatan maksimum dan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Sebab hingga detik ini belum ada dokumen standar mutu, metode uji, tingkatan maksimum kandungan mikroplastik pada produk makanan dan minuman, khususnya air minum kemasan, serta belum ada kajian mendalam dampak kandungan mikroplastik pada tubuh di tingkat global yang umum dijadikan referensi.

Selama ini, Kemenperin mengklaim terus mendorong pertumbuhan dan daya saing industri air minum kemasan di dalam negeri, termasuk dalam upaya meningkatkan kualitas produknya agar mampu memenuhi kebutuhan pasar di domestik dan ekspor.

Berdasarkan data Kemenperin, industri air minum kemasan dalam negeri berjumlah sekitar 700 perusahaan, yang sebagian besarnya merupakan sektor industri kecil dan menengah (IKM). Secara volume, konsumsi air minum kemasan menyumbang sekitar 85 persen dari konsumsi minuman ringan di Indonesia.

Dalam kasus ini, pemerintah dalam hal ini BPOM harus secepatnya menetapkan standar baru terkait dengan mikroplastik pada air minum dalam kemasan. Harus ada standar apakah masih kategori aman atau tidak. Yang jelas, masyarakat (konsumen) punya hak atas keamanan, keselamatan dalam mengkonsumsi produk. Ini yang dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here