Aksi Mogok “AMT”, Bom Waktu Sistem Distribusi BBM Pertamina

0
188
ilustrasi aksi mogok ratusan AMT Pertamina

Nusantara.news, Surabaya – Terhitung sudah 2 hari aksi mogok Awak Mobil Tangki (AMT) melanda PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V yang meliputi wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, 19-20 Juni 2017. Aksi mogok itu buntut PHK massal terhadap awak mobil tangki di beberapa depo menjelang Lebaran.

Kendati Selasa (20/6/2017) hanya diikuti ratusan AMT dari Depo Pertamina Tanjung Wangi Banyuwangi, namun bukan berarti gejolak ini tidak merembet ke wilayah lain. Sebab, selain isu PHK ratusan pekerja yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) juga menuntut penghapusan sistem kontrak kerja yang dinilai merugikan para sopir truk tangki bahan bakar minyak (BBM).

Dalam orasi yang dilakukan bergantian di depan kantor PT Pertamina Patra Niaga Tanjung Wangi, mereka mendesak tuntutan itu dipenuhi Pertamina. “Kami tetap solid untuk mendesak Pertamina memenuhi tuntutan awak mobil tangki, sehingga aksi mogok kerja akan dilanjutkan hingga Senin (26/6) pekan depan,” kata Humas AMT Depo Pertamina Tanjung Wangi Aldo Riski kepada media.

Menurutnya, jumlah awak mobil yang melakukan mogok kerja di hari kedua sekitar 120 orang. Mereka mengawali dengan mengumpulkan surat izin mengemudi (SIM) nya untuk merapatkan barisan, agar aksi tersebut tidak kendur. Ini sebagai kebulatan tekad menyusul adanya pesan singkat yang bernada intimidasi. “Sebagian sopir mobil tangki Pertamina menerima pesan singkat yang berupa ancaman untuk memecat para pendemo dari pihak Pertamina, agar tidak melanjutkan aksi mogok kerjanya,” tuturnya.

Pesan singkat yang diterima sejumlah awak mobil tangki tertulis “Dengan hormat, bersama ini kami masih memberi kesempatan terakhir bagi yang masih ingin kerja, kami tunggu kedatangan saudara di TBBM Tanjung Wangi sampai jam 12.00 hari ini, bila tidak hadir dianggap saudara mengundurkan diri, kami sudah menerima AMT baru mulai kemarin sebagai pengganti saudara. Demikian agar menjadi pertimbangan saudara.”

Terkait pesan itu, Aldo mengatakan, perwakilan sopir tangki sudah melakukan mediasi bersama pihak perusahaan “outshorcing” atau alih daya, namun pertemuan itu menemui jalan buntu, sehingga aksi akan tetap dilanjutkan hingga Senin (26/6) pekan depan.

Akibat aksi mogok kerja tersebut, para sopir mengandangkan truk tangki di area parkir dan mereka sepakat tidak mau menjalankan kendaraan untuk menyuplai bahan bakar minyak ke SPBU di Kabupaten Banyuwangi, Jember, Bondowoso, dan Situbondo, sebelum tuntutannya dipenuhi.

Sebelumnya, Manager Communication and Relation PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V yang meliputi wilayah Jatim, Bali dan Nusa Tenggara, Heppy Wulansari memastikan aksi ini tidak akan mengganggu distribusi BBM ke masyarakat. Dia mengatakan pihak AMT sebelumnya juga sudah berkomitmen untuk tertib dan tidak mengganggu distribusi BBM ke masyarakat. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak PT Patra Niaga untuk dapat menyelesaikan permasalahan mereka dengan AMT sebaik mungkin,” tuturnya di Surabaya.

Heppy mengaku telah melakukan upaya antisipasi agar distribusi BBM tidak terganggu dengan adanya aksi demo tersebut. “Kami menghormati penyampaian aspirasi yang dilakukan AMT, namun kami juga melakukan upaya antisipasi untuk memastikan distribusi BBM tetap berjalan lancar ke seluruh SPBU,” ujarnya.

