Akhirnya Trump Siap Memberi Pernyataan di Bawah Sumpah

0
276
Donald Trump yang dilantik menjadi Presiden AS pada 21 Januari 2017 kini terancam bayang-bayang pemakzulan

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk pertama kalinya mengatakan dirinya bersedia menjawab pertanyaan penyelidik di bawah sumpah terkait kasus campur tangan Rusia pada Pemilu 2016 yang memenangkannya.

Trump menegaskan dia “harus melihat ke depan” dan untuk itu dia tunduk kepada saran penasehat hukumnya. Penyidik akan menilai apakah kampanye Trump telah bersekongkol dengan Rusia untuk mempengaruhi pemilihan yang menguntungkannya. Sejauh ini, pernyataan sepihak itu telah ditolak oleh Donald Trump.

Selain itu penyelidik yang bekerja atas amanat Kongres AS dan oleh karenanya tidak bisa diintervensi oleh Gedung Putih itu akan menentukan apakah Trump terbukti melakukan Obstruction Justice atau menghalangi penyelidikan yang juga dianggap sebagai tindakan pelanggaran hukum di AS.

Sebelum Direktur Biro Investigasi Federal (FBI/Federal Bureau of Investigation) James Brien Comey Jr. dipecat dari jabatannya oleh Trump, komunitas intelejen AS sudah mendeteksi dan bahkan menyimpulkan keterlibatan Moskow dalam mempengaruhi suara pemilih di AS untuk mendukung Donald Trump.

Presiden Trump sendiri sebelumnya, meskipun sempat berjanji akan menerima penyelidik dan menjawab di bawah sumpah, enggan bertemu penyelidik karena dirinya berkeyakinan tidak ada kolusi dengan Rusia saat memenangkan Pemilu Presiden AS.

Dalam berbagai kesempatan Trump menyebut penyelidikan atas keterlibatan Rusia itu sebagai “perburuan penyihir” dan “tipuan” dari orang-orang yang ingin melengserkan jabatannya.

Namun pada hari Rabu (24/1) kemarin, di Gedung Putih, Trump menyatakan benar-benar siap menjawab pertanyaan di bawah sumpah kepada penyidik tertinggi. “Tidak ada kolusi sama sekali, tidak ada halangan apapun,” ujarnya kepada wartawan Gedung Putih.

Bentuk Pertanyaan

Tentang bagaimana nantinya Presiden Donald Trump diperiksa, penasehat hukum presiden mengaku telah berbicara dengan tim investigasi yang dipimpin oleh penasehat khusus departemen luar negeri Robert Mueller tentang bentuk wawancara, dan formulir yang mungkin diperlukannya.

Pertanyaan bisa saja dilakukan dalam bentuk tatap muka, secara tertulis, atau kombinasi di antara keduanya. Tentang kapan wawancara akan dimulai, Presiden Trump sendiri menjawab “Kemarin mereka menjawab sekita dua atau tiga minggu ini.”

Saat wartawan bertanya apakah Mueller akan bersikap adil dalam wawancara itu, Trump segera menjawab, “Kami akan mencari tahu, saya harap begitu.”

Sebelumnya Jaksa Agung AS Jeff Session telah diwawancarai oleh penyelidik Mueller selama beberapa jam pada pekan lalu. Jeff Session adalah anggota kabinet dari Presiden Donald Trump yang paling pertama diminai keterangan oleh penyelidik.

Selama penyelidikan berlangsung, paling tidak sudah empat anggota Tim Kampanye Pemenangan Donald Trump sudah didakwa melakukan tindakan kriminal terkait Pemilu Presiden AS 2016 yang diduga melibatkan Rusia. Keempat orang itu masing-masing Michael Flynn, Paul Manafort, Rick Gates dan George Papadopoulos.

Michael Flynn yang pernah menjabat penasehat keamanan nasional presiden telah mengumumkan mengaku bersalah telah berbohong kepada FBI tentang sebuah pertemuan dengan Duta Besar Rusia di Washington di kantornya, Gedung Putih.

Sedangkan Paul Manafort yang pernah menjadi manajer kampanye Donald Trump telah dikenai 12 dakwaan, antara lain kejahatan persekongkolan dan tindak pidana pencucian uang. Dalam kasus pencucian uang, Manafort dituding telah berkomplot dengan rekan bisnisnya Rick Gates.

Pengakuan bersalah karena telah berbohong kepada FBI juga disampaikan oleh penasehat ketiga kampanye Trump, George Papadopoulos.

