Aksi Balasan China Makin Menambah Rumit Perang Dagang

0
61
Setelah Presiden Donald Trump memutuskan menaikan tarif bea masuk barang impor China, kini giliran China menaikan tarif bea masuk barang impor AS. Perang dagang AS-China masih akan berlanjut.

Nusantara.news, Jakarta – Tak terima tarif bea masuk impor produk China ke AS sampai US$200 miliar dinaikkan dari 10% menjadi 25%, China pun membalas menaikan tarif untuk sedikitnya US$60 miliar produk AS dari 10% menjadi 25%. Maka berguncanglah dunia.  

Ini adalah periode ketidakpastian yang tinggi, dimana AS dan China saling bersitegang soal perang dagang. Masing-masing sudah menunjukkan egonya dengan menaikan tarif bea masuk barang impor dari dan ke kedua negara.

AS pada Jumat (10/5) lalu telah menaikkan tarif untuk US$200 miliar produk impor asal China dari 10% menjadi 25%. Aksi balas dari China pun semakin meningkatkan tensi perang dagang di antara dua negara perekonomian terbesar di dunia. Seperti dikutip dari CNN, Selasa (14/5) Negara Tirai Bambu akan meningkatkan tarif untuk setidaknya US$60 miliar produk asal AS per 1 Juni 2019.

Beberapa produk yang akan dikenai tarif di antaranya adalah kapas, permesinan, hingga bagian-bagian pesawat terbang. Setidaknya, terdapat 4.000 produk yang akan dikenai peningkatan tarf dari 10% menjadi 25%.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk kembali meningkatkan tarif impor produk China, lantaran dirinya menilai negeri Tirai Bambu itu telah melanggar komitmen dari negosiasi perdagangan terakhir. Tuduhan yang berakhir dengan aksi menaikkan tarif tersebut semakin menekan Beijing setelah selama beberapa kali negosiasi perdagangan yang gagal membuahkan hasil.

Namun, kenaikan tarif baru ini belum tentu bisa menyudutkan pihak China dan membuat mereka sepakat dengan setiap negosiasi yang ditawarkan oleh AS. Negosiator AS dan CHina mengakhiri negosiasi perdagangan terakhir tanpa ada kesepakatan untuk menyelesaikan perang dagang yang diawali dengan kekhawatiran AS soal akses pasar sekaligus tuduhan pencurian kekayaan intelektual.

Perang dagang antara kedua negara ini pun sudah berlangsung setidaknya sejak tahun lalu. Penasihat ekonomi Presiden Donald Trump Larry Kudlow mengatakan, Presiden Donald Trump sempat mengatakan akan kembali bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada KTT G20 menjelang bulan depan.

China sendiri sadar betul bahwa, bea masuk tambahan yang dilakukan AS kemarin, sangat membahayakan kepentingan kedua negara serta tak sesuai dengan ekspektasi dari dunia. Namun ada sisi positifnya yaitu, dolar AS selaku safe haven, menjadi kurang menarik. Hal ini yang menyebabkan Trump tertekan dan seperti meralat pernyataan sebelumnya.

Pada bagian lain China mengaku punya senjata pamungkas yang bisa menyebabkan ekonomi AS kacau balau, yaitu kepemilikan obligasi negara AS atau US Treasury Bill (T-Bills). Berdasarkan data Departemen keuangan AS Saat ini, China  memegang T-Bills senilai US$1,13 triliun dari total US$22 triliun surat utang AS yang beredar. Meski terlihat kecil namun mencapai 17,7 %.Jadi bukan tidak mungkin China membalas dengan melepas surat utangnya di AS.

Jika China melepas surat berharganya, maka  akan memicu lonjakan suku bunga dan dapat membuat ekonomi AS bergejolak. Indikator itu bisa dilihat dari sikap China yang mengurangi perannya dalam kepemilikan surat utang hampir 4% selama 12 bulan terakhir. Padahal trend kepemilikan asing atas T-Bills  meningkat sebesar 2,6%. Sementara Rusia juga telah melepas Treasury dalam jumlah besar.  Hanya Jepang dan Brasil yang meningkatkan kepemilikannya selama 12 bulan terakhir. Jepang  menjadi US$1,07 triliun, sedangkan Brasil meningkat sekitar US$308 miliar.

Padahal  AS sedang meningkatkan anggaran belanjanya menjadi US$1 triliun dalam beberapa tahun mendatang. Tentu saja AS butuh investasi baru sementara sikap China yang kurang aktif di pasar obligasi AS  menimbulkan sejumlah kekhawatiran pasar modal AS.

Pertanyaannya, akankah China mengeksekusi pelepasan T-Bills AS sebagai bentuk perang dagang lanjutan? Tentu saja selain akan mengguncang ekonomi AS, tapi juga China. Bahkan multiplier effect-nya tentu akan mengguncang ekonomi  dunia.

Perkiraan penulis, China juga tak ingin menyaksikan AS terpuruk sehancur-hancurnya, karena dampak lanjutannya juga akan kembali ke China. Karena itu China memiliki kepentingan AS hanya terpuruk pada level tertentu, untuk kemudian efeknya tidak terlalu berdampak buruk buat ekonomi China.

Bisa jadi China hanya ingin memberi pelajaran agar Trump tidak terlalu arogan. Pertanyaannya, apakah AS punya truft lain untuk menghadapi langkah terakhir Chian? Kita tunggu saja perang dagang lanjutan du adidaya ekonomi dunia ini.[] 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here