Akhirnya, AS Bantu Militer Filipina Gempur Teroris Marawi

0
199
Tentara AS membantu militer Filipina setelah 13 marinir Filipina tewas dalam pertempuran Jumat, 9 Juni lalu.

Nusantara.news, Marawi Militer Filipina atau yang dikenal dengan Armed Forces of the Philippines (AFP) akhirnya mendapat bantuan militer dari Amerika Serikat untuk meredam serangan teroris Marawi, Filipima Selatan. Bantuan diberikan di tengah hubungan antara Filipina dan AS yang sedang kurang harmonis, setelah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte kerap dikritik oleh AS terkait kebijakannya menembaki para pengedar narkoba.

“Pasukan khusus Amerika Serikat memberikan dukungan kepada militer Filipina yang berjuang mengusir gerilyawan Islam di kota Marawi,” demikian pernyataan kedutaan besar AS di Filipina pada Sabtu (10/6), sebagaimana dilansir The Manila Times, setelah 13 Marinir Filipina tewas dalam pertempuran di jalanan kota Marawi yang berlangsung selama 14 jam sehari sebelumnya.

Pengumuman bantuan AS tersebut terjadi di tengah Presiden Rodrigo Duterte sedang berusaha mengurangi ketergantungan Filipina terhadap AS dan membangun hubungan baru yang lebih dekat dengan China dan Rusia.

Pertempuran pada Jumat itu merupakan diantara pertempuran terberat, menurut wartawan Agence France-Presse di Marawi, dengan angkatan udara yang mendukung pasukan darat melakukan pemboman terus menerus yang menghancurkan kota tersebut.

Saat pertempuran semakin intensif itulah, kedutaan besar AS di Manila mengatakan bahwa pasukan AS memberikan bantuan kepada tentara Filipina, meskipun menolak memberi rincian tentang bantuan, untuk alasan keamanan.

“Atas permintaan pemerintah Filipina, pasukan operasi khusus AS membantu militer Filipina untuk operasi yang sedang berlangsung di Marawi,” kata kedutaan besar AS dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara Divisi Infanteri 1 Angkatan Darat Filipina Letnan Kolonel Jo-ar Herrera mengkonfirmasi bantuan AS tersebut, dan menambahkan bahwa pasukan khusus tersebut tidak ikut berperang, tapi memberikan dukungan teknis.

Dia mengatakan, dengan tewasnya 13 tentara pada Jumat, telah menambah jumlah tentara pemerintah yang terbunuh dalam konflik tersebut menjadi 58 orang.

“Ada baku tembak hebat, pertempuran senjata dari rumah ke rumah,” kata Herrera dalam sebuah konferensi pers di Marawi.

Sedikitnya 20 warga sipil dan sekitar 138 gerilyawan juga tewas dalam pertempuran Jumat, kata pihak pemerintah.

Milisi bersenjata kelompok Maute sejauh ini telah bertahan lebih dari dua minggu dari serangan udara dan darat oleh pasukan keamanan Filipina. Sekitar 2.000 orang diyakini terjebak di daerah konflik tersebut.

Herrera mengatakan, taktik kelompok militan yang kerap menggunakan perisai sipil membuat lebih sulit bagi pasukan keamanan untuk melakukan serangan tanpa menimbulkan korban sipil dan merusak tempat ibadah.

“Kelompok teroris menggunakan masjid, mereka bercokol di sana. Mereka juga menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia,” kata Herrera.

Kolonel Edgard Arevalo, kepala urusan kesehatan AFP mengatakan, bahwa pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok Maute yang didukung IS pada Jumat lalu terjadi di sekitar desa Lilot Madaya.

“Laporan awal menunjukkan bahwa baku tembak terjadi saat Marinir menyerang posisi musuh yang dilaporkan sekitar pukul 3.30 pagi, dan baku tembak terus berlanjut hingga sekitar pukul 5 sore,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, bantuan militer dari AS mendapat protes dari politisi Filipina. Politisi Partai sayap kiri Bayan Muna, Carlos Zarate mendesak Presiden Filipina Rodrigo Duterte untuk menolak bantuan yang diberikan oleh pasukan AS dalam memberantas pemberontakan teroris Maute di Kota Marawi.

Zarate menolak kehadiran tentara AS di Kota Marawi, dimana pesawat mata-mata AS terlihat membantu pasukan pemerintah, membebaskan kota itu dari kelompok Maute.

Dalam sebuah pernyataan hari Minggu (12/6), alasan Zarate untuk Duterte menolak bantuan AS agar dia konsisten dengan kebijakan luar negeri Filipina yang independen, terutama karena negara tersebut akan memperingati Hari Kemerdekaan pada 12 Juni nanti.

“Pemerintahan Duterte harus menolak dukungan dari AS, karena tidak mencerminkan kebijakan luar negeri independen yang diakui oleh pemerintah, terutama karena kita akan memperingati kemerdekaan Filipina,” kata Zarate.

Zarate mengatakan, dukungan teknis dari pesawat mata-mata AS yang melakukan pengawasan terhadap kota tersebut sangat mencurigakan, apalagi pada saat tentara Filipina hampir mendapatkan kembali kendali penuh atas kota tersebut.

