Akibat Tiga Kelalaian Pemerintah Malaysia, Aisyah Terancam Hukuman Mati

0
339
Warga Vietnam Doan Thi Huong dan warga Indonesia Siti Aisyah yang menjalani sidang pembunuhan Kim Jong Nam, saudara tiri laki-laki pemimpin Korea Utara, dikawal saat mereka meninggalkan Pengadilan Tinggi Shah Alam di pinggiran kota Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (3/10). ANTARA FOTO/REUTERS/Lai Seng Sin/cfo/17

Nusantara,news, Jakarta – Pada persidangan kasus pembunuhan Kim Jung-nam yang juga kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jung-un, pada Kamis (5/10) kemarin, Kepala Pusat Analisis Senjata Kimia Malaysia, Raja Subramaniam bersaksi, dirinya menemukan produk turunan racun VX nerve agent pada baju Siti Aisyah. Saksi menyebut bahwa produk turunan itu berbentuk asam (acid). Demikian seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (5/10/2017).

Selain racun berbahaya itu ditemukan di baju Siti Aisyah, perempuan berkewarganegaraan Indonesia asal Kabupaten Serang, Banten, racun VX dalam bentuk murni dan prekursor juga ditemukan di jaket putih Doan Thi Huong. Produk turunan juga ditemukan pada kuku perempuan asal Vietnam itu.

Dengan demikian, tindakan dua perempuan asal Indonesia dan Vietnam itu memiliki bukti yang kuat membuat terbunuhnya Kim Jung-nam. Sebab jenis racun yang ada pada baju Aisyah serta jaket putih dan kuku Doan Thi Huong juga bersemayam di wajah, mata, pakaian, dan urin korban. Sehingga baik Aisyah maupun Doan sulit berkelit dari keterlibatannya dalam kasus pembunuhan.

Terlebih, jelas Raja Subramaniam, kandungan zat VX merupakan racun paling mematikan. Dengan 10 miligram saja, racun itu mampu memberikan dampak yang fatal. Selain itu, VX sulit dideteksi karena tidak berbau, tidak berwarna, dan mudah dibawa. Cara menghilangkannya juga mudah, sebab hanya perlu membasuh tangannya selama 15 menit.

Untuk membunuh seseorang, lanjut Raja, cukup mengusapkan ke mata atau leher korban. Bukan dengan cara dipercikkan atau disemprot. Sebab VX tidak mudah menguap. Efek racun yang diusap akan terkonsentrasi pada sasaran tanpa perlu khawatir meluas ke orang lain. “Perlu waktu enam hari agar racun VX dapat menguap,” terang Raja.

Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa pada sidang Perdana pada Senin (2/10) lalu, Siti Aisyah dan Doan Thi Huong didakwa mengusapkan racun VX pada wajah Kim Jong-nam, sehingga menyebabkan kakak tiri Kim Jong-un itu tewas.

Tiga Kelalaian

Terlepas dari kesaksian saksi ahli yang dihadirkan jaksa penuntut umum, tapi sesungguhnya ada tiga kelalaian pemerintah Malaysia yang berpengaruh terhadap nasib terdakwa Siti Aisyah dan Doan Thi Huong yang terancam hukuman mati.

Kelalaian itu meliputi : pertama, lolosnya zat berbahaya VX yang dikategorikan sebagai zat pembunuh massal masuk wilayah Malaysia hanya karena Malaysia tidak memiliki alat pendeteksinya. Kelalaian itu diakui sendiri oleh Raja Subramaniam yang dilaporkan di situs Channel News Asia, Kamis (5/10) kemarin.

Racun VX sendiri memang jenis racun yang sulit terdeteksi kecuali menggunakan bantuan peralatan khusus yang sayangnya tidak dimiliki oleh Pemerintah Malaysia. Kalau saja keberadaan racun mematikan itu terdeteksi sejak awal maka jaringan pembunuh yang menyasar Kim Jung-nam bisa dibekuk sejak awal, sekaligus bisa membeberkan masing-masing peran pelaku yang sebagian besar berkewarganegaraan Korea Utara.

Kelalaian kedua pemerintah Malaysia adalah tidak segera mengamankan tempat kejadian perkara (TKP) yang memungkinkan ke-4 warga negara Korea Utara yang belakangan ditemukan dugaan bukti-bukti keterlibatannya melalui kamera CCTV bandara. Padahal, besar kemungkinan ke-4 warga negara Korea Utara itu sebagai aktor utama yang lebih memiliki motivasi untuk membunuh korban ketimbang kedua terdakwa yang mengaku sama sekali tidak mengenal korban.

Baca : Mengungkap Lika-Liku Pembunuhan Kim Jong-nam yang Melibatkan Siti Aisyah

Peran ke-4 warga negara Korea Utara yang hari itu juga pulang ke negaranya terekam jelas dalam kamera CCTV Bandara. Diantaranya adalah Chang yang menunjukkan sasaran program reality show yang disebut Prank sekaligus mengoleskan cairan ke tangannya. Sebelum beraksi, Aisyah tampak sembunyi di balik tiang sambil menelepon.

