Aksi Mahasiswa ‘Turunkan Jokowi’, Siklus 20 Tahunan?

0
214
Aksi ribuan mahasiswa di Riau berhasil menuduki Gedung DPRD. Mereka menuntut Presiden Jokowi turun dari jabatannya karena tak mampu memperbaiki keadaan ekonomi, termasuk melemahnya nilai tukar rupiah

Nusantara.news, Jakarta – Gema reformasi mulai mendengung lagi di sejumlah daerah di Nusantara. Para mahasiswa yang dulu dikenal sebagai cowboy kota, pembela nasib rakyat melalui unjuk rasa, kini kembali turun ke jalan. Desakan mereka senada, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun dari jabatannya. Aksi ini dipicu lantaran kondisi ekonomi nasional yang merapuh, termasuk pelemahan rupiah hingga Rp15 ribu per dolar.

Aksi mahasiswa dimulai dari ratusan anggota BEM se-Bandung Raya yang menggelar demonastarsi di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung pada Jumat (7/9). Mereka menuntut agar pemerintah segera merespon pelemahan nilai tukar rupiah. Aksi mahasiswa se-Bandung Raya itu rupanya memantik gelombang aksi di berbagai daerah lainnya.

Di Pekanbaru Riau, pada Senin (10/9/2018), ribuan mahasiswa yang turun ke jalan bahkan sempat menduduki gedung DPRD provinsi. Aksi mahasiswa yang mengenakan almamater berwarna biru itu mendadak ramai diperbincangkan publik. Hal tersebut beralasan, sebab aksi mereka terjadi di tahun politik jelang Pilpres 2019 dan manakala kelompok kritis lain (termasuk media) seakan tak berkutik di tengah puja-puji serta kedigdayaan penguasa.

Karuan saja, unjuk rasa yang dikoordinir Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Riau (UIR) ini pun cukup mengejutkan. Mereka datang dengan atribut berupa kain putih bertuliskan “Turunkan Jokowi” yang dtuliskan dengan cat semprot warna merah dan membawa boneka pocong dengan foto Jokowi. Mereka mendesak Jokowi segera turun tahta karena dianggap gagal menstabilkan nilai rupiah.

Aksi selanjutnya digelar mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry di Tugu Simpang Lima, Jalan Sri Ratu Safaruddin, Banda Aceh, Rabu (12/9). Mereka menilai rupiah telah berdarah-darah dalam menghadapi dolar AS. Sementara di satu sisi, Jokowi acuh dan sibuk dengan pencitraan diri.

Di hari yang sama, mahasiswa di Makassar juga turun ke jalan. Aksi digelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Gowa Raya di depan Kampus I Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Jalan Sultan Alauddin, Rabu (12/9). Sama seperti aksi yang lain, mereka menuntut Jokowi lengser dari kursi presiden karena tidak mampu mengawal negara Indonesia ke arah yang lebih baik.

Unjuk rasa serupa terjadi di Jambi, Kamis (13/9). Mahasiswa dari sejumlah kampus ini menggeruduk gedung DPRD Jambi dengan menyampaikan tiga tuntutan kepada pemerintahan Jokowi: stabilkan ekonomi secepatnya, reformasi hukum yang bebas korupsi, dan cabut Perpres 20/2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing.

Di Jakarta, ratusan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Forum Pemuda dan Mahasiswa Kota se-Indonesia melakukan aksi demonstrasi di depan Istana Merdeka, Jumat (14/9). “Jika Presiden Jokowi tidak bisa menstabilkan nilai tukar rupiah, menghentikan impor yang tidak prorakyat, serta tidak menstabilkan harga bahan pokok, maka sebaiknya mundur dari presiden dan calon presiden 2019,” ujar koordinator Forum Pemuda dan Mahasiswa Kota se-Indonesia, Harso di depan Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (14/9).

Masih di Jakarta, mahasiswa yang tergabung dalam BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jabodetabek dan Banten menggelar aksi Bela Rupiah di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jumat (14/9). Massa memprotes melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terjadi akhir-akhir ini.

Ratusan mahasiswa menggelar unjuk rasa di depan Istana Negaraa, Jakarta, Jumat (14/9). Dalam aksinya, mereka melakukan teatrikal menirukan Presiden Joko Widodo yang menggunakan stuntman untuk pembukaan acara Asian Games 2018. Sambil membawa simbol uang dolar Amerika.

Gelombang aksi mahasiswa pun meluas di Lampung, Banten, Semarang, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan daerah lain. Kabarnya, eskalasi ini akan terus membesar hingga momentum Sumpa Pemuda 28 Oktober 2018.

Di berbagai daerah, konsolidasi dan pertemuan antar-kampus terus dilangsungkan untuk menggelar aksi-aksi berikutnya. Umumnya, aksi para mahasiswa ini imbas dari kekecewaan sekaligus ketidakpuasan mereka terhadap kinerja pemerintah, khsusunya di bidang ekonomi yang menyebabkan kehidupan rakyat semakin susah.