Antisipasi yang dilakukan, kata dia, dengan menyiapkan AMT cadangan untuk menggantikan AMT yang melakukan demo, termasuk berkoordinasi dengana aparat untuk pengamanan terminal BBM.

Pertamina, kata Heppy, juga sudah melakukan persiapan mengantisipasi lonjakan konsumsi BBM di seluruh wilayah Pertamina Marketing Operation Region V, mulai dari peningkatan stok BBM hingga 10 persen di atas kondisi normal.

Selain itu, dilakukan penambahan 42 unit mobil tanki, pembentukan SPBU kantong, hingga penyiapan outlet non SPBU di ruas-ruas jalan tol yang baru untuk mengantisipasi kebutuhan BBM pemudik saat kondisi macet di jalan tol.

“Oleh karena itu, kami mengimbau kepada masyarakat, jika menemukan adanya kendala dalam pembelian BBM maupun elpiji selama masa Lebaran agar dapat menginformasikan ke Pertamina di nomor 1500 000, dan kami terus melakukan pantauan lebaran hingga tanggal 11 Juli 2017,” paparnya.

Yakin Tidak Ganggu Distribusi Nasional

Jaminan ini juga ditegaskan pimpinan PT Pertamina Patra Niaga di Jakarta. Terutama mengantisipasi kelancaran distribusi BBM menjelang dan setelah Lebaran 2017 di daerah yang mendapat ancaman aksi pemogokan oleh AMT. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga Rudy Permana mengatakan, pihaknya telah membentuk satuan tugas (Satgas Siap) yang melibatkan AMT walaupun ada rencana aksi mogok kerja nasional yang dilakukan mantan karyawan PT Garda Utama Nasional yang tergabung dalam Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI).

“Dengan program SATGAS SIAP, PT Pertamina Patra Niaga bekerja sama dengan semua mitra kerja 4P dan armadanya, menjamin kelancaran distribusi BBM untuk masyarakat, khususnya di SPBU di daerah-daerah yang mendapat ancaman mogok nasional,” kata Rudy dalam rilis resminya.

Pertamina Patra Niaga, tambah Rudy, bahkan sudah menyiapkan 200 orang AMT Sipil yakni TNI dan Polri, serta telah disiapkan strategi alih suplai antar TBBM agar ketersediaan BBM bagi masyarakat aman terpenuhi.

Jaminan ini meliputi kawasan Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Selain TNI dan Polri, juga ada jaminan tertulis dari AMT dari Perusahaan Pemborong Pekerjaan Pengangkutan (4P), yaitu PT Garda Utama Nasional, PT Ceria Utama Abadi, PT Absolute Service, PT Prima Perkasa Mandiri, PT Ardina Prima, dan PT Cahaya Andika Tamara.

AMT tersebut adalah karyawan tetap perusahaan 4P yang sudah terseleksi melalui persyaratan dan tahapan sesuai proses pengangkatan, salah satunya tingkat kehadiran 100 persen selama masa evaluasi tiga bulan.

Rudy menjelaskan, aksi mogok juga tidak akan mengganggu pasokan nasional. Karena peserta aksi hanya diikuti karyawan PT Garda Utama Nasional setelah sekitar 350 rekannya di PHK. Aksi ini bertujan menghambat pasokan BBM nasional menjelang Lebaran 2017. Rudy pun menyesalkan tindakan tersebut, karena mereka dinyatakan tidak lolos masa percobaan selama tiga bulan dengan hasil faktor kinerja yang tidak memenuhi standar.

Hanya saja, sekecil apapun gejolak jika menyangkut kebutuhan strategis seperti BBM, tetap akan berdampak pada masyarakat umum. Untuk hal ini, jika Pertamina sudah yakin akan kebijakannya, harus bisa menjelaskan alasan PHK yang dilakukan ketika sebagian besar pekerja, baik tetap maupun lepas, tengah bersiap menyambut lebaran.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here