Akar Semangat Nasionalisme Santri dan Ulama

0
194
Ilustrasi

Nusantara.news, Surabaya – Momentum perayaan Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, di berbagai wilayah di Indonesia. Perayaan tersebut di resmi ditetapkan oleh pemerintah melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015. Alasan dibalik ditetapkannya Hari Santri Nasional tersebut memiliki alasan dan latar belakang yang panjang.

Perayaan Hari Santri Nasional tersebut merupakan sebuah simbolik dari persatuan para santri untuk menumbuhkan semangat para santri dalam memperjuangkan bangsa dan negara.

Pengasuh Ponpes Babussalam Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang, KH Thoriq Darwis bin Ziyad yang merupakan salah satu pencetus Hari Santri Nasional mengungkapkan makna Hari Santri Nasional, mengingatkan resolusi jihad para ulama dan santri kala itu melawan penjajah, tepatnya pada 22 Oktober 1945.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa gelaran Hari Santri Nasional menjadi ajang  persatuan santri-santri yang notabene ada diberbagai penjuru daerah di Indonesia. “Rasa persatuan tersebut yang nantinya akan mempuk eratnya tali persaudaraan dan sillaturahmi,” jelasnya.

Pihaknya mengutarakan bahwa pesantren merupakan tempat menyemai Nasionalisme, kecintaan akan kebangsaan. “Tidak hanya di sekolah-sekolah formal saja, namun di pesantren juga di tanamkan semangat nasionalisme, kemanusiaan dan keagamaan. Jadi lebih kompleks seharusnya.” ujar pria yang akrab disapa Gus Thoriq tersebut.

Pesantren dan Semangat Nasionalisme Religius

Institusi pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam di Jawa, memiliki peran yang sangat penting dalam membangun gerakan yang bersifat keagamaan (religius). Namun, di pesantren tidak hanya sekedar menjadi tempat pendidikan, namun juga menjadi tempat pembinaan pemimpin agama yang selanjutnya sanggup mempengaruhi dan memimpin beberapa gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Melalui pesantren, dahulu para ulama menyatukan masyarakat Islam pedesaan untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda di beberapa daerah. Para ulama  dan santri pesantren pun juga ikut berjuang melalui perlawanan kultural melalui penguatan keilmuan dan membangun jaringan antar ulama-santri-masyarakat. Setiap pengajian diiringi dakwah untuk membangkitkan semangat masyarakat yang kala itu tertindas oleh penjajah.

Oleh karena itu, pesantren kala itu sebagai tempat penguatan keilmuan dan basis kekuatan untuk melawan penjajah. Maka, dapat dikatakan bahwa nasionalisme kyai dan santri di lingkungan pesantren tumbuh, yang kemudian menanamkan semangat juang masyarakat melawan penjajah.

Hingga kala itu, santri dan ulama Nadhlatul Ulama (NU) memeiliki lagu perjuangan yakni “Mars Hubbul-Wathan” arab yang diciptakan oleh KH A. Wahab Chasbulllah (salah seorang kyai pendiri Nahdlatul ‘Ulama) pada tahun 1934. Hal tersebut merupakan wujud dari semangat nasionalisme para ulama dan santri.

Lagu yang sangat popular di lingkungan kyai-kyai dan santri-santri pesantren, dan berhasil membangkitkan semangat perjuangan masyarakat yang dipelopori kyai dan santri Nahdlatul Ulama untuk melawan penjajah.

Pesantren, ulama dan santrinya memiliki pengaruh besar menanamkan nasionalisme Indonesia kemasayarakat,  Dr. Setia Budi (E. FE. Douwes Dekker), menyatakan bahwa jika tidak karena pengaruh dan didikan agama Islam maka patriotisme bangsa Indonesia tidak akan sehebat seperti dalam sejarahnya hingga mencapai kemerdekaannya.

Para Ulama Pembela Tanah Air

Dalam sejarah perjuangan pendirian Republik Indonesia, tidak terlepas dari peran para ulama. Hal tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan antara perjuangan kemerdekaan dan peran para ulama. Tak terhitung beberapa ulama ikut bersama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia

Salah satunya yakni, Syekh Yusuf Al-Makassari (1627-1629) ulama kesohor kelahiran Gowa, bukan hanya hebat mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga sebagai pemimpin pasukan tempur melawan Belanda.

Seorang ulama, tidak hanya dikatakan pejuang jika ia turun gunung menghunus pedang melawan penjajah, tapi mengobarkan api jihad kepada segenap ummat Islam yang tertindas oleh bangsa penjajah adalah perjuangan yang tidak bisa diremehkan. Inilah yang terjadi pada diri seorang ulama Nusantara lainnya.

Syekh Abd Shamad Al-Palembani (1704-1789). Seorang pahlawan asal Palembang, Sumatra Selatan yang menulis kitab untuk mengobarkan semangat jihad bangsanya dengan judul, Nashīẖah al-Muslim wa-Tadzkirah al-Mu’min fī-Fadhā’il al-Jihād fi-Sabīlillāh wa-Karāamah al-Mujāhidīn fi Sabīlillāh.

