AJB Bumiputera 1912, Jatuh Bangun Industri Asuransi (2)

0
252
AJB Bumiputera 1912 mengalami mismatch sebesar Rp20 triliun, yakni selisih antara aset yang dimiliki sebesar Rp10 triliun dengan kewajiban polis yang harus dibayar sebesar Rp30 triliun

Nusantara.news, Jakarta – AJB Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi tertua di tanah air, tahun ini memasuki usianya yang ke 105 tahun. Selama itu Bumiputera telah melewati berbagai krisis 1948, 1956, 1989, 2008, dan 2012, serta 2016.

Krisis paling berat dirasakan Bumiputera pada 1989, namun seolah tertolong oleh sikap pengawas yang tidak tegas. Terakhir, pada 2016, Bumiputera benar-benar terhuyung dan nyaris tak mampu mengatasi masalah selisih antara aset dan kewajibannya yang telah mencapai Rp20 triliun.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun menyiapkan pola restrukturisasi. Mulai memanfaatkan direksi yang ada, mengganti direksi, hingga akhirnya membentuk Pengelola Statuter.

Proses restrukturisasi AJB Bumiputera 1912 efektif mulai berjalan pada awal 2107. Pengelola Statuter asuransi jiwa tertua ini telah menetapkan skema restrukturisasi yang akan memastikan hak-hak pemegang para polis tetap terjaga dan terlindungi.

Pengelola Statuter Bidang Aktuaria dan Perencanaan Perusahaan AJB Bumiputera, Didi Achdiat mengatakan, skema yang dibentuk didasarkan atas penilaian kondisi keuangan AJB Bumiputera. Setiap tahunnya, jumlah nilai klaim AJB Bumiputera selalu lebih besar daripada aset tunai dari penerimaan premi.

“Terjadi defisit antara pendapatan dan pengeluaran untuk beban klaim yang diperkirakan mencapai puluhan triliun,” ujar Didi beberapa waktu lalu.

Pada 2017 diproyeksikan ada klaim yang jatuh tempo sebesar Rp5,2 triliun, sedangkan pendapatan premi terus menurun, diperkirakan tinggal Rp2,7 triliun. Sementara dalam 5 tahun ke depan kira-kira akan terjadi pembayaran sekitar Rp10 triliun.

Untuk itu diperlukan upaya penguatan perusahaan dengan skema restrukturisasi melalui pembentukan PT Bumiputera 1912 yang 100% sahamnya dimiliki oleh Pacific Multi Investama.

Pacific Multi Investama merupakan anak perusahaan PT Evergreen Invesco Tbk (GREN), dan dalam proses ini bersifat sebagai perusahaan cangkang yang melakukan backdoor listing di pasar modal. Proses restrukturisasi dilakukan melalui PT Evergreen dikarenakan AJB Bumiputera merupakan perusahaan bersama yang pemegang sahamnya adalah seluruh pemegang polis asuransi.

Untuk itu, AJB Bumiputera membentuk PT Bumiputera 1912 yang merupakan holding company dengan dua anak perusahaan yakni Bumiputera Investama Indonesia dan Bumiputera Properti Investama.

Kedua perusahaan ini dibentuk untuk memisahkan pengelolaan aset finansial dan properti AJB Bumiputera, yang merupakan salah satu bagian dari skema restrukturisasi. Bumiputera Investama Indoensia selanjutnya memiliki dua anak perusahaan yang akan menjalankan bisnis asuransi, yakni PT Asuransi Jiwa Bumiputera (PT AJB) dan PT Asuransi Jiwa Syariah Bumiputera (PT AJSB).

“Melalui skema ini, kami memobilisasi pembiayaan (run off) bukan lagi mendapatkan pendanaan. Artinya di masa mendatang tidak ada lagi polis baru, AJB akan melakukan pembayaran kepada pemegang polis,” tutur Didi.

Sementara penjualan produk asuransi baru selanjutnya akan dilakukan oleh PT AJB dan PT AJSB. AJB juga akan bertindak sebagai administrator klaim dan premi dari AJB Bumiputera dengan model kerjasama profit sharing sebesar 40% dalam jangka waktu minimal 12 tahun.

Pengelola Statuter Bidang Manajemen Risiko dan Kepatuhan, Yusman menambahkan, PT AJB sendiri saat ini telah mendapatkan komitmen penambahan modal sebesar Rp2 triliun dari investor yang diperkirakan terealisasi pada Maret 2017. Komitmen sebesar Rp2 triliun sudah didapatkan dari konsorsium pengusaha Erick Thohir dari Grup Mahaka.

Dengan cara ini akan tersedia cukup uang tunai di AJB Bumiputera untuk memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah jatuh tempo di 2017 mendatang, serta tahun-tahun berikutnya karena perputaran dana hasil investasi.

Melalui skema penguatan seperti ini, kata Yusman, maka AJB Bumiputera tidak tergantung pada rencana right issue yang dilakukan Evergreen.

Pemilahan aset finansial dan aset properti juga diharapkan membuat lebih efisien beban keuangan, selain juga untuk mendapatkan uang tunai. Oleh karena itu, PT Bumiputera Properti Investama akan membeli aset-aset properti milik tiga anak perusahaan AJB Bumiputera senilai Rp3,2 triliun.

Sebagai bagian dari restrukturisasi Bumiputera, Pengelola Statuter Bumiputera juga mengundang PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) untuk mengakuisisi. Namun kabarnya Bank BNI dan Bank BRI tidak tertarik karena melihat rumitnya persoalan yang dialami Bumiputera.

Pertimbangan lain, Bank BNI sudah memiliki anak perusahaan asuransi, yakni PT BNI Life Insurance yang sangat sehat. Bahkan BNI Life memiliki kemitraan strategis dengan raksasa asuransi dari Jepang, Sumitomo Life. Sumitomo Life diketahui membeli 40% saham BNI Life seharga Rp4,2 triliun.

Sementara Bank BRI beralasan baru saja mengakuisisi PT Asuransi Jiwa Bringin Life Sejahtera (Bringin Life) yang semula menginduk ke Dana Pensiun BRI. Jadi harapan dari Bank BNI maupun Bank BRI untuk mengakuisisi sebagian saham Bumiputera tak bisa direalisasi.

Yang menyebabkan sulitnya investor masuk ke AJB Bumiputera adalah karena badan hukum asuransi itu adalah mutual (usaha bersama). Dimana setiap pemegang polis adalah sekaligus pemegang saham, artinya pemegang saham Bumiputera saat ini sekitar 5,8 juta. Bagaimana mekanis mendapat persetujuan 5,8 juta pemegang saham jika saham Bumiputera mau dijual.

Itu sebabnya, lewat pembentukan anak-anak perusahaan berupa PT sedikit banyak akan menjadi solusi dari rumitnya persoalan Bumputera. AJB Bumiputera sendiri tetap eksis sebagai holding pasif, tak bisa menerbitkan polis baru juga tak akan dijual kepada siapapun.

Akankah restrukturisasi AJB Bumiputera berjalan mulus? Semua sangat tergantung pada seberapa menarik tawaran yang diberikan kepada calon investor. Kalau yang nampak nyata beban polis Rp20 triliun, tentu tidak menarik.

Namun, nama besar Bumiputera dan custome based 5,8 juta nasabah, adalah dua aset yang patut dipertimbangkan. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here