Anggota parlemen dari partai sayap kiri tersebut mengatakan, tampaknya AS sengaja menunda untuk memberi bantuan, akibat “omelan” Duterte terhadap AS, dan kedekatannya dengan rival AS, Rusia dan China.

“Tentu saja Angkatan Bersenjata Filipina mengatakan bahwa pasukan AS hanya memberi dukungan teknis dan intelijen tapi ini sangat mencurigakan, mengingat sebelum serangan Maute/ISIS di Marawi sudah ada tentara AS di kota tersebut, karena AS mereka memiliki sebuah fasilitas militer di sebuah kamp AFP di daerah tersebut,” sebut Zarate.

Lebih lanjut, Zarate khawatir bantuan AS bisa menjadi “dalih” untuk agresi AS dalam pertempuran Filipina melawan terorisme.

“Pertanyaannya apakah tentara AS tahu sebelumnya bahwa akan ada serangan Maute/ISIS tapi membiarkan hal itu terjadi sebagai pembalasan atas retorika anti-AS Presiden Duterte? Apakah mereka sekarang hanya menawarkan dukungan mereka karena sudah hampir berakhir dan mereka ingin  berpura-pura melakukan kampanye anti-teror di Filipina?” Kata Zarate.

Zarate mengatakan, Filipina harus mewaspadai bantuan AS dalam konflik tersebut, terutama mengingat kehadiran tentara AS dalam serangan anti-teror yang dulu gagal di Mamasapano, Maguindanao, pada tahun 2015 yang membunuh teroris internasional Marwan dan 44 anggota Special Action Force (SAF). Bahkan Presiden Duterte sendiri pernah menyebut bahwa serangan Mamasapano yang merusak itu sebagai operasi CIA.

Sementara itu, Presiden Duterte mengatakan pada Minggu (11/6), sebagaimana dilansir Reuters, dia tidak pernah meminta bantuan kepada AS dalam konflik yang sedang berlangsung di kota Marawi, tapi Duterte mengatakan bersyukur jika mendapat bantuan tersebut.

“Saya tidak pernah mendekati orang Amerika untuk meminta bantuan kepada kami, bahkan jika mereka tidak menawarkan bantuan, saya berterima kasih kepada mereka,” kata Presiden Duterte dalam sebuah wawancara di Cagayan de Oro City setelah kunjungannya ke sejumlah tentara yang terluka.

Duterte, di awal masa jabatannya pernah mengancam untuk mencabut kerja sama antara Filipina dan AS setelah dia mengecam mantan Presiden AS Barack Obama karena mengkritik program anti-narkotika. Namun Duterte, setelah terpilihnya Presiden Donald Trump, menyebut pemimpin baru AS itu sebagai “teman”.

Departemen Pertahanan AS, Pentagon, meski tidak permanen, telah hadir di Filipina selama bertahun-tahun. Mereka memiliki 50 sampai 100 pasukan khusus di bagian selatan negara tersebut secara bergiliran. AS menambah pasukannya antara 300 sampai 500 tentara di Filipina untuk membantu mengatasi krisis di kawasan Filipina selatan itu. Tentara itu untuk mendukung pengawasan dan penargetan udara, penyadapan elektronik, bantuan komunikasi dan pelatihan. Sebuah pesawat pengintai Orion AS P-3 juga terlihat di atas kota Marawi pada hari Jumat.

Di antara negara-negara di Asia Tenggara, militer Filipina memang bukan yang terbaik. Sebuah lembaga Global Firepower (GFP) tahun 2015 lalu pernah menganalisis kekuatan militer sebagian besar negara di dunia. Lembaga itu memberi informasi sekitar 100 negara dengan militer terkuat di dunia dengan basis 50 faktor berbeda.

Faktor-faktor yang digunakan misalnya jumlah penduduk, usia warga yang bisa menjadi personel militer, anggaran militer, jumlah peralatan militer, konsumsi BBM, utang luar negeri, dan banyak pengukur lainnya.

Setelah melakukan analisis, lembaga itu menetapkan negara dengan militer terkuat di dunia masih dipegang Amerika Serikat, diikuti Rusia dan China di peringkat kedua dan ketiga. Sementara itu, India dan Inggris menduduki peringkat keempat dan kelima. Negara Asia lain yang menduduki posisi 10 besar adalah Korea Selatan di peringkat ke-7 dan Jepang di peringkat ke-9.

Filipina berada di posisi 40, jauh di bawah Indonesia dengan peringkat ke-12 di bawah Israel (11) dan di atas Australia (13).

Secara militer Indonesia merupakan negara paling kuat di Asia Tenggara. Negara terkuat kedua di Asia Tenggara ditempati Thailand (ke-20), diikuti Vietnam (21), Singapura (26), Malaysia (35), Filipina (40), Myanmar (44), Kamboja (96), dan Laos (117). Selain karakter yang khas tentang milisi bersenjata Filipina, peringkat kekuatan militer di atas juga mungkin menunjukkan kenapa Filipina hingga hari ini belum bisa mengatasi krisis Marawi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here