Siklus 20 Tahunan 

Aksi unjuk rasa mahasiswa yang meletup di sejumlah daerah akibat kondisi ekonomi yang memburuk di tahun keempat pemerintahan Jokowi-JK, boleh jadi penanda dimulainya siklus baru 20 tahunan. Jika dirunut lahirnya gerakan perubahan yang diusung kaum terpelajar ini, mulai dari 1908, 1928, 1945, 1966, hingga 1998, maka siklus dua puluh tahunan berikutnya jatuh di tahun 2018 atau 2019. Dan tahun ini, bisa jadi alam sudah memberi tanda perihal jelang “panen raya” gerakan mahasiswa itu.

Mereka terpanggil karena keresahan publik kelas bawah akibat ekonomi yang makin sulit, serta tak berjalannya fungsi DPR dan partai politik. Mereka turun ke jalan, sebab di ruang-ruang kuliah dan diskusi tak menemukan jawaban. Pun, sebab kaum cerdik pandai tak jadi rujukan pengambil kebijakan. Sementara para buzzer yang dangkal nalar dan politisi kelas rendah dibela-dimuliakan.

Jika menengok sejarah kepeloporan anak-anak muda ini, memang tidak ada generasi perubahan tanpa usaha kesengajaan. Benedict Anderson, ilmuwan berdarah Irlandia-Inggris, menyebut setiap generasi pemuda di panggung politik Indonesia merupakan anak dari zamnnya.

Ikhtiar generasi 1908, misalnya, dimulai dengan meletakkan “ide-ide” emansipasi kebangsaan. Kemudian berlanjut ke Sumpah Pemuda 1928 yang ditandai terbentuknya “wadah” sebuah bangsa. Dua puluh tahun berikutnya, mereka tampil lebih berani melawan kolonialisme demi mencapai “tujuan” bersama yaitu kemerdekaan 1945.

Setelah merdeka, Bung Karno memimpin republik. Namun kekuasaannya dihela oleh gerakan koreksi mahasiswa yang menemukan momentum yang sama dengan tentara. Tahun 1966, lewat tiga tuntutan rakyat (Tritura): turunkan harga, bubarkan PKI, dan bersihkan kabinet dari unsur-unsur komunis, Bung Karno (Orde Lama) pun jatuh.

Sejarah kejatuhan penguasa (seharusnya) berulang pada masa Soeharto (Orde Baru) saat memasuki siklus 20 tahunan di tahun 1980-an. Namun postur pemerintahan yang telah terkonsolidasi dengan mapan, ditambah era 1980-an adalah masa keemasan Orde Baru, maka gerakan mahasiswa tak muncul ke permukaan.

Pun begitu, gerakan Malari 1974 yang menolak hegemoni investasi asing serta gerakan mahasiswa 1978 yang menentang Soeharto sebagai Presiden ketiga kalinya, meski tak berhasil menumbangkan rezim tetapi menjadi masa inkubasi bagi gerakan mahasiswa. Pembibitan yang terpelihara amat panjang dan matang itulah, akhirnya melahirkan gelombang besar gerakan mahasiswa yang meruntuhkan kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998.

Barangkali ini adalah kode bagi mahasiswa untuk kembali ke semangat perlawanan setelah terlelap dalam tidur panjang. Perubahan bangsa saat ini selalu dimanipulasi elite, dan reformasi tak kunjung membuahkan perbaikan taraf hidup rakyat. Yang terjadi, reformasi baru berhasil melahirkan euphoria, iklim demokrasi pun baru sebatas prosedural dan elektoral, tak tumbuh sebagai nilai-nilai praksis.

Semenatra hukum yang sejatinya menjaga demokrasi lebih sehat, kini digunakan sebagai predator lawan politik dan alat bungkam sikap kritis. Demokrasi kemudian menderita geger otak, sebab dari rahimnya lahir para bedebah bermental diktator, feodal, oligark, yang menyamun sebagai seorang demokrat.

Karena itu, tendensi menuju “siklus 20 yang hilang” harus dicegat dengan secara sadar membangun kebersamaan pengalaman, visi, dan panggilan kesejarahan lewat penciptaan ruang publik, wacana publik, dan aksi publik yang mempertautkan minoritas kreatif yang berserak menjadi kolektivitas progresif generasi perubahan. Di samping faktor luar yang turut memperkuat momentum gerakan mahasiswa, yaitu konflik di internal pemerintahan (antarlembaga, antarpejabat negara) dan dukungan rakyat.

Namun, apakah gerakan mahasiswa yang marak saat ini akan membawa petaka bagi Jokowi sebagaimana rezim-rezim sebelumnya? Biarkan waktu yang menjawab.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here