Di antara keempat mantan orang dekat Trump yang berperkara dengan Tim Penyelidikan Khusus, hanya Manafort dan Rick Gates yang ditahan dan ditangguhkan penahanannya dengan jaminan masing-masing 10 ribu dolar AS dan 5 ribu dolar AS.

Bayang-Bayang Pemakzulan

Peta politik Kongres AS yang dikuasai oleh the Grand Old Party (GOP) alias Partai Republik tidak menjamin Presiden Donald Trump lolos dari ancaman pemakzulan. Bahkan ada sejarahwan AS yang meramalkan, Trump akan dimakzulkan pertengahan tahun ini, atau sebelum terjadinya pemilu sela pada akhir 2018 nanti.

Sejarahwan itu Allan Lichtman dari American University yang sejak 1984 selalu tepat meramalkan siapa calon pemenang Presiden AS. Bahkan saat jajak pendapat lebih mengunggulkan Hillary Clinton sebelum pemilu persiden AS, Lichtman bahkan sudah berani meramalkan untuk kemenangan Trump.

Kini reputasi Lichtman kembali diuji karena dia meramalkan Donald Trump akan dimakzulkan antara bulan Maret hingga Juli 2018. Artinya sebelum terjadinya pemilu sela yang akan mengubah peta politik di Capitol Hill atau gedung parlemen AS pada bulan Oktober nanti. Dalam pemilu sela diramalkan Senator dari Republik akan banyak kehilangan kursi.

Allan Lichtman yang baru update bukunya berjudul “The Case of Impeachment” yang terbit sebelum Donald Trump memecat Direktur FBI James Comey pada April lalu, secara tegas menyebutkan ada bukti kuat Trump melakukan obstruction of justice yang kasus ini pernah dituduhkan kepada Presiden AS Bill Clinton.

Kasus yang dihadapi Trump, jelas Lichtman, jauh lebih serius ketimbang kasus pelecehan seksual yang dituduhkan kepada Bill Clinton. “Ingat ya, kala itu politisi-politisi Republikan (yang berseberangan dengan Clinton) lebih memakai pasal obstruction of justice untuk berusaha melengserkan Bill Clinton,” tuding Lichtman.

Sejarahwan itu berani memastikan Robert Mueller akan menemukan bukti meyakinkan tentang kerjasama illegal antara tim kampanye Trump dengan Rusia yang disebutnya akan terungkap ke publik. “Saya yakin kita ada di puncak gunung es tentang apa yang diketahui penyelidik khusus tentang hubungan antara Trump dan orang-orang Rusia,” papar Lichtman.

“Ada petunjuk kuat bahwa alasan mereka menutup-nutupi semua telepon dari orang yang kemudian menjadi penasihat keamanan nasional kepada orang-orang Rusia adalah demi menutupi kemungkinan quid pro quo (bantuan atau hadiah yang diberikan pihak kedua karena mengharap balasan yang setara dari pihak pertama), yakni orang-orang Rusia membantu kita dan sebagai balasannya kita mencabut sanksi mereka. Mengapa harus menelepon dan mengapa harus berbohong soal itu?”

Lichtman juga mengungkapkan kepada publik sudah melihat bukti kuat adanya obstruction of justice, tetapi terdapat banyak alasan untuk memprediksi adanya dakwaan-dakwaan kriminal yang beberapa di antaranya sangat serius, yang berkaitan dengan keterlibatan Rusia.

“Saya tak ingin terus-terusan bilang kolusi itu bukan kejahatan. Tentu saja bukan, tetapi mendapat sesuatu yang bernilai dari orang asing adalah kejahatan, membantu dan bersekongkol dalam peretasan komputer adalah kejahatan, berunding sebagai orang swasta dengan kekuatan asing yang bermusuhan yang sedang bersengketa adalah kejahatan,” papar Lichtman dengan nada berapi-api.

“Jika ini sudah cukup parah, dan saya banyak dikritik soal itu, saya kira bahkan akan ada dakwaan pengkhianatan (terhadap negara). Lagi pula, Rusia memang sedang memerangi kita, bukan melalui perang dengan bom dan peluru, tetapi dengan serangan siber, serangan online yang dirancang untuk menghancurkan demokrasi,” tandas Lichtman.

Kalau pun Trump bisa membela diri lewat Kongres yang masih dikuasai partainya, maka tahun depan dia harus berhadapan dengan anggota Kongres yang baru terpilih dan kemungkinan besar mayoritas dari Partai Demokrat. Maka tidak mengherankan apabila pemilu sela 2018 nanti disebut sebagai Referendum terhadap Trump.

Karena jabatan presiden AS yang secara resmi disandangnya sejak 21 Januari 2017 bisa saja lepas setelah pemilu sela 2018 nanti.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here