AJB Bumiputera 1912, Jatuh Bangun Industri Asuransi (3)

1
233
AJB Bumiputera 1912 masih menunggu inverstor untuk mengguyur modal atas negatif spread aset dan kewajiban sebesar Rp20 triliun

Nusantara.news, Jakarta –  AJB Bumiputera 1912 merupakan perusahaan asuransi tertua di tanah air, tahun ini memasuki usianya yang ke 105 tahun. Selama itu Bumiputera telah melewati berbagai krisis 1948, 1956, 1989, 2008, dan 2012, serta 2016. Terakhir, pada 2016, Bumiputera benar-benar terhuyung dan nyaris tak mampu mengatasi masalah selisih antara aset dan kewajibannya yang telah mencapai Rp20 triliun.

Salah satu upaya yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mneyehatkan AJB Bumiputera 1912  adalah melakukan financial engineering melalui PT Evergreen Invesco Tbk, sebuah emiten dengan kode saham GREN.

Evergreen adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan impor. Kelebihan perusahaan ini adalah sudah tercatat (listed) di Bursa Efek Indonesia sejak Juli 2010.

Antara Evergreen dengan AJB Bumiputera sudah ada hubungan. Pada prospektus Evergreen tercatat bahwa pada tanggal 23 Oktober 2016, AJB Bumiputera melakukan penjualan Bumiputera 1912 kepada PT Pacific Multi Industri (PMI) yang merupakan anak usaha dari Evergreen. Sehingga perjanjian utang AJB Bumiputera kepada anak usaha Bumiputera 1912 beralih ke PMI. Ibarat katak mengakuisisi kerbau, perusahaan kecil mengakuisisi raksasa asuransi bermasalah.

Setelah itu, Evergreen mengajukan pernyataan efektif ke OJK untuk melakukan penerbitan saham baru melalui skema right issue dengan target dana perolehan sekitar Rp30 triliun untuk membayar kesepakatan utang itu. AJB Bumiputera disebut sebagai pembeli siaga.

Natural Crystal Holdings selaku pemegang saham utama Evergreen dengan komposisi 53,26% per Oktober 2016 menyatakan tidak ingin mengambil right yang dimiliki. Sehingga jika tidak ada investor lain yang membeli right Evergreen, praktis AJB Bumiputera yang akan menguasai Evergreen.

Saat ini, pemegang saham mayoritas Evergreen adalah perusahaan cangkang di British Virgin Island yaitu Natural Chrystal Holding Inc, dengan kepemilikan saham mencapai 53,26%. Selebihnya, sebesar 40,52% saham dimiliki publik, dan 6,22% saham dimiliki First Venture Limited. Jadi Evergreen tak ubahnya seperti paper company.

Artinya mekanisme ini dapat dikatakan merupakan aksi backdoor listing (pembelian saham perusahaan Tbk oleh perusahaan non Tbk) AJB Bumiputera agar dapat tercatat di bursa saham dengan jalan lebih cepat. Manfaat yang diperoleh yakni kemudahan AJB Bumiputera jika akan mencari tambahan modal di masa mendatang.

Bila disetujui pemegang saham, induk usaha perusahaan asuransi baru PT Asuransi Jiwa Bumiputera ini bakal menerbitkan sebanyak 50 miliar saham baru dengan efek dilusi mencapai 91,4%. Rights issue tersebut dilakukan pada Mei 2017.

Rencananya, dana dari hasil hajatan itu bakal digunakan, di antaranya untuk pengembangan usaha anak perusahaan. “Pengembangan usaha perusahaan anak dan/atau pembayaran kembali pembiayaan yang diperoleh dari pihak ketiga,” kata manajemen Evergreen dalam surat pengumuman kepada Bursa Efek Indonesia.

Sayangnya, belum ada penjelasan mengenai besaran nilai rights issue tersebut. Namun, jika mengacu harga saham Evergreen sebesar Rp200 per saham dan jumlah saham baru yang diterbitkan sebanyak 50 miliar, maka rights issue tersebut berpotensi meraup dana Rp10 triliun. Bukan Rp30 triliun seperti digembar-gemborkan di awal.

Perusahaan menyatakan hasil rights issue akan digunakan untuk membayar kewajibannya kepada AJB Bumiputera yang tengah dilanda persoalan keuangan. Kewajiban itu muncul setelah Evergreen, melalui anak usahanya yaitu PT Pacific Multi Industri, mengakuisisi anak usaha AJB Bumiputera yaitu PT Bumiputera Sembilan Belas Dua Belas (B1912).

Di bawah naungan B1912 terdapat tiga anak usaha, yakni PT Bumiputera Investama Indonesia (BII), PT Bumiputera Properti Indonesia (BPI), dan PT Asuransi Jiwa Bumiputera.

Belakangan, rights issue batal meski Evergreen sempat mengubah prospektus dengan merevisi nilainya menjadi Rp10,3 triliun. Penyebab pembatalan adalah sejumlah investor yang dijajaki akhirnya mengurungkan niatnya.

Batalnya rights issue juga lantaran adanya investor yang berniat melakukan investasi langsung. Belakangan diketahui, investor tersebut adalah konsorsium Erick Thohir yang mengakuisisi cicit usaha Evergreen, yaitu PT Asuransi Jiwa Bumiputera.

Tapi kalau melihat kecilnya investasi langsung Erick Tohir yang hanya Rp2 triliun, sementara kebutuhan dana riilnya adalah Rp30 triliun, maka bisa diduga kuat dana itu hanya untuk memenuhi likuiditas saat itu. Dimana kewajiban polis Bumiputera yang jatuh tempo rerata per tahun sebesar Rp5 triliun, sedangkan pendapatan premi Bumiputera sepanjang tahun terus menurun dengan angka terakhir Rp2,5 triliun.

Pendek kata, belum ada calon investor strategis yang siap masuk ke Bumiputera hingga saat ini. Kalaupun pernah ada Erick Tohir masuk, niatnya tidak untuk menyelamatkan Bumiputera sungguh-sungguh. Langkah itu dilakukan sebatas pancingan agar ada investor besar sungguhan yang masuk dan mereka bisa deal dengan cover Erick Tohir.

Bumiputera, harus diakui dari segi nama dan jumlah nasabah 5,8 juta adalah perusahaan yang kuat dan memiliki sejarah panjang. Namun secara operasional, telah jauh tertinggal dibandingkan perusaan asuransi lain, terutama perusahaan asing seperti Prudential, Manulife, Allianz.

Akan kah nasib 5,8 juta nasabah ritel dan 25 korporasi tertolong? Inilah beban berat yang harus dipikul Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru di bawah pimpinan Wimboh Santoso. []

 

 

1 KOMENTAR

  1. Mantap,Pak analisanya tentang Evergreen-AJB, kebetulan saya juga mengikuti terus perkembangan Backdoor listing AJB-Right Issue Evergreeen Invesco. Salam Sejahtera,Pak. Cheers..

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here