Dalam kamera CCTV, beberapa detik sebelum Kim Jung-nam melintas, Chang yang mengenakan topi hitam menenteng tas plastik mendekati Aisyah. “Saat itulah Chang mengoleskan cairan yang sudah ada di telapak tangannya ke telapak tangan Siti,”ujar anggota Tim Pendamping Siti Aisyah kepada wartawan.

Masing-masing dari ke-4 warga negara Korea Utara yang langsung pulang ke negaranya itu, pria pertama di dekat Aisyah sibuk menelepon. Pria kedua mengikuti Kim Jung-nam sambil menyeret troli. Pria ketiga terlihat di CCTV sedang nongkrong di Bibik Heritage. Dan pria keempat bernama Chang yang bertopi hitam bertugas memberikan cairan kepada Aisyah.

Sedangkan yang paling fatal, ketiga, adalah keputusan pemerintah Malaysia membarter tiga warga negara Korea Utara yang sebelumnya bersembunyi di kedutaan serta jenasah Kim Jung-nam dengan Sembilan warga negara Malaysia yang disandera di Pyongyang, Korea Utara. Satu diantara warga Korea Utara yang dibarter adalah Ri Ji-u alias James yang berperan merekrut Siti Aisyah pada program reality show “Prank”.

Baca : Siti Aisyah Rentan Dijadikan Tumbal Kasus Pembunuhan Kim Jong-nam

Kepada kantor berita Reuters, Jumat (31/3), Polisi Malaysia mengaku telah memeriksa ketiga tersangka. “Kami telah mendapatkan apapun yang kami inginkan dari mereka. Mereka telah membantu kami dan mereka telah diizinkan meninggalkan Malaysia,”demikian pernyataan resmi Kepala Polisi Malaysia Khalid Abu Bakar sebagaimana dikutip dari kantor berita Reuters.

Pemulangan itu tentu saja disesalkan oleh Direktur Eksekutif Migrant CARE Wahyu Susilo. “Ada dugaan Siti Aisyah akan dijadikan tumbal dalam kasus pembunuhan ini,”tandas adik kandung Penyair Wiji Thukul kepada nusantara.news, Senin (17/4) lalu.

Baca : Siti Aisyah Direkrut untuk Reality Show, Bukan Membunuh

Sebagaimana diberitakan nusantara.news sebelumnya, kisah perekrutan itu dimulai pada Kamis, 5 Januari 2017. Kala itu Aisyah pulang dari tempat kerjanya di dekat Menara Kembar, Petronas, Malaysia. Saat menunggu jemputan GrabCar itu dia dihampiri John, sopir taksi kenalannya. John memberi tahu ada kenalan yang akan memberinya pekerjaan.

Pagi harinya John mengantar Aisyah bertemu Ri Ji-u yang mengaku bernama James, di sebuah mall dekat Menara Kembar Petronas. Siti sendiri mengaku bernama Nindya. Singkat cerita James menawari pekerjaan mengisi acara reality show di televisi bernama Prank. Acaranya adalah acara lucu-lucuan. Aisyah pun sepakat tawaran dengan gaji 400 Ringgit (Rp1,2 juta) sekali tampil itu.

Hingga sebelum terbunuhnya Kim Jung-nam, Siti Aisyah sudah tampil 12 kali dalam acara Prank yang katanya akan disiarkan di televisi. Shooting dilakukan Sembilan kali di tujuh lokasi sekitar Kuala Lumpur, antara lain Bandara Internasional Kuala Lumpur I dan Bandara Internasional Kuala Lumpur II, Pavilion Mall, Mandarin Oriental Hotel, Double Tree Hotel dan KL Central. Ternyata shooting itu hanya modus untuk perencanaan pembunuhan yang di luar sepengetahuan Aisyah.

Memang, Siti dan Doan adalah dua pekerja keras yang bisa saja ditumbalkan atas kasus pembunuhan Kim Jung-nam. Tapi Malaysia lupa, Siti dan Doan adalah dua warga negara dari dua bangsa yang punya reputasi besar mengusir penjajah dengan kekuatan bersenjata. Maka, perlu dipastikan Pemerintah Malaysia tidak bisa berbuat semena-mena terhadap Siti Aisyah yang menjadi korban penipuan untuk kasus pembunuhan.

Tentu saja, sebagai bangsa beradab kita tidak perlu meniru Korea Utara dengan menyandera Warga Negara Malaysia agar pemerintah Malaysia membebaskan Siti Aisyah. Melainkan perlu diplomasi tingkat tinggi agar Pengadilan di Malaysia bertindak adil yang seadil-adilnya, kalau perlu membebaskan Siti Aisyah dan Doan Thi Huong yang faktanya memang korban penipuan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here