Akankah Garuda Menapaki Rekam Jejak Merpati?

1
621
Akankah nasib PT Garuda Indonesia Tbk mengikuti nasib PT Merpati Nusantara yang harus berhenti operasi karena dirundung masalah utang dan kinerja buruk?

Nusantara.news, Jakarta – Maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia Tbk makin limbung, kinerja operasional, keuangan dan penurunan jumlah penerbangan menurun. Apakah karena salah kelola atau limbung di tengah persaingan yang makin keras?

Garuda, merupakan maskapai yang dulu sangat dibanggakan, ada kebanggaan ketika terbang bersamanya. Bahkan kalau boleh sedikit angkuh, Garuda adalah puncak kenikmatan penerbangan. Itulah kesan dan fakta yang didapat dimasa lalu.

Tapi kini situasinya berubah. Kini kinerja operasional terus menurun, kinerja keuangan makin memburuk, jadwal penerbangan tertunda atau dibatalkan semakin tinggi. Sampai-sampai para pilot dan karyawan Garuda malu melihat kenyataan seperti ini.

Itu sebabnya, ribuan pilot Garuda  protes terhadap kondisi perusahaan saat ini. Ketua umum Serikat Karyawan Garuda (Sekarga) Ahmad Irfan Nasution menjelaskan, dari segi operasional tingkat keterlambatan penerbangan dan bahkan pembatalan penerbangan sejak November 2017 hingga hari ini semakin tinggi.

Termasuk dari segi kinerja keuangan, menurut dia, semakin buruk. Hal ini tergambar dari kondisi keuangan Garuda semakin menurun dan tergambar dari net loss atau rugi bersih pada 2017 yang naik signifikan yakni sebesar US$213,38 juta (ekuivalen Rp2,96 triliun) dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya US$9,36 juta (ekuivalen Rp130,10 miiliar).

Berdasarkan laporan keuangan Garuda per 31 Desember 2017 tercatat total aset Garuda sebesar US$3,76 miliar (ekuivalen Rp52,26 triliun) atau naik tipis 0,53% dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar US$3,74 miliar (ekuivalen Rp51,99 triliun).

Sementara jumlah utang jangka pendek Garuda pada periode yang sama meningkat 23,07% dari US$1,56 miliar (ekuivalen Rp21,68 triliun) menjadi US$1,92 miliar (ekuivalen Rp26,69 triliun). Sedangkan utang jangka panjang menurun dari US$1,16 miliar (ekuivalen Rp16,12 triliun) menjadi US$903,97 juta (ekuivalen Rp12,57 triliun).

Jumlah pendapatan usaha pada 2017 tercatat sebesar US$3,40 miliar (ekuivalen Rp47,26 triliun)) atau naik 3,66% jika dibandingkan pada 2016 yang sebesar US$3,28 miliar (ekuivalen Rp45,59 triliun). Sementara beban usaha naik 11,87% dari US$3,79 miliar (ekuivalen Rp52,68 triliun) menjadi US$4,24 miliar (ekuivalen Rp58,94 triliun).

Kenaikan tertinggi terjadi pada beban operasional penerbangan dari US$2,19 miliar menjadi US$2,58 miliar. Termasuk beban pemeliharaan dan perbaikan naik dari US$393,31 juta menjadi US$429,36 juta.

Berbeda tipis dengan laporan pilot dan karyawan Garuda, laporan keuangan audited Garuda menyebutkan, rugi bersih Garuda pada 2017 tercatat sebesar US$155,37 juta (ekuivalen Rp2,16 triliun) atau melonjak dibandingkan rugi bersih tahun sebelumnya sebesar US$59,17 juta (ekuivalen Rp822,46 miliar).

Sementara periode Mei—Oktober 2018, Garuda dikabarkan membatalkan 42 rute penerbangan dengan alasan tingkat teterisian pesawat di bawah 60%. Ke-42 rute penerbangan itu terdiri dari 38 penerbangan domestik dan 4 penerbangan internasional. Hal ini tentu saja memangkas potensi kue ekonomi yang bakal diraup Garuda sepanjang 2018.

Irfan juga menyindir kinerja saham Garuda yang juga makin terpuruk. Saat dicatatkan (innitial public offering–IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham Garuda diperdagangkan oversubscribed di level Rp750 per lembar saham. Saat ini saham Garuda hanya tersisa Rp286 per lembar saham di lantai bursa.

Menurut Irfan, penurunan kinerja operasional dan kinerja keuangan ini sebagai cerminan kegagalan manajemen Garuda, termasuk dalam penjadwalan kru. Sehingga adanya pembatalan dan penundaan penerbangan, adanya jabatan direktur kargo yang tidak dibutuhkan.

Karena itu Sekarga meminta kepada Presiden Joko Widodo, termasuk Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang mewakili pemegang saham segera merestrukturisasi direksi Garuda. Terutama Direktur Kargo yang dianggap tidak dibutuhkan dan Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) yang membuat kebijakan yang bertentangan dengan bertentangan dengan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tanpa berunding dengan pihak pekerja dengan meniadakan antar jemput pilot Garuda.

“Kami beri waktu 30 hari kerja, jika tuntutan kami tidak dipenuhi, 1.370 pilot yang tergabung dalam Asosiasi Pilot Garuda akan melakukan mogok kerja, dan ini tentu akan berdampak signifikan pada penerbangan,” jelas Irfan kepada media kemarin.

Mogok kerja itu dilakukan karyawan dan pilot Garuda lantaran mereka khawatir kalau-kalau nasib Garuda akan mirip-mirip dengan Merpati Airlines Indonesia. Merpati harus berhenti operasi lantaran kinerja operasional, kinerja keuangan, dan kinerja manajemen yang buruk.

Direksi Maskapai Garuda Indonesia membuka pintu dialog terkait ancaman mogok kerja yang akan dilakukan karyawan Garuda yang tergabung dalam serikat bersama. Asosiasi Pilot Garuda dan serikat karyawan Garuda. Ancaman mogok kerja dilakukan dalam menyikapi kondisi operasional dan keuangan yang mengakibatkan perusahaan plat merah ini merugi.

Situasi buruk Garuda hari ini memang mirip-mirip dengan situasi Merpati pada saat menjelang berhenti operasi. Namun sebagai warga negara Indonesia, kita berharap hal itu tak terjadi, sepanjang pemegang saham segera mengambil keputusan yang tepat untuk menyelamatkan Garuda.

Kesalahan kelola Garuda dimasa lalu, yakni memborong pesawat-pesawat berbadan besar untuk rute-rute internasional sehingga tidak kompetitif di hadapan maskapai global, sehingga menimbulkan beban utang yang besar pada keuangan Garuda.

Garuda masih butuh tetap di udara, perkara ada masalah yang berkecamuk di internal perseroan sehingga secara kinerja keuangan lebih besar pasak daripada tiang, maka itulah tantangan manajemen hari ini. Perlu keputusan cepat dan akurat untuk menyelamatkan Garuda[]

1 KOMENTAR

  1. selamatkan garuda jangan seperti merpati, manajemen diperbaiki serta rute penerbangan diperluas, sehingga garuda penerbangan ternyaman di udara

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here