Dalam kitab tersebut, Al-Palembani menjelaskan bahwa wajib hukumnya bagi ummat Islam untuk melakukan jihād fī sabilillāh melawan para penjajah kafir yang menindas masyarakat. Melalui berbagai karya Al-Palembani mengenai jihad, pecahlah Perang Aceh yang panjang melawan Belanda, antara tahun 1873 hingga awal abad ke-20.

Selain itu, KH Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis merupakan salah satu tokoh ulama yang berpengaruh dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Ia dan istrinya menjadi pelopor gerakan dakwah islam yang kini menjadi salah satu Ormas terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah.

KH Ahmad Dahlan (Sumber: Wiki Image)

Peran Muhamadiyah dalam turut serta berjuang menegakkan bangsa Indonesia sangat kompleks, mulai dari yang bergerak dalam bidang politik, sosial budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Hingga sampai menganjurkan agar para wanita ikut mendirikan dapur umum untuk membantu tentara yang sedang berjuang di garis depan medan pertempuran.

Adapun Haji Mohamad Misbach yang lebih dikenal dengan Haji Misbach atau Haji Merah (Surakarta, 1876–1926) ia merupakan ulama menggabungkan perjuangan Islam dengan semangat kerakyatan dalam nilai komunisme.

Dalam perjuangannya ia melawan pemerintahan kolonial Belanda kala itu memobilisir santri dan rakyat untuk bebas dari belenggu penindasan penjajah. Haji Misbach menyatakan kepada setiap kaum pergerakan rakyat jangan takut dengan hukuman penjara dan pembuangan oleh pemerintah kolonial, serta mencontoh perjuangan Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan kesulitan, dan bahaya.

Haji Misbach (Sumber: Medan Moeslimin)

Banyak contoh kasus menunjukkan bahwa ulama berperang penting dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah yang merupakan musuh agama dan negara. Penerapan tradisi ini memantik pembangkangan dari para kiai-santri di seluruh Nusantara. Salah satu bentuk pembangkangan itu dilakukan oleh Kiai Hasyim Asy’ari Jombang dan Kiai Mas Mansur Ndresmo Surabaya.

Kedua tokoh tersebut penting dalam konteks tulisan ini setidaknya keduanya sama-sama tokoh pesantren di satu sisi dan keduanya juga akhirnya di penjara oleh tentara Jepang di Kalisosok Surabaya dalam satu sel di sisi yang berbeda.

Siksaan demi siksaan diterima oleh para pembangkang, termasuk dialami oleh Kiai Mas Mansur. Konon siksaan dilakukan oleh tentara Jepang kepada Kiai Mas Mansur dengan tidak memberikan makan selama enam bulan di sel penjara. Ini dilakukan sebagai bentuk komitmen Kiai Mas Mansur kepada bangsa.

Dirinya meyakini bahwa tunduk kepada penjajah dengan mengikuti tradisi Seikerei berarti meng-iyakan terhadap kehadiran penjajah Jepang di negeri ini, apalagi dalam perspektif aqidah Islam ketertundukan kepada selain Allah SWT adalah dosa besar, untuk tidak mengatakan kufur.

Banyak tokoh-tokoh pesantren yang mencoba merayu agar Kiai Mas Mansur sedikit bersikap lunak, termasuk kiai-kiai se-Ndresmo Surabaya. Tapi, itulah tekad Kiai Mas Mansur, sekalipun ada riwayat yang menyebutkan bahwa Kiai Mas Mansur selama di penjara oleh tentang Jepang, tapi dirinya tetap mengisi rutinitas pengajian kitab kuning bersama para santri di pesantren.

Bahkan, Kiai Hasyim Asy’ari, teman satu sel dengan Kiai Mas Mansur, ketika dijemput oleh putranya Kiai Wahid Hasyim untuk pulang berkat lobi-lobi seluruh kiai pesantren se-Jawa dan Madura, sempat terjadi dialog.

Keteguhan Kiai Mas Mansur terus tidak berubah dan tidak menyerah kepada tentara Jepang, sembari ia tetap istiqamah menggelorakan anti penjajah kepada mereka yang menjenguknya. Inilah yang menjadi sebab pihak Jepang mengambil jalan pintas untuk membunuh Kiai Mas Mansur, demi stabilitas dan kepentingan Jepang. Dengan begitu, akhirnya Kiai Mas Mansur benar-benar dibunuh di penjara oleh tentara Jepang dan dimakamkan di makam para sesepuh pesantren Ndresmo, Surabaya.

Selain itu, adapun Haji Samanhudi adalah santri di Pesantren Buntet Cirebon dan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah seorang keturunan dari Kyai Kasan Besari, Pesantren Tegalsari Ponorogo yang merupakan salah satu ulama pejuang bangsa.

HOS Tjokroaminoto

HOS Tjokroaminoto yang dikenal sebagai bapak Ideologis bangsa, dimana menempa murid-muridnya menjadi pejuang kemerdekaan, dengan berbagai sekte pandangan dan ideologis yang berbeda.

