Akibat Pabrik Semen, Ratusan Mata Air di Tuban Terancam ‘Menghilang’

0
514

Nusantara.news, Surabaya –  Progres pembangunan pabrik semen di Tuban, terus berjalan agresif. Keberadaan PT Semen Indonesia dan Holcim ternyata masih belum cukup untuk mengeruk potensi sumber daya alam di kabupaten berjuluk Bumi Para Wali ini. Dalam waktu dekat, 2 pabrik semen baru investasi asing juga akan beroperasi. Dampak lingkungan seperti krisis air bersih pun mulai terlihat.

Data rilis hasil survei Yayasan Pecinta Alam (YPA) Karina Indonesia menyebutkan, dari temuan di 250 titik sumber air, sebagian debitnya mulai menyusut. Kondisi ini diduga akibat eksploitasi air tanah yang ikut menyusut akibat pertambangan batu kapur sebagai bahan baku utamanya yang melimpah di Tuban.

“Lokasi survei kami tersebar di 10 kecamatan dan terdiri dari sekitar 250 sumber air. Sebagian, debitnya sudah mengecil beberapa tahun belakangan,” terang Ketua YPA Karina Indonesia Tuban M Ali Baharuddin, Rabu (22/2/2017). Hasil keterangan warga setempat, tambahnya, perubahan itu terjadi sejak perbukitan kapur dieskploitasi habis-habisan.

Padahal perbukitan kapur selama ini berfungsi menyerap air yang tersimpan jauh di bawah permukaan, mengalir stabil sebagai salah satu ketahanan ekologi di wilayah itu. “Tanah di Tuban sebagian besar pegunungan kapur yang berfungsi menyerap air. Kalau kapur semakin berkurang maka potensi air tanah yang berhasil diserap batu kapur juga akan berkurang,” tuturnya.

Dampak ini, terang Ali diperkirakan akan bertambah parah jika tidak segera diantisipasi pemangku kebijakan. Apalagi, selain Semen Indonesia dan Holcim yang sudah beroperasi masih ada lagi 2 pabrik investasi Cina yang dalam proses pembangunan. “Akan ada dua pabrik lagi dengan investor dari Cina yang akan berdiri di Tuban. Bisa dibayangkan, dua saja sudah mempengaruhi debit mata air, apalagi ada empat pabrik,” sebut Ali.

Ali menyebut salah satu mata air yang terancam berada di sumur Merkudu di Desa Merkawang, Kecamatan Kerek. “Lokasinya tidak jauh dari Holcim dan pabrik semen lain investasi Cina yang akan dibangun. Kalau batu kapur di sekitar sumur Merkudu berkurang ya jelas sumber mata airnya akan berkurang,” ucapnya menambahkan.

Untuk mencegah dampak lebih besar, YPA Karina Indonesia menggandeng KPH Tuban dan wartawan yang tergabung dalam PWI Tuban, menggelar kegiatan reboisasi di sekitar lokasi sumber mata air sumur Merkudu. Sumber air ini sangat vital bagi masyarakat setempat. Kendati terletak di areal Perhutani, namun alirannya dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk pertanian.

Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Tuban Riyanto, sebelumnya menjelaskan usaha mempertahankan mata air yang ada di kawasan hutan di daerahnya anta lain dilakukan dengan tidak melakukan penebangan pohon. Termasuk lokasi pohon jati yang sudah memasuki masa penebangan. “Kita akan tinjau ulang rencana penebangan pohon jati di daerah yang diprotes warga,” ucapnya menegaskan.

Ia berpendapat hutan memang seharusnya tidak ditebang, tetapi dipertahankan untuk dikembangkan sebagai objek wisata. “Kawasan hutan ke depan akan menjadi destinasi wisata, sehingga keberadaannya harus dipertahankan,” katanya menegaskan.

Kawasan perbukitan kapur di Tuban, merupakan bagian dari rentangan peggunungan Kendeng Utara dari Grobogan Pati sampai Gresik. Bukit karst ini kaya akan sumber geologi unik, baik di atas permukaan maupun di bawah permukaan. Namun yang tak kalah penting adalah funsinya sebagai konstruksi alam yang mampu menyimpan cadangan air bawah tanah. Tak hanya untuk wilayah Tuban, manfaatnya juga dirasakan sebagian beasr kawasan pantura dari Lamongan, Gresik hingga ke barat. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here