Salah satunya muridnya yakni sang proklamator bangsa, Presiden pertama Repubik Indonesia, Ir. Soekarno yang merupakan murid atau santri dari HOS Tjokroaminoto, dengan pandangan dan semangat nasionalismenya yang merupakan pelopor pejuang dalam meraih kemerdekaan bangsa.

Perlawanan terhadap para kolonialisme terus-menerus dilancarkan oleh ummat Islam Indonesia dengan semangat dan panduan konsep jihad yang telah dirumuskan para ulama. Dari pencapaian kemerdekaan hingga setelah Indonesia merdeka pun, upaya mempertahankan kemerdekaan tetap dilakukan dengan semangat dan panduan yang sama.

Pendirian Negara dan Persatuan Nasionalisme

Perbedaan pendapat pada perumusan dasar bangsa terkai syarat syariat Islam namun, meliht  pnenduduk indonesia tidak semuanya beraga islam KH Wahid Hasy9m dan Ki Bagus hadi Kuumo tidak memakskan  pencantuman kalusul syariat islam.

persatuan nasional yang kuat adalah hal yang paling dibutuhkan negeri ini. Ceramah dan pidato Kiai Wahid juga terus meneguhkan pentingnya nasionalisme ini, dan menegaskan bahwa Republik Indonesia bukanlah negara Islam. Pada sebuah pidato di tahun 1951, sebagaimana ditulis H. Aboebakar Atjeh dalam Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasjim, Kiai Wahid menandaskan bahwa “pemerintahan Indonesia bukanlah pemerintahan Islam, negara Republik Indonesia bukanlah negara Islam.”

Resolusi Jihad

Pembelaan nasionalisme oleh santri dan ulama jelas terlihat dalam Resolusi Jihad yang kala itu di gerakan oleh Nahdlatul Ulama (NU). Ulama-ulama NU menanggapi usaha kembalinya Belanda untuk menjajah republik dengan menggelar rapat besar di Surabaya, 21-22 Oktober 1945.

NU memutuskan untuk membela mati-matian Republik Indonesia yang sudah diproklamasikan kemerdekaannya dua bulan sebelumnya. Maka, lahirlah seruan Resolusi Jihad kala itu. KH. Hasyim Asy’ari (1872-1947), Pemimpin NU kala itu mengeluarkan fatwa tentang jihad. Isi Resolusi Jihad yang diputuskan dalam rapat ulama se-Jawa Madura kala itu berisi:

  • Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan;
  • Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan, meskipun meminta pengorbanan harta dan jiwa;
  • Musuh-musuh Republik Indonesia, terutama Belanda yang datang dengan membonceng tugas-tugas tentara sekutu (Amerika-Inggris) dalam hal tawanan perang bangsa Jepang, tentulah akan menggunakan kesempatan politik militer untuk kembali menjajah Indonesia;
  • Ummat Islam, terutama warga NU, wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia;
  • Kewajiban tersebut adalah ‘jihad’ menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam (fardhu ‘ain) yang berada dalam radius 94 km.

Nasionalisme yang dijunjung ulama-santri kala itu, yakni nasionalisme berbasis cinta, hubbul wathan, bukan superioritas. Lebih jauh, nasionalisme yang berdasar pada persaudaraan, ukhuwwah.

Bentuk ukhuwwah itu adalah ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. ukhuwwah islamiyah adalah ikatan persaudaraan yang didasarkan pada kesamaan identitas sebagai sesama pemeluk Islam.

KH Hasyim Asyari

ukhuwwah wathaniyah adalah bentuk persaudaraan yang didasarkan pada kesamaan Tanah Air. Ukhuwwah wathaniyah melampaui batas-batas agama, kepercayaan atau suku. Sedangkan ukhuwah basyariyah adalah bentuk solidaritas sesama umat manusia, apa pun identitas agama, bangsa dan negaranya.

Ditetapkaannya fatwa jihad fi sabilillah dan Resolusi Jihad tersebut mempertegas jawaban atas pertanyaan Presiden Sukarno yang sebelumnya menemui KH. Hasyim Asy’ari untuk menanyakan tentang hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

Waktu itu KH. Hasyim Asy’ari memberi jawaban tegas bahwa bagi umat Islam Indonesia hukumnya fardlu ‘ain (wajib) untuk membela tanah airnya dari bahaya dan ancaman kekuatan asing yang dzholim.

Pada kesempatan itu KH Hasyim Asy’ari juga mengingatkan kepada Bung Tomo senantiasa mengagungkan Allah dalam setiap pidatonya. Karena itu, kalimat “Allahu Akbar” dan “Merdeka atau Mati Syahid” merupakan semboyan yang sering dikumandangkan melalui corong Radio Pemberontak.

Semangat juang nasionalisme para ulama dan santri, berakar pada  persamaan nasib yakni tertindas oleh penjajah membuat para kyai dan santri turn tangan dan ambil peran untuk menciptakan kondisi yang adil, makmur dan sejahtera, bebas dari penjajah yang menindas dan menyengsarakan masyarakat kala itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here